
Happy reading .....
Sudah dua hari Ethan mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit. Dia terus menjaga Amanda karena dia ingin wanita itu membuka mata, dan untuk pertama kalinya yang dilihat adalah dia.
"Sayang, mau sampai kapan kamu begini terus? Ayo dong bangun! Aku rindu sama kamu, rindu senyuman kamu, rindu canda tawa kamu. Jangan membuat aku terpukul seperti ini," ucap lirih Ethan sambil menggenggam tangan Amanda.
Tante Anjani dan juga tante Inggit masuk ke dalam ruangan tersebut. "Ethan ... ini mama bawakan kamu makanan. Kamu sarapan dulu ya! Kamu pasti belum makan pagi kan," ujar tante Inggit sambil menaruh rantang di atas nakas.
"Ethan gak lapar, Mah."
"Selalu saja seperti itu. Kalau kamu nggak makan kamu akan ikutan sakit seperti Amanda. Memangnya kamu mau kalau istrimu nanti membuka mata dia sedih melihat keadaanmu, kamu rela?"
Ethan menghela nafas dengan pelan, kemudian dia pun berjalan gontai ke arah sofa dan di sana tante Inggit menyiapkan makanan untuk pria itu.
Biasanya Ethan akan makan dengan lahap saat tante Inggit memasakan makanan kesukaannya. Tapi tidak untuk kali ini, selera makannya telah hilang beriringan dengan keadaan Amanda yang belum juga sadar.
"Kamu harus kuat. Kalau kamu nggak kuat, lalu siapa yang akan menguatkan Amanda, hmm? Kamu di sini adalah kepala keluarga, seorang suami harusnya melindungi istrinya. Jika suaminya sakit siapa yang akan mengurus istrinya?" terang tante Anjani sambil mengusap pundak Ethan.
"Iya Mah," jawab Ethan.
Setelah makanan habis dia kembali mengerjakan pekerjaannya, namun seketika pria itu mendongkak menatap ke arah kedua mertuanya saat mendengar ucapan tante Inggit.
"Amanda sadar! Amanda sadar!" seru tante Inggit dengan bahagia saat melihat kedua kelopak mata milik Amanda sedikit bergerak dan perlahan membuka.
Ethan langsung menaruh laptopnya di sofa lalu dia berjalan ke arah Amanda. "Sayang, akhirnya kamu sadar juga," ucap Ethan dengan bahagia.
"Eeuugh ... aku di mana?" Amanda memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing.
"Kamu jangan banyak gerak dulu ya, aku panggil dokte." Kemudian Ethan keluar dari sana untuk memanggil dokter.
__ADS_1
"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Ethan saat dokter sudah memeriksa keadaan Amanda.
"Alhamdulillah, sejauh ini pasien sudah jauh lebih baik tinggal masa pemulihan saja," jawab dokter tersebut.
S,emua mengucap syukur karena bahagia dengan keadaan Amanda, sementara wanita itu terus menatap lekat ke arah Ethan yang berada di sampingnya.
Dia tidak menyangka setelah kecelakaan itu masih bisa melihat suaminya lagi, padahal tadinya Amanda berpikir jika dia sudah berada di surga.
"Aku pikir, aku tidak akan pernah melihatmu Mas. Aku pikir kita tidak akan pernah bersama kembali," ucap Amanda dengan lirih sambil menatap sendu ke arah suaminya.
"Hei, apa yang kamu katakan sayang? Kita akan bersama sampai maut memisahkan. Aku akan tetap disampingmu tidak akan pernah meninggalkanmu. Maafkan aku ya ... karena waktu itu ponselku lowbat, dan maafkan aku yang tidak bisa menjagamu hingga kamu harus berada di sini." Ethan menjawab dengan linangan air mata.
Hatinya terus merasa sesak saat mengingat jika ia tak bisa menjaga Amanda sesuai dengan apa yang ia ucapkan. Sebagai seorang suami Ethan merasa kalau dirinya sudah gagal.
Amanda menggelengkan kepalanya, dia tidak menyalahkan kecelakaan itu kepada suaminya, karena semua sudah ada jalan takdir dan garisnya masing-masing.
