Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Kembali Pulang


__ADS_3

Happy reading.....


"A-apa maksud Mama?" tanya Fitri dengan bingung.


Saat tante Anjani akan berbicara dan menjawab pertanyaan Fitri, tiba-tiba Om Samuel mengajak mereka semua untuk duduk di ruang keluarga, membicarakan masalah itu baik-baik.


Sebab suasana sekarang terasa tegang, karena semua benar-benar terkejut saat mendapatkan sebuah kenyataan yang begitu memalukan sekaligus menyakitkan.


Saat ini semua sudah berada di ruang keluarga duduk terdiam tidak ada yang mengangkat bicara sedikitpun, begitu pula dengan Darius. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya.


Pria itu tahu sudah membuat kedua orang tuanya malu, sekaligus kecewa kepadanya, dan Darius takut jika nanti warisan tidak diberikan oleh Papanya.


"Mah, Mama belum menjawab pertanyaan Fitri. Apa yang di maksud Mamah tadi berbicara seperti itu?" tanya Fitri membuat tante Anjani seketika menatap ke arahnya.


Dia beranjak dan hendak menampar wajah Fitri kembali, namun segera ditahan oleh suaminya. "Jangan Mah! Kita harus berbicara dengan kepala dingin," ujar Om Umar.


"Apa! Berbicara dengan kepala dingin? Kita semua di sini itu sudah pada tegang Pah. Dan Papa malah meminta Mama untuk berbicara dengan kepala dingin? Wanita seperti dia tidak akan pernah sadar. Apa yang kita bicarakan juga percuma saja. Tapi satu hal yang pasti, Mama menyesal karena telah membesarkan dia dan memungut dia dari kolong jembatan!" terang Tante Anjani dengan nada yang begitu geram dan juga tajam.


Fitri semakin dibuat melongo saat mendengar kata kolong jembatan. "Apa maksudnya? Apa aku ini bukan anak kalian?"


"Apa ucapanku belum jelas di telingamu wanita jalaang! Aku menganggapmu sebagai putriku, membesarkanmu dengan kasih sayang dan juga cinta, tapi apa balasanmu kepada kami, hah! Kamu malah menorehkan kotoran dengan menghianati Amanda, begitu?! Kalau kamu jujur kepada kami dari awal jjika kamu mempunyai hubungan dengan Darius, maka tentu saja Perjodohan itu tidak akan pernah terjadi," jelas tante Anjani masih dengan nada yang marah.


Dada Fitri terasa sesak dan sakit, saat tante Anjani memanggilnya dengan kata jalaang. Rasanya bagaikan di tusuk ribuan belati. Apalagi saat mengetahui jika ia bukanlah anak kandung dari kedua orang tuanya.


Sementara Tante Dina sedang menangis sambil memeluk tubuh Amanda. Dia tahu apa yang dirasakan wanita itu amat sangat berat.


Pantas saja beberapa bulan ini Tante Dina sering mendapatkan kejanggalan antara Fitri dan juga Darius. Dia juga melihat kejanggalan dari sikap Amanda kepada suami dan juga adiknya. Ternyata wanita itu selama ini tengah menyimpan luka yang begitu dalam, yang tak pernah diketahui oleh siapapun.


"Amanda Sayang, maafkan Darius ya! Maafkan Putra Mama yang telah menyakitimu. Jika saja Mama tahu kalau dia sudah bermain api dengan Fitri, tentu saja Mama akan menghajarnya. Jujur Mama sangat kecewa kepada Darius, bahkan hati Mama benar-benar terluka dan tidak bisa memaafkannya," ujar Tante Dina sambil memeluk tubuh Amanda.


Darius yang mendengar itu pun seketika langsung tersungkur di kaki sang Mama. Dia meminta ampun atas segala perbuatannya yang telah membuat keluarganya malu.


"Maafkan aku Mah, tolong jangan membenciku. Ini bukan murni kesalahanku semua, jika Amanda tidak membuka aibku di hadapan semua orang, tentu keluarga kita tidak akan malu Mah. Seharusnya dia--"

__ADS_1


"Cukup Darius! Kamu malah menyalahkan istrimu. Jelas-jelas di sini kamulah yang berbuat dosa! Kamu yang berselingkuh, tapi kamu malah membolak-balikkan fakta dan malah melempar kesalahanmu kepada Amanda? Benar-benar pengecut!" Tante Dina memotong ucapan Darius dengan nada membentak


"Tapi Mah, harusnya dia kan bisa berbicara baik-baik, tidak usah dia membeberkannya di hadapan publik." Darius menatap tajam ke arah Amanda.


