
Happy reading ....
"Papa seperti mengenal wanita ini?" tanya om Umar sambil menatap ke arah seorang wanita yang berada di laptopnya William.
"Iy Pah, dia Mona, mantan pacarku," ujar Ethan. "William, apa kau tahu sekarang dia di mana?"
"Dari data-data yang saya dapat, nona Mona sekarang sedang berada di bandara Tuan, karena dia akan melarikan diri ke luar negeri," jelas William.
"Apa! Tidak akan kubiarkan itu terjadi!" geram Ethan kemudian dia berjalan keluar, namun seketika pria itu menghentikan langkahnya. "Pah, aku titip Amanda dulu!"
Om Umar mengangguk, lalu Ethan berjalan sambil memberikan kode kepada William untuk mengikutinya. Mereka pun keluar dari rumah sakit.
Dan saat di dalam mobil Ethan memerintahkan William untuk segera ke bandara, karena dia akan menyusul Mona. Oria itu tidak akan membiarkan wanita tersebut lari begitu saja setelah mencelakai istrinya.
"Halo pak polisi," ucap Ethan saat telepon tersambung.
Iya, dia menelpon polisi untuk menangkap Mona, agar polisi menghubungi pihak bandara dan menahan wanita itu untuk tidak pergi dari sana.
''Lihat saja kau Mona! Kau tidak akan pernah bisa lolos dariku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kau harus mendapatkan balasannya Mona! Kau harus mendapatkannya!" marah Ethan dengan surat mata yang tajam.
"Cepat tambahi kecepatannya!" titah Ethan kepada William, dan pria itu menambah kecepatan laju mobilnya.
.
.
Mona sedang duduk di ruang tunggu karena pesawatnya 30 menit lagi akan berangkat ke Amerika, dia ingin melarikan diri karena Mona takut jika Ethan mengetahui tentang kejahatannya.
"Aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak mau dipenjara dan aku tidak ingin Ethan mengetahui semuanya. Tidak. Aku tidak boleh ada di sini," gumam Mona sambil meremas tangannya.
Rasa cemas dan juga takut menyelimuti perasaan wanita itu, hingga keringat dingin menetes di keningnya padahal udara di sana terasa dingin karena AC.
''Aduh ... pesawatnya lama banget sih," ucap Mona dengan lirih sambil dia menggerakan kakinya dengan gelisah.
Beberapa orang melihat Mona seperti orang yang sedang merasa cemas, tapi mereka pun tidak peduli karena itu bukan urusannya.
__ADS_1
Mona melihat beberapa security yang sedang mondar-mandir seperti mencari seseorang, dia pun menurunkan topinya agar tidak dilihat oleh security tersebut, karena Mona takut jika dia ditangkap.
'Lama-lama aku bisa jantungan kalau seperti ini terus?' batin Mona menggerutu.
Dia pun berjalan ke arah toilet, namun tiba-tiba saja tubuhnya tidak sengaja menabrak seorang wanita. "Aduh Mbak ... kalau jalan itu pakai mata dong!" ketus Mona.
"Loh ... kok Mbak nyalahin saya sih? Kan Mbak yang jalan tidak pakai mata. Lagian ngapain Mbak di sini pakai topi, pakai diturunin lagi topinya, jadi jalan nggak kelihatan. Makanya kalau di dalam bandara itu nggak usah pakai topi," kesal wanita yang ditabrak oleh Mona.
"Kok Mbak nyolot sih? Udah Mbak yang salah."
"Kan apa yang saya bilang itu benarm Ngapain Mbak di sini pakai topi kayak seorang pencuri aja?"
Mendengar tuduhan wanita itu Mona tidak terima, kemudian dia menampar wajah wanita tersebut. "Jaga ya bicara Anda! Kalau bicara itu yang benar, jangan asal menuduh!" bentak Mona membuat beberapa pasang mata yang ada di bandara menyoroti ke arahnya.
"Ada apa ini?" tanya security.
"Ini Pak, dia tiba-tiba saja nampar saya," jawab wanita yang berada di hadapan Mona.
"Eh ... bohong Pak. Enak aja, dia tuh yang ada nuduh saya maling Pak, kalau bicara itu nggak pernah disaring, ya wajar kalau saya nampar wajahnya." bantah Mona.
Mona segera masuk ke dalam toilet sementara wanita itu pergi ke kursi tunggu. Saat security itu akan pergi tiba-tiba saja polisi menghampiri.
"Permisi Pak, apa melihat wanita ini?" tanya polisi sambil menunjukkan foto Mona yang berada di ponselnya.
