
Amanda melangkah ke arah dapur dan dia melihat suaminya sedang berkutat membuatkan mie instan pesanannya. Wanita itu tersenyum sambil duduk di kursi yang ada di meja makan.
"Jangan lupa ya Mas, cabenya 10!"
"Sayang, cabenya dua aja ya," tawar Ethan.
"Nggak mau. Aku maunya 10. Pokoknya kalau dikurangin, aku nggak mau makan."
"Lho, kok gitu sih sayang?" protes Ethan, "kalau 10, nanti sakit perut," khawatirnya.
"Kalau dua nggak ada rasanya, Mas.nPokoknya aku mau 10. Kalau nggak ... tambahin cabenya 20 biji lagi, dan kamu yang makan!"
Mendengar ancaman istrinya, Ethan seketika menegak salivanya dengan kasar. Tidak bisa membayangkan bagaimana mulutnya yang harus memakan mie instan dengan 30 buah cabai merah. Lria itu seketika bergidik ngeri lalu dia pun memasukkan 8 buah cabe rawit kembali ke dalam panci.
'Memang orang ngidam itu aneh-aneh.' batinnya, dan setelah jadi Ethan memberikannya kepada Amanda, lengkap dengan sosis dan bakso.
"Wah! Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera melahapnya," gumam Amanda, kemudian dia mulai mengambil garpu dan juga sendok lalu meniupnya dan melahapnya dengan begitu sangat nikmat.
"Mau nggak?" tanya Amanda, tetapi Ethan langsung menggelengkan kepalanya, "tidak sayang, terima kasih. Kamu saja."
Melihat istrinya makan dengan lahap, Ethan tiba-tiba saja mengantuk. Dia pun menaruh kepalanya di meja dan tidak terasa matanya sudah terpejam.
Amanda mengelap bibirnya, terdengar sendawa yang cukup keras dari wanita itu. Dia mengusap perutnya yang terasa begitu kenyang. "Mas, mienya sangat--" Ucapannya terhenti saat melihat Ethan sudah tertidur.
Senyum terpantri begitu indah di wajah cantiknya, dia merasa kasihan karena sudah membangunkan Etgan dan menyusahkannya. Wanita itu pun mengusap wajah Ethan dengan lembut.
"Sayang, kamu sudah makan mienya?" tanya Ethan dengan suara purau.
"Sudah, maaf ya aku ngerepotin kamu."
"Nggak apa-apa, sama istri sendiri. Ya udah, sekarang kita masuk kamar yuk! Udah jam 03.00 tuh." Amanda mengangguk, lalu mereka pun berjalan menuju kamar untuk beristirahat.
.
.
Pagi ini Amanda terlihat begitu rajin, dia sudah menyiapkan baju kerja Ethan dan sudah menyiapkan pula perlengkapan mandi suaminya. Setelah selesai Amanda berjalan menuju lantai bawah untuk membuatkan susu.
"Sayang, kamu kok bangun pagi-pagi sih? Seharusnya jangan capek-capek dong," ujar Mama Inggit saat melihat menantunya yang sudah berada di dapur.
"Aku pengen buatin sesuatu buat Mas Ethan, Mah."
"Apa itu?"
"Susu strawberry." Amanda memperlihatkan gelas yang sudah ia isi dengan susu strawberry dan mengaduknya.
Mama Inggit dan pelayan saling melirik satu sama lain. "Sayang, sejak kapan Ethan doyan susu? Kamu kan tahu, dia doyannya kopi."
"Iya sih, Mah, tapi entah kenapa Amanda mau Mas Ethan minum susu ini. Ingin sekali melihatnya menghabiskan susu strawberry."
Mendengar itu Mama Inggit malah terkekeh, dia paham bahwa menantunya saat ini tengah mengidam. "Ya sudah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya Mah."
__ADS_1
Namun saat Amanda akan meninggalkan ruang makan, tiba-tiba saja Ethan memanggilnya dari atas tangga. "Sayang! Baju kerja aku di mana?"
"Sebaiknya kamu taruh aja susunya di sini! Nanti kan kita juga mau sarapan."
Amanda mengangguk, kemudian dia mulai berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. "Kenapa sayang?" tanya Amanda.
"Baju kerja aku mana? Kan katanya kamu udah siapin?"
"Itu!" tunjuk Amanda ke atas ranjang.
Ethan seketika mengikuti arah jari sang istri dan di sana terlihat tumpukan jas bersama dengan kemeja dan dasi berwarna kuning. Pria itu mengerutkan keningnya.
