Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
S2. Bos Killer


__ADS_3

Reza begitu kaget saat mendapati wanita yang berada di hadapannya, calon sekretaris baru Max. Dan ternyata, dia adalah Olivia ... wanita yang pernah ditolongnya dan sekarang tinggal di rumah Max juga.


"Jadi ..." Reza menggantungkan ucapannya. Dia menepuk kepalanya beberapa kali, karena merasa bodoh sebab tidak mengenali wajah Olivia. 'Astaga! Pantas saja aku seperti mengenal wajahnya dan tidak asing, ternyata aku pernah membaca biodata Olivia. Kenapa aku bisa seceroboh dan sebodoh ini sih?'


"Za, kenapa kau tidak membiarkannya masuk?" tanya Max, karena sedari tadi Reza hanya berdiri di depan pintu.


"Maaf Tuan. Ini calon sekretaris barunya." Reza menggeser tubuhnya, hingga kini nampaklah Olivia yang sedang menatap ke arah Max, dan dia tak kalah terkejut ternyata dia melamar di kantor milik Max.


Pria itu sontak membulatkan matanya, tak menyangka jika sekretaris yang dimaksud oleh Reza adalah Olivia. "Kau!" magetnya, "jadi kau yang akan menjadi sekretarisku?" Seketika tatapan Max mengarah kepada Reza. "Katakan Reza! Kenapa kau tidak memberitahuku?"


Reza mendekat ke arah Max lalu menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak mencermati waktu bertemu dengan Nona Olivia. Saya sempat merasa bahwa wajahnya tidak asing, tapi saya lupa pernah bertemu dengannya di mana. Dan ternyata saya pernah membaca biodatanya." Reza menggaruk belakang lehernya.


Max menatap lekat ke arah Olivia,sementara wanita itu langsung menundukkan wajahnya. 'Astaga Olivia! Ternyata kau melamar di perusahaannya Tuan Max? Kemarin kau memaki-maki dia, menuduhnya, sekarang kau malah ditolong olehnya dan menjadi sekretarisnya. Tapi tunggu ... belum tentu juga dia menerima aku, setelah melihat diriku. Pasti dia akan menolak apalagi sekarang aku tinggal di rumahnya.'


"Masuk! Kenapa kau berdiri saja di ambang pintu seperti patung? Memangnya ini sebuah toko," ucap Max dengan nada yang datar.


Olivia sempat merasa heran dengan sikap Max yang terkesan dingin. Padahal kemarin dia merasa pria itu begitu hangat. 'Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah 180 derajat?'


"Hei! Kau punya telinga atau kau sudah tuli?" Max membuyarkan lamunan Olivia, membuat wanita itu akhirnya maju.


"Aku tidak tuli, Tuan. Aku masih mempunyai gendang telinga, lengkap dua-duanya dengan kedua lubang. Apa Anda tidak melihat?" Olivia tersinggung dengan ucapan Max, hingga dia pun membalas ucapan pria itu dengan nada yang lantang.


Reza menatap tajam ke arah Olivia, tapi wanita itu tidak perduli. Sementara Max hanya tersenyum tipis karena baru kali ini ada seorang wanita yang begitu berani berkata lantang di depannya, bahkan berani menjawab ucapannya.


"Jaga bicaramu, Nona! Kau di sini sebagai calon sekretaris, karirmu dipertaruhkan. Dan di sini Tuan Max adalah Bosmu, jadi kau harus menjaga tata kramamu, paham!" tekan Reza.

__ADS_1


Olivia hanya dia menunduk, dia memang tidak bisa mengendalikan kekesalannya pada seseorang, karena wanita itu tipekal pribadi yang ceplas-ceplos.


"It's oke, Reza, no problem. Jadi kau kemarin yang melamar pekerjaan di sini sebagai seorang sekretaris?" tanya Max dengan tatapan datarnya dan Olivia hanya bisa menganggukan kepala.


Tangan Max meraih biodata milik Olivia dan dia membacanya dengan lengkap. "Kau sudah bekerja di salah satu perusahaan, lalu kenapa berhenti?"


"Perusahaan itu bangkrut, Tuan."


Mendengar hal itu Max membulatkan bibirnya. "Oke, kalau begitu kau hari ini boleh kerja. Dan Reza ... tolong kau bimbing dia dan arahkan apa saja yang harus dia kerjakan! Tapi kurasa tidak terlalu sulit, karena dia sudah pernah bekerja menjadi seorang sekretaris dan tentunya dia tahu tugas apa saja yang dipegangnya."


