
Angga menoleh ke arah samping dan betapa terkejutnya dia saat melihat wanita yang sudah amat sangat lama tidak pernah ia temui
"Gisel ..."
Tatapan keduanya terpaku satu sama lain, karena antara Gisel maupun Angga tidak pernah menyangka jika mereka akan bertemu kembali setelah SMA.
'Tidak ... apakah ini mimpi? Apakah dia beneran Angga atau ini hanya halusinasiku saja?' batin Gisel.
Dia langsung tersadar dan memang itu bukanlah mimpi. "Maaf Tuan, selamat siang! Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Gisel kembali.
"Kau bekerja di sini?" Tanpa menjawab Angga malah bertanya balik.
"Iya saya bekerja di sini, kalau begitu biar saya carikan dulu." Gisel pun meninggalkan Angga.
Bertahun-tahun dia tidak bisa melupakan cinta pertamanya, di mana Angga dulu pernah menduduki hatinya dan mencuri ciumaan pertamanya, tapi ternyata kenyataan pahit harus dia telan di mana dirinya hanya dijadikan bahan taruhan.
Gisel ingin membenci tapi dia tidak bisa, hatinya menolak akan hal itu, karena dia sudah mencintai Angga. Namun saat mereka lulus SMA Angga pergi ke luar negeri untuk meneruskan pendidikannya.
"Ini dicoba saja. Lili ..." Panggil Gisel.
"Iya Mbak Gisel "
"Kamu tolong layani Tuan ini dulu sebentar ya. Saya soalnya mau ketemu sama pelanggan, sudah mepet juga waktunya!" titah Gisel kepada karyawan di sana. "Tuan ... Anda dibantu dengan karyawan saya dulu ya. Kalau begitu saya permisi dulu."
Sejujurnya itu hanya alibi Gisel saja, karena dia ingin menghindar dari Angga. Namun saat wanita itu ingin pergi meninggalkannya, Angga menahan tangannya.
"Tunggu! Kita perlu bicara!"
"Maaf tuan saya sedang banyak urusan." Gisel melepaskan tangan Angga begitu saja kemudian dia masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Melihat kepergian Gisel, Angga menatapnya dengan sendu. Dia selalu saja memikirkan kesalahannya kepada wanita itu, dan tidak menyangka setelah sekian tahun dipertemukan kembali.
"Ini adalah waktu yang tepat untuk aku meminta maaf, walaupun aku tahu mungkin dia sangat marah kepadaku." batin Angga.
.
.
Malam ini Amanda sedang duduk di atas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya pada sang suami, sementara di tangannya dia sedang membaca novel online.
"Sayang ... aku pengen deh jadi penulis."
"Buat apa? Memangnya uang bulanan dariku tidak cukup?"
"Bukan seperti itu ... hanya untuk menyalurkan hobi saja," jawab Amanda sambil menengadahkan wajahnya.
"Tidak usah, aku takut nanti kamu malah kecapean dan malah stress," ujar Ethan sambil mengusap bahu Amanda yang sedikit terekspos.
"Kok stres sih, Mas?"
"Kamu pikir menjadi penulis itu mudah sayang? Merangkai kata demi kata itu tidak mudah. Dan kalau asal kamu tahu ya ... temanku ada dia seorang penulis terkenal di berbagai aplikasi online, tapi aku merasa hari-harinya malah terlihat kacau, karena dia selalu dikejar deadline apalagi di akhir bulan. Menjadi penulis itu terdengar sangat mudah tapi lebih sulit untuk dijalankan," jelas Ethan.
"Ya sudah deh," jawab Amanda dengan pasrah.
Ethan mengacak rambut wanita itu, kemudian dia mengecup pipinya dengan lembut. "Sayang ... aku nggak sabar deh rasanya ingin segera menimang bayi kita."
"Aamiin ... kamu doakan saja ya Mas, semoga aku cepat mengandung."
"Itu pasti sayang!"
__ADS_1
Saat keduanya tengah menikmati kehangatan dan keharmonisan penuh cinta, tiba-tiba ponsel Amanda berdering dan panggilan masuk ternyata dari Lulu.
"Si kembaran lele itu tidak tahu apa momen romantis? Selalu menjadi pengganggu!" kesal Ethan dengan wajah cemberut.
Amanda terkekeh kecil, "jangan seperti itu. Sudah aku angkat telepon dia dulu ya, siapa tahu penting."
"Iya halo assalamualaikum," ucap Amanda saat telepon sudah tersambung.
"Waalaikumsalam, eh kembarannya Manopo, lu ke rumah gue dong!"
"Hah? Ke rumah lo? Ngapain?" heran Amanda sambil mengerutkan keningnya namun tatapannya kepada Ethan.
"Temenin gue ... please! Nanti gue jelasin deh sesampainya di sini. Ayolah ..." terdengar suara Lulu begitu memohon di seberang telepon.
Amanda mengangkat dagunya, meminta persetujuan dari Ethan. Sementara pria itu hanya menekuk wajahnya. "Sebentar ya gue tanya Mas Ethan dulu."
"Ya elah ... ngapain sih lo tanya si ketan? Nggak usah tanya-tanya ketan, udah pasti dia bakalan setuju. Kalau dia nggak setuju gue jejelin mujair deh, yang goyangan geboy nya Ayu tong-tong."
"Kalau ngomong sembarangan lo ya. Goyang ngebor gue lebih sedap daripada Ayu Tong Tong!" Ketus Amanda.
Kemudian dia menatap ke arah Ethan meminta persetujuan, akhirnya pria itu pun hanya membuang nafas dengan kasar dan menganggukkan kepalanya dengan terpaksa.
"Oke gue ke sana, tapi emang kenapa?"
"Gue jelasin, pokoknya lo ke sini cepetan ya! Gue tunggu 30 menit, kalau nggak sampai-sampai gue diskualifikasi."
"Dasar edan! Lo pikir gue lagi ikut kompetisi?" celetuk Amanda sebelum telepon terputus.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1