Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Membatalkan Kerjasama


__ADS_3

Happy reading....


Amanda kembali ke butik dan dia membantu Lulu untuk mendesain rancangan pesanan pelanggan. Namun saatnya makan siang mereka pun berjalan memasuki mobil untuk makan di salah satu cafe yang tak jauh dari sana.


Setelah memesan makanan, keduanya pun diam sambil meminum minuman yang baru beberapa detik datang.


Akan tetapi, tatapan keduanya tertuju kepada seorang wanita yang beberapa bulan lalu datang dengan pria yang tak lain adalah Ethan untuk memesan gaun pernikahan.


"Eh Amanda, itu bukannya cewek yang waktu itu pesan gaun pernikahan kan? Terus yang kata lo kemarin dibuang ke sungai gaunnya," ucap Lulu setengah berbisik.


"Iya, apa itu ya cowok selingkuhannya ya? Kasihan sih menurut gue pak Ethan, dia tampan, tajir, kelihatannya baik juga. Apalagi saat kita melihat sikapnya kepada wanita itu, begitu sangat sayang. Entahlah, Pak Etan itu hidupnya kayak gue, udah tulus tapi malah dikhianati," jaw.ab Amanda sambil mengaduk minumannya.


"Ciiee ... kayaknya calon jodoh nih." Godaua Lulu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Calon jodoh pala lo peyang. Daripada lo mikirin jodohnya gue, mending lo pikirin jodoh lo sendiri deh!"


"Emang gue kenapa?" tanya Lulu.


"Ya kan lo belum married, kalau gue udah ngerasain namanya married kayak apa, ngebina rumah tangga itu kayak apa. Lo mah jomblo mulu. Eh jangan terlalu lama jomblo, ntar disangkanya perawan tua?" kekeh Amanda.


Lulu mencubit lengan sahabatnya, membuat Amanda semakin tertawa. Kemudian makanan pesanan mereka pun datang, lalu keduanya pun langsung memakan makanan tersebut.


"Jodoh, maut dan rezeki itu kan hanya ada di tangan Allah. Mau gue berusaha sekuat apapun, jika memang jodoh gue belum ada yang mau gimana lagi? Kita hanya bisa pasrah dan berusaha. Ya gue juga udah coba kok untuk ngebuka hati gue, tapi ..." Lulu menggantungkan ucapannya.


Membuat Amanda seketika menoleh ke arahnya. "Tapi kenapa?" tanya Amanda sambil menatapnya dengan alis terangkat.


"Tapi mama gue semalam itu nyuruh gue buru-buru pulang, karena ada yang mau dibicarakan."


"Lalu?"


"Terus dia mau jodohin gue sama anak sahabatnya. Jujur gue nggak mau. Zerasanya gue ini nggak laku. Terus menurut lo gimana? Saat ini gue butuh masukan," ucap Lulu dengan wajah frustasi.


"Mmppt!"Amanda malah terkekeh, membuat Lulu seketika menatapnya dengan heran dan juga kesal.

__ADS_1


"Kenapa lo malah ketawa? Gue ini lagi bicara serius loh, Amanda Dwi Haridiyanta! Lo malah cengengesan? Emangnya kata-kata gue ada yang salah ya?" kesal Lulu.


"Iya sorryx sorry. Ya nggak salah sih, cuma nggak ada salahnya juga kalau lo nerima oerjodohan itu. Ya seenggaknya, lo kenal dulu lah sama dia. Cowoknya kayak apa, karakternya kayak apa, sifatnya kayak apa, jadi nanti kalau kalian udah saling mengenal tinggal putusin deh mau langsung ke jenjang pernikahan atau tidak. Perjodohan kan juga harus saling mengenal dulu," Jelas Amanda.


Mendengar itu Lulu mengangguk paham apa yang dikatakan sahabatnya memang benar.


Dia merasa bimbang untuk menerima Perjodohan itu atau tidak. Di lain sisi memang Lulu sedikit kesulitan mencari jodoh, entah dia pun tidak tahu kenapa pria begitu enggan untuk dekat dengannya? Padahal jika pun ada Lulu tidak pernah meminta apapun, entah itu dari harta, belanjaan atau apapun yang berhubungan dengan materialistis.


"Yaah, sepertinya gue emang harus coba." Lulu mengangkat kedua bahunya.


