
Sampai rumah Amanda masih terkekeh kecil, mengingat bagaimana raut wajah Sasa yang ketakutan, itu membuat Mama Inggit merasa keherananx karena tadi beliau tidak tahu tentang apa yang terjadi di sana.
"Kamu kenapa sih sayang? Sepulangnya dari acara pernikahannya Akmal sama Sania, kamu ketawa terus. Memangnya ada kejadian apa sampai membuat menantu kesayangan Mama ini tidak berhenti tertawa?" tanyanya yang penasaran.
Amanda duduk di sofa dengan perlahan, dia menatap ke arah Mama Inggit kemudian terkekeh kembali. "Bagaimana aku nggak ketawa Mah. Tadi itu ada lintah darat mau merayu suamiku, tapi sebelum beraksi sudah menyerah duluan."
"Lintah darat? Memangnya siapa?"
"Ada ... rekan kerjanya Mas Ethan, dia itu mengagumi suamiku Mah, terus berencana ingin merebutnya. Ya udah, aku kerjain aja." Lalu Amanda pun menceritakan apa yang terjadi saat berada di pesta tadi.
Mendengar penjelasan dari menantunya tentu saja Mama Inggit pun langsung tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa takut yang dialami oleh Sasa saat mendengar Amanda berbicara seperti seorang psikopat.
"Ya ampun! Kamu ini jahil banget sih. Kasian anak orang, tapi bagus sih ... mama dukung kamu! Jangan sampai kita membiarkan pelakor masuk ke dalam rumah tangga kita sendiri, karena itu akan berdampak pada keharmonisan keluargamu. Mama juga tidak akan mengizinkan Ethan untuk Mendua. Atau jika dia melakukan itu ... maka Mama tidak akan pernah menganggapnya sebagai anak lagi."
"Lho ... kok mama ngomongnya kayak gitu sih? Lagi pula Ethan mana mungkin menduakan Amanda? Dia itu cinta matiku Mah." Pria tersebut merangkul pinggang istrinya dengan begitu posesif.
"Iya, Mama berharap begitu. Dasar pasangan bucin," ledek Mama Inggit, kemudian beliau bangkit dari duduknya untuk menuju kamar beristirahat, karena jam juga sudah menunjukkan tengah malam.
"Kamu lelah nggak?" tanya Ethan, dan langsung dibalas anggukkan oleh Amanda. "Lelah dong Sayang, udah jam 22.30 juga, aku ngantuk."
Tanpa aba-aba Ethan langsung menggendong tubuh Amanda, sementara wanita itu mengalungkan tangannya di leher kekar pria tampan tersebut. "Suamiku emang so sweet." Kemudian dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ethan.
.
.
Pagi hari Amanda sudah berkutat di dapur. Kehamilannya yang membesar membuat dia sudah tidak lagi merasakan mual, jadi bisa mencium bau-bau aroma dapur.
"Kamu lagi bikin apa sayang?" tanya Mama Inggit saat melihat menantunya tengah membuat sesuatu.
"Aku lagi bikin pasta Mah. Entah kenapa pagi-pagi pengen banget bikin pasta."
__ADS_1
"Anak mama ini lagi ngidam rupanya. Oh ya, Bi ... nanti tolong beliin buah ya ke pasar! Sudah habis soalnya di kulkas," ucap Mama Inggit kepada pembantu yang ada di sana.
"Baik Nyonya."
"Eeuum ... sayang, nanti siang kita ke mall ya belanja kebutuhan bayi kamu. Kamu kan juga belum beli kasur, stroller dan juga yang lainnya, bedongan juga baru beberapa biji."
Amanda mengangguk, dia baru ingat bahwa memang dirinya belum mempersiapkan apapun untuk kelahiran anaknya nanti, jadi mereka berencana untuk pergi ke mall yang tak jauh dari rumah. Tidak lupa, Amanda pun mengirimkan pesan kepada Lulu.
(Ikan lele, gue sama mama mau ke mall nih buat belanja kebutuhan calon baby. Lo nyusul ya! Atau lo mau dijemput?)
