
Max menatap marah pada Olivia, dia mencengkram lengan wanita itu dengan tatapan dinginnya. "Lepaskan saya, Tuan!" pinta Oliv dengan raut wajah sedikit menahan sakit.
"Apa? Lepaskan? Tidak semudah itu!" Max mendorong tubuh Olivia hingga terpentok di dinding, membuat wanita itu menahan nafasnya saat jarak mereka sangat dekat.
"Berani sekali kau menamparku, hah? Apa kau tau akan perbuatanmu itu?" tekan Max dengan nada dinginnya.
"Ya, saya tahu. Tapi Anda sudah keterlaluan. Walau Anda bos, saya, tapi Anda tak bisa seenaknya merendahkan harga diri saya, Tuan!" jawab Oliv tak kalah lantang.
Bahkan wanita itu berani menatap Max, dimana orang-orang bahkan tak berani melakukan hal itu. "Apa kau bilang? Merendahkan harga diri? Memangnya aku melakukan apa padamu? Aku hanya menarik lenganmu, tak lebih. Tapi jika kau menyebutnya sebagai perendahan harga diri, maka ..." Pria itu menghentikan ucapannya.
"Maka apa? Anda jangan macam-macam ya Tuan! Kalau Anda berani macam-macam, saya--" Ucapan Olivia terhenti saat tiba-tiba saja Max mencium bibir wanita itu, membuat kedua bola mata wanita itu membulat dengan nafas tertahan dan jantung yang semakin berdebar.
'Astaga! Ciumaan pertamaku.' batin Olivia. Dia langsung mendorong dada bidang Max membuat pria itu mundur beberapa langkah.
PLAK!
Satu tamparan kembali melayang dengan begitu keras, namun kali ini bukan hanya tamparan saja tapi tendangan di tulang betis milik pria tersebut sampai dia meringis.
"Awwh! Beraninya sekali kau menendang kakiku, hah!" geram Max.
"Seharusnya bukan hanya tendangan di kaki Anda saja, tapi kedua telur bebek Anda biar pecah sekalian. Berani sekali Anda mencium saya! Apakah Anda tidak tahu bahwa itu ciumaan pertama saya, hah?" bentak Olivia dengan dada bergemuruh. "Saya memang seorang pelayan. Saya memang sekretaris Anda di kantor, tapi Anda tidak bisa merendahkan harga diri saya seperti ini, Tuan!"
Air mata seketika menetes begitu saja di kedua netra Olivia. Dia tidak bisa mendapatkan pelecehan seperti itu, karena tidak pernah ada laki-laki yang berani lancang padanya.
Kemudian dia berjalan ke arah pintu. "Jangan karena Anda memiliki kuasa, Anda bisa men-cap semua wanita itu murahan, dan Anda bisa merendahkan harga dirinya. Tidak semua wanita tergiur dengan harta Anda, Tuan Maxim!" tegas Olivia. Dia keluar dari kamar Max sambil membanting pintu tersebut.
Melihat kemarahan Olivia, membuat Max terpaku. "Wow! Wanita ini benar-benar menarik. Baru kali ini ada yang berani menamparku, bahkan membentak diriku. Tapi itu adalah ciumaan pertamaku juga jika kau ingin tahu, Olivia."
Entah dorongan dari mana sehingga ia berani melakukan hal itu kepada Olivia. Padahal selama ini banyak sekali wanita yang mendekatinya bahkan dengan pakaian terbuka, tetapi apa? Max sama sekali tidak tergoda dan tidak tergiur, akan tetapi pesona Olivia membuatnya luluh.
Wanita itu seperti memiliki magnet yang begitu kuat sehingga membuat dirinya tertarik untuk mencium bibir tipis tersebut. Dia mengusap bibirnya yang masih terasa saat tadi mencium Olivia, walaupun hanya menempel saja.
Olivia berjalan ke arah taman, dia duduk sambil menangis dalam diam. Sementara Azura yang sedang menyiram bunga yang ada di sana pun merasa heran saat melihat kakaknya, dia segera mematikan keran lalu berjalan dan duduk di samping Olivia.
"Ada apa, Kak? Kenapa Kakak menangis?"
"Tidak apa-apa, Dek," bohong Olivia, "kamu kenapa belum siap-siap sekolah? Ini udah 06.30 nanti kamu terlambat."