Mendengar itu Amanda tersenyum sinis, "Kamu bilang apa, Mas? Kamu masih punya rasa malu? Iya! Aku pikir, rasa malumu dan juga Fitri itu sudah tidak ada. Kalian bahkan bisa membungkam Kim untuk tidak berbicara kepada siapapun tentang perselingkuhan kalian berdua Kamu pikir, aku selama ini tidak tahu apa yang kamu lakukan Mas? Aku diam menahan semua luka dan juga penghianatan kalian berdua, dan tidakkah kalian berpikir, bagaimana perasaanku? Bagaimana perasaan kedua orang tuamu, Mas? Kedua orang tuaku?! Klian tidak pernah berpikir sampai situ bukan?!" teriak Amanda dengan sorot mata yang tajam.


Dia tidak habis pikir, kenapa Darius malah memutar kesalahan kepada dirinya. Padahal di sini murni dialah yang bersalah.


Sementara Darius tidak terima karena Amanda sudah membuatnya malu di hadapan semua orang, dia yakin reputasinya pasti akan menurun akibat kejadian dan juga video tadi.


"Tapi seharusnya kamu bicara dong baik-baik, nggak usah kayak gitu!" bentak Darius dengan intonasi yang cukup tinggi.


Haris yang sejak tadi diam masih merasa geram kepada sang kakak, seketika menarik baju Darius kemudian melayangkan tinjunya kembali ke wajah dan juga perut pria itu, sehingga membuat Darius tersungkur ke lantai.


Tidak ada rasa hormat yang kini berada di hati Harris terhadap sang kakak. Yang ada hanyalah kebencian, kekecewaan, terhadap dua orang yang sangat disayanginya.


"Pukulan itu belum sepadan dengan pengkhianatan kalian berdua. Apalagi kamu Fitri! Mungkin sekarang aku tidak bisa menceraikanmu, karena kamu sedang mengandung anak badjingan ini. Tapi asal kalian tahu! Setelah Fitri melahirkan anak itu, aku akan langsung menceraikannya! Dan mulai malam ini, kamu tidur di kamar tamu! Karena aku tidak sudi membagi kamar dengan wanita rendah dan juga kotor seperti dirimu!" ucap Haris dengan tajam dan juga dingin.


Setelah mengatakan itu dia meninggalkan ruang keluarga, karena lama-lama melihat Fitri dan juga Darius membuat hati Haris semakin hancur.


"Aaaghh! Kenapa kalian tega kepadaku? Kenapa kalian jahat kepadaku?! Kenapa kamu memanfaatkanku Fitri? Jika kamu tidak mencintaiku, seharusnya kamu jujur dari awal!" teriak Haris sambil memukul setir beberapa kali meluapkan amarahnya.


"Sudah. Sudah. Sekarang Darius, Fitri, mau kalian bagaimana? Mau menikah juga percuma, tidak bisa karena Fitri masih belum bercerai dengan Haris. Dan kamu Amanda. Papa tahu jika perbuatan Dariua begitu amat sangat menyakitimu, maka keputusan semua ada di tanganmu Nak," ucap Om Samuel sambil menatap ke arah Amanda dengan sendu.


Jujur, sebagai orang tua dia merasa gagal telah mendidik Darius yang dengan tega menyakiti Amanda, yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Kemudian Amanda berdiri, lalu dia menatap Darius dan juga Fitri bergantian.


"Jika kalian saling mencintai, maka bersatulah. Aku tidak akan pernah menghalangi cinta kalian, walaupun kalian sudah berbuat jahat kepadaku. Mungkin cinta kalian tidak salah, tapi cara kalianlah yang salah. Dan kamu Mas, ini ..." Amanda melempar kertas berwarna putih tepat di wajah Darius.


"Datanglah ke pengadilan! Karena aku sudah mengajukan perceraian. Semua bukti sudah ku pegang, Jmjadi kamu mau mengelak apapun. Tidak akan pernah bisa. Aku tidak akan pernah mau berumah tangga dengan seorang pria badjingan yang hanya bisa menyakiti hati wanita! Karena hidupku terlalu berharga untuk bersama dengan pria sepertimu!" Setelah mengatakan itu Amanda pergi dari sana.


