Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Panik


__ADS_3

Happy reading .....


"Kamu!" kaget Alea.


Wanita yang berada di belakangnya Alea mendekat, kemudian dia menarik rambut Alea hingga membuat wanita itu menengadahkan wajahnya.


"Kau dengar ya! Gara-gara kau ... Mas Haris tidak mau kembali kepadaku. Dan aku sangat yakin, bayi yang ada di dalam kandunganmu bukan anak Mas Haris kan," ucap wanita yang tak lain adalah Fitri.


Dia sedang makan di restoran tersebut, akan tetapi dia malah melihat keberadaan Alea dan juga Tante Dina. Seketika membuat Fitri merasa geram, karena dia sudah tidak mendapatkan Ethan begitu pula dengan Haris.


Entah kenapa Fitri tidak ingin ada seseorang yang mendahuluinya, dia ingin selalu menang dan berada di posisi pertama, akan tetapi takdir selalu saja tidak berpihak kepadanya.


"Mbak Fitri, lepaskan!" pinta Alea.


"Apa kau bilang? Lepaskan? Hahaha ... Alea ... Alea. Kau itu hanyalah pelampiasannya Mas Haris aja, sebaiknya kau tinggalkan dia dan serahkan kepadaku!"


"Tidak. Aku tidak akan menyerahkan Mas Haris kepada Mbak Fitri. Apa Mbak sadar , Mbak yang sudah meninggalkannya?" bantah Alea dengan lantang.


Mungkin saja apa yang dikatakan Fitri benar, dia hanyalah sebuah pelampiasan. Akan tetapi Alea juga tidak ingin melepaskan Haris, karena walau bagaimanapun komitmennya dalam sebuah pernikahan adalah dia ingin menikah satu kali seumur hidup.


Alea percaya, sikap dingin Haris selama ini kepadanya pasti akan berubah menjadi hangat, saat anak mereka lahir nanti. Hanya untuk sekarang, memang butuh waktu karena dia tahu jika hati Haris sedang terluka.

__ADS_1


"Dasar kau wanita kampungan!" Fitri menghempaskan kepala Alea, sementara wanita itu berpegangan pada wastafel karena dia takut jatuh dan terjadi apa-apa dengan kandungannya.


Tidak puas, Fitri kembali menjambak rambut Alea, sementara wanita itu mencoba melepaskan akan tetapi genggaman tangan Fitri terlalu kuat, ditambah tubuhnya juga sedikit mungil dari Fitri, jadi sudah pasti tenaganya jauh di bawah Fitri.


.


.


"Maaf Mah aku lama," ucap seorang pria yang tak lain adalah Haris. Dia baru saja sampai di restoran dan langsung duduk di hadapan sama mama.


Haris ditelepon oleh Tante Dina untuk datang ke restoran tersebut untuk melakukan makan siang bersama, tetapi mata pria itu merasa heran sebab tidak melihat ke keberadaan sang istri.


"Loh? Katanya mama jalan sama Alea? Lalu di mana Aleanya?"


"Mungkin dia sakit perut kali Mah." Haris meminum jusnya dengan cuek.


"Sakit perut? Perasaan tadi nggak apa-apa deh Haris, dia baik-baik aja, masa tiba-tiba sakit perut sih? Mama susul aja deh ke toilet, perasaan mama tiba-tiba kok menjadi nggak enak ya?" Tante Dina beranjak dari duduknya hendak menyusul Alea ke kamar mandi, namun tangannya ditahan oleh Haris.


"Mama ini terlalu parno. Dia udah gede Mah, lagian toilet juga nggak jauh dari sini ... tuh di sana!" tunjuk Haris kepada arah toilet. "Udahlah, mungkin memang dia lagi sakit perut."


"Kamu ini ya Haris, sama istri sendiri nggak ada perhatiannya sama sekali. Memangnya kamu nggak khawatir sama dia? Nanti kalau di kamar mandi dia kepleset atau gimana ... memangnya kamu mau? Kalau terjadi apa-apa dengan kandungannya dia gimana?" gerak Tante Dina yang merasa geram dengan sifat dingin Haris.

__ADS_1


Pria itu pun diam, karena apa yang dikatakan mamanya benar. Tapi Haris yakin tidak terjadi apa-apa dengan Alea, dan tanpa memperdulikan ucapan dari putranya Tante Dina melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Entah kenapa perasaannya sebagai seorang wanita mendadak menjadi tak enak, apalagi Alea tidak biasanya ke toilet selama itu. Jika dia bilang sakit perut maka wanita itu akan mengatakan dari awal.


"Alea ... kenapa kamu lam-- Astaghfirullahaladzim! Alea!" panik Tante Dina saat melihat Alea terduduk di lantai dan darah mulai mengalir dari sela-sela pahanya.


"Mama ... tolongin Alea," ringis Alea sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Haris! Haris!" teriak Tante Dina membuat beberapa pasang mata yang ada di restoran itu menatap ke arahnya, dan Haris yang mendengar teriakan sang mama segera menghampiri mamanya.


"Ada apa sih Ma--" Ucapan Haris terhenti saat dia melihat Alea tengah duduk di lantai dengan darah yang mulai merembes. "Astaga ... Alea!" panik Haris.


"Cepat Haris, kita bawa Alea ke rumah sakit sekarang!" titah Tante Dina, dan Haris langsung mengangkat tubuh Alea pergi dari sana dengan sedikit berlari menuju parkiran di lantai itu kemudian dia langsung mendudukkan tubuh Alea di kursi belakang ditemani oleh Tante Dina.


"Cepat Haris, kita harus segera bawa oleh ke rumah sakit! Mamah khawatir dengan kandungannya!" panik Tante Dina, begitu pula dengan Haris, dia langsung melaju meninggalkan basement dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


"Aduh Mah ... sakit ... aduh ..." ringis Alea sambil memegangi perutnya. Bahkan dia tidak bisa menahan air matanya.


"Sabar ya sayang, kita akan segera ke rumah sakit. Ya Allah ... semoga tidak terjadi apa-apa dengan cucuku," gumam Tante Dina wajahnya benar-benar dilanda kecemasan.


Sementara Haris menatap sang istri dari pantulan cermin. Dadanya juga berdebar ketakutan, Haris takut jika nanti terjadi apa-apa dengan anak dalam kandungan Alea, sebab walau bagaimanapun anak itu adalah benihnya dan dia baru saja akan menjadi seorang ayah.

__ADS_1


'Ya Allah, selamatkanlah anak dan istriku. Semoga Engkau tidak mengambil anakku ya Allah selamatkanlah dia.' batin Haris dengan suara yang bergetar


BERSAMBUNG.....


__ADS_2