"Iya, ini juga udah mau sekolah kok. Lagi pula aku tinggal ganti baju aja. Ada apa? Kenapa Kakak menangis? Tidak perlu membohongiku, Kak."
"Ayo kita pergi dari sini! Kakak rasa tempat ini tidak baik untuk kita." Wanita itu menghela nafasnya dengan kasar saat berkata demikian membuat sang adik seketika menganga dengan raut wajah terkejut.
__ADS_1
"Apa! Tapi kenapa? Tuan Max itu sangat baik sama kita, Kak. Lagi pula kita mau ke mana? Bahkan kita tidak mempunyai uang sepeserpun, Kakak tahu kan uangku hanya untuk cukup ongkos saja bolak-balik."
Oliv seketika menatap ke arah adiknya, yang dikatakan oleh Azura benar, mereka sama sekali belum memiliki uang bahkan Olivia belum gajian dari kantor tempat ia bekerja karena baru satu hari ia menjadi sekretaris. Tetapi rasa benci di hatinya sudah membuat Olivia muak dengan pria itu.
"Maaf ya! Mungkin kakak hanya terbawa emosi sajam." Dia tidak ingin membuat susah adik dan juga ibunya, karena melihat keadaan ibunya juga tidak memungkinkan jika mereka keluar dari rumah itu tanpa uang.
"Ada apa? Kakak ada masalah sama Tuan Max lagi?"
"Iya. Pria itu selalu membuat Kakak kesal. Ya sudah, sebaiknya kamu sekarang siap-siap sekolah! Kakak juga mau siap-siap untuk ke kantor."
Azura mengangguk, dia pun masuk ke dalam rumah sementara Olivia sebelum kembali ke dapur dia menetralkan amarahnya terlebih dahulu, kemudian izin kepada kepala pelayan Tere untuk bersiap-siap ke kantor.
"Memangnya kamu kerja di mana, Olivia?" tanya kepala pelayan Tere Yang penasaran.
"Saya kerja sebagai sekretarisnya Tuan Max di kantor. Awalnya saya juga tidak tahu jika itu perusahaannya, tapi entahlah ..." Olivia hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Wow! Kamu itu hebat sekali ya Oliv. Bekerja di kantor, pulangnya harus bekerja di sini lagi? Saya benar-benar bangga dan kagum pada kerja kerasmu."
Olivia hanya tersenyum kemudian dia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan siap-siap ke kantor, dan setelah selesai dia keluar dari sana dan berpapasan dengan Max.
"Kau bareng saja denganku!" ucapnya saat berada di teras.
"Tidak usah, terima kasih," jawab Olivia dengan ketus.
"Ayo masuk! Aku tidak ingin kau terlambat masuk ke kantor, karena aku paling tidak suka dengan karyawan yang menyepelekan waktu." Max berkata tanpa menoleh ke arah Olivia.
"Gak usah, Tuan! Saya naik taksi saja." Olivia masih marah kepadanya sehingga hanya untuk berdekatan dengan Max saja wanita itu enggan.
"Nona, Anda jangan keras kepala," ucap Reza yang sedang menyupir mobil tersebut. "Sebaiknya Anda masuk! Atau saya akan menggendong Anda ke dalam!" ancamnya.
Seketika Olivia menatap tajam ke arah Reza. "Apa hak Anda? Yang penting saya sampai ke kantor."
"Apakah Anda lupa, jika setengah jam lagi kita akan ada meeting? Anda ini seorang sekretaris, jadi harus on time, oke!" tegas Reza.
Olivia baru sadar jika memang mereka ada meeting pagi ini, dengan terpaksa dia pun masuk ke dalam mobil tersebut dan duduk di bagian depan.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di bagian depan?" ucap Max.
"Saya sendiri Sudahlah Tuan, jangan ajak berdebat, saya masih marah kepada Anda. Jangan sampai kemarahan saya menghancurkan dua telur bebek milik Anda, paham!" ancamnya dengan nada yang begitu ketus.
Reza seketika mengerutkan keningnya, dia tidak paham dengan ucapan wanita itu namun seketika menoleh ke arah Max yang duduk di belakang. "Apa yang kau lihat? Cepat jalan atau kucolok matamu!"
