
Ethan menahan tawanya saat melihat Rizal, dan pria itu pun melakukan hal yang sama. Kemudian dia duduk di samping Rizal dan menatap dari atas sampai bawah.
"Jadi, ceritanya di sini lo pakai kostum Upin? Hahaha!" tawanya dengan kencang saat melihat Rizal memakian kaos dan celan upin.
"Masih mending gue lah menjadi Upin. Lah elu ... ngapain? Mana ada spider-man pakai sarung? Emangnya spider-man nya habis sunatan ya?" ledek Rizal.
"Sudah. Sudah. Kalian ini malah saling meledek, jika sesama suami terdzolimi itu harus saling mendukung, bukannya meledek," kelakar Mama Inggit.
Lulu dan juga Amanda saling melirik satu sama lain saat mendengar ucapan wanita setengah paruh baya itu, yang menyebut suami mereka dengan kata 'terdzolimi.
Kemudian makanan pun datang dan mereka hanya membicarakan seputar kehamilan Lulu dan juga Amanda. Namun, jauh di dalam lubuk hati Rizal dia sangat bersyukur karena tempat mereka makan privat, jika tidak ... mungkin mereka sudah jadi bahan tontonan dan ledekan semua pengunjung yang ada di restoran itu.
"Sebenarnya apa sih yang menjadikan kalian mempunyai ide konyol seperti ini? Entah kenapa ya, aku merasa kamu sayang ..." Rizal menatap ke arah Lulu, "dan kamu, Amanda. Kalian sepertinya ingin mengerjai kami? Padahal aku dan Ethan rasanya tidak mempunyai salah. Kalian ini ngidam atau ngerjain suami, sih?" Rizal akhirnya mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalanya.
Dia merasa ngidamnya Lulu dan juga Amanda sangat aneh dan tidak masuk di akal sama sekali. Mana ada seorang wanita yang ngidam tentang hal konyol seperti itu. Biasanya seorang wanita jika hamil muda pasti mereka menginginkan makanan yang asem-asem, pedas-pedas, tapi tidak dengan pakaian yang memalukan seperti itu.
"Maaf ya, kalau kami sangat keterlaluan," ucap Amanda, "tapi kami pun tidak tahu, kenapa kami ingin sekali melihat kalian mau mengenakan baju itu?"
"Sudahlah, jangan pada bertengkar. Apapun itu, yang penting aekarang kita makan dan habiskan, setelah itu pulang! Sungguh, lama-lama Mamah di sini, bisa langsing. Karena baju ini membuat keringat Mama mengucur," ujar Mama Inggit.
Sedari tadi dia sudah menahan panas, walaupun di sana ada AC, tapi tetap saja keringatnya tidak berhenti mengalir, dan dia yakin setelah ini walaupun dirinya makan banyak akan tetap turun berat badannya.
.
.
__ADS_1
Darius malam ini tidak pulang ke rumah, dia merasa jengah dengan istrinya yang terus-terusan mengeluh bahkan mencaci makinya. Untung saja di rumah Darius sudah menyiapkan pembantu.
Dia menegak minuman yang ada di bar untuk menghilangkan penatnya. Dan setelah jam menunjukkan pukul 22.00 malam, Darius memutuskan untuk keluar dari sana, tapi dia malas untuk pulang.
Badannya yang sempoyongan membuat langkah Darius sedikit gontai, hingga tiba-tiba saja dia menabrak tubuh seseorang. "Maaf, maaf," ucap Darius dengan suara yang serak.
Bau alkohol seketika menguar dari mulutnya begitu kuat. "Tidak apa-apa," jawab seorang wanita, namun seketika netranya membulat loh Darius.
Pria itu langsung menatap ke arah wanita yang saat ini tengah berada di hadapannya, dan dia pun cukup terkejut saat melihat siapa wanita itu. "Naura!" kagetnya.
"Hei, apa kabar?" Naura mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Darius. "Alhamdulillah kabar baik. Ya sudah, kalau gitu aku duluan ya." Pria itu hendak melenggang pergi.
