Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Tak Bernasab


__ADS_3

Happy reading...


"Hanya saja, apa?" tanya Amanda dengan penasaran.


Ethan menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan apa-apa. Oh ya, katanya kamu buka kedai kopi di Jakarta Utara? Nanti kapan-kapan aku mampir ya ke sana." Ethan mengalihkan pembicaraan.


Amanda tahu jika pria itu tidak ingin menjawab pertanyaannya, tapi Amanda juga tidak mau untuk memaksa.


"Iya, mampirlah," jawab Amanda.


.


.


Malam ini Fitri merasa perutnya begitu sakit, sangat melilit, bahkan untuk berjalan pun terasanya sangat sulit.


"Aaawwh! Perutku sakit sekali! Sshhh!" ringis Fitri sambil memegangi perutnya.


Fitri berpegangan kepada sisi ranjang, dia berjalan keluar untuk memanggil bibi. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan melihat Darius pulang.


Pria itu seketika merasa panik saat melihat Fitri sedang meringis kesakitan, dia langsung berlari dan melempar tas kerjanya ke atas ranjang.


"Sayang, kamu kenapa?" panik Darius.


"Aawwh! Mas, sepertinya aku mau melahirkan. Sakit sekali Mas! Aduuuh!" ringis Fitri.


Darius yang melihat sang istri sedang menahan rasa sakit dan sepertinya dia akan melahirkan. Dia segera membawa Fitri keluar dari rumah menuju mobil untuk ke rumah sakit


Selama dalam perjalanan Fitri terus saja meraung kesakitan sambil memegangi perutnya. Tak ayal tangan Darius pun kena cakaran, karena rasa sakit yang Fitri rasakan begitu luar biasa sampai ia tidak bisa untuk tidak berteriak.


"Cepetan Mas! Perutku sakit sekali!" teriak Fitri.


"Iya sayang, sabar, ini aku udah ngebut," jawab Darius sambil menambah kecepatannya hingga beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah sakit.


Fitri langsung dinaikkan ke kursi roda menuju ruangan bersalin, di mana di sana sudah ada dokter yang menunggunya. Sedangkan Darius menunggu di depan.


"Bapak bisa menemani istri Bapak di dalam," ucap suster.


Mendengar itu Darius langsung masuk ke dalam dan berdiri di samping Fitri. Dia melihat istrinya sedang kesakitan sambil menggelengkan kepalanya.


"Sakit Maas! Aaahh ... sakit! Aduh ... aku sudah tidak tahan! Keluarkan anak ini Mas! Saaakiit sekali!" jerit Fitri.


"Iya sayang, sabar ya. Ayo Dok lakukan sesuatu! Istri saya mau melahirkan," pinta Darius pada Dokter wanita yang berusia 40 tahun.


"Iya Pak kami tahu, tapi pembukaannya belum cukup. Harus pembukaan lengkap dulu baru bisa untuk melahirkan. Kami tidak ingin mengambil resiko, karena itu sudah peraturannya orang melahirkan Pak," jawab dokter tersebut.


Mendengar itu Fitri semakin tak karuan, karena rasa sakitnya begitu sangat melilit. Rasanya dia ingin pingsan saja daripada harus menanggung rasa sakit seperti itu.


Darius hanya bisa mengusap keringat yang mengalir di kening sang istri, dia menggenggam tangan Fitri dengan kuat. Bahkan Darius tidak menghiraukan cakaran dari istrinya di tangan kekarnya.


Setelah melewati banyak drama, akhirnya anak yang dinantikan oleh Darius pun lahir ke dunia, berjenis kelamin perempuan.


"Oooeeek ... oeeeek!" tangis bayi itu.

__ADS_1


Melihat putrinya yang sangat cantik, Darius pun terharu. Kemudian dia mengecup kening Fitri. "Alhamdulillah sayang, akhirnya anak kita lahir dengan selamat, dan dia sangat cantik seperti kamu," ucap Darius.


Dia sangat bersyukur dan sangat amat bahagia sebab akhirnya dia menjadi seorang ayah dan laki-laki yang sempurna, di mana sekarang mempunyai seorang putri.


Fitri hanya tersenyum sambil mengganggukan kepalanya. Dia juga bahagia karena bisa melahirkan Putri mereka dengan selamat.


