
Sesampainya Mama Inggit di rumah, dia menunggu di ruang tamu sementara itu wanita tersebut menyuruh Amanda untuk masuk terlebih dahulu ke ruang makan, sebab itu jam-nya Amanda meminum susu.
"Assalamualaikum," ucap dua orang yang baru saja masuk ke dalam kediamannya Mama Inggit.
"Waalaikumsalam," jawab Mama iInggit dan langsung memeluk tubuh perempuan yang berada di hadapannya.
Wajah kedua wanita itu tersenyum bahagia, melepaskan kerinduan yang sudah sejak lama mereka tahan. "Masih ingat pulang rupanya kamu ya? Setelah sekian lama kamu menetap di luar negeri, sekarang kamu ingat jalan balik."
"Ya ampun, Kak! Gitu banget sama adik sendiri. Gini-gini juga aku masih ingat tanah air kali," jawab tante Nikita.
Mama Inggit tersenyum kemudian dia menatap ke arah pria dengan perawakan kekar yang berada di samping adiknya. "Apa kabar, David?" tanyanya mengulurkan tangan.
"Kabar baik Kak. Kakak sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah aku juga baik, begitu pula dengan Ethan. Ayo duduk!" ajak mama Inggit, "Bi ..." panggilnya kepada pelayan, "tolong buatkan minuman ya!"
"Sudah lama sekali ya Kak kita tidak bertemu, tapi rumah ini tidak pernah berubah. Bahkan dekorasi dari Mama dan Papa pun tidak pernah kamu rubah sedikitpun. Oh iya ... tadi aku ke apartemennya Viona, tapi wanita itu tidak ada. Dan saat aku minta kartu cadangan untuk membuka apartemen tersebut, terlihat berantakan. Kira-kira Kakak tahu enggak ke mana Viona?" Tante Nikita menatap lekat ke arah sang kakak.
Entah kenapa dia yakin bahwa Mama ingin mengetahui tentang keberadaan putrinya, dan mendengar pertanyaan dari adiknya membuat Mama Inggit seketika terdiam dengan Tatapan yang sendu.
Om David dapat melihat tatapan yang aneh dari kakak iparnya, kemudian dia pun berkata, "ada apa, Kak? Apakah sesuatu telah terjadi kepada putri kami? Kenapa aku melihat tatapan Kakak menjadi sedih saat istriku menyebut nama Viona?" selidiknya.
Mama Inggit beralih menatap ke arah Om David. Dia tidak menyangka jika pria itu memiliki insting yang begitu kuat, tidak pernah berubah sedari dulu. Itu kenapa dulu mama dan Papanya menyetujui Nikita untuk menikah dengan Om David, karena pria itu sangat cerdas.
"Instingmu tidak pernah berubah, David. Tapi sebaiknya kita makan malam dulu! Kalian pasti lapar kan?"
"Aku tidak ingin makan malam sebelum aku tahu keberadaan Viona di mana." Tante Nikita menggelengkan kepalanya karena dia merasa cemas.
Melihat kekhawatiran di raut wajah sang adik, Mama Inggit menggenggam tangan tante Nikita. "Tenang saja! Viona berada di tempat yang aman, dan di sana juga ada Ethan yang menjaganya, jadi tidak perlu kalian khawatir. Besok kita akan menemui Viona, tapi malam ini kalian istirahat dulu capek kan?"
Tante Nikita melirik ke arah suaminya, dan Om David menganggukan kepala memberikan isyarat kepada sang istri bahwa mereka akan menemui Viona besok pagi.
__ADS_1
Ketiganya pun berjalan menuju ruang makan di mana saat ini Amanda tengah memakan buah semangka, karena entah kenapa tenggorokannya terasa begitu panas, sehingga dia ingin sesuatu yang segar.
"Amanda," panggil mama Inggit, membuat wanita itu seketika menoleh ke arah samping.
"Iya Mah," jawab Amanda.
"Sini sayang!" panggilnya, "ini ... kenalin, Tante Nikita dan juga Om David, orang tua dari Viona." Amanda langsung menyalami kedua orang itu.
"Oh ... jadi ini yang namanya Amanda? Ternyata aslinya lebih cantik ya. Tante melihat hanya dari foto pernikahan kamu bersama dengan Ethan saja, tapi ternyata aslinya kamu seperti bidadari," puji tante Nikita membuat Amanda seketika tersipu malu.
"Aah, Tante bisa saja. Jangan menyanjung seperti itu! Nanti kalau saya terbang gimana? Soalnya di sini Mas ketan lagi nggak ada, jadi kalau saya jatuh tidak ada yang menangkap. Nanti saja Tante memujinya saat ada Mas Ethan, jadi saat saya terbang dan jatuh tidak langsung ke tanah," kelakar Amanda.
