Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Mengunci 2 Penghianat


__ADS_3

Happy reading ....


Pelayan berjalan menuju taman samping rumah, sambil membawa rujak yang ada di piring, kemudian memberikannya kepada Fitri.


"Silakan Nona, ini rujaknya rujaknya." ucap pelayan tersebut sambil menaruhnya di atas meja.


"Hm." Fitri hanya menjawab dengan gumaman saja, setelah itu pelayan pun pergi.


Melihat rujak yang ada di hadapannya membuat Fitri seketika tidak sabar untuk mencicipinyax kemudian dia mengambil mangga muda lalu mencocolnya dengan sambal.


Matanya terpejam untuk menikmati rasa rujak tersebut. Namun seketika matanya terbuka lebar, saat merasakan bukan rasa pedas dan manis dari sambal itu, melainkan rasa asin dan juga asam.


"Astaga! Ini rujak apa!" jerit Fitri sambil memuntahkan makanan yang baru masuk dalam mulutnya.


"PELAYAN!" teriak Fitri dengan marah.


Kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang makan, dan kebetulan di sana Tante Dina baru saja sampai untuk mengambil air dingin di dalam kulkas.


"PELAYAN!" teriak Fitri.


"Fitri, Ada apa Nak? Kok teriak-teriak?" tanya Tante Dina yang merasa heran.


Kemudian Fitri menaruh rujak yang tadi dibawa oleh pelayan di atas meja, kemudian dia menatap dengan tajam. "Apa yang kamu berikan kepada saya, hah! Kamu ingin meracuni saya!" bentak Fitri sambil menggebrak meja makan.


BRAK!


Amanda dan juga Tante Dina saling melirik satu sama lain, tepatnya Amanda pura-pura menjadi orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.


'Rasakan itu. Makan saja rujak rasa garam dipadu dengan cuka!' batin Amanda sambil tertawa jahat di dalam hati.


Sejujurnya Amanda ingin sekali membuat bibir Fitri menjadi dower, karena dia sangat geram sebab bibir itulah yang sudah memuaskan suaminya.


'Rasanya bukan hanya bibirnya saja yang ingin kubuat dower. Tapi aku ingin sekali menginjak tai ayam, lalu sendal jepitnya aku cekok pada mulutnya!' geram Amanda dalam hati sambil mengepalkan tangan di bawah meja.


"Ada apa sih Dek teriak-teriak manggil pelayan kayak gitu? Memangnya dia ingin meracuni kamu bagaimana?" tanya Amanda sambil mengupas buah apel di tangannya.


"Kakak cobain aja nih rujaknya! Masa rasanya asin asam begini sih? Di mana-mana itu, rujak rasanya pedes dan juga manis, tapi ini asam dan asin. Apa yang kamu masukin hah?! Kamu masukin bau ketekmu ke dalam sini!" bentak Fitri.


Tante Dina berjalan ke arah menantunya yang sedang marah-marah, kemudian dia mengambil sambal rujak yang ada di piring lalu memakannya, dan seketika Tante Dina langsung memuntahkannya ke wastafel.


"Iya, kenapa rasanya begitu asin dan asam?" bingung Tante Dina.

__ADS_1


"Maafkan saya Nona, tapi tadi saya tidak mencampurkan apapun. Saya membuat sambal rujak sesuai pada umumnya Nona, gula, kacang dan juga cabai, tidak ada yang hamba pakai selain itu," jawab pelayan tersebut dengan raut wajah ketakutan.


"Halah! Berani mengelak kau. Mah, aku nggak mau tahu ya, pecat dia sekarang!" pinta Fitri dengan wajah yang ketus.


"Sudahlah Fitri, pelayan itu kan sudah meminta maaf, tidak baik marah-marah. Lagi pula kamu tinggal beli saja di luar, mungkin pelayan itu sedang mengantuk jadi dia tidak sengaja memasukkan sesuatu yang asam ke dalam sambalmu. Dan ingat, tak baik marah marah saat hamil," ujar Amanda dengan cuek.


Fitri yang mendengar ucapan sang kakak sebenarnya ingin sekali marah, karena dialah yang merasakan. Seketika ngidamnya malah hilang, kemudian wanita itu melenggang meninggalkan meja makan dengan kaki dihentak kesal.


Sementara Amanda hanya tersenyum sinis saat melihat kekesalan sang adik. 'Ini belum seberapa, setelah ini permainan akan lebih seru.' batin Amanda.


Sementara Tante Dina merasa heran, kenapa akhir-akhir ini ada kejadian yang di rasanya sangat janggal. Tapi Tante Dina tidak ingin berpikiran yang negatif.


.


.


Malam hari semua sudah berkumpul di meja makan. Namun Amanda tidak ikut untuk makan malam, dia beralasan sedang tidak enak badan.


Sebenarnya Amanda hanya tidak mau jika dia menatap ke arah dua pengkhianat itu, yang suka mencuri-curi pandangan saat berada di meja makan.


Selama ini Amanda tidak pernah menyadari itu, dia pikir itu hal yang biasa. Tapi ternyata dirinya terlalu bodoh untuk mengartikan semua kejadian yang dialaminya.


Kemudian Amanda menelpon Lulu dan mengabarkan tentang rencananya.


Dia membaca pesan yang beberapa jam lalu masuk ke dalam ponselnya, tepatnya pesan yang ia sadap dari telepon sang suami, di mana di sana Darius dan juga Fitri saling mengirimkan kabar bahwa mereka nanti malam akan melakukan adegan panas tersebut di atap.