.


.


Sementara di kantornya, Haris sedang duduk bersama dengan asisten pribadinya yang tak lain adalah Rizal.


Dia ingin menanyakan perihal penyelidikan Rizal tentang wanita yang ia tiduri beberapa hari yang lalu di klub malam.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan titik terang?" tanya Haris.


"Tapi kenapa?" Haris memotong ucapan Rizal.


"Tapi Tuan, wanita itu sudah pindah dari kontrakannya. Dan sekarang tidak tahu di mana. Dia juga seorang yatim piatu, dan tidak mempunyai keluarga. Jadi dia di kota ini sebatang kara," ujar Rizal.


Mendengar itu Haris merasa sangat bersalah, apalagi yang ia tidur ia adalah seorang gadis yatim piatu dan hanya sebatang kara. Seketika perasaan salah yang begitu dalam pun menyeruak dalam hati pria tampan tersebut.


"Pokoknya kau dapatkan alamatnya secepat mungkin, oke! Untuk beberapa minggu mungkin aku akan ada di luar kota, tapi kau tetap kabari aku!" ucap Haris.


"Baik Tuan." Setelah itu Rizal pun keluar dari ruangan Haris untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah kepergian asisten pribadinya, Haris menyugar rambutnya ke belakang. Dia benar-benar frustasi, karena di satu sisi dia merasa bersalah kepada gadis itu, dan di sisi lain Haris juga merasa jika dirinya harus bertanggung jawab.


"Astaga! Bodoh sekali aku. Kenapa tidak menanyakan namanya?" Pria tersebut menepuk jidatnya saat dia ingat tidak menanyakan nama gadis itu kepada Rizal.

__ADS_1


Kemudian dia menelpon ke ruangan asisten pribadinya. "Halo Rizal, kau tadi belum memberitahu diriku siapa nama gadis itu?"


"Namanya Alea, tuan "


"Nama yang sangat manis," gumam Haris dan masih terdengar jelas di telinga Rizal.


"Baiklah." Setelah itu Haris menutup teleponnya, membuat Rizal seketika menatap ke arah telepon yang sedang ada dalam genggaman tangannya.


Dia menggelengkan kepala, namun Rizal juga paham dengan masalah yang dialami oleh bosnya. Dia juga melihat berita yang tersebar di media tentang Darius dan juga Fitri.


.


.


Sementara di kantornya Darius, saat ini dia tengah mencak-mencak karena menerima laporan di mana beberapa kolega bisnisnya membatalkan kerjasama secara sepihak, dan itu mengakibatkan kerugian yang sangat besar kepada perusahaan Darius.


"Bagaimana mungkin bisa mereka membatalkan begitu saja? Kan semuanya sudah ditandatangani dan disetujui dari awal!" bentak Darius pada asistennya.


"Maaf Tuan, tapi mereka melihat berita antara Tuan dan juga Nona Fitri. Jadi mereka tidak ingin mengambil resiko dan membatalkan kerjasama secara sepihak," jawab Kim.


"Aaagh!" Darius membanting semua berkas yang ada di tangannya ke atas meja dengan kasar.


Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa semua rekan bisnisnya membatalkan kerjasama begitu saja tanpa persetujuannya. Dan itu berdampak buruk pada perusahaannya yang saat ini di ambang kebangkrutan.


"Ini semua gara-gara Amanda. Jika saja dia bisa membicarakan baik-baik dan tidak membuatku malu di hadapan semua orang, tentu saja rekan bisnisku tidak akan membatalkan kerjasama ini. Amanda! Kau harus bertanggung jawab!" geram Darius sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian dia berjalan keluar hendak menuju ke butik Amanda, karena pria itu ingin memarahi wanita tersebut yang sudah membuatnya rugi besar.


"Kamu harus bertanggung jawab Amanda!" geram Darius.


Kim merasa tidak tega, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Amanda tentang Darius. Kim sudah sangat bersalah karena sudah menyembunyikan tentang perselingkuhan bosnya bersama dengan Fitri. Jadi sekarang Kim tidak ingin membuat kesalahan yang sama.


"Semoga Bu Amanda membaca pesanku. Dan semoga saja Pak Darius tidak menyakiti Bu Amanda. Kasihan dia," gumam Kim sambil menghela nafasnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2