
Happy reading....
Saat sampai di rumah sakit, Alea langsung dilarikan ke IGD untuk segera diperiksa, sementara Haris dan juga Tante Dina menunggu di luar dengan harap-harap cemas.
Terlihat raut wajah mereka begitu tegang dilanda ketakutan, kemudian Tante Dina mengeluarkan ponselnya dan mengabarkan tentang kondisi menantunya kepada Om Samuel.
"Halo ... assalamualaikum Pah. Papa harus ke rumah sakit sekarang!" ucap tante Dina dengan panik saat telepon tersambung.
"Ke rumah sakit? Mama kenapa? Mama sakit?" jawab Om Samuel di seberang telepon dengan nada yang sangat khawatir.
"Bukan mama, Pah, tapi Alea. Dia pendarahan, sekarang papa ke sini ya! Mau kirim alamatnya." Telepon pun terputus lalu Tante Dina mengirim alamat Rumah Sakit kepada Om Samuel.
Haris duduk dengan tidak tenang, dia memikirkan keselamatan istri dan juga anaknya. Lria itu berdiri kemudian duduk lagi, mondar-mandir ke sana dan ke sini seperti orang yang benar-benar dilanda ketakutan dan kegelisahan.
"Apa mama bilang Haris? Kamu itu kalau orang tua cakap tu dengerin, jangan nurutin ego kamu sendiri! Sekarang lihat! Kalau mama tadi nggak nyusul ke toilet, mau gimana nasibnya Alea? Pikir dong pakai otak!" geram Tante Dina dengan nada membentak.
Dia benar-benar kesal kepada putranya, karena terlalu santai dan dingin kepada anak istrinya. Tante Dina tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tadi tidak datang ke toilet.
"Iya Mah, Haris minta maaf," ucap pria itu.
"Maafmu tidak berlaku. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan menantu dan cucu Mama, awas kamu ya Haris!" Sorot mata Tante Dina begitu tajam, membuat hari seketika terduduk dengan lemas.
Dia sadar bahwa ini juga adalah kesalahannya, di mana ia tidak peduli dengan Alea, dan Haris terus menutupi kebodohannya
__ADS_1
'Maafkan aku Alea! Maafkan aku yang selama ini cuek kepada kamu dan anak kita. Ya Allah ... selamatkanlah Alea dan juga bayi yang ada dalam kandungannya. Jika Ebgkau selamatkan mereka, aku berjanji aku akan menyayangi dan mencintai Alea dengan sepenuh hati.' batin Haris.
Tak lama Papa Samuel datang dengan lari yang sedikit tergopoh-gopoh, dia menghampiri anak dan juga istrinya. "Bagaimana keadaan Alea? Terus gimana kandungannya?" tanya om Samuel dengan raut wajah yang dilanda kecemasan.
"Belum tahu Pah, Dokter belum keluar dari IGD," jawab Tante Dina sambil memeluk tubuh suaminya.
"Bagaimana bisa sih, Mah? Kok bisa Alea pendarahan, gimana ceritanya?"
"Jadi tuh ... Mama sama Alea lagi makan di restoran Pah, terus dia pamit kan ke toilet. Mama udah bilang waktu Haris datang, suruh susul Alea ke toilet. Soalnya sudah hampir 15 menit dia nggak keluar-keluar, lah ... kan mama khawatir. Biasanya Alea nggak pernah selama itu kalau di toilet, dan mama inisiatif aja yang ke sana, eh ... Mama ngelihat Alea sudah terduduk di lantai kamar mandi sambil memegang di perutnya Pah," jelas Tante Dina.
Tatapan tajam Om Samuel seketika mengarah kepada Haris, seperti menguliti pria itu. Kemudian dia menarik kerah baju Haris lalu menamparnya dengan keras, sehingga membuat suara yang begitu nyaring di lorong rumah sakit.
"Sekarang kamu lihat istri dan anak kamu, hah! Tega kamu ini Haris! Kamu selama ini berlaku acuh pada mereka. Pernah nggak kamu berpikir, hah? Seharusnya kamu sebagai suami itu mengayomi, menyayangi dan mencintai istri dan anak kamu, bukan malah mendiamkan mereka!" marah Om Samuel.
