Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Kamu Harus Cari Buktinya


__ADS_3

Happy reading...


"Ad apa dengan Darius?" tanya Tante Anjani.


"Aku tidak tahu Mah, akhir-akhir ini aku selalu saja berpikiran negatif kepada Mas Darius. Jujur aku takut kehilangannya. Entah kenapa, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku Mah," ujar Amanda.


Kemudian dia pun menjelaskan tentang keanehan yang dialaminya tentang Darius, sedangkan sang mama hanya mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-ngangguk kecil.


"Apa kamu yakin, dengan semua itu?"


"Iya Mah, aku yakin. Mama tahu kan feeling seorang istri itu kuat? Dan sntah kenapa, feelingku mengatakan ada yang sedang Mas Darius sembunyikan dariku."


Terlihat wajah Amanda begitu mendung, tante Anjani yang melihat hal tersebut mengerti tentang perasaan putrinya, dia mengusap lembut kepala Amanda.


"Ya sudah, sekarang kamu sudah di sini, jadi tenangkan pikiranmu dulu. Sebaiknya kamu sekarang istirahat ya! Mama mau ke depan dulu beli sayuran, sebentar lagi lewat. Kamu mau mama masakin apa?"


Amanda bangkit, kemudian dia nampak berpikir lalu dia pun meminta mamanya untuk membuatkan seblak kesukaannya, karena dulu tante Anjani pernah berjualan seblak, dan makanan itu sangat enak jika dia yang membuatnya.


"Baiklah, kalau begitu Mama beli bahan-bahannya dulu. Kamu istirahat saja ya!" Amanda menganggukkan kepalanya.


Kemudian tante Anjani keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk membeli sayuran.


.


.


Sementara di dalam mobil, Darius terus mengingat pertengkarannya dengan Amanda. Jujur, baru pertama kali ini pria tersebut membentak istrinya.


Ada rasa bersalah yang seketika menjalar di hati pria tersebut, karena dia sudah memarahi Amanda. Dan saat dirinya sedang fokus menyetir, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Dahinya mengkerut heran, namun seketika dia pun tersenyum lalu melajukan mobilnya untuk menuju sebuah tempat yang tak lain bukan kantor.


.


.


Di kediaman orang tua Darius, saat ini Fitri sudah rapi dengan dress berwarna merah dipadu make-up yang lumayan tebal, karena Fitri memang tidak terbiasa tanpa make-up, sedangkan Amanda wajahnya sangat natural walau tidak menggunakan make-up, dia sangat cantik.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Nak? Sudah rapi saja?" tanya Tante Dina kepada.


"Ini Mah, aku mau keluar hangout sama temen-temen. Kebetulan temen aku lagi ada yang ulang tahun," jawab Fitri.


"Baiklah, tapi pulangnya jangan terlalu kesorean ya!"


Fitri menganggukan kepalanya, kemudian dia mencium tangan mertuanya lalu pergi dari rumah itu dengan senyum yang terus terukir mengembang di wajah cantiknya.


Fitri masuk ke dalam mobil, dia tidak diantarkan oleh sopir karena akhir-akhir ini Fitri lebih suka pergi sendirian ketimbang diantar oleh supirnya.


Namun, saat di tengah jalan dia ingat jika ada sesuatu yang ketinggalan. Sesuatu yang amat sangat penting, kemudian dia pun memutar mobilnya kembali ke rumah.


Sedangkan Tante Dina masuk ke dalam kamarnya Fitri untuk menaruh sesuatu milik Haris, namun saat dia sampai di sana wanita itu melihat ada sebuah kotak di atas meja nakas.


Tante Dina yang merasa penasaran pun mengambil kotak tersebut, dan ternyata isinya jam tangan yang sangat mewah, bahkan ada kertas bertuliskan I Love You.


"Wah! Sepertinya ini untuk Haris," gumam Tante Dina, kemudian menutup kembali kotak tersebut.


Saat dia berjalan ke arah lemari, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, ternyata yang datang adalah Fitri. Wanita itu sangat terkejut saat melihat ibu mertuanya ada di dalam kamarnya.


"Mama! Kok Mama ada di sini?" tanya Fitri dengan wajah yang sedikit panik.


"Iya, ini mama mau naruh baju Haris yang kemarin dia cari. Kamu kenapa kok balik lagi?" tanya Tante Dina sambil melirik ke arah Fitri.


"Tidak apa-apa Mah, ada yang ketinggalan," jawab Fitri sambil memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya, dan itu terlihat oleh Tante Dina. Namun dia tidak ingin bertanya, karena wanita itu tahu jika kotak tersebut untuk putranya.


