Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Perintah Haris


__ADS_3

Happy reading ....


Pagi ini Amanda sudah terbangun dengan perasaan yang lebih baik, namun tetap rasa sesak itu masih terasa di hatinya, apalagi mengingat kejadian semalam.


Dia berjalan ke arah balkon untuk menghirup udara segar di pagi hari, berharap jika hari-harinya setelah ini akan jauh lebih baik.


Lulu yang baru saja membersihkan diri menatap ke arah ranjang yang sudah kosong, kemudian dia melihat ke arah balkon di mana Amanda saat ini tengah berdiri.


Wanita itu pun mengambil dua gelas teh hangat yang sudah dibuatnya tadi sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, kemudian berjalan menghampiri Amanda dan memberikannya.


"Minum dulu Teh hangatnya," ucap Lulu.


"Makasih," jawab Amanda sambil meminum teh tersebut.


Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat, hingga terdengar helaan nafas bersamaan dari kedua wanita itu, membuat mereka terkekeh serempak.


Lalu Lulu menatap ke arah Amanda, "Hei lihat! Matahari mulai terbit, indah bukan? Kau tahu, sinarnya selalu saja membuat semua orang menatapnya dengan kagum. Tidak perduli mau dia muncul di kala hujan sekalipun. Mau kedatangannya tidak ditunggu atau kedatangannya kadang membuat semua orang menggerutu, sebab merasakan panas, tapi matahari tetap bersinar terang di atas langit, menyeruakan sinarnya untuk menyinari bumi," ujar Lulu.


Sejenak ia menghentikan ucapannya, kemudian Lulu menggenggam tangan Amanda. "Sama halnya dengan matahari. Kau juga harus seperti dirinya tersenyum dan bangkit. Tidak perduli seberapa banyak orang yang ingin menjatuhkan dan tak menyukaimu. Tapi kau harus tetap bersinar. Aku tahu, kau pasti sangat kecewa kepada adik dan juga suamimu? Aku tahu, luka yang kamu rasakan begitu dalam. Tapi ada aku, ada tante Anjani, ada Om Umar, Tante Dina dan juga Om Samuel. Kami semua ada di pihakmu. Jangan pernah merasa sendiri, karena kami menyayangimu Amanda. Jadi teruslah tersenyum dan bahagia! Mulai dari hari ini, kau harus membuka lembaran baru, walaupun rasa sakit itu tidak bisa dilupakan, Tltapi cobalah untuk bahagia."


Mendengar penuturan dari sahabatnya yang terlalu panjang, Amanda menguap, membuatnya sedikit mengantuk. Dan melihat itu Lulu memukul lengan Amanda dengan kesal.


"Kau ini. Aku sudah ceramah panjang lebar, tapi kau malah mengantuk!" gerutu Lulu sambil memanyunkan bibirnya.


Amanda pun terkekeh, "Jangan ngambek! Aku bercanda. Tapi makasih ya, kata-katamu memang benar. Mulai dari sekarang aku harus bangkit dan membuka lembaran baru. Aku yakin kebahagiaan pasti bisa aku gapai, sekarang kita harus bersiap-siap untuk ke butik. Karena mulai dari sekarang aku harus fokus pada pekerjaanku bukan?"


Lulu mengangguk, kemudian dia memeluk tubuh Amanda. Setelah itu mereka mempersiap-siap dan turun ke lantai bawah untuk sarapan, di mana Tante Anjani dan juga Om Umar sudah menunggu.


Keduanya melihat tidak ada kesedihan di wajah Amanda, dan itu membuat tante Anjani merasa lega saat melihat keadaan putrinya yang baik-baik saja. Walaupun dia tahu, di dalam hatinya wanita itu sangat hancur.


"Sayang, are you okay?" tanya Tante Anjani.


"Yes I'm okay, Ma. Tidak usah khawatir! Walaupun luka yang ditorehkan mereka begitu dalam, tapi Amanda akan bangkit, tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Bukankah hidup ini harus terus maju? Tidak bisa kita melihat ke belakang terus-menerus," jawab Amanda sambil menatap kedua orang tuanya.


"Yes that's right! Mama benar-benar beruntung sekali memiliki Putri seperti dirimu. Sudah, sekarang kita sarapan keburu dingin."


Amanda dan Lulu pun menganggukan kepalanya, kemudian mereka pun mulai menyantap sarapan yang dibuat oleh tante Anjani.

__ADS_1


.


.


Sementara di sisi lain, tempatnya di sebuah kamar, seorang pria baru saja membuka matanya. Dia merasa kepalanya begitu pusing.


"Eeeuuh!" Lenguhan terdengar saat pria itu membuka mata dan merasa dia berada di tempat yang asing.


"Aku ada di mana?" gumam pria yang tak lain adalah Haris.


"Astaga! Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak berpakaian!" kaget Haris saat melihat dirinya tidak memakai apapun.


Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, namun kepalanya terasa begitu pusing. Akhirnya Haris pun membersihkan dirinya ke kamar mandi yang terdapat di kamar itu, setelahnya dia mengenakan pakaiannya yang semalam.


Pria itu terduduk di ranjang sambil mengingat kejadian semalam, di mana penghianatan Fitri terhadapnya begitu amat sangat menyakitkan. Pria itu pun memegang dadanya yang terasa hancur.


"Tidak kusangka, ternyata semalam bukan mimpi. Padahal aku baru saja bahagia sebab mengingat tentang acara 4 bulanan anakku, tapi ternyata bayi yang dikandungnya bukanlah anakku. Mereka benar-benar penghianat! Aku tidak akan pernah memaafkan mereka berdua!" gumam Haris sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian dia menatap ke arah ranjang di mana ada roda bercak darah, seketika pria itu membulat kaget. "Astaga! Apa aku sudah meniduri seorang gadis!"