Ketiga orang itu pun tertawa saat mendengar penuturan dari wanita hamil tersebut. "Sudah berapa bulan kehamilan kamu?"
"Menginjak 8 bulan."
"Wah, sebentar lagi dong akan lahiran! Tante doakan semoga lancar dan sehat selalu ya. Tante rasanya tidak sabar ingin segera melihat keturunannya Ethan. Pasti sangat cantik kalau perempuan, tapi kalau laki-laki tampan seperti ayahnya."
Lalu mereka pun duduk di kursi dan makan malam diselingi dengan tawa dan juga beberapa lelucon yang membuat suasana di sana terasa begitu hangat. Sementara Om David hanya diam karena dia memang tipekal introvert yang jarang sekali berbicara jika tidak ada perlunya, namun pria itu sangat baik.
Namun saat wanita itu akan tertidur dia kepikiran dengan keadaannya Viona, lalu video call bersama dengan Ethan dan menanyakan kabar wanita itu.
"Dia masih belum sadarkan diri. Sudah, sebaiknya kamu tidur! Nanti besok pagi ke sini lagi sama orang tua Viona. Kita akan berbicara di sini, karena tidak mungkin juga berbicara tanpa kesaksian dari Viona secara langsung," ucap Ethan di seberang telepon.
"Iya ... tapi kamu temenin aku ya tidur!"
Mendengar hal itu Ethan di sana tersenyum kemudian dia pun mengangguk, membiarkan ponselnya menyala dan melihat sang istri yang mulai terlelap dalam tidurnya.
.
.
__ADS_1
Pagi hari semua sudah siap untuk menuju Rumah Sakit melihat keadaan Viona, tetapi tante Nikita maupun Om David belum mengetahui D
di mana keberadaan Putri mereka karena mama Inggit belum memberitahunya.
"Sebenarnya kita akan ke mana, Kak? Viona ada di mana jika bukan di apartemen?" tanya Tante Nikita saat mereka sedang berada di dalam mobil.
"Kita akan ke rumah sakit," jawab Mama Inggit.
Seketika membuat Om David dan juga tante Nikita menatap ke arahnya dengan tajam. "Apa! Rumah Sakit? Viona kenapa, Kak? Dia tidak apa-apa kan? Apa yang terjadi kepadanya?" panik tante Nikita.
"Ada apa dengan putri kami, Kak? Kenapa Viona ada di sana?" tanya Om David dengan nada yang begitu kaget namun terdengar begitu tegas.
"Jangan khawatir! Viona tidak apa-apa kok. Semalam dia datang ke rumah dengan wajah yang panik seperti ketakutan gitu ... dan saat menanyakan kenapa, Viona sudah pingsan. Nanti setelah di rumah sakit kita akan menanyakannya kepada Viona tentang apa yang terjadi. Dan sejujurnya ... ada sesuatu hal juga yang ingin aku bicarakan dengan kalian."
"Sesuatu hal apa itu, Kak?" tanya om David merasa penasaran.
"Nanti saja saat berada di rumah sakit kalian akan tahu semuanya."
Entah kenapa perkataannya Mama Inggit membuat kedua orang tua Viona merasa ada yang tidak beres. Mereka ingin menanyakan lebih tapi percuma saja, karena mama Inggit tidak akan mengatakan apapun hingga saat mobil sampai di Rumah Sakit mereka pun menuju ruangan di mana saat ini Viona sedang di rawat.
"Viona!" kaget tante Nikita saat melihat Viona tengah sarapan disuapi oleh Ethan. Dia langsung menghambur memeluk tubuh putri yang sangat ia cintai. "Kenapa kamu bisa ada di sini, Nak? Kamu kok nggak papa kan? Apa Ada yang sakit?" tanyanya dengan panik.
"Aku nggak papa kok Mah, Pah .Ternyata kalian sudah ada di sini. Maaf ya jika Viona tidak menjemput di bandara."
"It's oke, sayang," jawab Om David, "apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa berada di rumah sakit ini?" Seketika tatapannya mengarah kepada Ethan. "Apa ada yang melukainya, Ethan?" tanya Om David dengan tatapan menyelidik.
Ethan mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepala. "Aku pun tidak tahu Om, karena Viona belum memberitahuku dia baru sadar."
"Sekarang Vio katakan! Semalam kamu kenapa datang ke rumah dengan wajah yang panik dan ketakutan? Bahkan semalam kamu mengigau dan menjerit. Ada apa, Vio?" tanya Ethan sambil menatap lekat ke arah sepupunya.
Bahkan semua orang di sana pun seketika menatap ke arah Viona, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut wanita itu, karena mereka sudah sangat penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya ..." Viona melihat ke arah semua yang ada di sana satu persatu. Terlihat gurat ketakutan di kedua netra miliknya, dan itu sangat terlihat jelas oleh Om David.
BERSAMBUNG.....