"Emang itu baju yang kamu siapin?" tanyanya memastikan, dan langsung dibalas anggukan oleh Amanda. "Of course. Jadi kamu pakai ya!" Senyum wanita itu mengembang menampilkan deretan gigi putihnya.
"What! Sayang kamu yang bener aja dong? Masa aku makai serba warna pink sih? Kan aku cowok bukan cewek."
"Jadi kamu nggak mau?" Terlihat wajah Amanda sudah mulai bersedih, kedua matanya berembun ndak mengeluarkan cairan bening.
"Bukan seperti itu ... tapi kan aku nggak pernah pakai warna pink, mana matching banget lagi warnanya pink pink."
"Tapi aku mau biar kita couple-an. Lagi pula, aku hari ini ikut kamu ke kantor, boleh ya?" Amanda menangkupkan tangannya di depan dada dengan tatapan memuja, membuat Ethan tidak tega.
"Baiklah jika itu permintaan istriku, maka aku akan memakainya," jawab Ethan dengan pasrah. "Tapi ingat! Ini hanya karena kamu yang meminta, kalau orang lain mana mau."
"Suamiku emang paling the best. Muaach!" Amanda mencubit kedua pipi Ethan kemudian mengecup bibirnya dengan singkat. "Ya sudah, kalau gitu aku juga siap-siap ya." Wanita itu pun langsung masuk ke dalam kamar mandi membawa dress berwarna pink soft.
Sementara Ethan terpaksa memakai jas dan juga kemeja tersebut, lalu dia berkaca di cermin dan seketika bergidik geli melihat pantulan dirinya sendiri. "Ya ampun! Aku seperti lekong yang akan mangkal di depan gang saja. Seumur-umur baru ini aku mengenakan kemeja berwarna pink, apalagi dengan jasnya."
"Tuh kan, kita matching. Memang ya ... kita ini pasangan serasi " Amanda menaik turunkan alisnya, kemudian dia mengapit lengan Ethan. "Ayo kita turun!" ajaknya.
'Mampuslah aku. Sudah pasti akan menjadi olok-olokannya Mama. Tapi mau bagaimana lagi ... yang minta anakku sendiri. Jika Amanda tidak sedang ngidam, sudah pasti aku akan menolaknya.' batin Ethan.
Dia tidak peduli kalaupun harus diolok-olok oleh karyawan kantornya, tapi memang ada rasa malu di hati pria itu. Kemudian mereka pun menuruni tangga menuju meja makan.
Semua pelayan yang sedang berada di dapur dan yang sedang membersihkan rumah seketika menatap ke arah Ethan dengan membulat. Tak percaya karena selama mereka di sana baru kali ini melihat Ethan berpakaian dengan warna yang begitu sangat kewanitaan.
"Good morning Mah," sapa Ethan.
BYUUR!
Mama Inggit yang sedang meminum teh hangatnya seketika menyembur, saat melihat putranya yang tengah berdiri di hadapannya dengan tampilan yang sangat berbeda bahkan 180°.
"Tunggu, tunggu! Ini kamu?" kaget Mama Inggit, namun seketika tawanya meledak, sementara pelayan di sana melipat bibir menahan tawa.
"Apa? Kalian mau tertawa? Saya potong gaji kalian!" ancam Ethan sambil menatap tajam ke arah pelayan, karena dia tahu mereka ingin menertawakan dirinya.
"Mas, jangan kayak gitu ih. Masa sama pelayan begitu banget. Lagi pula, kamu itu sangat tampan tahu?" puji Amanda, "iya kan, Mah? Mas Ethan tampan banget pakai jas sama kemeja ini." Wanita itu melirik ke arah mertuanya.
"Hahaha! Iya, kamu sangat tampan, Than," jawab Mama Inggit sambil tertawa, kemudian dia berjalan ke arah Ethan dan mengelilingi putranya. "Kesambet apaan kamu pakai warna pink?"
"Mama tanya aja sama menantu kesayangan Mama itu!" Ethan pun duduk di kursinya. "Dan apa ini? Kenapa susu kamu ada di mejaku?" Dia menatap ke arah Amanda.
__ADS_1
"Itu bukannya susu Amanda, tetapi tadi dia ke dapur dan itu membuatkannya untukmu," timpal Mama Inggit.
"What! Sayang, apa kamu sudah gila? Aku kan tidak suka susu, biasanya juga aku minum kopi," protes Ethan sambil menatap sang istri.