__ADS_1
"Buset! Bos kulkas jangan garang-garang kenapa sih!" gerutu Reza, lalu dia menjalankan mobilnya. 'Sepertinya mereka sedang perang dingin? Apa yang terjadi? Kenapa bisa mereka berdua bertengkar?' batin Reza merasa penasaran.
Sesampainya di kantor Olivia turun terlebih dahulu dia masuk ke dalam lift tanpa menunggu Max, karena wanita itu masih sangat kesal. Sementara Reza hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah Olivia yang benar-benar kurang ajar.
"Wanita itu benar-benar keterlaluan! Bosnya saja belum masuk lift, tapi dia sudah lebih dulu. Memangnya dia pikir siapa bosnya di sini?'
"Sudahlah Za, namanya juga wanita. Memang seperti itu kalau marah selalu bertindak tanpa berpikir. Mereka selalu mengutamakan amarahnya ketimbang berkepala dingin."
"Sepertinya kau sudah mengetahui banyak tentang karakter wanita?" Reza terkekeh.
mereka melewati para karyawan yang saat ini sedang menundukkan kepalanya, menyapa kedatangan Max tetapi pria itu hanya menjawab dengan tersenyum dan anggukan kecil.
"Tuan Max dan Tuan Reza itu benar-benar tampan. Rasanya aku ingin sekali menjadi bagian dari mereka. Jika tidak bisa mendapatkan Tuan Max, Tuan Reza pun tidak masalah," ucap salah satu karyawan wanita sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jaga matamu sebelum bintitan! Jangan bermimpi terlalu tinggi. Mereka mana mau seleranya dengan kita? Sudah ... sebaiknya kita kerja saja daripada kita kena murka dan malah dipecat," ujar karyawan lainnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Dari mana kau tahu banyak tentang karakter wanita?" tanya Reza kembali saat berada di dalam lift.
Mendengar hal itu Max malah terkekeh kecil, kemudian dia menepuk pundak sahabatnya. "Apa kau lupa? Aku itu memiliki seorang ibu, sudah pasti aku tahu karakter wanita, karena mamaku jika sedang ngambek juga seperti Olivia ... selalu bertindak tanpa berpikir, bahkan terkadang papaku sampai harus ngesot-ngesot demi mendapatkan maaf darinya "
Max tersenyum sambil mengingat bagaimana perjuangan sang Papa jika membujuk mamanya yang sedang merajuk.
"Gue rasa lo bakalan mendapatkan istri yang seperti itu? Akan membujuk sampai ngesot-ngesot, mungkin sampai berdarah-darah," kekeh Reza.
"Heh, lo jangan doain gue kayak gitu dong!" Akhirnya keluar juga bahasa gaul dari Max. "Memangnya lo mau, sahabat lo ini nikah sama nenek lampir? Udahlah ... mendingan sekarang kita fokus untuk ngadepin meeting 20 menit lagi, jangan banyak cingcong."
Reza terkekeh mendengar cara bicara sahabatnya yang mulai formal kembali. Memang Max orang yang sedikit humoris, tapi pada orang-orang terdekatnya saja. Tetapi jika pada orang lain, dia akan terkesan sangat dingin seperti kulkas 7 pintu.
"Olivia, apa kamu sudah mendata semuanya?" tanya sambil merapikan jasnya.
"Sudah Tuan," jawab Olivia dengan nada datar.
Max tersenyum tipis. 'Sepertinya dia masih marah kepadaku? Aku harus memberikan sesuatu sebagai ucapan maaf.' batinnya.
Dia pun mengirimkan pesan kepada seseorang setelah itu mengajak Olivia untuk meeting bersama. Mereka berjalan untuk menuju ruangan meeting di mana saat ini Reza sudah berada di sana.
'Kurasa setelah ini dia memaafkanku, karena dia pun tidak tahu kalau itu adalah ciumaan pertamaku, dan dia yang sudah mengambilnya. Attau aku ya memaksa?' Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal, namun Olivia menatapnya heran dari sudut ekor mata.
'Nih cowok kenapa garuk-garuk kepala? Jangan-jangan kepala dia banyak kutunya lagi? Pantas saja otaknya sedikit geser.'
"Tuan, kepala Anda kenapa? Kutuan apa kapalan?" ceplos Oliv.
__ADS_1
BERSAMBUNG......