"Ya ampun Haris! Kenapa kau ceroboh sekali? Sekarang aku malah meniduri seorang gadis dan salah kamar, ya ampun, bagaimana ini?"gerutu Haris sambil mengacak rambutnya.


Dia merasa frustasi karena tidak sengaja meniduri seorang gadis yang masih suci, kemudian pria itu pun keluar dari sana menuju parkiran untuk pulang ke rumah.


Saat ini pikiran Haris benar-benar kalut, dia sampai salah kamar harus meniduri orang yang salah. Haris juga ingat semalam gadis itu teriak untuk dilepaskan, tapi dia tidak memperdulikannya karena dia di bawah alam sadar.


"Aaagh! Ini semua gara-gara aku mabuk. Biasanya aku tidak pernah meminum minuman haram itu, tapi gara-gara dua penghianat tersebut aku harus meminumnya!" gumam Haris dengan geram.


Sejujurnya ia tidak ingin pulang ke rumah, akan tetapi pria itu tidak ingin menunjukkan jika ia lemah.


Saat sampai di rumah, Tante Dina dan juga Om Samuel sedang berada di meja makan. zdan melihat kepulangan Haris, tentu saja Tante Dina langsung memeluk tubuhnya. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan keadaan putranya.


"Ya Allah, Nak. Kamu habis dari mana aja? Semalaman kamu tidak pulang. Mama benar-benar khawatir sama kamu. Kamu nggak papa kan? Apa ada yang terluka?" tanya Tante Dina dengan raut wajah yang cemas.


"Tidak apa-apa, Mah. Haris baik-baik saja kok, kalau gitu aku mau masuk dulu ya ke kamar, mau siap-siap," jawab Haris dengan datar.


Saat dia akan meninggalkan meja makan, tiba-tiba Om Samuel mencegahnya. "Tunggu Haris!" membuat pria itu seketika menoleh ke arah sang papa.

__ADS_1


"Duduk! Papa ingin bicara."


Akhirnya respon duduk di kursi. "Kenapa Pah?" tanya Haris.


"Papa tahu apa yang kamu rasakan ini benar-benar sakit. Tidak kamu saja Nak, kami dan juga Amanda pun merasakan hal yang sama. Pengkhianatan mereka membuat kami benar-benar sangat kecewa, terhadap Darius juga. Tapi sekarang kami menyerahkan keputusan ada di tanganmu. Mau kamu bagaimana, itu terserah kamu. Karena di sini kamulah yang menggapai kebahagiaan dan menjalani hidup, kami hanya bisa mendukung semua keputusanmu," ujar Om Samuel.


Haris terdiam, kemudian dia meminum teh yang dibuatkan oleh sang mama, lalu Haris membuang nafasnya dengan kasar. Seolah beban berat saat ini tengah ditanggung oleh dirinya.


"Apalagi yang harus hari pertahankan Mah, Pah? Mereka saling mencintai, dan Fitri juga menikah dengan Haris hanya untuk memanfaatkan kedekatannya dengan Kak Darius. Apalagi dia sedang mengandung anak kak Darius. Haris akan menggugat Fitri, tapi tidak bisa kan sebab dia lagi hamil? Jadi sebelum anak itu lahir, Haris akan pisah ranjang. Biarkan saja mereka melakukannya lagi, Haris sudah tidak perduli. Saat ini aku hanya ingin fokus pada pekerjaan saja," Jawab pria tersebut.


Setelah mengatakan itu, Haris bangkit dari duduknya, kemudian Tante Dina pun memeluk tubuh Haris. "Mama selalu ada untukmu, jangan merasa sendirian."


Haris menganggukan kepalanya, kemudian dia mengecup kening sang mama lalu pergi dari sana. Namun Tante Dina mengerutkan keningnya saat dia mencium bau alkohol dari tubuh Putra keduanya tersebut.


"Apa kamu baru meminum alkohol, Haris?"


Pria itu menghentikan langkahnya, "Aku perlu menenangkan diri, dan kuharap mama dan papa paham."


Tante Dina pun tidak bertanya lagi. Sementara Haris melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar. Dia bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan melihat baju-baju Fitri di sana, dan itu membuatnya semakin sakit.


Setelah semuanya siap, Haris turun ke lantai bawah. "Pelayan?" panggil Haris pada salah satu pelayan yang ada di sana.


"Iya Tuan muda."


"Bereskan semua barang-barangnya Fitri di kamar saya! Dari baju, sepatu dan lain-lain, pindahkan ke kamar tamu atau ke kamarnya Kak Darius! Ingat, saat saya pulang sudah tidak boleh ada lagi barangnya dia, dari apapun itu dan sekecil apapun itu, paham! Dan ganti semua sprei, gorden dan juga cat yang ada di kamar itu. Ganti dengan warna abu-abu!" titah Haris kepada pelayan.


"Baik Tuan muda."


Dia sengaja melakukan itu, semua untuk menghilangkan semua jejak yang ada di kamar tersebut. Walaupun Haris tahu tidak akan bisa, namun setidaknya dia tidak ingin mengingat kenangan bersama Fitri. Karena rasa sakit yang ditorehkan wanita itu begitu sangat dalam, sehingga membuat perasaannya sangat hancur.


Sementara Tante Dina dan juga Om Samuel hanya saling melirik saja, mereka juga tahu apa yang dirasakan oleh Haris dan tidak melarang titah pria itu kepada pelayan.


Saat Haris akan pergi dari meja makan, tiba-tiba Darius pulang seorang diri. Namun dia tidak melihat Fitri, akan tetapi Haris tidak perduli. Pria itu melewati Darius begitu saja, namun tangannya ditahan oleh sang kakak.


"Tunggu Haris!"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2