
Malam ini hujan mengguyur cukup deras, semua sudah berada di tenda. Cuaca yang tadinya cerah seketika menjadi hujan.
Tenda Lulu dan juga Amanda bersebelahan, sementara tendanya Mama Inggit, Leo dan juga kedua orang tuanya berada di hadapan tenda milik Lulu dan Amanda.
"Sayang ... ayo dong lebih keras lagi goyangannya!" pinta Ethan sambil memegang panggul Amanda saat keduanya tengah melakukan pergumulan panas untuk menghangatkan tubuh.
Cuaca di sana bahkan lebih dingin dari AC yang ada di kamarnya Amanda, dan itu membuat Ethan semakin berg-airah. Apalagi di benaknya sedari awal sudah memikirkan gaya apa saja yang akan dipakainya saat berada di dalam tenda.
Berbeda dengan Amanda dan Ethan yang saat ini tengah berbagi peluh, bahkan suara mereka terdengar ke tendanya Lulu.
"Yank, kamu beneran gak mau ngasih aku jatah selama satu minggu?" ucap Rizal saat Lulu tidur membelakanginya. "Kamu nggak denger tuh suara kedua sahabat kamu lagi bersahut-sahutanm Bakso Rudal milikku sudah bangun."
"Tidurkan saja sendiri," jawab Lulu dengan acuh, karena dia masih merasa kesal dengan Rizal.
Dia tahu jika dosa menolak suami, akan tetapi Lulu masih saja amat kesal karena Rizal tidak membawa dalam-annya, dan saat ini Lulu tidak mengenakan apapun, dan dia tidak berani membuka jaketnya karena pasti akan tercetak jelas di kaos yang ia pakai
"Sayang, ayolah maafkan aku! Nanti sesampainya kita di kota, aku akan membelikan kamu dal4man yang banyak. Kamu mau yang berenda atau mau warnanya pelangi, aku pasti belikan."
Lulu semakin kesal, kemudian dia menepis tangan Rizal yang saat ini akan memeluk perutnya. "Aku tidak butuh. Jangan peluk aku! Atau aku akan tidur di luar!" ancamnya.
Mendengar itu Rizal hanya membuang nafasnya dengan kasar, dia mengusap sesuatu yang saat ini tengah terbangun di bawah sana. 'Sabar ya Tong. Selama satu minggu kau tidak akan mendapatkan jatah. Dan kau harus bertahan! Begini banget nasib jika mempunyai istri yang hamil, perasaannya amat sangat sensitif, seperti putri malu saja yang disentuh sedikit dia akan cemberut.' batin Rizal merasa ngenes dengan hidupnya.
Sementara Lulu memejamkan mata menyelam ke alam mimpi. Dia pun tidak tahu kenapa semenjak kehamilannya gampang sekali marah dan sangat sulit untuk memaafkan kesalahan Rizal. Padahal biasanya Lulu tidak pernah seperti itu.
'Rasain kamu Mas. Lagian suruh siapa tidak bawa apa yang aku mau. Kamu membiarkan istrimu ini malah memakai dal4man seorang pria. Kamu pikir aku berbatang? Jika kamu bukan suamiku, s,udah kecuplok telormu!' gerutu Lulu di dalam hati, sementara bibirnya monyong 10 cm.
.
.
Pagi hari udara terasa begitu sejuk, Amanda keluar dengan Ethan. Wajah mereka terlihat begitu sumringah, sementara saat Rizal keluar wajahnya terlihat muram durja.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Bukannya semalam habis mencoba gaya yang baru?" ledek Ethan sambil menaik turunkan alisnya.
"Diam kau! Gaya dari mana? Boro-boro gaya kodok yang lagi nyelem ke dalam sawah, gaya cicak saja tidak kesampaian. Istriku masih ngambek."
Bukannya prihatin, Ethan dan Amanda malah terkekeh, membuat pagi Rizal terasa begitu kacau. "Makanya ... orang disuruh bawa dal4man, malah bawa CD sama kaset. Memangnya di sini ada listrik?" ledek Amanda sambil terus tertawa.