Namun, saat dia sampai di pintu wanita itu kembali menatap ke arah Fitri. "Dan untuk kamu Fitri. Untung saja kamu bukan Adikku. Aku bersyukur karena tidak pernah memiliki adik yang mempunyai kasta rendah seperti dirimu. Walau aku sangat menyayangimu, tapi penghianatanmu membuatku sangat membencimu. Dan kalian akan menanggung akibatnya!"

__ADS_1


Amanda pun melanjutkan jalannya kembali tanpa deraian aur mata. Karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah ada air mata untuk menangisi pria seperti Darius.


Lulu yang melihat sahabatnya pergi pun mengikutinya memasuki kamar, di mana Amanda dan juga Darius tidur. Memudian dia mengambil koper yang sudah disediakan oleh Amanda.


"Lo yakin mau pergi dari sini?" tanya Lulu.


"Kenapa harus nggak yakin? Apa yang harus ku pertahankan di sini? Lama-lama aku di sini hanya akan membuat darahku naik saja. Ayo kita temui orang tuaku di bawah!" ajak Amanda sambil membawa kopernya.


Dia kembali ke ruang keluarga di mana semua orang masih berkumpul, tentu saja Tante Dina bersama Om Samuel serta Darius kaget saat melihat Amanda membawa koper di tangannya.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Tante Dina dengan panik.


"Mah, Pah. Maaf, aku tidak bisa lagi tinggal di sini. Keputusanku sudah bulat, mulai sekarang aku akan kembali ke rumah orang tuaku, karena sebentar lagi aku akan bercerai dengan Darius. Tapi Mama dan Papa tidak usah khawatir! Kalian masih akan tetap menjadi orang tuaku," ucap Amanda sambil memeluk tubuh Tante Dina.


Tante Dina dan juga Om Samuel pun tidak bisa menahan, karena mereka tahu apa yang Amanda rasakan. Pasti sangat sulit jika dia terus saja berada di sana, pasti akan membuatnya semakin terluka.


"Iya sayang, mama ngerti kok perasaan kamu. Maafkan Darius ya, tapi Mama janji kamu akan tetap menjadi anak kesayangan Mama. Sedangkan dia!" Tante Dina melirik ke arah Fitri. "Tidak akan pernah mama anggap sebagai Putri mama sendiri, karena sekarang hanya ada rasa benci dan juga kecewa di dalam hati ini untuknya."


Mendengar itu Fitri merasakan sakit. Dia baru saja mendapatkan kenyataan jika kedua orang tuanya yang selama ini menyayanginya bukan orang tua kandungnya, dan sekarang kedua mertuanya juga sangat membenci dirinya.


Fitri merasa ini semua tidak adil. Dia merasa semua kesalahan dilimpahkan kepadanya, padahal Fitri hanya ingin menyatukan cintanya bersama dengan Darius.


"Jangan seperti itu, Mah. Tapi itu terserah kepada Mama sendiri, aku tidak ingin ikut campur. Dan Mah, Pah, ayo kita pergi dari sini!" ajak Amanda kepada kedua orang tuanya.


Darius melihat Amanda yang membawa koper, entah kenapa dia merasa tak rela. Dan saat wanita itu akan pergi dari sana, tiba-tiba Darius menahan tangannya. Namun segera ditepis kasar oleh Amanda.


"Aku minta maaf, aku--"


"Tidak usah meminta maaf, karena aku sudah memaafkanmu, Mas. Namun rasa sakit ini, tak akan pernah ku lupa. Dan tetap, kalian akan merasakan akibatnya. Mungkin tidak dariku secara langsung, tapi Tuhanlah yang akan membalasnya. Dan jangan pernah menemuiku! Karena setelah ini anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain. Bahagiakan pelakor itu," ujar Amanda sambil berlalu meninggalkan Darius.


Tante Anjani dan juga Om Umar berpamitan kepada kedua besannya, namun Om Umar menyuruh tante Anjani untuk lebih dulu menyusul Amanda ke teras.


"Umar, aku benar-benar minta maaf atas apa yang Putraku perbuat kepada putrimu," ucap Om Samuel sambil memeluk tubuh Papa Amanda.

__ADS_1


"Tidak masalah. Tapi bolehkah?" ucap Om Umar sambil menatap ke arah Om Samuel, dan pria itu menganggukkan kepalanya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2