
Sesampainya Olivia di rumah tanpa mengucapkan terima kasih dia langsung buru-buru turun dari mobil Max, membuat kedua pria yang berada di dalam mobil tersebut merasa heran dengan tingkah wanita itu.
"Benar-benar wanita tidak tahu diri. Sudah diantar pulang, bukannya bilang makasih, main nyelonong begitu aja. Apa dia nggak diajari etitude sama orang tuanya?" gerutu Max dengan kesal. karena baru kali ini ada seorang wanita yang berani kepadanya.
Biasanya semua wanita akan bersikap kalem manja dan sok elegan di hadapan Max tetapi berbeda dengan Olivia.
'Wanita itu benar-benar berani. Sepertinya dia tidak mengetahui siapa tuan Max? Tapi entah kenapa wajahnya benar-benar tidak asing. Aku pernah melihatnya, tapi kenapa aku menjadi pelupaan begini?' batin Reza sambil menatap lekat ke arah Olivia, akan tetapi pikirannya mengarah ke hal lain.
"Kita jalan sekarang!" ucap Max. Reza mengangguk, kemudian mereka hendak pergi dari sana akan tetapi tiba-tiba saja Max berkata, "stop! Tunggu dulu, Za!" cegahnya.
Dia melirik ke arah rumah yang tidak terlalu besar. Di sana Olivia tengah memohon kepada seorang wanita dan juga pria yang ia yakin ini adalah pasangan suami istri.
'Kenapa wanita itu memohon, dan siapa wanita yang berada di kursi roda tersebut? Lalu kenapa kedua orang itu memarahi wanita tersebut?' batin Max yang merasa heran.
"Sepertinya Nona yang tadi sedang dalam masalah, Tuan. Dari pengamatan saya sepertinya mereka sedang bertengkar dan--"
"Aku juga tahu kalau itu ... aku kan juga melihatnya. Tapi kenapa wanita itu seperti memohon?" Reza menggelengkan kepalanya, karena ia pun tidak tahu. Lalu Max keluar dari mobilnya untuk mendengar secara jelas, karena entah kenapa hatinya tergerak untuk mengetahui masalah tentang wanita tersebut.
"Pergi kamu dari sini! Bawa ibu kamu tuh yang lumpuh," ucap wanita yang berada di hadapan Olivia yang ternyata adalah bibinya.
"Tidak Bi. Aku mohon, jangan usir aku dan juga Ibu serta Azura! Kalau kami pergi dari rumah ini, kami mau tinggal di mana, Bi?" Olivia memohon kepada bibinya, akan tetapi wanita itu tidak peduli.
"Mana saya tahu Dan saya juga tidak mau tahu. Pokoknya sekarang kamu bawa pergi adik serta ibu kamu yang lumpuh ini! Pergi!" usir Bibi, Olivia dengan kasar sambil mendorong tubuh Olivia hingga tersungkur ke lantai.
Wanita itu segera menutup pintu rumahnya dengan begitu kasar, hingga membuat Oliv dan juga Azura terperanjat kaget. Dia menangis sambil memandang ibunya yang hanya bisa diam tak bisa membantu.
'Maafkan Ibu ya Nak, Ibu tidak bisa membantu kamu.' batinnya sambil memandang ke arah Olivia.
__ADS_1
"Ibu ... kita kan tinggal di mana?" Olivia memejamkan matanya, membiarkan tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipi. Dia memeluk kaki ibunya begitu pula dengan Azura.
"Kita mau tinggal di mana? Kita tidak punya tempat tinggal Kak selain di sini."
"Kakak juga tidak tahu, Dek. Di restoran Kakak belum gajian, kita pergi saja. Kakak akan cari kontrakan."
"Tapi apa uangnya ada, Kak?" Mendengar itu Oliv menatap sendu ke arah sang adik. Dia menggelengkan kepalanya kemudian menggenggam tangan Azura. "Kamu tenang aja ya! Allah pasti memberi kemudahan kok bagi kita. Sekarang kita cari tempat untuk berlindung saja dulu, kasihan Ibu."
Azura hanya bisa mengangguk, sementara Max yang mendengar bagaimana kehidupan Oliv merasa kasihan. 'Ternyata hidup wanita itu begitu rumit. Dia sampai harus diusir oleh saudaranya tega sekali mereka. palagi dengan keadaan ibunya yang sepertinya sedang lumpuh.' batin Max.
Oliv berjalan keluar dari pekarangan rumah tersebut, tapi dia cukup terkejut saat melihat masih ada mobil Max di sana. Namun, seketika wanita itu langsung menggelengkan kepalanya. 'Tidak mungkin jika pria itu masih berada di sini?'
