
Happy reading .....
Saat tante Anjani dan juga Om Umar sampai di rumah sakit, mereka berbarengan dengan kedatangan Lulu. Ketiganya langsung masuk dan di depan ruang UGD sudah ada Gisel yang sedang menunggu dengan wajah yang tegang.
"Gisel ..." panggil Lulu. Wanita itu pun menoleh. "Bagaimana keadaan Amanda?" tanya Lulu dengan nada yang panik.
"Iya Nak, gimana keadaannya Amanda? Anak tante baik-baik aja kan? Bagaimana bisa dia kecelakaan?" Tante Anjani tak kalah paniknya.
Gisel menggelengkan kepalanya, "Maaf Mbak, Tante, Gisel juga tidak tahu keadaannya Mbak Amanda seperti apa, pasalnya dokter belum keluar. Dan tadi dari yang Gisel dengar dari karyawan, jika Mbak Amanda mau menyeberang jalan karena mau menaiki taksi, akan tetapi tiba-tiba saja mobil menabrak tubuh Mbak Amanda, padahal katanya jalanan lumayan sepi," jelas Gisel.
Tubuh tante Anjani seketika luruh ke lantai, dan Om Umar yang melihat itu pun langsung menangkap tubuhnya. Dia memeluk tubuh istrinya.
"Sabar ya Mah, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan Amanda." Kemudian Om Umar mengajak tante Anjani untuk duduk di kursi tunggu.
"Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan Amanda, Pah. Dia Putri kita satu-satunya, dia berlian yang kita punya, Pah. Mama sangat menyayanginya, Mama tidak mau kehilangan Amanda, Pa.ama tidak mau ..." Tangis wanita itu pecah dan sedikit histeris.
Om Umar juga merasakan sakit di hatinya, tapi dia tidak ingin menunjukkan itu kepada sang istri, karena di sini tugasnya adalah menguatkan istrinya.
"Insya Allah Amanda tidak apa-apa, Mama kan tahu Amanda itu wanita yang kuat? Dia bukan wanita yang lemah, jadi Papa sangat yakin kalau Amanda mampu untuk bertahan." Yakin Om Umar.
Lulu merasa perutnya begitu keram karena dia terlalu tegang "Aaawh! Aduh ... perutku!" ringis Lulu.
Tante Anjani yang melihat itu pun meminta Lulu untuk duduk. "Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Kamu kan lagi hamil."
"Iya Tante, maaf ... perut Lulu sakit banget." Wanita itu meringis sambil menggenggam tangan tante Anjani.
Tak lama dari kejauhan datanglah tante Inggit. Kebetulan tante Inggit diberitahu oleh Tante Anjani saat wanita itu menuju rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Amanda? Dia baik-baik aja kan?" tanya Tante Inggit dengan cemas..
"Belum tahu, Nggit," jawab tante Anjani.
"Sayang ... kamu kenapa?" tanyanya pada Lulu.
__ADS_1
"Ini Tante, perut Lulu sedikit sakit."
"Kamu jangan banyak pikiran ya!" ujar tante Inggit.
"Ini ngomong-ngomong ... Ethan ke mana? Kok dia tidak ada di sini?" tanya Tante Inggit sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, akan tetapi tidak menemukan keberadaan putranya.
"Itu dia, Tante. Si kampret bukannya ada di saat Amanda seperti ini, malah hilang nggak tahu ke mana. Bahkan nomornya saja tidak aktif. Benar-benar suami durjana!" maki Lulu dengan kesal.
Semua orang hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat kekesalan Lulu. Memang wanita itu selalu saja ceplas-ceplos, apalagi dalam kondisi seperti ini ucapan Lulu tidak terkontrol.
"Ya ampunh Etan ... kamu ke mana sih? Istri kamu sedang kecelakaan, kenapa kamu tidak ada?" kesel tante Inggit di dalam hatinya
Mereka menunggu dokter, dan tak lama dokter pun keluar. Melihat itu om Umar langsung menghampiri dan bertanya mengenai keadaan Amanda.
"Bagaimana Dok keadaan putri saya? Di baik-baik aja kan? Lukanya tidak parah kan, Dok?" tanya om Umar dengan rasa yang sudah dilanda kekhawatiran.
"Benturan yang dialami pasien cukup keras, hingga mengakibatkan pasien pendarahan. Apakah di sini ada golongan yang sama dengan pasien, yaitu A?" jawab sang dokter.
"Baik, kalau begitu Ibu silakan ikut dengan suster!" Dokter menyuruh tante Anjani untuk segera mendonorkan darahnya.