Setelah dibersihkan bayi itu langsung diberikan kepada Fitri untuk disusui, namun air susunya tidak keluar, karena Fitri malas sekali untuk memakan sayur-sayuran bening.


Darius ingin mengabarkan kedua orang tuanya, namun beberapa kali dia menelpon tidak diangkat oleh Mama maupun Papahnya. Akhirnya Darius pun mengirim pesan kepada mereka.


"Apa Mama dan Papa sudah dikabari, Mas?" tanya Fitri


"Sudah, aku mengirimkan pesan kepada mereka, sebab ditelepon tidak ada yang diangkat."


Fitri berharap dengan kehadiran putrinya bersama dengan Darius, bisa meluluhkan hati Tante Dina maupun Om Samuel untuk kembali memaafkan Darius dan memberikan haknya.


Karena Fitri berharap, bahwa putrinya akan menjadi jembatan untuk kesuksesan Darius kelak.


.


.


Lagi hari Tante Dina baru saja selesai menunaikan salat subuh, kemudian dia melihat ponselnya dan ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Darius.


Wanita itu mengerutkan keningnya, sebab memang semalam hp-nya di silent jadi tidak terdengar.


"Darius ngirim pesan apa ini?" gumam Tante Dina dengan bingung, kemudian dia membuka ponselnya dan membaca pesan dari putranya yang ternyata jika Fitri sudah melahirkan.


Tak lupa Darius juga mengirimkan foto putrinya kepada sang Mama, karena dia berharap bahwa kedua orang tuanya akan luluh setelah melihat bayi mungil tersebut.


"Ini Pah, ternyata semalam Darius menelpon kita, dan dia ingin mengabarkan bahwa Fitri sudah lahiran. Lihat ini, Putri mereka!" Tante Dina menyerahkan ponselnya ke arah Om Samuel.


"Mungkin nanti kita ke sana untuk menengok. Semarah-marahnya kita, sebagai orang tua juga tidak mungkin kan tidak menengok putrinya Darius? Walaupun itu hasil dari hubungan di luar nikah."


Papa Samuel tahu jika nasabnya seorang putri tidak berhak mendapatkan warisan ataupun marga dari Papanya, karena anak itu hasil dari hubungan diluar nikah. Nadi jatuhnya tidak bernasab kepada ayahnya. Dan nasabnya hanya ibu.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, Tante Dina dan juga Om Samuel sudah bersiap akan menuju rumah sakit untuk menengok Fitri dan juga putrinya.


Namun saat sampai di pintu utama, mereka berpapasan dengan Haris dan Alea, karena kebetulan kedua orang itu sengaja datang ke rumah kedua orang tuanya untuk mengajak sarapan.


"Alea, Haris," sapa Tante Dina. Kemudian dua orang itu langsung mencium tangan kedua orang tuanya.


"Mama dan Papa mau ke mana? Kok sudah rapi?" tanya Haris dengan bingung.


"Ini, Mama dan Papa mau ke rumah sakit buat menjenguk Fitri. Dia sudah lahiran, kamu mau ikut?" jawab Tante Dina sambil menatap ke arah Haris.


Mendengar itu Haris menganggukkan kepalanya "Boleh, tapi aku ada kerjaan. Bagaimana kalau Alea aja yang ikut? Sayang, kamu nggak papa kan ikut sama mama dan papa?"


Alea terdiam, dia takut jika nanti Fitri berkata yang tidak-tidak. Tapi karena di sana ada tante Dina dan juga Om Samuel, akhirnya ia pun mengangguk untuk ikut sementara Haris pergi ke kantor.


"Oh iya, kamu jangan terlalu capek! Dua hari lagi kamu kan sama Haris akan menikah," ucap Tante Dina sambil mengusap tangan Alea saat berada di dalam mobil.


"Iya Mah," jawab Alea masih terasa begitu C?canggung.

__ADS_1


"Sayang, mulai nanti malam kamu udah harus tinggal di rumah ya! Jangan menolak, karena kan sebentar lagi rumah itu akan menjadi rumahnya kalian juga!"


