Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Bab 154


__ADS_3

Acara berlangsung dengan begitu cukup meriah, apalagi sahabat Mama Dina dari tadi terlihat akrab bersama dengan Amanda, tetapi tidak dengan Fitri.


Entah kenapa semua orang di sana seperti tidak menganggap Fitri ada, karena jujur saja tante Renata maupun Om Teo juga tidak menyukai pribadi Fitri yang terlihat begitu angkuh, bahkan sudah merusak rumah tangga saudaranya sendiri.


"Boleh tante tahu, tadi kenapa wajah kamu sedih saat tante nanya soal kehamilan?" Tante Renata merangkul pundak Alea saat mereka duduk berdampingan.


"Kemarin keguguran Tante. Sempat pendarahan dan baik-baik saja, tetapi ternyata karena kondisi saya yang lemah, ditambah dengan kehamilan saya yang masih muda mengakibatkan calon bayi kami tidak selamat," jawab Alea sambil menundukkan kepalanya


Tangannya terus mengusap perut karena dia masih kehilangan tentang bayinya. Padahal sebentar lagi Alea akan merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, tapi harus direnggut begitu saja karena ulah Fitri.


"Innalillahi. Maafkan tante ya! Tante tidak bermaksud untuk membuka luka kamu."


"Tidak apa-apa kok, Tante."


"Kok bisa keguguran? Kalau Tante boleh tahu kenapa? Apa kamu jatuh atau kamu kelelahan?"


Mendengar hal itu Alea langsung menengok ke arah Fitri, namun wanita tersebut hanya menampilkan senyum miring dan arogan lalu melengos ke arah lain.


"Jangan bilang ... kalau ini ada hubungannya dengan dia?" tebak tante Renata sambil menatap sinis ke arah Fitri karena tadi dia mengikuti tatapan Alea.

__ADS_1


Tentu saja Fitri tidak terima dituduh seperti itu oleh wanita yang baru saja ia kenal. Dia pun tak kalah tajamnya menatap ke arah tante Renata karena baru saja mereka bertemu tapi wanita itu seperti tidak pernah menyukainya. Bahkan yang ditanya hanyalah Amanda dan juga Alea saja, dirinya di sana didiamkan seperti seorang patung yang Tidak dianggap.


"Jaga ya mulut Tante! Memangnya semua hal harus disangkut pautkan dengan saya?" ketus Fitri


"Kamu tidak nyadar? Kamu hampir saja membunuh Alea, bahkan jika keadaanmu tidak seperti ini, aku sudah menjebloskanmu ke penjara. Masih tidak menyadari kesalahan," sindir Haris sambil menggelengkan kepalanya, lalu dia menatap Darius. "Kak ... Kak ... kamu jatuh cinta pada siluman ular seperti ini? Kalau aku jadi kamu aku nggak akan pernah bertahan dengan wanita seperti itu. Orang yang sudah pernah berselingkuh pasti akan berselingkuh lagi." Haris menatap dengan senyuman miring ke arah Darius.


Sementara pria itu hanya diam saja, karena apa yang dikatakan Haris memang benar. Namun ada sejumput rasa bersalah di dalam hatinya kepada Fitri, karena ucapan Haris barusan memang kenyataannya bahwa seseorang yang sudah pernah selingkuh pasti akan selingkuh kembali, kemudian tatapan pria itu mengarah kepada Naura.


'Kamu benar Haris. Aku juga sudah menyelingkuhi Fitri, karena aku sudah tidur dengan Naura. Semoga saja dia tidak membongkar apa yang sudah terjadi malam itu, karena itu semua tidak sengaja dan aku juga tidak sadar.' batin Darius merasa cemas


"Oke, karena makan malam sudah selesai jadi di sini sebenarnya Mama, Papa dan kedua orang tua Naura ingin mengatakan hal penting. Itu kenapa kami mengumpulkan kalian semua di sini," ucap Mama Dina sambil menatap ke arah putra-putrinya bergantian.


"Begini Darius ... Mama ingin bertanya sesuatu sama kamu? Apa kamu ingin bertahan dengan dia?"


"Maksud Mama?" tanya Darius dengan bingung.


"Kami mungkin marah dengan kamu. Kami mungkin kecewa sama kamu dan juga Fitri, karena telah menghianati kepercayaan mama dan papa, termasuk istri dan juga suami kalian. Tapi melihat keadaan Fitri yang sekarang, entahlah ..." Mama Dina mengangkat kedua bahunya, "tadinya mama tidak ingin melakukan ini. Tapi Fitri tidak pernah berubah, bahkan dengan keadaannya yang sekarang dia malah menyudutkan orang lain bahwa apa yang terjadi kepada hidup Amanda dan juga Alea itu bukan kesalahannya."


Entah kenapa Fitri merasa tegang saat mendengar ucapan Mama Dina, dia takut jika wanita itu meminta Darius untuk menceraikannya, karena Fitri tidak ingin berpisah dengan Darius dikarenakan kondisinya saat ini, dan dia tidak tahu harus kepada siapa lagi bergantung.

__ADS_1


"Maksud Mama apa berbicara seperti itu?" Fitri memberanikan diri, karena dia pun cukup penasaran dengan apa maksud dari ucapan mertuanya.


"Kamu tentu saja sudah melihat dia bukan?" Mama Dina menatap ke arah Naura sambil tersenyum manis. "Mama dan juga Papanya Naura sudah berencana untuk menjodohkan Darius dan juga Naura."


Ucapannya barusan sontak membuat semua orang kaget, termasuk juga Naura, karena dia tidak mengetahui akan hal ini. Sebab orang tuanya tidak berbicara apapun mengenai perjodohannya bersama dengan Darius.


"Apa! Apa Mama sudah gila?" bentak Fitri tidak terima. "Mama mau menjodohkan Darius? Dan mama secara terang-terangan menjodohkan suamiku dengan wanita lain di hadapanku sendiri?" sentaknya dengan begitu emosi.


Dia tidak habis pikir apa yang ada di dalam benak Mama Dina dan juga Papa Samuel, sehingga mereka menjodohkan Darius dengan wanita lain, sementara saat ini Fitri masih berstatus sebagai istri sahnya.


"Iya, Mama minta maaf. Awalnya Mama tidak ingin melakukan ini, tapi melihat kamu yang tidak pernah berubah dan menyadari kesalahan kamu, mama pun ingin yang terbaik untuk Darius. Di sini kamu hanya mempunyai dua pilihan, diceraikan atau dimadu."


Fitri menelan salivanya dengan kasar, kepalanya menggeleng dengan tegas menandakan bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan keputusan Mama Dina, karena itu benar-benar melukai hatinya.


"Pokoknya aku nggak setuju! Mama pikir aku ini wanita apaan? Aku juga punya perasaan, Mah. Mama punya perasaan nggak? Mama ini wanita, seorang Istri kan?"


"Iya, Mama memang seorang wanita dan istri, tapi Mama tidak seperti kamu!"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2