Setelah itu dia pun masuk lagi ke dalam dan tak lama setelahnya tiba-tiba Rizal datang dengan Ethan yang sudah berlari tergopoh-gopoh.
"Mah ... Pah, gimana keadaannya Amanda?" tanya Ethan dengan raut wajah yang sudah dilanda ketakutan.
Tante Inggit mendekat ke arah putranya dan langsung melayangkan tamparan yang cukup keras di pipi kiri Ethan, membuat semua orang tercengang.
"Kamu itu ya benar-benar keterlaluan! Istri kamu kecelakaan, kenapa ponsel kamu tidak aktif, hah!" bentak tante Inggit.
"Mah, maafkan Ethan. Ponsel Ethan kehabisan baterai dan lagi dicas. Aku tidak tahu kalau Amanda menghubungi. Lalu bagaimana sekarang kondisinya?" Tanpa memperdulikan rasa sakit yang ada di pipinya.
"Dia kehilangan banyak dara," jawab Tante Inggit.
Tubuh Ethan mendadak menjadi lemas, tulangnya seperti lembek seketika tidak bertenaga sama sekali. Hatinya hancur saat mendengar keadaan sang istri.
__ADS_1
Om Umar yang melihat itu pun segera merangkul pundak menantunya. "Tenanglah! Kita berdoa semoga saja Amanda tidak papa ya."
Ethan hanya bisa mengangguk, air matanya sudah tak tertahan lagi. Dia tidak peduli jika dianggap cengeng dan lain sebagainya, karena saat ini yang Ethan khawatirkan adalah keselamatan sang istri.
'Ya Tuhan ... maafkan aku yang telah teledor menjaga Amanda. Maafkan aku ya Tuhan, tolong selamatkanlah dia jangan kau ambil dia dariku! Kita baru saja mengarungi bahtera rumah tangga ya Tuhan.' batin Ethan.
Dan setelah Amanda mendapatkan transfusi darah dari ibunya, keadaannya sudah jauh lebih baik dan dia sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang Amanda sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Ethan terduduk di samping sang istri, dia memegang tangannya, mengecupnya beberapa kali dengan air mata yang terus saja menetes.
"Sayang bangunlah! Jangan seperti ini. Biarkan aku yang menggantikan posisimu, biarkan aku yang menahan rasa sakitnya, biarkan aku yang mengalami semua ini sayang," ucap Ethan dengan suara purau.
"Aku bodoh! Aku laki-laki yang paling bodoh. Aku berjanji untuk menjagamu, melindungimu, tapi apa? Sekarang kau harus terbaring di sini. Aku tidak bisa memaafkan diriku sayang. Aku pria yang benar-benar teledor!" maki Ethan pada dirinya sendiri.
Semua di sana juga sangat sedih, bahkan tidak ada yang tidak menangis. Kemudian Tante Dina mendekat ke arah Ethan lalu mengusap pundaknya.
"Kita hanya bisa berdoa supaya Manda cepat sadar. Ini juga bukan murni kesalahan kamu Nak, jangan menyalahkan dirimu!"
Kemudian tatapan Ethan mengarah kepada Gisel. "Katakan! Bagaimana bisa istriku kecelakaan, hah?"
Gisel yang mendapat tatapan tajam pun menundukkan kepalanya. "Maafkan saya Tuan, tadi sore Mbak Amanda merasa badannya kurang enak, jadi dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Tetapi nomor Tuan pas ditelepon tidak aktif, lalu Mbak Amanda memutuskan untuk menaik taksi saja. Dan setelah itu saya tidak tahu apapun, hingga tiba-tiba karyawan datang dan mengabarkan kalau Mbak Amanda ketabrak di depan butik saat akan menyeberang jalan," jelas Gisel. "Tapi yang aneh ... beberapa orang mengatakan jalanan itu lumayan sepi, dan mobil berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi."
Mendengar penjelasan Gisel dahi Ethan mengkerut heran, begitupun dengan om Umar, Rizal dan semua orang yang ada di sana
"Aku yakin ada yang sengaja ingin mencelakai istriku." Terlihat wajah Ethan menegang, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Tante Inggit saat melihat Ethan bangkit dari duduknya.
"Aku akan mencari tahu siapa yang sudah mencelakai istriku, karena aku yakin ini bukan sebuah kecelakaan, tapi ini adalah sebuah kesengajaan. Aku titip Amanda Mah, Pah!" Kemudian Ethan pun pergi dari sana.
BERSAMBUNG......
Yang ikutan GA jangan Lpa Follow ya. Agar Author bisa Chat nanti saat kalian Terpilih🙏🏻
__ADS_1