
Happy reading...
"Sayang, maksudnya apa sih?" tanya Amanda yang melihat dari tadi Ethan hanya senyum dengan wajah yang mesem-mesem.
"Kamu lupa, tadi waktu di rumahnya Tante Dina kamu menggodaku?" jawab Ethan sambil memajukan wajahnya.
Alis Amanda bertaut, dia memundurkan tubuhnya saat melihat Ethan semakin maju. Dia tahu pria itu ingin apa, namun di sana rumah tante Inggit.
"Kamu yang sudah menggodaku, hmm ... kamu sendiri lupa. Jadi sekarang, aku menagihnya," ujar Ethan.
Pria itu memonyongkan bibirnya hendak mencium bibir Amanda, hingga wajah mereka pun hanya berjarak beberapa senti. Dan Amanda semakin memundurkan tubuhnya, sedangkan tangannya menahan dada Ethan, karena dia tidak mau mereka berciumaan apalagi di tempat seperti itu.
Bagaimana nanti jika kepergok oleh tante Inggit? Mau ditaruh di mana muka Amanda? Pasti dia sangat malu.
"Sayang, mau ngapain sih? Nanti kalau aku ketahuan sama tante Inggit, gimana?"
"Mama sedang di kamar, tidak akan tahu," jawab Ethan masih memejamkan matanya, kemudian kembali memonyongkan bibirnya.
Amanda semakin mundur, hingga tiba-tiba saja ....
DUGH!
"Awwwh!" jerit Ethan sambil membuka matanya dengan lebar dan mengusap kepalanya.
Sementara Amanda menatap bulat dengan wajah yang terlihat begitu kaget, namun seketika dia melipat bibirnya menahan tawa.
"Sayang, kamu ngapain sih pukul kepala aku? Sakit tahu!" kesal Ethan sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Enggak. Aku enggak mukul kepala kamu."
"Bohong. Nggak mukul gimana? Jelas-jelas ini sakit banget. Kamu mau aku hukum? Bukan hanya ciumaan saja, tapi aku akan--"
DUGH!
"Wadaw! Asem! Kepalaku sakit sekali!" jerit Ethan.
Amanda hanya tersenyum, padahal dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak, akan tetapi ditahannya.
__ADS_1
Belum juga Ethan memalingkan wajahnya telinganya sudah ditarik hingga membuat pria itu lagi-lagi meringis.
"Aduh ... duh! Aduh! Sakit. Siapa sih yang--" Ucapan pria itu terhenti saat melihat ternyata yang menjewer telinganya adalah tante Inggit.
Seketika cengiran kuda terukir di wajah tampan tersebut, menampilkan deretan gigi putihnya. Sementara Amanda sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia mentertawakan wajah terkejut calon suaminya saat aksinya di pergoki oleh tante Inggit.
"Mama, itu ngapain bawa gayung? Mama oma nya nenek gayung?" tanya Ethan sambil melirik ke arah tangan mamanya yang sedang memegang gayung dari kamar mandi.
"Kamu nanya ini gayung untuk apa? Memangnya kamu tadi tidak merasakan? Oh, atau kepalamu kurang benjol? Sini mama pukul lagi biar otak kamu tuh bener, nggak geser mulu!" geram tante Inggit sambil melepaskan jewerannya.
Ethan mengusap telinganya yang terasa panas, bahkan kepalanya pun masih berdenyut sakit karena pukulan dari Tante Inggit.
"Mama kebiasaan banget sih! Kemarin centong nasi, sekarang gayung. Lama-lama gentong dipukul ke kepala aku. Mama mau memangnya otak aku ini geser? Terus aku nggak bisa kerja, lupa ingatan, gitu! Mau?" kesal Ethan dengan wajah cemberut.
"Gimana mama nggak bawa gayung dan nggak getok kepala kamu. Memang otak kamu itu lagi geser. Berani-beraninya kamu ya mau mesumin Amanda di rumah mama sendiri? Jangan-jangan ... di belakang juga kamu kayak gini, hah?" Lagi-lagi tante Inggit menjewer telinga Ethan, membuat pria itu mengaduh.
"Adduh Maaa! Ampuun, Maa! Nggak, Maa. Ethan gak mesuum kok." bantahnya.
"Nggak mesuum gimana? Jwlas-jelas Mama tadi melihat kamu monyong-monyong mau nyium Amanda. Kamu itu dan Amanda belum halal, jangan main sasar-sosor kayak soang!"
"Iya Mah, maaf. Tapi ini dilepasin dong! Sakit tahu! Telinga aku lama-lama bisa copot."
Kemudian tante Inggit berjalan ke arah Amanda, "Sayang, kalau dia macam-macam sama kamu, bilang sama tante ya! Ingat! Kalian itu jangan berani melakukan hal yang lebih. Lagi pula, dua minggu lagi kalian halal, jadi bisa dong ditahan. Setelah kalian sah menjadi suami istri, mau sampai ranjang itu roboh juga tidak ada yang bakalan menghentikan goyangan kalian," celetuk tante Inggit.