Dia terus mendorong kursi roda milik sang ibu dan saat melewati mobil tersebut kaca bagian belakang pun terbuka. "Masuklah!" titah Max.
"Tu-Tuan, Anda masih di sini?" kaget Olivia.
Kemudian Azura memegang tangan kakaknya lalu berbisik, "Kak, pria tampan itu siapa?"
"Dia orang yang sudah nolongin kakak tadi saat Kakak dirampok di jalan," jawab Oliv.
"Kenapa masih diam saja? Hari sudah mau hujan kalian tidak lihat tuh petir menyambar-nyambar? Ayo masuklah, nanti kehujanan! Reza," panggil Max kepada asistennya, "bantu ibunya untuk masuk ke dalam mobil!"
"Baik Tuan." Reza dan Max keluar dari mobil. Reza membantu ibunya Oliv untuk memasukkannya ke jok belakang, sementara Max berganti masuk ke jok bagian depan.
"Tuan, kenapa Anda masih di sini? Saya pikir Anda tadi sudah--"
"Saya tidak sengaja melihat perdebatan keluarga kamu. Bukan saya bermaksud ikut campur, saya hanya kasihan saja melihat ibu kamu, sebab saya juga punya seorang ibu," ucap Max dengan nada yang begitu datar.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan, maaf jika tadi saya belum sempat mengucapkan terima kasih kepada Anda." Oliv merasa bersalah, karena dia langsung turun begitu saja dari mobil setelah ditolong oleh Max.
Pria itu hanya berdehem kecil, dia tidak banyak berbicara, kemudian mengirimkan pesan kepada Reza lalu menyenggol bahu pria tersebut, memberikan kode bahwa ia sudah mengirimkan sesuatu kepada ponselnya.
Reza yang mengerti pun menganggukkan kepalanya dengan kecil, lalu mereka berjalan menuju sebuah tempat.
"Turunkan saya dan keluarga saya di jalan saja, Tuan! Kami akan mencari kontrakan," pinta Oliv, dia tidak ingin menyusahkan Max kembali karena Oliv rasa kebaikan Max sudah lebih dari cukup.
"Diamlah dan jangan banyak bicara! Aku tidak suka pada orang yang terlalu banyak meminta dan terlalu banyak bicara!"
Mendengar itu Olivia hanya merengut dengan kesal. 'Apa-apaan sih ini laki? Orang aku minta buat diturunin tengah jalan. Awas aja kalau dia sampai punya niat jahat, kutendang dua buah telur bebeknya biar kempes sekalian!' ancamnya di dalam hati.
Oliv memandang ke arah jalanan, tidak menyangka jika kehidupannya akan semenderita itu dengan keadaan ibunya yang lumpuh serta adiknya Azura yang sebentar lagi akan lulus sekolah.
'Ke mana aku harus mencari kontrakan untuk tempat tinggal Azura dan ibu? Aku tidak mungkin membiarkan ibu untuk tinggal di jalanan, kasihan dia.'
Azura melihat kesedihan di raut wajah kakaknya, dia segera menggenggam tangan Oliv, membuat wanita itu seketika menoleh ke arahnya. "Kakak jangan sedih ya! Kita pasti bisa menemukan tempat tinggal. Bagiku tidak masalah kok Kak mau kita tinggal di kolong jembatan jiga. Asalkan kita bersama-sama dan merawat ibu."
Oliv tersenyum, dia langsung memeluk tubuh Azura. "Makasih ya Dek atas pengertian kamu. Tapi Kakak akan terus berusaha supaya kita memiliki tempat tinggal." Lalu dia pun memandang ke arah ibunya. "Maafin Olivia ya, Bu, karena Olivia belum bisa membahagiakan ibu."
Wanita lumpuh itu hanya bisa meneteskan air mata saat mendengar ucapan putrinya hingga tidak terasa mobil tiba di sebuah rumah yang sangat mewah, membuat Olivia mengerutkan keningnya.
"Maaf Tuan, ini rumah siapa?" tanyanya dengan tatapan curiga. "Anda jangan macam-macam ya! Kalau Anda berani macam-macam, saya tidak akan segan-segan untuk memecahkan dua telur bebek milik Anda!"
Reza dan juga Max seketika membulatkan matanya saat mendengar ancaman dari wanita itu, kemudian Max langsung menoleh ke belakang. "Sebaiknya kau jaga otakmu itu agar tetap bersih dan terjaga. Turun saja, nanti kau akan tahu Ini rumah siapa. Tidak usah berprasangka buruk kepada orang lain, karena belum tentu semua orang itu jahat." Kemudian dia turun dari mobil diikuti oleh Reza.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1