"Oh begitu."


"Ya sudah kalau gitu Fitri keluar dulu ya Mah." Wanita itu melenggang keluar dari kamar.


Saat dia berada di luar kamar, Fitri bernafas dengan lega karena Tante Dina tidak bertanya soal kotak tersebut. Padahal tadinya dia sudah ketakutan jika Tante Dina akan bertanya soal kotak itu.


'Syukurlah, sepertinya Mama memang tidak melihat kotak ini,' batin Fitri sambil mengusap dadanya.


Dia masuk ke dalam mobil lalu membuka kotak tersebut, dan di di bawah jam tangannya ada tulisan dan juga sebuah alat yang membuatnya sangat bahagia.


'Aku berharap, kamu menyukainya Mas. Dan aku yakin kamu akan sangat bahagia,' batin Fitri.

__ADS_1


.


.


Malam ini semua sedang berkumpul di meja makan, yaitu Amanda dan juga kedua orang tuanya.


Om Umar melihat putrinya pulang tentu saja sangat bahagia, dia memeluk tubuh Amanda, bahkan tidak membiarkan wanita itu jauh darinya. Karena dulu sebelum Amanda menikah, mereka sangat dekat, bahkan Amanda tidak pernah bisa jauh dari sang papa.


"Sayang sekali ya, suamimu tidak ada di sini. Padahal seharusnya dia di sini menemani kamu," ucap Om Umar saat berada di meja makan.


"Ya mau gimana lagi, Pa? Mas Darius sangat sibuk dengan kerjaannya, aku juga tidak mau mengekang, yang ada kalau aku terlalu banyak permintaan nanti disangkanya aku istri banyak nuntut," jawab Amanda sambil mengunyah makan malamnya.


Sejujurnya dia ingin mengatakan kepada papanya, tapi Amanda takut jika nanti Papanya malah akan marah kepada Darius. Dia juga tidak mau menduga-duga sebelum mendapatkan buktinya.


Akan tetapi, Om Umar melihat ada sesuatu hal yang mengganjal di kedua netra milik putrinya. Dia tahu jika ada masalah yang tengah disembunyikan oleh Amanda.


"Apa kamu pulang ke sini karena ada masalah, Nak?" tanya om Umar sambil menatap ke arah putrinya.


Amanda yang mendengar itu tentu saja sangat terkejut, kemudian dia menggeleng dengan pelan, "Tidak ada, Pah. Memangnya kalau aku pulang harus ada masalah ya? Aku hanya rindu dengan kalian."


"Syukurlah, Papah lega mendengarnya. Kalau kamu ada masalah, cerita saja sama Papa, jangan sungkan! Oh iya. Bagaimana dengan rumah tangga kamu sama Darius? Baik-baik saja kan?" Om Umar menatap lekat ke arah putrinya.


Mendengar itu Amanda mengganggukan kepalanya, "Iya Pah, alhamdulillah rumah tangga aku bersama dengan mas Darius baik-baik aja kok. Kami juga lagi program hamil, Papa Mama doakan ya semoga aku bisa cepat mengandung."


"Aamiin!" ucap Om Umar dan juga tante Anjani serempak.


Setelah makan malam selesai, Amanda masuk ke dalam kamar, berdiri di balkon menatap lekat ke arah Taman yang dulu sering menjadi tempatnya merenung untuk mengerjakan tugas kuliah.


Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di sampingnya, dan ternyata itu adalah Om Umar. Dia merangkul pundak Amanda, membuat wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang papa.


"Papa sudah tahu semuanya, mama sudah menceritakannya pada papa. Kalau saran Papa adalah, kamu harus mencari buktinya! Jangan hanya menduga-duga saja, yang akan membuat keluargamu hancur. Nadi lebih baik kamu cari bukti kebenarannya. Setelah itu kamu putuskan, karena yang menjalani hidup ini adalah kamu sendiri, dan kamu yang menentukan kebahagiaanmu, Nak."


Amanda cukup terkejut, dia menatap sekilas ke arah Papanya. "Papa benar, aku harus mencari buktinya, tapi bagaimana caranya Pah? Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi apakah aku tidak terlalu berlebihan?"


"Terkadang feeling seorang istri itu kuat, dan 90% biasanya feeling istri itu benar. Papa akan membantu kamu untuk mencari tahu tentang semuanya."


Amanda menatap ke arah sang Papa, kemudian dia memeluknya dengan erat. Wanita itu begitu sangat beruntung karena memiliki papa yang selalu ada untuknya di saat susah maupun senang, bahkan saat dirinya sedang ada masalah.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2