(Gue nyusul aja, Marfuah. Soalnya sekalian nanti dari butik).
(Ya udah, tapi lo jangan terlalu setiap hari banget ke butik, kan kehamilan lo semakin besar. Nanti kalau terjadi apa-apa gue yang kena salah).
(Siap bos besar!)
"Kamu lagi chat-an sama siapa sih, sayang?" Ethan memeluk tubuh Amanda dari belakang, kemudian wanita itu pun menaruh ponselnya di atas nakas.
.
.
Ethan saat ini senga lumayan sibuk di kantor, namun tiba-tiba saja sekretarisnya masuk dan mengabarkan bahwa perusahaan dari Sasa membatalkan kerjasama dengan perusahaannya.
"Tiba-tiba saja Sasa membatalkan kerjasama ini? Atau jangan-jangan dia ketakutan karena omongan Istriku semalam," lirih Ethan, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Istriku itu, jika cemburu menakutkan sekali," kekehnya dengan kecil.
Dia pun tak ambil pusing dengan pembatalan kerjasama secara sepihak, karena mereka juga belum meraup keuntungan jadi baginya tidak masalah.
"Sepertinya aku nyusul Amanda saja deh ke mall. Lagi pula di kantor juga tidak terlalu sibuk, untuk meeting masih bisa di handle sama Rio." Pria itu pun memakai jasnya, kemudian dia melenggang keluar dari kantor.
"Pak Ethan," panggil seseorang yang tak lain adalah Rio sekretaris barunya.
__ADS_1
"Iya, kenapa Rio?"
"Maaf Pak! 1 jam lagi kita akan ada meeting bersama klien yang dari Surabaya."
"Kamu handle dulu, nggak papa kan?"
"Tapi klien ini maunya meeting bersama dengan Bapak langsung. Sebaiknya kita berangkat sekarang, karena di jalan takutnya kena macet juga Pak, sebab hari juga sudah mulai siang," ucap Rio.
"Ya udah deh." Ethan akhirnya memutuskan untuk meeting terlebih dahulu. Padahal dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Amanda dan memilih baju untuk anak mereka nanti, tapi sepertinya harus tertunda.
.
.
Sementara Amanda dan juga mama Inggit baru saja sampai di mall, mereka langsung menuju ke salah satu toko untuk membeli beberapa helai pakaian dan juga perlengkapan yang lainnya.
"Kamu kan kemarin sudah beli sama Lulu, tapi tidak terlalu banyak. Jadi ini belanjanya jangan banyak-banyak, yang bel di beli saja," ucap Mama Inggit menasehati
"Iya Mah," jawab Manda sambil memilih baju-baju bayi.
Tak lama Lulu datang. "Maaf ya kalau gue lama. Tadi jalan lumayan macet, udah ada baju yang lu pilih belum?" tanya Lulu saat dia sampai di sana, namun wanita itu langsung duduk di kursi karena merasa lelah.
Lehamilannya yang mulai membesar membuat kaki Lulu cepat pegal jika berdiri lama-lama, itu kenapa terkadang dia pun memakai kursi roda, namun dokter menyarankan agar Lulu sering berjalan untuk kelancaran lahirannya nanti.
"Ini gue udah pilih beberapa baju. Gue udah pilihin juga buat lo, nih!" Amanda menyodorkan beberapa helai baju kepada Lulu dan wanita itu sangat menyukainya.
"Si nasi ketan nggak ikut?" tanya Lulu sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ethan.
"Enggak. Mas ketan gue lagi ada kerjaan, jadi dia nggak bisa ikut. Lagi pun ada Mama kok, jadi nggak masalah," jawab Amanda tanpa menoleh ke arah Lulu.
Saat mereka sudah selesai berbelanja Mama Inggit mengajak kedua ibu hamil itu untuk makan es krim, dan sambil menunggu pesanan datang Amanda pamit ke toilet. Dia baru saja akan masuk ke dalam toilet, namun tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang dan hampir saja membuatnya terjatuh jika tidak berpegangan kepada pintu.
__ADS_1
BERSAMBUNG......