"Baik Tuan. Nona, silahkan kau duduk! Mejamu ada di sana!" tunjuk Reza pada meja yang berada di pojokan dan masih satu ruangan dengan Max, hanya tersekat oleh Satu dinding kaca saja.


"Apa! Jadi saya satu ruangan dengan Tuan Max?" kaget Olivia, karena dulu saat dia bekerja di salah satu perusahaan, ruangan dia bersebelahan dengan bos.


"Kenapa? Kau tidak suka?"


"Sebaiknya kerjakan saja tugasmu! Jangan banyak bicara," ujarnya dengan nada dingin.


Olivia akhirnya berjalan menuju meja dengan wajah cemberut diiringi oleh Reza. 'Dasar bos killer. Kemarin saja hangat, menolong, sekarang kenapa dia berubah seperti es batu? Benar-benar menyebalkan. Kalau aku tidak butuh bekerja, aku tidak mau menerima jadi sekretarisnya. Tapi walau bagaimanapun, berarti aku harus bekerja di rumahnya juga? Kenapa dunia ini sangat sempit sih?' batin Olivia menggerutu.


Lalu Reza mulai menjelaskan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh Olivia. Bukan hanya mengurus tentang keuangan di perusahaan itu saja dan mendatanya, tetapi Olivia juga harus mendata setiap kegiatan yang akan dilakukan Max setiap hari.


Setelah Reza menjelaskan dengan begitu detail, pria itu pun pamit menuju ruangannya karena dia harus mempersiapkan beberapa berkas untuk acara meeting satu jam lagi. Begitu pula dengan Olivia, dia sibuk dan berkutat dengan laptopnya serta beberapa berkas yang menumpuk di sampingnya..


"Apa semua sudah beres? Kita harus berangkat, meeting akan segera dimulai," ucap Max sambil merapikan jasnya lalu berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Sudah Tuan. Saya sudah mengerjakan semuanya."


Max cukup terkesan dengan kerja Olivia yang begitu rapi dan juga cepat. "Tidak sia-sia Reza memilih dirimu," ucapnya


Olivia hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Max keluar dari kantor. Tak lama Reza keluar dari ruangannya dan mereka bertiga pun memasuki lift untuk turun ke lantai bawah dan menuju salah satu cafe untuk meeting bersama dengan klien yang sudah menunggu.


Sepanjang perjalanan, Olivia terus mengecek berkas dan juga email-nya, karena dia tidak ingin kesan pertamanya bekerja di perusahaan Max membuat pria itu kecewa. Karena walau bagaimanapun, Olivia ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan Max, apalagi pria tersebut sudah menolong dia dan juga keluarganya.


Setelah meeting selesai, Max melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 12.00 siang. Dia menyuruh Reza untuk terlebih dahulu pergi ke kantor.


"Tapi Tuan--"


"Pergilah dulu! Aku akan pergi ke suatu tempat, dan kau ..." Tatapannya mengarah kepada Olivia. "Temani aku!"


Reza cukup heran dengan sikap Max, karena tidak biasanya pria itu meminta seorang wanita untuk menemaninya, apalagi mereka baru mengenal dua hari yang lalu.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan!" Reza pamit dari sana. Dia menaiki taksi untuk menuju kantor. a


'Aneh sekali si Max? Kenapa tiba-tiba dia ingin ditemani oleh Olivia? Tidak biasanya pria itu bertingkah aneh. Biasanya dia akan alergi dengan wanita, tapi kenapa sekarang dia malah berdekatan? Jangan-jangan dia mempunyai rasa pada Olivia?' tebak Reza di dalam hatinya. 'Ah ... tidak mungkin. Baru juga dua hari, mana mungkin Max mempunyai rasa pada wanita itu? Sudahlah, mungkin itu hanya pikiranku saja.'


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita pergi ke kantor, karena masih banyak kerjaan yang--"


"Kau ikuti saja ucapanku, tidak usah banyak membantah kenapa sih?" Max terlihat begitu kesal, karena menurutnya Olivia itu sangat cerewet. "Apa susahnya kau mengikuti setiap instruksiku? Selagi itu tidak merugikanmu, kenapa kau banyak komplain?"


Olivia tidak menjawab, dia menundukkan kepalanya. 'Dasar bos killer. Orang ngomong baik-baik, dia malah nyolot.' batin Olivia merasa kesal.

__ADS_1


Sementara Max menatap ke arah wanita itu. 'Dia terlihat lucu jika sedang kesal seperti itu.' Namun seketika ponsel dari Max berdering, membuat pria itu akhirnya mengalihkan pandangannya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2