"Cepatlah jam berputar. Aku ingin segera melihat reaksi semua orang saat memergoki mereka berada di atap. Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi dan apa reaksi Haris serta kedua mertuaku," gumam Amanda dengan tersenyum licik.


Dia awalnya wanita yang penurut tidak pernah berpikiran hal yang licik kepada orang lain, tapi semenjak ia diselingkuhi oleh Darius, otaknya bekerja 1000 kali lipat sehingga rencana licik sering terlintas di benaknya.


Tepat jam 21.00 malam, Darius masuk ke dalam kamar. Amanda yang melihat itu pun hanya cuek saja, dia fokus pada laptopnya karena sedang mengerjakan pekerjaan yang tadi siang ia dapat tentang desain baju pengantin.


"Mas?" panggil Amanda tanpa menengok ke arah pria tersebut.


"Iya," jawab Darius sambil memainkan ponselnya dengan tubuh terbaring.


"Kamu sudah 2 minggu loh tidak minta jatah dari aku, tumben banget?" tanya Amanda yang masih fokus pada laptopnya.


"Jatah? Maksudnya?" Darius pura-pura bodoh.


Mendengar itu Amanda terkekeh, "Jangan pura-pura tidak tahu Mas. Kamu tahu kan arah pembicaraanku ke mana?"

__ADS_1


"Aku capek. Lagi pula, kalau nanti kamu berhasil membangunkan burung kakak tuaku, lalu kamu tidak tanggung jawab seperti kemarin, untuk apa?" jawab Darius dengan ketus.


Kemudian dia menaruh ponselnya di atas nakas, lalu membaringkan tubuh dan membelakangi Amanda.


Melihat reaksi suaminya, Amanda tersenyum sinis. "Ya siapa tahu kan kamu haus, tapi kalau kamu memang sudah kekenyangan ya aku tidak akan memberi."


Mendengar hal tersebut Darius membuka matanya kembali, kemudian dia menghadap ke arah Amanda. "Maksud kamu apa? Ini sudah malam, jangan mengajak ribut ya!"


"Siapa juga yang ngajak ribut Mas. Sudahlah, kamu ini tidak bisa kesenggol dikit aja langsung marah-marah. Aku kan hanya bilang, kalau kamu memang sudah kenyang, ya aku tidak akan memberikan makan. Itu saja, tidak usah sensitif seperti itu Mas. Kamu tahu nggak, kalau orang sering marah-marah jika perasaannya disenggol sedikit saja, biasanya orang itu menyembunyikan sesuatu. Jadi kalau kamu tidak merasa menyembunyikan apapun dariku, ya kamu tidak usah marah-marah. Karena itu hanya akan membuat pikiranku semakin negatif sama kamu," jelas Amanda sambil berjalan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Darius terdiam saat mendengar ucapan Amanda, apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Jika dia terus saja marah-marah saat Amanda menyenggol tentang perasaannya, itu akan membuat wanita tersebut semakin curiga.


'Aku harus bisa mengontrol emosiku.' batin Darius, kemudian dia pura-pura tidur, sebab setelah semua terlelap rencananya Darius akan pergi ke atap, karena dia begitu menginginkan Fitri.


.


.


tmTepat jam 01.00 malam, pria itu terbangun. Dia membuka matanya secara perlahan, kemudian mengibaskan tangannya di hadapan wajah Amanda.


Setelah memastikan istrinya sudah tertidur dengan lelap, Darius beranjak dari tempat tidur dengan perlahan-lahan. Dia berjalan dengan terjingkat membuka pintu pula dengan pelan, sehingga tidak menimbulkan suara.


Setelah pintu tertutup, Amanda membuka matanya. Dia tersenyum sinis saat melihat tingkah sang suami yang seperti pencuri.


"Dasar dua pencuri menjijikan. Akan kuberi pelajaran kalian malam ini! Dan aku ingin melihat bagaimana reaksi kalian nanti saat semua orang melihat kalian bersama di atap?" gumam Amanda dengan senyum seringai di bibirnya.


Kemudian dia bangkit dari ranjang, berjalan dengan mengendap. Namun wanita itu tidak jadi membuka pintu kamar, dia menunggu untuk beberapa menit sampai keduanya sudah berada di atas.


Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, wanita itu pun keluar dari kamarnya. Melihat suasana yang begitu sepi, kemudian berjalan menuju atap dengan mengendap-ngendap.


Dengan perlahan Amanda membuka pintu yang berada di atap, kemudian dia melihat dari balik tembok. Tangannya terkepal dengan sorot mata yang tajam, saat melihat Fitri dan juga Darius tengah berpelukan.


'Dasar dua manusia laknat. Tidak tahu diri. Saat semua orang tengah tertidur, mereka malah bermain api! Baiklah, kita akan mulai permainan.' batin Amanda.


Kemudian dia berjalan menutup pintu atap lalu menguncinya dari dalam. Sedangkan kuncinya dia bawa dan dilemparkan ke kolam renang. Rasanya Amanda sudah tidak sabar ingin segera melihat reaksi semua orang pagi hari, saat mereka melihat dua manusia menjijikkan itu berada dalam satu atap.


Pasti semua orang akan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, dan kenapa bisa mereka berdua terkunci di atap sana.


'Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak.' batin Amanda bersorak gembira sambil berjalan menuju kamar.


Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tertidur dengan lelap, menanti esok pagi yang pasti akan ada drama yang begitu besar.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


Nanti Habis Dzuhur akan Up 1 bab lagi ya. Jangan Lupa dukung Author terus๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2