
Ethan pergi meninggalkan ruang tamu dan dia kembali dengan sebuah laptop. "Ini, lihatlah! Rumah ini sudah terpasang CCTV, jadi sudah pasti kerekam." Kemudian pria itu pun memperlihatkan rekaman di mana saat-saat Fitri menaiki lift menuju kamarnya dan saat mereka di balkon.
Semua orang tercengang saat melihat kelakuan Fitri yang hendak mencelakai Amanda. "Tuh kan ... apa aku bilang. Istri kamu itu memang tabiatnya sudah siluman ular, jadi mau bagaimanapun dia tetap licik," ujar Naura.
"Masih ingin memenjarakanku bersama dengan Amanda?" Ethan tersenyum miring dengan tatapan dinginnya kepada Darius. "Istrimu yang salah, tapi kau malah menuduh. Makanya ... kalau punya istri itu diurus, jangan cuma mau enaknya doang."
"Diam kau!" sentak Darius tidak terima.
"Seharusnya aku yang memenjarakanmu, karena kau sudah mencemari nama baikku! Tapi karena ini adalah hari berkabung istrimu, anggaplah kau sedang beruntung." Ethan bangkit dari duduknya, dia berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamar di mana saat ini Amanda baru saja selesai diperiksa.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa kandungan istri saya baik-baik saja?"
"Alhamdulillah kandungan Ibu Amanda baik-baik saja, hanya memang tadi tekanan darahnya lumayan tinggi. Saya sarankan, Ibu Amanda jangan sampai kelelahan ataupun banyak pikiran, karena itu berpengaruh kepada janin yang ada di dalam perutnya."
Setelah memberikan resep vitamin, dokter itu pun pergi dari kediaman Ethan, sementara Amanda tidur ditemani oleh tante Anjani.
"Bagaimana? Apakah jenazahnya Fitri sudah diurus?" tanya Mama Inggit, "jangan sampai Polisi ke sini! Mama tidak ingin nama keluarga kita buruk."
__ADS_1
"Tidak akan, Mah. Lagi pula, aku punya bukti yang kuat kok, jadi tidak akan kubiarkan keluarga ini mendapat kehancuran."
Mama Inggit yang mendengar itu pun merasa lega, kemudian mereka berjalan kembali ke ruang tamu di mana masih ada Papa Samuel dan juga Om Umar.
Mereka semua berpamitan untuk mengurus jenazah Fitri, termasuk juga Om Umar. Karena walau bagaimanapun Fitri pernah menjadi putrinya dan dia pernah membesarkannya.
"Aku tidak ikut ya Pah," ucap Ethan kepada mertuanya. "Aku mau jagain Amanda. Lagi pula, hati ini masih terlalu kecewa dan juga sakit karena wanita itu sudah mencelakai istriku."
"Iya, tidak apa-apa kamu di rumah saja jaga Amanda!" Om Umar menepuk pundak menantunya kemudian dia pun pergi dari sana disusul oleh Darius, Naura dan juga Papa Samuel.
.
.
"Mama benar-benar tidak menyangka, kenapa Fitri bisa sejahat itu sampai mau mencelakai Amanda? Padahal seharusnya dia bertobat, tapi malah semakin menjadi," ucapan Mama Dina saat acara tahlilan sudah selesai.
"Sudahlah Mah. Fitri kan sudah tidak ada, jangan berbicara seperti itu! Kasihan dia di alam sana."
__ADS_1
"Ya jujur sih ... sebenarnya Mama tidak terlalu sedih, karena meninggalnya Fitri itu karena ulahnya sendiri. Tapi cukup tragis juga."
"Syukurlah. Setidaknya, pengancurku nanti sudah tidak ada." Naura berkata di dalam hati.
Ethan hanya bisa menyimak tanpa mau berkata apapun, dan saat melihat Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, dia pun berpamitan untuk pulang karena khawatir dengan keadaan Amanda di rumah yang hanya tinggal bersama dengan mama Inggit dan juga pelayan.
"Aku pulang dulu ya Tante, Om, soalnya Amanda cuma sama mama saja di rumah. Assalamualaikum," pamit Ethan.
Saat dia berada di jalan, Ethan melihat martabak keju susu kesukaan istrinya. Dia pun berinisiatif untuk membelikan Amanda sekaligus membelikan beberapa pelayan juga.
Dan sesampainya di rumah, Ethan langsung masuk ke dalam kamar, tetapi tidak mendapati sang istri. Dia juga turun ke lantai bawah tapi tidak melihat keberadaan Amanda termasuk juga mama Inggit.
'Ke mana Amanda dan juga Mama? Kenapa tidak ada di rumah? Mereka ke mana sih?' Lalu dia pun keluar dan melihat mobil Mama Inggit tidak ada. "Astaga! Pergi ke mana dua wanitaku itu?"
"Bi ..." panggil Ethan kepada pelayan, "apa melihat istriku dan juga mama? Mereka ke mana yax kok mobilnya nggak ada?"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
3 Bab lagi lanjut Habis Maghrib ya😘Othor mau nginem😂