
"Sebenarnya makan malam ini bukan hanya untuk ajang silaturahmi karena persahabatan papa, mama dan kedua orang tua dari Anggi. Namun ini ada hubungannya dengan kalian berdua."
"Dengan aku dan si bebek mencret?" Max menatap ke arah Anggi. "Memangnya ada apa dengan dia?" Perasaannya Max kini mulai tak karuan.
Entah kenapa feeling dia mengatakan, bahwa kedua orang tuanya akan menjodohkan dia dengan Anggi. Tapi Max tidak ingin berspekulasi terlebih dahulu, karena takut tebakan yang salah.
Ethan menatap ke arah Amanda, lalu wanita itu langsung menganggukkan kepalanya. Dia kembali menatap ke arah Max dan juga Anggi bergantian.
"Mama, papa, Tante Lulu maupun Om Rizal, kami sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua."
"Apa!" kaget Anggi dan juga Max serempak, karena mereka tidak menyangka jika akan di jodohkan.
Seketika Max menatap ke arah Anggi. 'Jadi ternyata dugaanku ini benar, bahwa akan ada perjodohan.' Kemudian dia melihat ke arah kedua orang tuanya dan menggelengkan kepala. "No! Aku tidak setuju!" tegasnya.
"Kamu tidak bisa menolak!"
"Kenapa tidak bisa menolak? Ini adalah hidupku, Pah. Aku yang menjalaninya, aku yang memilih pasangan hidupku sendiri dan aku tidak ingin dijodohkan dengan bebek mencret seperti dia! Berbicara dengannya saja sudah membuat gendang telingaku pecah, apalagi harus menikah dengannya." Max menolak dengan secara tegas.
"Ayolah Max ... cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu."
"Tidak. Sekali aku bilang tidak, ya tidak. Maaf Om Tante, Anggi, tapi aku tidak ingin dikekang. Aku tidak ingin dipaksa. Aku yang menjalani hidup, jadi aku ingin aku sendiri yang memilih pasanganku." Pria itu beranjak dari duduknya.
"Jaga bicara kamu, Max!" sentak Ethan, "kamu tahu kan alasan mama dan papa menjodohkan kalian itu, karena--"
"Dengan alasan ingin semakin mempererat hubungan persaudaraan, hubungan persahabatan, begitu?" Max menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir. "Come on, Mah, Pah. Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Siti Markonah, ini udah zaman modern, bukan lagi zamannya perjodohan. Jadi jangan memaksa aku, oke! Lagi pula, aku dan juga Anggi tidak saling mencintai."
Setelah mengatakan itu Max pergi dari sana. Ethan mencoba untuk memanggil, tetapi Amanda langsung menahan tangannya sambil menggelengkan kepala.
"Dari awal aku kan sudah bilang, aku tidak setuju." Rizal mengangkat bicara. "Sudah kubilang bahwa ini bukan zaman lagi perjodohan. Mereka sudah sama-sama dewasa, dan ini zamannya modern. Perjodohan itu sudah tenggelam entah ke mana ... mereka bisa memilih pasangan hidupnya masing-masing."
"Tapi--"
"Cukup Mah, Pah, Om, Tante! Jangan jadikan tali persahabatan antara kalian untuk menjadi alasan menjodohkan kami. Aku juga tidak setuju, karena aku juga ingin memilih pasangan hidupku sendiri. Jadi jangan pernah memaksa kami!"
__ADS_1
Seketika Lulu menatap ke arah putrinya. "Anggi ..." panggilnya.
"Maaf Mah, Om, Tante, kalau memang aku dan juga Max itu berjodoh, maka kami akan disatukan kok dengan adanya rasa cinta, bukan sebuah paksaan. Benar apa yang dikatakannya ini bukan zamannya perjodohan, kalau begitu aku pamit dulu. Maaf aku tidak bisa ikut makan malam assalamualaikum!"
Anggi keluar dari rumah Amanda, sementara kedua orang tua dari mereka hanya saling bertatapan. "Apa keputusan kita salah ya?" ucap Lulu dengan gelisah.
"Aku rasa sih keputusan kita memang salah. Sudahlah, biarkan saja mereka menjalani hidup. Lagi pula, pada akhirnya jika memang mereka berjodohkan disatukan, jadi tidak perlu ada yang khawatir," timpal Amanda yang sejak tadi diam.
"Tapi sayang ..." Ethan masih tidak terima.
"Mas ... kamu kan tahu aku dulu menikah dengan mas Darius juga karena apa? Perjodohan. Dan pada akhirnya dia selingkuh. Apa kamu juga ingin anak-anak kita mengalami hal yang sama? Perjodohan tidak melulu membuahkan hasil yang bagus, tidak melulu menumbuhkan rasa cinta. Takutnya malah mereka tertekan oleh sebuah rantai pernikahan, sedangkan diantara mereka tidak saling nyaman yang pada akhirnya akan menyiksa batinnya satu sama lain dan mereka akan mempunyai pasangan lalu berselingkuh. Bukankah itu akan saling menyakiti?"