Ethan tersenyum, dia benar-benar bersyukur memiliki istri seperti Amanda yang berpikiran dewasa. Bahkan tidak pernah menyalahkan sebuah kejadian yang menimpanya.
...................
Malam hari Amanda baru saja selesai makan disuapi oleh Ethan, sementara kedua orang tua Amanda serta tante Inggit pulang, karena Ethan tidak mengizinkan mereka menginap bukan karena ingin memisahkan seorang anak dengan orang tuanya, akan tetapi Ethan tidak ingin kedua mertuanya dan juga orang tuanya kelelahan.
"Mas, aku merasa kecelakaan itu seperti hal yang disengaja. Aku melihat mobil itu melaju kencang ke arahku, padahal jalanan di sana lumayan lega, dan seharusnya dia bisa menghindar. Waktu itu aku menyeberang mobil itu masih diam Mas di pinggir jalan. Tapi saat aku menyebrang mobil itu malah bergerak dan melaju cepat," ujar Amanda saat mengingat kecelakaan yang menimpanya.
Ethan menggenggam tangan sang istri, kemudian mengecupnya. "Kamu tenang saja ya sayang, pelakunya sudah ditangkap dan dia sekarang sudah mendekam di penjara seumur hidup."
"Jadi pelakunya sudah ditangkap? Dia siapa Mas?" tanya Amanda dengan penasaran.
"Kamu ingin tahu siapa pelakunya?"
__ADS_1
Amanda menganggukan kepala. "Iya Mas, aku mau tahu siapa yang sudah mencelakaiku."
"Dia adalah Mona. Setelah mencelakai kamu dia berencana untuk melarikan diri ke Amerika, tapi sayang aku dan polisi sudah menangkapnya lebih dulu sehingga akhirnya dia pun dimasukkan ke dalam penjara," jelas Ethan.
Amanda sangat kaget saat mendengar jawaban dari suaminya, jika pelaku yang sebenarnya adalah Mona.
"Apa! Mona! Ya Allah, kenapa dia melakukan itu sama aku, Mas? Aku sama sekali tidak pernah mempunyai salah sama dia sama sekali, tidak pernah mengusik hidupnya, tapi kenapa dia begitu membenciku?" kaget Amanda.
"Sayang, semua orang bisa melakukan hal jahat jika hati mereka sudah diliputi oleh dendam. Dia tidak menyukaimu karena aku memilih kamu, tapi sekarang tidak akan ada lagi penghalang cinta kita."
"Semoga ya Mas, nanti sepulang dari rumah sakit aku mau menengoknya."
"Apa! Buat apa kamu menengoknya?" Ethan berkata dengan nada tak setuju.
"Mas ... Mona mungkin pernah mempunyai kesalahan, tapi kita juga harus bisa memaafkan. Jika dia sudah di penjara seumur hidup kenapa kita tidak bisa memaafkannya! Biarlah hukum ia jalani, tapi kita sebagai manusia harus mempunyai hati yang lapang, memaafkan sesama," tutur Amanda.
Ethan benar-benar sangat bersyukur memiliki istri yang begitu luas hatinya, mampu memaafkan orang yang hampir melenyapkan nyawanya.
"Hatimu terbuat dari apa sih sayang? Begitu sangat luas memaafkan orang lain yang pernah menyakitimu. Aku benar-benar beruntung karena bisa memiliki Bidadari seperti dirimu dan aku tidak akan pernah mengecewakan atau menyakitimu, karena Bidadari seperti kamu sangat langka di dunia ini."
"Dasar gombal." Amanda tersenyum sambil mencubit lengan Ethan.
"Itu bukan sebuah gombalan, cinta, tapi itu adalah sebuah kenyataan."
Amanda tersenyum dengan tatapan penuh cinta ke arah suaminya, tentu saja Amanda juga beruntung memiliki suami seperti Ethan yang sangat menyayangi dan mencintainya dengan tulus.
"Ya Allah, selalu satukanlah kami dan kuatkanlah rumah tangga kami walau badai menerjang." batin Amanda.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1