
Happy reading.....
Haris segera menggendong tubuh Alea dan menidurkannya di sofa, lalu dia menyuruh sekretarisnya untuk memanggil dokter ke sana, karena jujur Haris sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan dia," gumam Haris sambil menetap ke arah Alea.
Terlihat wajahnya sangat pucat, rasa bersalah seketika datang memenuhi relung hati Haris, saat mengingat ketakutan gadis itu, kala melihat dirinya. Apalagi saat mengetahui tentang latar belakang Alea yang sudah tidak mempunyai siapapun.
Tak lama dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Alea, dan setelah diperiksa Dokter menatap ke arah Haris.
"Bagaimana Dok, keadaannya?" tanya Haris dengan harap-harap cemas.
"Dari analisa saya, sepertinya nona ini sedang mengandung Tuan. Dan untuk memastikan, sebaiknya USG saja," jawab dokter tersebut.
"Apa! Hamil!" kaget Haris dengan tatapan membulat, dan langsung dibalas anggukkan mantap oleh dokter tersebut.
Kemudian Dokter pun pergi dari sana, sementara Haris langsung terduduk di sofa. Namun seketika tatapannya mengarah kepada Alea yang sedang menangis.
Dia tadi sudah bangun saat dokter memeriksa keadaannya. Alea juga mendengar jawaban sang dokter, dan itu membuatnya sangat syok berat.
"Tidak mungkin. Aku tidak mungkin hamil! Tidak! Aku tidak mau!" teriak Alea sambil memukul perutnya.
Haris yang melihat itu pun segera memegang tangan Alea. "Eehh, apa yang kau lakukan? Kau bisa menghabisinya," ucap Haris.
__ADS_1
"Biar saja. Biar anak ini mati sekalian. Ini semua gara-gara ada Tuan. Kenapa Anda begitu jahat kepadaku? Aku tidak mau hamil!" teriak Alea dengan histeris.
Haris benar-benar merasa bersalah, apalagi melihat Alea yang menolak keras tentang kehamilannya. Bahkan wanita itu sedari tadi terus saja memukul perutnya.
Ada rasa nyeri di hati Haris saat mengetahui jika gadis tersebut hamil karena ulahnya, kemudian dia memeluk tubuh Alea, tidak membiarkan wanita itu terus memukul perutnya. Karena walau bagaimanapun, janin yang ada dalam kandungan Alea adalah benihnya.
"Aku tidak mau hamil. Aku tidak mau! Biarkan anak ini pergi. Biarkan anak ini mati!" ucapannya sambil terus menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Kenapa kau menolak anak ini? Dia tidak bersalah?" Haris menatap ke arah gadis tersebut.
"Dia memang tidak bersalah, tapi andalah yang bersalah, Tuan!" teriak Alea dengan emosi sambil menatapnya dengan tajam.
Tentu saja Alea tidak menerima kehadiran anak itu, bagaimana bisa dia menerimanya? Karena itu adalah janin yang tadi sengaja, janin dari sebuah kecelakaan yang tak pernah Alea inginkan.
"Aku akan bertanggung jawab," ujar Haris, membuat seketika tangis Alea terhenti kemudian menatapnya dengan tajam dan dalam.
"Anda akan bertanggung jawab dengan apa, Tuan? Dengan menikahi saya? Iya!" bentak Alea.
Haris terdiam, dia tidak mungkin menikahi Alea, apalagi wanita itu tidak pernah ia cintai. Melihat keterdiaman Haris, Alea pun tersenyum kecut, kemudian dia bangkit dari duduknya dan menyambar tas yang ada di sofa.
"Kamu mau ke mana?" tanya Haris.
"Aku mau pergi, biar aku mati bersama anak ini. Aku tidak mau hidupku semakin menderita," jawab Alea sambil menangis.
__ADS_1
Mebdengar hal tersebut Haris pun sangat kaget, kemudian dia menarik tangan Alea dengan kasar. "Apa kalau sudah gila, Hah! Kau ingin bunuh diri bersama bayi itu!" bentak Haris yang tak habis pikir dengan Alea.
Lalu Alea menatap tajam ke arah pria tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan keadaannya sekarang, hanya akan menjadi cemoohan semua orang, apalagi lingkungan di kontraknya ibu-ibu sangat juliders.
"Lalu apa aku harus hidup seperti ini, Tuan? Anda tidak tahu seberapa menderitanya hidup saya. Dan sekarang Anda menitipkan benih yang tak pernah saya harapkan, hanya akan membuat saya semakin menderita, Tuan! Jadi untuk apa saya hidup? alebih baik saya mati!" teriak Alea sambil menghempaskan tangan Haris.
Akan tetapi saat wanita itu akan pergi dari ruangan Harris, pria tersebut lagi-lagi menahannya, dan dia tidak melepaskan Alea walaupun wanita tersebut memberontak dengan kuat.
"Aku akan bertanggung jawab," ucap Haris dengan tegas. "Jika perlu memang aku harus menikahimu, kenapa tidak? Saat ini kamu sedang mengandung anakku, dan aku tidak akan membiarkan kamu menggugurkannya atau menghabisinya, paham!" gertak Haris dengan salat mata tajam.
Alea terdiam saat mendengar penuturan pria itu. Dia seakan tak percaya dengan perkataan Haris, dan melihat itu Haris pun meyakinkan jika dia memang akan menikahi Alea, walaupun di antara mereka tidak ada cinta.
Haris pikir, tidak ada salahnya jika dia menikah dengan Alea. Toh dirinya juga dengan Fitri sudah bercerai dan saat ini perceraiannya sedang diurus di pengadilan, dan sebentar lagi mereka akan resmi. Jadi Haris akan menikahi Alea dulu secara sirih.
Ditambah janin yang ada di dalam rahim Alea adalah benihnya. Jadi tidak mungkin jika Haris membiarkan wanita itu untuk menghabisi darah dagingnya. Dan sebagai lelaki dia juga harus bertanggung jawab bukan.
"Tidak. Aku tidak mau menikah denganmu Tuan!" tolak Alea dengan keras.
"Lalu, jika kau tidak ingin menikah denganku, kau pikir semua orang tidak akan mencemoohmu dengan keadaanmu sekarang? Tenanglah, kau tidak akan merasa kesusahan setelah menikah denganku. Anggaplah pernikahan ini sebagai bentuk tanggung jawabku karena sudah berbuat salah kepadamu," jelas Haris
Akan tetapi Alea tetap menolak dengan keukeuh, membuat Haris seketika menjadi kesal. Kemudian dia memanggil sekretarisnya yang bernama Marcelino.
"Baiklah, kalau gitu kita buat kesepakatan," ucap Haris, membuat Alea seketika menatapnya dengan heran.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....