"Iya, aku tahu. Tapi aku ingin melihat kamu meminum susu itu sampai habis. Boleh ya sayang, please!" Lagi-lagi Amanda menatap Ethan dengan tatapan memohon, sehingga pria itu pun akhirnya luluh.
Mau tidak mau akhirnya Ethan pun meminum susu itu, walaupun sebenarnya perutnya serasa dikocok-kocok dan dia sangat mual, karena tidak terbiasa minum susu. Sementara Mama Inggit sedari tadi hanya menahan tawanya.
"Anak mama ini, ternyata rajanya bucin. Sampai apa yang dikata istrinya, dia turutin," ledek Mama Inggit.
Selesai sarapan, Ethan dan juga Amanda pergi ke kantor, lalu salah satu pelayan berbicara kepada Mama Inggit, "Nyonya, seumur-umur saya bekerja di sini tidak pernah melihat tuan muda sampai senurut itu. Bahkan baru kali ini saya melihatnya memakai warna pink, dan itu sangat lucu. Bahkan tuan muda mau meminum susu strawberry yang tidak pernah ia lakukan."
"Kamu benar, Bi. Mungkin itu tanda bukti cintanya kepada Amanda. Tapi saya senang kok, karena Ethan artinya sangat menghargai Amanda sebagai istrinya. Saya juga berharap rumah tangga mereka langgeng."
"Aamiin," jawab semua pelayan yang ada di sana.
.
.
Amanda dan Ethan sudah sampai di kantor, namun pria itu urung turun dari mobilnya, karena dia merasa malu jika semua karyawannya melihat dirinya dengan tampilan yang sangat berbeda.
"Kamu kenapa? Ayo kita turun! Katanya mau ada meeting 30 menit lagi?" ajak Amanda sambil menggoyang lengan Ethan.
"Iya sayang," jawabnya dengan sedikit gugup.
"Kamu malu ya berpakaian seperti ini?" Lagi-lagi wajah Amanda terlihat sedih.
"Tidak kok Ya udah, ayo kita turun!" Ethan mencoba untuk memasang wajah tembok di hadapan semua orang, apalagi sebentar lagi dia harus bertemu dengan klien. Sudah pasti semua kliennya akan mengolok-olok dirinya, tapi jika itu terjadi Ethan pasti akan langsung membatalkan kerjasamanya.
Benar saja dugaan pria tersebut, saat dia masuk bersama dengan Amanda seluruh karyawan yang ada di sana menatap mereka, bahkan beberapa karyawan tengah menundukkan kepala sambil menutup mulutnya. Dan Ethan tahu jika mereka tengah menahan tawa..
"Apa yang kalian lihat, hah? Berani mentertawakan, saya pecat kalian!" ancam Ethan dengan tatapan tajamnya.
Semua karyawan yang ada di sana menundukkan kepala. Mereka sangat takut dengan ancaman Ethan, karena hanya di sanalah pekerjaan tidak terlalu berat dan gajinya sangat sepadan, tidak banyak peraturan juga.
"Pak Ethan itu benar-benar nurut sekali ya sama istrinya. Beruntung Bu Amanda bisa mendapatkannya. Kalau aku ada di posisinya Bu Amanda, aku wanita yang benar-benar sangat bahagia sedunia, karena memiliki suami yang begitu mencintai istrinya," ucap salah satu karyawan yang ada di sana.
"Kamu benar. Aku juga begitu ... sayang, pak Ethan sudah ada yang punya. Kalau dia punya adik, aku juga mau. Tapi belum tentu adiknya mempunyai pribadi seperti Pak Ethan."
"Sudah-sudah. Kalian ini malah bergosip, kalau nanti pak Ethan dengar, kalian bisa dipecat. Emangnya mau?"
Kedua karyawan itu langsung menggeleng lalu mereka pun mulai bekerja kembali, dan semua karyawan di sana memberikan nama kepadatan dengan sebutan Bos bucin.
Sementara di lantai atas, Ethan sedang bersiap-siap karena sebentar lagi dia akan melaksanakan meeting. Namun, saat pria itu beranjak, Amanda meminta ikut. Akan tetapi, sebelum mereka keluar dari ruangan, Amanda memberikan sesuatu kepadanya.
"Sayang, apa ini?" tanyanya dengan bingung saat melihat benda yang berada di tangan istrinya.
"Kamu pakai ya! Ini adalah penyemangat buat kamu, dari aku. Dan aku mohon jangan dilepas sampai meetingnya selesai."
"What!" Kedua netra milik Ethan membulat hingga mata itu terlihat ingin loncat dari tempatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......