Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Dia Pelakunya


__ADS_3

Happy reading ....


Ethan sampai di butik Amanda, kemudian dia langsung mengecek CCTV yang ada di sana, akan tetapi tidak terlihat hanya saja yang terlihat saat Amanda terlempar dan tertabrak begitu keras.


Sebagai seorang suami tentu saja Ethan merasa sakit dan sesak saat melihat bagaimana istrinya terluka.


Dia mencari tahu tentang mobil tersebut dari CCTV, akan tetapi tidak terlihat plat nomornya hanya warnanya saja.


"Hanya warna mobilnya saja. Sial!" geram Okta sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian dia mengeluarkan ponsel dan menelepon William. "Halo William, kita ketemuan sekarang! Saya kasih alamatnya ke kamu," ucap Ethan saat telepon tersambung.


Setelah mendapatkan jawaban dari orang di seberang telepon dia pun memutuskannya, lalu Ethan raga segera beranjak dari duduknya berjalan keluar dari butik Amanda menuju mobil.


Sspanjang perjalanan menuju Cafe tak henti-henti Ethan memaki orang yang telah menabrak Amanda. Sangat jelas jika di sana tidak ada mobil lagi, dan Amanda menyeberang dalam keadaan sepi. Seharusnya mobil itu bisa menghindar jika ada orang karena jalanan lumayan lega.


"Aku yakin, orang itu pasti sengaja. Atau jangan-jangan ... ini adalah ulahnya Mona?" batin Ethan dengan mata membulat saat mengingat satu nama yang tak pernah menyukai hubungannya dengan Amanda.


"Tidak. Tidak ... aku tidak boleh salah sangka dulu sebelum aku mendapatkan buktinya. Tapi jika benar ini adalah Mona, lihat saja! Aku tidak akan memberi ampun kepadanya. Tidak akan pernah," gumam Ethan dengan tangan terkepal.


Dan saat dia sampai di Cafe Ethan menunggu, beberapa menit William pun datang. "Iya Tuan, ada apa?" tanya William.


"Aku mau kau mencari tahu tentang pengendara mobil yang sudah menabrak iatriku. Cari di CCTV terdekat di butik istriku! Pokoknya aku mau malam ini juga hasilnya sudah kelihatan, paham!" perintah Ethan.


"Baik Tuan, apa ada lagi?"


"Tidak ada, itu saja. Cepat kerjakan!" William mengangguk kemudian dia pergi dari sana.


Setelah dia memerintahkan William, Ethan memutuskan untuk kembali ke rumah sakit menjenguk keadaan istrinya, dan di sana masih ada tante Inggit dan kedua orang tua Amanda, sementara Lulu dan juga Gisel sudah pulang.

__ADS_1


Terlihat Ethan bahkan belum membersihkan diri, dia masuk ke dalam ruangan dan di sana ternyata Amanda belum juga sadar.


"Amanda belum sadar ya, Mah?" tanya Ethan kepada tante Inggit.


"Belum sayang, sebaiknya kamu membersihkan diri dulu. Mama juga sudah bawakan baju ganti buat kamu," ucap tante Inggit sambil menyerahkan paper bag kepada Ethan.


Pria itu mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah ranjang dan mencium kening Amanda yang terbalut oleh perban, lalu dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Mama dan Papa pulang saja, biar aku yang menjaga Amanda," ucap Ethan kepada kedua mertuanya dan juga tante Inggit.


"Tidak, papa akan di sini menemani kamu. Dan mama serta kamu Inggit, pulang saja. Kalian jangan terlalu lelah, biar aku dan juga Ethan yang menjaga Amanda," ujar Om Umar.


Tante Anjani tidak setuju, akan tetapi dia tidak bisa menolak perintah dari suaminya. Akhirnya ia pun pulang bersama dengan tante Inggit, dan tante Inggit menginap di kediamannya tante Anjani untuk menemani wanita itu karena keduanya saat ini sedang terluka.


