
Ethan langsung kembali ke dalam kamar mandi dan menutup pintu tersebut. Pipinya seketika merah bak kepiting rebus, nafasnya terengah-engah sambil memukul keningnya beberapa kali.
"Astaga naga! Bodoh. Bodoh. Bodoh. Hancur sudah harga diriku. Kenapa di kamar ada mama dan papa?" gerutu Ethan sambil menelan ludahnya beberapa kali.
Bagaimana dia tidak malu, saat pria itu keluar dia mendengar Amanda bersiul beberapa kali. Pria itu fikir, Amanda sudah tidak sabar melihatnya, tetapi ternyata Amanda bersiul itu karena dia memberikan kode kepada suaminya bahwa di kamar itu dia tidak sendirian.
"Astaga Etha! Kenapa lo nggak cek dulu sih tadi main keluar aja. Apalagi dengan gaya yang benar-benar memalukan. Runtuh sudah harga Diriku ya Tuhan!" Ethan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan kekarnya.
Bahkan hanya untuk sekedar keluar dari kamar mandi saja dia tidak sanggup, karena mau ditaruh di mana wajahnya untuk berhadapan dengan kedua mertuanya? Sudah pasti Om Umar maupun tante Anjani akan mengolok-olok dirinya.
Sementara di dalam kamar, Amanda menepuk peningnya. 'Mas ketan gimana sih? Udah aku beri kode juga, masih aja keluar. Dan ... apa itu tadi? Gaya apa yang dia pakai?' tawanya di dalam hati, tapi bibirnya tidak bisa berbohong, sehingga wanita itu pun hanya bisa menahan tawa. 'Dia benar-benar cocok memakai gaun malamku.'
Seketika tawa tante Anjani dan juga Om Umar pecah. Mereka sampai memegangi perutnya, sementara Amanda hanya tersipu malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahaha! Astaga! Apa itu tadi, Amanda? Suamimu sedang apa?" tanya tante Anjani sambil terus tertawa. "Apa dia sudah gila? Kenapa memakai gaun malam seperti itu? Hahaha! Aduh ... perut Mama sampai sakit. Dia itu mirip seperti bencong-bencong yang ada di salon kecantikan."
"Mamah ..." Amanda mengerucutkan bibirnya. "Kok bilang kayak gitu sih? Walau bagaimanapun mas ketan itu suami Amanda lho, Ma."
__ADS_1
"Suami sih, suami. Tapi kamu yang bener aja dong sayang! Masa dia pakai pakaian lingerie begitu? Memangnya di sini sudah berganti profesi ya?" kelakar Om Umar, "seharusnya kamu yang berada di posisi itu, tapi kenapa Ethan yang memakainya? Hahaha! Aduh ... papa benar-benar tidak bisa menahan kencing ini ... papa permisi ke toilet dulu." Pria itu pun keluar dari kamar menuju kamar yang berada di sebelah untuk menuju toilet.
Melihat penampilan menantunya membuat Om Umar maupun tante Anjani tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Ethan sedang bergaya dengan begitu lihainya di depan pintu kamar mandi, dan pria itu terlihat gemulai sekali.
"Kamu dapat suami dari mana sih? Bisa segemulai itu. Mama sampai tidak berhenti tertawa, hahaha ... oh iya, kenapa dia bisa pakai baju begituan?"
"Ini lho, Ma ... jadi karena aku kecapean, aku minta sama mas ketan buat gantiin aku nyobain bajunya. Karena aku pikir, kan badannya Mas Ethan itu kekar, sedangkan badan aku kan mulai berisi semenjak kehamilan, jadi kurasa jika dari dia muat maka sudah dipastikan di aku juga muat."
Tante Anjani hanya menggelengkan kepalanya saja sambil terus tertawa. "Kamu ini ada-ada aja. Sudah pasti suamimu sekarang wajahnya seperti tomat yang baru saja matang dari rebusan, dia pasti sangat malu sekali. Tapi mama cukup terhibur malam ini."
Tak lama Om Umar kembali, berbarengan dengan itu Ethan keluar dari kamar mandi dengan setelan kaos dan juga kolor. Dia menundukkan kepalanya sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Ethan, kamu itu habis kesambet apa sih? Jadi sekarang begini ... profesi anaknya Papa digantikan dengan kamu? Yang seharusnya memakai baju dinas itu adalah istrimu, tapi papa rasa kamu juga cocok, hahaha!" Lagi-lagi Om Umar meledek sambil terus tertawa terpingkal-pingkal.
"Itu Pah ... anu ... aku ..." Ethan memberikan kode kepada Amanda agar orang tuanya berhenti menertawakan dirinya.
Amanda dapat melihat wajah malu suami tercintanya, dia yang sedari tadi menahan tawa seketika lepas kontrol juga, sampai memegangi perutnya yang sedikit sakit.
__ADS_1
"Kok kamu malah ngetawain aku sih, sayang? Ini kan juga semua karena ulah kamu." Ethan terlihat begitu kesal.
"Maaf ... maaf Mas! Habisnya kamu lucu .... gimana aku nggak ketawa? Orang Mama sama Papa aja sampai terkencing-kencing," jawab Amanda
"Iya, tertawa saja tidak apa-apa, anggap saja itu adalah pahala untuk diriku sendiri karena sudah membuat kalian bahagia. Tapi cukuplah! Mau ditaruh di mana harga diriku ini sebagai seorang bos?"
"Oke, oke, kami berhenti tertawa," ujar Om Umar. Akan tetapi dia tidak bisa berbohong, saat mengingat bagaimana penampilannya Ethan tadi dan bagaimana dengan lihainya pria itu bergaya membuat tawanya seketika pecah kembali.
"Sudah Pa ... kasihan menantu kita. Lihat! Wajahnya sampai memerah begitu, seperti baru saja keluar dari Open," ledek tante Anjani.
Ethan hanya bisa merengut dan duduk di tepi ranjang dengan wajah kesalnya. "Mama dan Papa ke sini kenapa tidak memberitahuku?"
Amanda baru ingat jika dia belum menanyakan kedatangan orang tuanya ke situ. "Oh iya, Amanda sampai lupa. Mama dan Papa kenapa ada di sini?"
"Kami ke sini karena permintaan dari mama mertua kamu, sayang. Dia kan lagi pergi ke Bali, jadi meminta kami untuk menemani kamu beberapa hari di sini sampai dia balik lagi."
Tentu saja Amanda sangat senang saat mendengar itu, dan setelah mereka berbincang keempatnya pun menuruni lantai bawah. Akan tetapi,baru saja mereka sampai di ujung tangga tiba-tiba ada seseorang yang berlari sedikit tergopoh-gopoh dengan wajah yang begitu panik.
__ADS_1
"Mobil sedan! Amanda! Tolong aku!" panik seseorang.
BERSAMBUNG......