Tante Dina mengusap dada suaminya, "Pah, sudah jangan marah-marah ini di rumah sakit, nggak enak sama orang."
"Kamu itu sebagai seorang laki-laki seharusnya gentle, sudah merenggut kesucian anak orang, menghamilinya, tapi kamu juga malah tidak bertanggung jawab dengan menyakiti hati dan juga batin. Apa itu yang dinamakan laki-laki, Haris? Papa tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu. Rasa kecewamu kepada Fitri, membuat mata hatimu tertutup, sehingga hanya akan ada kejahatan bukan kebaikan pada istrimu," terang Om Samuel sambil terduduk di kursi yang ada di hadapan Haris.
Pria itu tidak menjawab, dia merenungi setiap ucapan orang tuanya. Apa yang dikatakan oleh Papanya benar, rasa kecewa kepada Fitri membuat Haris gelap hati, sampai dia tidak melihat keberadaan Alea dan menutup kehadiran wanita itu.
Tak lama dokter keluar. "Bagaimana Dok keadaan menantu dan juga cucu saya? Mereka baik-baik aja kan?" tanya Tante Dina dengan tak sabar.
"Alhamdulillah keduanya selamat. Tapi saat ini kondisi ibu dan juga bayinya sangat lemah, karena mengalami pendarahan jadi harus dirawat untuk beberapa hari di sini."
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah ..." Tante Dina langsung memeluk tubuh Om Samuel, begitu pula dengan Haris. Dia langsung masuk ke dalam ruang IGD, akan tetapi langsung ditahan oleh dokter.
"Kami akan langsung memindahkan pasien ke ruang rawat inap."
Haris duduk di samping istrinya, menggenggam tangan Alea yang tertidur dengan lelap. Dia menatap wajah pucat wanita itu. Ada segelintir rasa salah di hati Haris yang selama ini selalu mengacuhkan Alea.
"Kamu mau ke mana, Haris?" tanya Tante Dina saat melihat putranya keluar dari ruangan itu.
"Aku titip Alea dulu Mah, Pah. Aku akan ke restoran mencari tahu siapa yang sudah melakukan ini . Aku yakin ada yang sudah mencelakai istriku. Dia tidak mungkin jatuh, karena aku tahu Alea orang yang hati-hati." Haris pun pergi dari sana setelah mengatakan itu.
Feeling dia sebagai seorang suami mengatakan jika ada yang telah berbuat jahat kepada istrinya, karena baru beberapa bulan dia tinggal bersama dengan Alea, Haris sudah mengenal karakter wanita itu yang sangat hati-hati dalam melakukan setiap hal apalagi dengan kandungan yang membesar.
Setelah sampai di restoran, Haris langsung bertemu dengan manajernya dan meminta untuk mengecek CCTV. Namun manajer itu menolak, akan tetapi Haris mengancam untuk memasukkannya ke penjara jika terjadi apa-apa dengan anak dan juga istrinya.
Akhirnya manajer itu pun mengizinkan, kemudian Haris berjalan menuju ruangan CCTV dan memutar di mana saat Alea masuk ke dalam kamar mandi.
Tatapan Haris seketika membulat saat melihat seorang wanita masuk juga ke dalam toilet setelah Alea, tangannya terkepal dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Jadi dia pelakunya," geram Haris dengan nafas memburu menahan amarah.
Kemudian Haris pergi dari sana untuk menuju sebuah rumah di mana pelaku yang sebenarnya tinggal, dan dia adalah Fitri.
"Sudah berani kamu membuat hidupku menderita, dan sekarang kamu membuat anak dan istriku celaka. Aku tidak akan memaafkanmu, Fitri! Aku tidak akan memaafkanmu!" teriak Haris di dalam mobil dengan rahang yang mengeras, bahkan urat lehernya menonjol menandakan dia benar-benar sangat marah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
Duuh Author jadi pengen tau apa yg akan si Haris lakukan? Ayooo haris beri pelajaran si Fitri😤