Mendengar penjelasan Amanda yang sudah banyak mengenal tentang cinta, bahkan pahitnya dalam percintaan seperti apa, semua pun setuju. Akhirnya mereka tidak meneruskan Perjodohan tersebut.
.
.
Max mengendarai mobilnya tapi dia bingung mau ke mana. Ingin ke bar juga malas, karena di sana banyak wanita seksi yang akan menggoda dirinya sementara dia butuh ketenangan.
Sesampainya di sana, dia langsung berjalan menuju dapur, dan ada pelayan melihat kedatangan Tuan mereka. Pelayan yang ada di sana pun menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Apa Anda sudah makan malam Tuan?" tanya kepala pelayan Tere.
"Belum. Siapkan makanan yang enak," jawab Max, kemudian dia hendak meninggalkan meja makan akan tetapi menghentikan langkahnya. "Di mana Olivia?"
"Nona Olivia sedang menggosok pakaian di lantai atas, Tuan."
"Panggil dia dan suruh dia yang memasakan makanan untukku! Aku ingin menguji keterampilan dia. Dan setelah selesai, panggil aku! Kau tentu tahu makanan kesukaanku apa bukan? Jangan ada yang membantunya, biarkan dia yang memasak sendiri, paham!"
"Paham Tuan muda."
Setelah mendapatkan jawaban dari kepala pelayan, Max berjalan ke lantai atas menuju kamarnya, setelah itu dia mengambil laptop dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit rasanya lidah Max terasa pahit, dia pun menelpon pelayan Tere untuk memanggil Olivia ke kamarnya.
"Masuk!" titah Max saat dia mendengar ketukan pintu.
"Anda memanggil saya, Tuan?" Olivia menundukkan kepalanya, karena dia tahu bahwa saat ini Max menjadi bosnya entah itu di kantor ataupun di rumah.
"Tolong buatkan aku kopi! Gulanya satu sendok dan kau harus mengaduknya dari kiri ke kanan sebanyak 8 kali."
Mendengar permintaan konyol Max, Olivia mengerutkan keningnya. "Dia pikir goyang ngebor, harus diaduk dari kiri ke kanan," lirih Olivia dan masih terdengar oleh Max.
"Kau bilang apa tadi?" Max menatap tajam ke arah wanita itu.
"Tidak ada Tuan. Saya hanya bilang, baiklah akan saya buatkan." Wanita itu pun keluar dari kamar Max, berjalan menuju dapur lalu mulai membuatkan kopi untuk pria tersebut.
"Tadi dia bilang satu sendok gula, lalu diputar ke ... Aduh, kok aku jadi lupa ya, berapa kali adukan? Ah, sudahlah ... pada akhirnya juga rasa kopi sama saja," gerutu Olivia.
Dia kembali ke kamar. "Ini Tuan kopi yang Anda minta." Max segera mengambil kopi tersebut lalu dia meminumnya. "Sudah saya bilang diaduk 8 kali dari kiri ke kanan, aoakah budeg, hah?"
Mendengar itu Olivia meremas nampan yang ada di tangannya. 'Dasar bos killer. Timbang kopi aja ribet banget.'
"Ganti!" titah Max sambil mendorong kopi tersebut.
"Baik Tuan " Olivia memutar bola matanya dengan malas sambil mengeratkan giginya yang merasa kesal, karena dia pikir masalah kopi saja harus ribet itu.
"Lho, kok kopinya dibawa lagi Kak?" tanya Azura saat berada di dapur.
"Iya, salah, soalnya ngaduknya nggak pakai ngebor," celetuk Olivia dengan nada yang begitu kesal.
"Eh, itu jangan dibuang, sayang sekali! Ini masih baru kan?" tanya pelayan Tere dan langsung dibalas anggukan oleh Olivia. "Kalau begitu saya kasih satpam di depan saja." Wanita itu pun mengangguk.
Dia kembali membuatkan kopi untuk Max, tetapi saat akan memasukkan gula wanita itu pun berpikir. "Kalau satu sendok, takutnya diabetes, setengah sendok aja deh," lirihnya, kemudian dia pun menaruh setengah sendok gula lalu mengaduk dari kiri ke kanan sebanyak 8 kali.
"Ini Tuan kopinya." Olivia menaruh kopi tersebut di hadapan Max. Pria tersebut meminumnya kembali, akan tetapi tiba-tiba dia menatap tajam ke arah Olivia dan menggebrak mejanya dengan marah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....