"Iya ... terus aja tertawa. Kalian mah enak semalam habis mencoba gaya baru dan tidak memikirkan perasaanku, bahkan suara kalian terdengar begitu jelek di telingaku."
"Iri Bos? Bilang dong!" Ethan menyenggol bahu Rizal, membuat pria itu menekuk wajahnya.
"Sudah sudah ... kalian ini laki-laki sudah dewasa, tapi masih saja berbicara seperti itu. Apa tidak malu? Di sini masih ada anak yang polos, belum menikah, nanti kalau mereka dengar, gimana? Jika mereka melakukan dosa, kalian mau menanggung dosanya," ujar Mama Inggit.
Seketika Amanda, Ethan dan juga Rizal pun menggelengkan kepalanya. "Tidak Mah. Jangan bawa-bawa aku. Kalau mau berbagi dosa, sama Mas Ethan aja dan juga Rizal. Kalau aku pahalanya saja," ujar Amanda sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
Mama Inggit menggelengkan kepala saat melihat tingkah tiga orang itu, kemudian dia meminta Amanda untuk membantunya membuat air panas karena mereka akan membuat kopi dan juga teh.
Tak lama Lulu bangun, kemudian dia langsung berlari untuk memuntahkan isi perutnya. Melihat itu Rizal pun langsung menyusul dan dia langsung mengurut tengkuk sang istri.
__ADS_1
"Sudah lebih baik?" tanya Rizal dan Lulu hanya mengangguk pelan.
Setelah selesai mengeluarkan semua isi perutnya Lulu kembali kesal saat melihat wajah Rizal yang berada di dekatnya. "Ngapain kamu pegang-pegang aku? Udah awas! Aku mau ke Amanda saja."
"Astaga! Tadi dia tidak marah, sekarang malah kumat lagi. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan wanita hamil, kenapa sifat mereka seperti bunglon gampang berubah? Bahkan dalam hitungan detik." Rizal memutar bola matanya dengan nafas yang terdengar begitu kasar.
"Gisel, kamu tolong ambil air ke sungai ya!" pinta tante Aulia.
Gisel mengangguk, dia berencana sekalian ingin mencuci tangan, kaki serta mencuci mukanya, karena sangat yakin jika sungai itu airnya sangatlah jernih dan segar di pagi hari.
"Aku bantu ya," ujar Angga, tetapi Gisel tidak menjawab. Dia berjalan lebih dulu lalu Angga pun mengikutinya dari belakang.
"Mereka itu punya hubungan ya?" tanya Mama Inggit kepada Amanda.
"Kata Mas Ethan sih iya, Mah. Angga mau menunjukkan perasaannya kepada Gisel. Ya ... semoga saja mereka berjodoh," jawab Amanda sambil mengaduk teh dan memberikannya kepada Ethan.
"Terima kasih Permaisuriku."
"Sama-sama rajaku."
HUWEEK!
Tiba-tiba saja Rizal merasa mual saat mendengar ucapan Amanda dan juga Ethan yang terdengar begitu menggelikan di telinganya.
"Wajar sih, pengantin baru," sindir Rizal.
"Yaelah ... pisang ambon ya nggak dapat jatah semalam nyindir mulu dari pagi." Ethan kembali meledek, sementara Lulu hanya acuh sambil membuat susu hamilnya.
.
.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Ethan yang khawatir dengan keadaan sang istri.
"Nggak tahu nih Mas, kepalaku pusing banget."
"Makanya Ethan, istrimu jangan terlalu digempur semalaman. Kamu pikir dia itu robot," ledek Mama Inggit yang berada di jok belakang.
"Enggak kok Mah, masa cuma 4 ronde aja aku sejahat itu?"
"4 ronde?" Mama Inggit menggelengkan kepalanya dengan mata membulat. Dia tidak menyangka jika mempunyai putra yang begitu sangat kuat jika berada di atas ranjang.
'Dia benar-benar seperti Papahnya, sangat kuat.' batin Mama Inggit sambil mengingat tentang almarhum suaminya.
"Mungkin karena kamu tadi pagi nggak makan sayang. Kamu kan cuma minum teh aja." Mama Inggit memijit pundak Amanda dari belakang.