"Bagaimana Ethan? Apa kamu sudah menemukan siapa dalang dibalik penabrakan ini?" tanya om Umar.


Om Umar terdiam, memikirkan siapa dalang dibalik penabrak itu. "Kamu tahu siapa pelakunya? Atau ada nama yang kamu curigai?"


Mendengar hal tersebut Ethan menganggukkan kepalanya. "Iya Pah, sejujurnya ada orang yang aku curigai tapi aku tidak terlalu meyakini, sebab belum mendapatkan buktinya. Tapi jika itu benar aku tidak akan memberi ampun sekecil apapun itu! Aku akan memberinya hukuman yang setimpal dengan perbuatannya!" Terlihat sorot mata Ethan begitu memancarkan kemarahan.


"Bagaimana Ethan tidak marah? Mereka baru saja menikah belum ada satu bulan dan baru pulang dari bulan madu, tetapi Amanda sudah harus kecelakaan. Sudah pasti itu membuat Ethan sangat terpukul karena dia merasa sebagai suami tidak becus menjaga Amanda yang baru menjadi istrinya.


"Kamu yang kuat ya sayang, aku pasti akan menemukan pelakunya. Kita akan tahu sebentar lagi siapa orang yang sudah mencelakai kamu." batin Ethan sambil menggenggam tangan Amanda kemudian mengecupnya.


Dia melihat ponsel akan tetapi belum ada tanda-tanda telepon dari William. Ethan memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di laptop.


Sementara Om Umar keluar membeli kopi dan tak lama ia kembali, kemudian memberikan satu bungkus nasi padang untuk menantunya.


"Makan dulu yuk! Kamu belum makan dari sore, nanti kalau kamu sakit Amanda pasti akan sedih," ucap Om Umar.

__ADS_1


"Tidak Pah, aku tidak lapar." tolak Ethan.


"Kamu tidak lapar, tapi kesehatanmu penting. Kalau sampai kamu sakit memangnya kamu mau melihat Amanda bertambah sedih? Sebaiknya kamu makan, setidaknya walaupun sedikit ada asupan nasi ke dalam perut kamu," jelas Om Umar.


Mau tidak mau akhirnya Ethan pun memasukkan nasi itu walaupun hanya beberapa suap, hingga tiba-tiba saja ponselnya berdering dan ternyata itu telepon dari William.


Pria itu langsung menegak air putih lalu mengangkatnya. "Iya halo William ... Bagaimana? Apa kau sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya Ethan saat telepon tersambung.


"Sudah Tuan, saya sudah menemukan siapa pelakunya. Apakah kita bisa bertem," jawab William di seberang telepon.


"Iya kau ke rumah sakit saja nanti aku kirim alamat ruangan istriku, cepat aku tunggu kau!" titah Ethan.


Setelah telepon terputus Om Umar menatap ke arah menantunya. "Jadi siapa pelaku yang sudah menabrak Amanda?" tanya om Umar dengan tidak sabar.


"Aku juga tidak tahu Pah. William lagi di jalan untuk ke sini, aku juga sudah tidak sabar ingin segera mengetahui siapa pelaku sebenarnya," jawab Ethan.


Setelah setengah jam menunggu akhirnya William pun datang, dia membawa laptopnya karena di sana bukti tentang menabrak Amanda ditemukan.


"Bagaimana? Siapa pelakunya?" tanya om Omar dan juga Ethan serempak.


William menaruh laptopnya di atas meja di dekat sofa, kemudian dia pun memutar CCTV di mana di sana pelaku yang sebenarnya terekam.


"Jadi dia pelakunya!" geram Ethan dengan rahang mengeras.


Sorot matanya begitu sangat tajam urat-urat lehernya bahkan terlihat begitu jelas memancarkan kemarahan yang sudah tidak bisa digambarkan lagi, ibarat jika singa sedang mengamuk mungkin saja mangsanya tidak akan bisa lolos.


"Benar-benar menantang maut mu sendiri!" geram Ethan dengan takangan terkepal kuat.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2