
Mereka bertiga sampai di sebuah restoran dan langsung memesan makanan. Tak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, namun Ethan masih celingak celinguk mencari seseorang yang akan dikenalkan oleh Viona.
"Mana? Katanya kamu mau ngenalin seseorang? Kok sampai sekarang belum datang-datang sih?" tagih Ethan
"Yaelah ... sabar sedikit kenapa sih. Kamu itu dari dulu nggak pernah berubah, selalu tidak sabaran," ledek wanita tersebut sambil terkekeh kecil.
"Ya, kamu tahu sendiri, msmang sifatku seperti ini." Ethan mengangkat kedua bahunya, kemudian dia mengaduk-aduk minumannya sementara Amanda masih membalas chat dari Lulu.
"Sayang, kamu lagi bales chat siapa sih?"
"Ini si Lulu, besok ngajakin beli baju buat acara 7 bulanan nanti." Ethan hanya ber-oh ria saja, dan tak lama orang yang ditunggu pun telah datang.
"Nih kenalin ... dia adalah tunanganku, namanya Edward " Viona merangkul manja lengan pria tampan yang berada di sampingnya, dan melihat itu Ethan langsung mengerti heran.
Entah kenapa dia seperti mengenal pria tersebut Namun lelaki itu lupa pernah mengenal di mana dan kapan.
"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Edward dengan tatapan memicing ke arah Ethan.
"Iya, aku juga merasa seperti itu ... tapi aku lupa di mana," jawab Ethan sambil menjabat tangan Edward.
"Atau mungkin kalian rekan bisnis?" tebak Viona namun Edward dan Ethan mengangkat kedua bahunya bersamaan. Mereka pun tidak i.lngat pernah mengenal di mana dan kapan.
Setelah berkenalan, mereka terlihat cukup akrab, apalagi Edward dan juga Ethan adalah pengusaha muda, jadi mereka berbicara seputar bisnis dan rencananya keduanya akan bekerja sama.
.
.
__ADS_1
Malam ini Amanda tidak bisa tertidur, dia merasa sedikit gelisah. Sebentar lagi akan ada acara 4 bulanannya, dan Amanda ingin mempersiapkan segalanya dengan sempurna.
"Aduh ... kenapa perasaanku gelisah seperti ini ya? Tapi entah kenapa aku ingin sekali asinan mangga muda." Wanita itu pun melirik ke arah Ethan yang tengah tertidur dengan pulas. "Apa aku bangunin mas Ethan, ya? Tapi aku merasa tak enak. Kasihan dia sudah seharian kerja pasti sangat capek. Tapi aku juga pengen."
Akhirnya dengan terpaksa Amanda menggoyang lengan Ethan, tetapi pria itu hanya bergumam saja, enggan untuk membuka matanya. Sebab dia masih menunjukkan pukul satu dini hari.
"Mas, bangun! Aku pengen sesuatu," rengek Amanda dengan suara manja.
"Aduh sayang ... kamu pengen apa sih?" Pria itu pun terbangun sambil menguap beberapa kali. Dia mengucek matanya dan melihat jam yang berada di dinding. Seketika matanya terbelalak kaget kemudian kembali menguap. "Hoaaam ... ya ampun! Ini masih jam 01.00, kamu minta apa sih?"
Pria itu berkata dengan nada yang pasrah, karena sudah pasti Amanda akan meminta sesuatu hal yang berhubungan dengan ngidamnya.
"Aku mau asinan mangga muda." Mendengar permintaan istrinya tentu saja Ethan kembali dibuat syok. Dia menatap lekat ke arah sang istri dengan mulut sedikit menganga. "What! Asinan? Ya ampun sayang! Kamu kalau ngidam jangan aneh-aneh deh? Pagi buta begini di mana ada yang jualan makanan itu?"
"Aku tidak tahu ..." Amanda menggelengkan kepalanya, "kamu harus mencarinya! Dan sebelum kamu mendapatkannya kamu tidak boleh pulang!"
Ethan mencoba untuk menolak, akan tetapi sang istri terus saja merengek. Sedari tadi dia teringat dengan kata-kata mamahnya, bahwa jika tidak dituruti maka kelak anaknya akan ileran dan mesan tidak ingin hal itu terjadi.