Dahi security itu mengkerut heran saat melihat foto tersebut. "Loh, ini wanita yang baru saja masuk toilet Pak," jawab security.
"Jadi dia ada di dalam?" tanya polisi dan langsung dibalas anggukkan oleh security.
Kemudian Polisi memerintahkan anak buahnya yaitu dua orang polwan untuk masuk ke dalam toilet wanita, dan di sana mereka tidak melihat Mona. Hingga keduanya pun menunggu dan saat pintu toilet terbuka, Mona kaget karena ada polisi, dia ingin masuk kembali ke dalam toilet akan tetapi ditahan oleh Polisi.
"Apa-apaan ini Bu? Lspaskan tangan saya!" pinta Mona sambil berontak.
"Sebaiknya anda ikut kami ke Kantor Polisi! Ada yang harus Anda jelaskan," ucap polisi wanita yang berambut pendek.
"Tidak. Saya tidak mau! Lepaskan saya Bu! Lepaskan!" teriak Mona sambil mencoba melepaskan pegangan polisi di tangannya.
__ADS_1
"Ayo ikut kami jangan berontak! Ayo!" tarik wanita yang berseragam polisi tersebut.
"Tidak. Saya tidak mau, Bu. Saya tidak mau!" berontak Mona akan tetapi tenaga polisi lebih kuat.
Dia digeret keluar dari toilet, membuat semua orang yang ada di sana tercengang dan berkerumun serta berbisik-bisik tentang penangkapan Mona.
"Saya tidak salah Bu, jangan bawa saya! Saya tidak salah!" teriaknya akan tetapi polisi tidak peduli.
"Diam atau kami akan menembak kamu!" ancam polisi.
"Tapi saya tidak salah Pak!" teriak Mona kembali, polisi kemudian memborgol tangan wanita itu lalu menggiringnya keluar dari bandara. "Pak ... lepaskan saya!"
Saat dia sampai di lobby bandara, wanita itu berpapasan dengan Ethan dan juga William yang baru saja akan masuk ke dalam.
Mona yang melihat Ethan di sana segera memohon. "Ethan, tolong lepaskan aku! Aku tidak bersalah. Mereka menangkapku Ethan, tolong!"
Bukannya menjawab Ethan malah mendekat ke arah Mona lalu dia langsung mencengkram rahang wanita itu, hingga membuat bibir Mona maju 10 senti ke depan.
"Kau dengar ya! Sudah berapa kali ku peringatkan jangan pernah mengganggu hidupku, tapi kau malah mencelakai istriku. Sekarang kau tanggung sendiri akibatnya! Dan asal kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu hidup damai di penjara. Kau akan mendapatkan balasannya dan kau tidak akan pernah menghirup udara segar ataupun untuk bebas, paham!" geram Okta sambil menghempaskan wajah Mona dengan kasar.
Pria itu ingin sekali mencekiknya tapi di sana ada polisi, dia tidak ingin terjerat hukum karena walau bagaimanapun Ethan harus bersikap kooperatif.
"Istrimu itu pantas mati. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka dia pun tidak bisa Ethan. Kamu hanya milikku!" teriak Mona.
Ethan tersenyum sinis. "Dasar wanita gila! Kau yang meninggalkanku tapi kau yang terobsesi denganku, benar-benar tidak waras. Pak, bawa dia ke penjara dan hukum dia seumur hidup! Karena gara-gara dia istri saya di rumah sakit dan sekarang belum sadar Pak. Bahkan dia kehilangan banyak darah!" pinta Ethan kepada polisi.
"Baik, kami akan mengurusnya. Ayo bawa dia sekarang!" titah polisi kepada anak buahnya.
"Tidak. Aku tidak mau di penjara. Ethan lepaskan aku! Istrimu itu pantas mati ... dia harus mati!"
Ethan mengepalkan tangannya, dia mencoba untuk menahan emosinya walaupun saat ini benar-benar sangat menggebu ingin sekali menghabisi Mona saat itu juga.
"Hahaha ... istrimu pantas mati. Dia tidak pantas denganmu, hanya aku yang pantas denganmu!" teriak Mona sambil tertawa, kemudian dia menjerit minta dilepaskan tetapi polisi segera memasukkannya ke dalam mobil.
"Lihat saja Mona! Aku mungkin tidak bisa bertindak tapi aku tidak akan membiarkanmu bebas dari penjara. Aku tidak akan membiarkan kau menghirup udara segar dan kau akan membusuk di penjara sampai ajalmu tiba!" geram Ethan sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....