Memang selama ini Alea tinggal di apartemen Harris, karena dia tidak ingin serumah dengan pria itu, takut terjadi fitnah sebelum mereka benar-benar menikah. Tapi kali ini permintaan Tante Dina tidak bisa ditolaknya.


Setelah sampai di rumah sakit, mereka pun langsung turun menuju ruangan di mana saat ini Fitri sedang dirawat.


"Assalamualaikum," ucap Tante Dina dan juga Om Samuel bersamaan *aat memasuki ruangan rawat Inap milik Fitri.


"Waalaikumsalam," jawab Fitri dan Darius, lalu mereka menengok ke arah pintu.


Akan tetapi, tatapan Fitri terpaku kepada Alea. Dia merasa tak suka saat melihat wanita itu ikut bersama dengan Tante Dina. Entah kenapa Fitri merasa amarahnya memuncak, namun dia mencoba untuk meredamnya di hadapan Tante Dina, karena tidak ingin kedua mertuanya semakin membenci dirinya.


.


.


Amanda sudah siap untuk pergi ke butik, dia baru saja sampai di teras untuk menaiki mobil, tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti di samping mobilnya.


Pria tampan yang tak lain adalah Ethan pun turun, dia tersenyum saat melihat Amanda sudah cantik seperti biasanya.


"Pagi," sapa Ethan.


"Pagi, kamu tumben ke sini, ada apa?*


"Memangnya aku tidak boleh ke sini? Aku ke sini untuk menjemput kamu dan mengantarkanmu ke butik," jawab Ethan sambil menyandarkan tubuhnya di mobil Amanda.


"Tidak usah, aku bisa bawa mobil sendiri kok!" tolak Amanda dengan halus.


"Aku juga diminta oleh Mama dan papamu. Kalau tidak percaya, bisa tanyakan kepada mereka. Lagi pula, apa kamu tidak kasihan aku sudah jauh-jauh ke sini tapi malah ditolak?" Ethan mencoba untuk menekuk wajahnya.


Sementara Amanda terdiam, dia merutuki mamanya kenapa harus meminta Ethan untuk menjemput dirinya. Padahal tadi saat di meja makan tidak ada pembicaraan apapun yang menjurus kepada Ethan.


Akhirnya Amanda pun ikut bersama dengan pria itu, karena dia merasa tak enak.


"Oh ya Amanda, nanti malam ada acara nggak?"


"Jangan bilang, mau ngajakin makan malam? Dinner? Iya!"


Ethan malah tertawa saat mendengar jawaban Amanda, karena tebakan wanita itu selalu saja benar.


"Kamu ini sepertinya mempunyai indra keenam ya? Selalu saja bisa membaca pikiranku dan arah tujuanku," kekeh Ethan.


Amanda menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Bukan mempunyai kekuatan cenayang sih, cuma biasanya kalau orang ingin mengajak dinner atau makan malam, pasti kan terlontar kata-kata seperti itu. Nadi itu sudah umum, kecuali pertanyaannya bukan seperti itu, maka aku tidak bisa menebak."


Sebab Amanda sudah pengalaman dalam mengarungi masalah percintaan, walaupun terkadang dia juga tidak bisa membaca perasaan orang lain terhadap dirinya.


"Iya, rencananya bukan Dinner berdua. Tapi mama mengajak kamu serta keluarga kamu untuk makan malam di rumah. Mama juga udah bicara sih sama tante Anjani, tinggal aku menunggu persetujuan kamu aja. Apa kamu nanti ada acara atau tidak," Jawab Ethan.


"Iya kalau mama dan papa setuju, aku ikut sih. Lagi pula nanti aku nggak lembur juga."


Mendengar itu Ethan tersenyum bahagia di dalam hatinya, karena nanti malam akan ada kejutan yang dibicarakan oleh kedua orang tua Amanda dan juga mamanya.


Memang makan malam itu bukan sekedar makan malam biasa. Akan tetapi, sudah dirancang untuk sesuatu yang sangat spesial, di mana Tante Anjani, Om Umar dan juga tante Inggit sudah merencanakan sesuatu untuk Amanda.

__ADS_1


'Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera malam. Semoga saja ekspektasiku tidak meleset, tapi apapun itu aku akan terus berjuang untukmu Amanda.' batin Ethan.


BERSAMBUNG......


__ADS_2