"Mungkin kali ya Mah ... tapi memang tadi pagi selera makanku hilang. Aku rasanya tidak mau memakan nasi, aneh. Padahal tempat itu sangat sejuk dan menu-menu sarapan juga sangat menggugah selera." Amanda memijit keningnya.
"Kita ke Apotek dulu ya! Atau mau ke rumah sakit untuk cek?"
__ADS_1
"Nggak usah Mas. Kita langsung pulang saja! Aku hanya kelelahan mungkin."
Ethan pun mengangguk, lalu melajukan mobilnya menuju rumah. Dia melirik ke arah Amanda yang saat ini tengah memejamkan matanya. Pria itu benar-benar khawatir dengan keadaan sang istri karena takut jika apa yang dibilang Mama Inggit benar, bahwa Amanda kelelahan karena ulah dirinya semalam.
"Mas, berhenti dulu!" pinta Amanda.
"Mau ngapain, sayang?"
"Beliin aku itu dong!" tunjuk Amanda kepada pedagang sempolan.
"Itu jajanan kaki lima. Kamu mau itu?" Amanda langsung menganggukan kepalanya.
"Iya Mas, kamu beliin ya 10 tusuk. Jangan lupa sama telur gulungnya 10."
"Tapi sayang, apa kamu yakin?"
"Kenapa? Kamu takut aku sakit perut? Ya ampun Mas! Perut aku itu sudah terbiasa beradaptasi dengan jajanan kaki lima, jadi tidak akan sama sekali membuat perutku sakit. Sudah, belikan ya!" pinta Amanda dengan tatapan memohon.
Akhirnya Ethan turun, kemudian dia membelikan pesanan yang diminta oleh sang istri. Setelah menunggu beberapa lama karena mengantri dari bocah-bocah kecil, Ethan segera membawanya ke dalam dan terlihat dia berkeringat karena di luar sangatlah panas.
"Makasih suamiku tercinta."
"Sama-sama sayang, tapi kan kamu belum makan nasi. Nanti perut kamu sakit lho?"
"Enggak. Udah kamu tenang aja!" Amanda mulai memasukkan sempolan serta telur gulung itu bergantian, dia begitu menikmati sampai lupa menawarkan kepada Mama Inggit dan juga sang suami.
"Kamu lahap banget sih makannya?" Ethan mengusap kepala Amanda.
"Iya Mas, enak banget soalnya," jawab Amanda dengan saus yang belepotan di pinggir bibirnya, dan Ethan langsung mengusapnya dengan ibu jari.
Sesampainya mobil di rumah, ketiganya pun langsung masuk, tetapi tetap saja kepala Amanda masih terasa pusing, malah semakin bertambah.
Tubuhnya seketika oleng, untung saja Ethan segera sigap menangkapnya. "Sayang, kamu kenapa?" paniknya.
"Nggak tahu Mas, kepalaku sakit sekali. Aku fikir sudah mendingan, tapi malah semakin menjadi," jawab Amanda dengan wajah yang sudah terlihat pucat.
Tanpa menunggu, Ethan segera menggendong tubuh Amanda, membaringkannya di atas ranjang, lalu dia menelpon dokter dari keluarganya sebab Ethan tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang istri.
"Kenapa memanggil dokter, Mas? Mungkin aku hanya kelelahan dan perlu istirahat saja, tidak usah sampai memanggil dokter seperti itu."
"Sayang, aku takut jika kamu sakit, jadi lebih baik kita pastikan kepada dokter. Lagi pula, tidak ada salahnya kan dan tidak rugi juga."
Tiba-tiba Mama Inggit datang, "Amanda kenapa, Ethan?" tatapannya begitu khawatir.
"Nggak tahu Mah, mungkin Amanda kelelahan saja. Tapi aku sudah memanggil dokter kok untuk ke sini, jadi Mama tidak usah khawatir."
Mama Inggit mengangguk, lalu dia mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di kening, tangan serta kaki milik menantunya. Dia bahkan tidak canggung karena sudah menganggap Amanda seperti putrinya sendiri.
Tak lama dokter yang ditunggu pun telah tiba, dan langsung memeriksa keadaan Amanda. "Bagaimana Dok? Istri saya sakit apa?" tanya Ethan penasaran.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....