"Ingin mengeluh juga percuma. Lalu aku harus ke mana? Apa di jam segini ada yang jual asinan? Memang orang hamil itu permintaannya aneh-aneh ... tapi jika tidak dituruti, istri sendiri ... ditambah anakku nanti juga ileran," lirih Ethan sambil menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar.
Sudah 1 jam pria itu berkeliling mencari penjual asinan mangga muda, akan tetapi tidak dapat sama sekali. "Apa aku harus pulang? Tapi nanti Amanda kecewa," lirihnya dengan bingung. "Namun jika aku terus berkeliling, sampai lebaran monyet juga pasti nggak akan ada yang jual pagi-pagi buta seperti ini. Kecuali memang penjualnya itu hantu." Pria itu pun bergidik ngeri.
Dia memutuskan untuk pulang, biar saja diomel oleh Amanda karena memang yang berjualan tidak ada, kecuali hanya angkringan buat tempat anak muda mojok atau penjual nasi goreng dan juga pecel ayam dan bebek. Selain itu tidak ada lagi yang berjualan di pagi buta.
Sesampainya di rumah, Amanda tertidur sambil menyandarkan tubuhnya di dipan ranjang. Ethan tidak tega membangunkannya, dia pun melepas jaket lalu kembali membaringkan tubuhnya. Namun siapa yang menyangka jika telinga wanita itu sangatlah tajam, hingga dia mengetahui saat ini suaminya sudah pulang.
"Mana Mas, asinannya?" Amanda menengadahkan tangannya ke arah Ethan, pria itu langsung menggeleng dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf Sayang, tapi aku sudah muter-muter nggak ada yang jualan. Lagian memang tidak ada yang jualan asinan di pagi buta seperti ini. Tapi aku janji, besok aku akan mencarinya."
Amanda terlihat begitu kecewa, wajahnya seketika ditekuk karena sedari tadi dia ingin sekali memakan makanan itu. Namun apa yang dikatakan suaminya benar, di pagi buta tidak mungkin ada orang yang berjualan asinan.
"Ya udah, nggak apa-apa," jawab Amanda dengan nada yang begitu kecewa.
"Sayang ..." Ethan merangkul manja sang istri dalam dekapannya. "Aku bersungguh-sungguh. Tadi tidak ada yang jualan, tapi besok pagi aku akan membelikannya ya. Aku janji!" Pria itu mengangkat kedua jarinya berhuruf V.
"Iya. Ya udahx mendingan sekarang Kita tidur yuk! Ini udah jam 02.30, pasti kamu juga kecapean. Maaf ya kalau aku merepotkan. Sebenarnya aku juga tidak ingin membangunkan kamu di pagi buta, tapi entah kenapa tiba-tiba aku mau makanan itu."
"Tidak usah meminta maaf, itu adalah kewajibanku sayang sebagai seorang suami dan juga ayah untuk anak kita." Pria itu mengelus perut Amanda dengan lembut, dan sebelum tertidur dia pun mengecupnyas, setelah itu mereka pun menyelam ke alam mimpi.
.
.
Pagi hari Amanda merasakan Ethan sudah tidak berada di sisinya. Dia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi, wanita itu enggan terbangun dari tempat tidur karena entah kenapa rasa malas seketika menyergap.
"Mungkin Mas Ethan lagi jogging." batin Amanda. Karena dia sudah tahu suaminya bekerja jam berapa.
Setelah pukul 07.00, Amanda segera mandi kemudian dia turun ke lantai bawah. Namun tetap tidak menemukan suaminya, bahkan dia melihat Ethan tidak berada di meja makan..
"Mah ... Mas Ethan ke mana?" tanya Amanda kepada Mama Inggit.
"Nggak tahu, tadi pagi dia pergi buru-buru banget, bahkan belum mandi juga," jawab Mama Inggit sambil menyiapkan sarapan di meja makan. "Udah ... mendingan sekarang kamu minum dulu susunya gih!" Wanita itu pun hanya mengangguk kemudian dia meminum susu hamil buatan Ibu mertuanya.
"Assalamualaikum!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang, dan saat Amanda menengok dia sedikit kecewa karena yang datang bukanlah Ethan.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
Maaf up malam terus๐๐ปOthor lagi pindahan Rumah, jdi telat Up๐๐ป๐๐ป