Wajah Amanda bersemu merah saat mendengar ucapan somplak dari calon mertuanyac saat mengatakan hal yang begitu vulgar.
Akan tetapi Ethan mengedipkan sebelah matanya ke arah Amanda. "Betul itu, Mah. Setelah halal nanti, bukan hanya kasur yang bakal aku robohkan, bahkan gaya bebek, gaya kodok, gaya jerapah, kuda, semuanya akan aku babat sampai habis."
DUGH!
Lagi-lagi tante Inggit memukul kepala Ethan dengan gayung yang masih bertengger di tangannya, membuat pria itu untuk kesekian kalinya menjerit kesakitan.
"Mah, nggak usah pakai gayung, Mah. Kalau ada, ember tuh sekalian sini biar otak aku langsung geser, terus aku pingsan masuk ke IGD!" geram Ethan.
"Gayung ini gatel ingin menggetok kepala kamu, biar di otak kamu itu nggak hanya goyangan ranjang aja. Udah, lebih baik sekarang kamu anterin Amanda pulang, sudah malam! Tidak enak sama tante Anjani dan juga Umar," titah tante Inggit
Ethan memayunkan wajahnya, karena dia masih merasa kesakitan. Belum juga telinganya mereda bahkan masih terlihat begitu merah karena jeweran dari sang Mama, ditambah tiga kali kepalanya digetok oleh Gayung.
__ADS_1
"Mama sudah tidak sayang aku. Aku ini kan anak Mama, kenapa kepalaku digetok? Apa tidak bisa diwakili saja?"
"Sudah, jangan banyak drama. Sana anterin Amanda pulang! Sayang, kalau di jalan Ethan ngapa-ngapain, ditendang aja burung kakak tuanya!"
"WHAT!" seru Ethan dengan wajah membulat kaget.
Setika Amanda tertawa, sementara Ethan langsung menyilangkan tangannya untuk melindungi senjata yang ia siapkan untuk bertempur dua minggu lagi.
"Kok Mama jahat banget sih? Masa nyuruh Amanda buat nendang burung aku? Nanti kalau nggak bisa tempur gimana, Mah? Gak bisa dong kasih Mama cucu."
Tante Inggi tidak menjawab ucapan putranya, dia melenggang masuk ke dalam dan menaruh gayung ke kamar mandi.
Memang tadi wanita itu habis dari kamar melihat Ethan ingin mesuum kepada calon menantunya kemudian dia berinisiatif untuk mengambil gayung dari kamar mandi yang dekat dengan dapur.
"Dasar nenek gayung!" celetuk Ethan dengan tangan yang masih mengusap kepalanya.
"Apa kamu bilang!" teriak tante Inggit yang masih mendengar rutukan dari putranya..
"Gidak ada, Mah. Itu tadi gajah terbang. Ya udah, aku sama Amanda pergi dulu ya! Dah ...!" teriak Ethan sambil berlari keluar.
Amanda semakin dibuat tertawa dengan tingkah laku dari pria yang selama ini selalu menampilkan wajah dingin dan datarnya. Tapi ternyata di balik itu semua, Ethan ada orang yang humoris. Dan Amanda baru melihat sisi lain dari Ethan dan juga tante Inggit.
Dia berjalan mengambil tasnya, kemudian berpamitan pada tante Inggit dan mencium tangannya. Setelah itu dia pun pulang diantarkan oleh calon suaminya.
Sepanjang perjalanan Ethan sesekali mengusap kepalanya yang terasa masih sakit, dan melihat itu Amanda tentu saja tidak tega, walaupun sebenarnya dia ingin sekali ketawa kembali.
"Puas kamu menertawakan aku, hhm? Bukannya calon suaminya ditolongin, malah diketawain?" Pria tersebut menekuk wajahnya.
"Maaf! Masih sakit ya? Sini aku usapin," ucap Amanda sambil mengusap kepala Ethan dengan lembut.
"Udah ilang kok sakitnya, apalagi kalau kamu cium." Pria itu menunjuk pipinya, membuat Amanda seketika mendaratkan cubitan di pipi pria tersebut.
"Ingat kata Mama! Kamu kalau berani macam-macam, aku akan menendang senjatamu!" Amanda menaik turunkan alisnya menggoda sang calon suami.
"Kalau begitu tidak usah. Kita tunggu halal saja," jawab Ethan cepat dengan wajah yang sedikit panik.
Amanda tertawa terbahak-bahak di dalam hati, saat melihat raut wajah suaminya yang begitu lucu saat dilanda kepanikan. Namun tentu saja itu tidak akan dia lakukan, mana mungkin Amanda menendang senjata milik Ethan, di mana 2 minggu lagi senjata itu yang akan bertempur dengannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....