Akan tetapi Naura menghentikannya, "Tunggu dulu! Kamu akan pergi dalam keadaan seperti ini, Darius? Sudah, biar aku antar saja."
"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Akan tetapi Naura bersikukuh karena dia tidak tega melihat keadaan Darius yang sudah setengah mabuk.
"Kamu aku antar ke mana?" tanya Naura sambil menyetir mobilnya.
"Entahlah ... cari tempat yang nyaman saja, aku perlu menenangkan diri. Atau perlu, turunkan aku di pinggir jalan saja! Malam ini aku tidak ingin diganggu," jawabnya.
Naura kasihan saat melihat keadaan Darius. 'Kamu tidak pernah berubah, selalu saja cuek kepadaku. Tapi melihatmu seperti ini, aku benar-benar tidak tega. Apakah kamu masih berumah tangga bersama dengan Amanda? Apa kalian sedang bertengkar?' batin Naura.
Dia melihat sendu ke arah Darius, di mana pria itu pernah mengisi hatinya. Namun sayang, Darius lebih memilih Amanda ketimbang dia. Walaupun dulu Naura sempat mengungkapkan perasaannya tetapi ditolak mentah-mentah oleh Darius.
Dia pun membawa pria tersebut ke apartemennya karena tidak tahu harus membawa Darius ke mana, ditambah pria itu sekarang sudah tertidur. Dan sesampainya di sana, dia meminta Security untuk membawa Darius ke kamarnya.
__ADS_1
Saat Naura akan menggantikan baju Darius tiba-tiba saja pria itu muntah hingga mengenai bajunya. Wanita itu pun segera menuju kamar mandi setelah melepas kemeja bagian atas milik pria tampan itu.
Dia keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, dan cukup terkejut saat melihat Darius sudah bangun. "Lho! Kok kamu malah bangun sih? Istirahat saja, pasti kepalamu pusing kan," ucap Naura.
Seketika Darius menelan salivanya saat melihat Naura hanya memakai handuk yang menutupi bagian dada sampai paha putihmya. Pria normal manapun pasti akan tergoda saat melihat pemandangan yang begitu indah di hadapan mereka.
Dengan perlahan Darius berjalan ke arah Naura, dia mendekat dan mengelus pipi lembut wanita itu. Kendati Naura hanya diam saja, entah kenapa dia tidak bisa melawan.
.
.
Sementara di rumah, Fitri belum bisa tertidur karena Darius masih belum pulang. Dia pun naik ke kursi roda setelah dibantu oleh pembantu di rumah itu, berjalan ke ruang tamu untuk menunggu sang suami.
"Mas Darius ke mana sih? Kenapa belum pulang juga? Jangan-jangan, dia bermain wanita lagi? Mencari kesempatan dengan keadaanku yang seperti ini. Awas aja! Jika itu benar, aku tidak akan membiarkan Mas Darius hidup bahagia!" geram Fitri sambil mengepalkan tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam akan tetapi Darius masih belum pulang. Fitri yang sudah amat sangat kesal pun masuk ke dalam rumah, dia merebahkan kembali tubuhnya di ranjang.
"Awas aja kamu, Mas! Kalau pulang akan aku beri pelajaran kamu." Wanita itu berkata dengan nada marah sebelum dia menutup matanya.
Sementara di tempat lain Darius sedang berbagi peluh dengan wanita yang pernah ia sakiti hatinya. Keduanya bermain dengan begitu panasnya, sehingga membuat kamar yang tadinya terasa dingin kini seperti tidak mempunyai AC sama sekali.
"Aaahh ... kamu begitu nikmat, sayang," rancau Darius, "rasanya aku tidak ingin mengakhiri ini." Dia terus saja memompa tubuhnya di atas tubuh Naura.
Akan tetapi, wanita itu hanya diam sambil mengalungkan tangannya di leher kekar Darius. Entah kenapa dia tidak bisa menolak saat Darius melakukan hal itu kepadanya. Karena tidak Naura pungkiri, rasa cintanya masih ada untuk pria tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG......