
Happy reading....
Lulu saat ini baru saja sampai di rumah, dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Badannya terasa begitu meriang, membuat wanita itu meregangkan otot-ototnya yang terasa begitu pegal.
Kerjaan yang menumpuk membuat Lulu harus lembur sampai jam 8 malam, dia terduduk di sofa kemudian tercium aroma sesuatu yang menggoda seleranya.
Saat membuka mata, ternyata di hadapannya ada wedang jahe dan ternyata Rizal yang memberikannya. "Terima kasih sayang," ucap Lulu sambil meminum wedang itu.
"Kamu jangan terlalu memforsir pekerjaan. Ingat kita kan lagi program hamil," ujar Rizal sambil memijit pundak istrinya.
"Iya sayang, ya mau gimana lagi ... 5 hari lagi Amanda baru pulang. Ya sudah, aku ke kamar dulu ya mau berendam air hangat kayaknya." Lulu bangkit dari duduknya, namun seketika kepalanya menjadi pusing.
"Sayang kamu nggak papa?" panik Rizal.
"Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing aja," Jawab Lulu sambil memegangi kepalanya.
Kemudian Rizal langsung menggendong tubuh Lulu, membuat wanita itu menjerit kaget. "Sudah diam jangan berontak! Nanti jatuh," ucap Rizal dan Lulu hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang suami, sementara tangannya melingkar di leher Rizal.
"Ketek kamu bau banget sih?" ledek Rizal.
"Enak aja ... ketek wangi gini kok dibilang bau? Tiap hari aku pakai kedodoran ya."
"Deodorant sayang, bukan kedodoran. Emang kolor?" Rizal terkekeh sambil menurunkan Lulu di ranjang.
"Oh ... sudah berubah nama ya?"
"Emang sejak kapan deodoran berubah jadi kedodoran? Istriku ini ada-ada aja." Rizal semakin dibuat tertawa oleh tingkah lucu sang istri.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu aku mau mandi dulu ya. Oh ya sayang, besok anterin aku ke salon yuk mumpung jadwal besok tidak terlalu padat! Aku mau creambath nih, kayaknya kepalaku perlu dipijit biar otaknya encer," pinta Lulu.
"Ya sudah, besok aku antar. Jangan cuma otak aja yang diencerin sayang, tapi cinta kamu juga," gombal Rizal.
"Cintaku udah encer, bahkan kayak roti yang sering lewat di sungai," kekeh Lulu. "Udah ah, aku mau mandi. Kalau ngobrol terus kapan aku mandinya?"
"Mau aku temenin nggak? Atau mau aku mandiin sekalian?" Rizal mengedipkan sebelah matanya.
"Nggak mau! Yang ada bukan dimandiin, tapi tangan kamu nakal," jawab Lulu sambil menutup pintu kamar mandi sementara Rizal hanya terkekeh kecil.
.
.
Pagi hari Tante Dina dan juga Om Samuel memutuskan untuk menjenguk keadaan Fitri di rumah sakit. Tak lupa mereka juga membawa buah-buahan untuk wanita itu yang saat ini masih bergelar menjadi menantunya.
Setelah bertanya kepada resepsionis, mereka pun berjalan ke arah ruangan di mana Fitri saat ini dirawat. Dan saat pintu terbuka mereka melihat Darius sedang membujuk Fitri untuk makan.
"Waalaikumsalam." Darius dan Fitri kaget saat melihat kehadiran mama papanya.
"Mama dan papa ke sini ingin menengok keadaan Fitri," ucap Tante Dina sambil menaruh buah-buahan di atas nakas.
Fitri hanya memalingkan wajahnya saja. "Mama dan Papa senang kan melihat aku seperti ini? Bohong banget kalau kalian tidak bersyukur karena aku kehilangan kakiku." tuduh Fitri.
Tante Dina menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Fitri yang menuduhnya seperti itu.
"Kok kamu malah bicara kayak gitu sih Fitri? Mama dan papa ke sini untuk menemui kamu dan melihat keadaanmu, tapi kamu malah menuduh kami seperti itu?"
__ADS_1
"Halah ... Mama dan Papa nggak usah sok baik deh. Aku tahu kok kalian pasti senang kan melihatku seperti ini? Pasti di dalam hati kalian sedang menyumpahi aku, bilang ini karma lah buat aku. Nggak usah sok baik, kalau kalian senang dengan penderitaanku saat ini," ucap Fitri dengan sarkas.
Mama Dina hendak menyaut ucapan wanita itu yang sekarang telah kehilangan kakinya, akan tetapi Om Samuel menggelengkan kepalanya.
"Fitri, kamu itu bicara apa sih? Mama dan Papa ke sini untuk menengok keadaan kamu. Kenapa kamu malah menuduh mereka seperti itu?" tanya Darius yang tidak terima.
"Aku berbicara fakta, Mas. Aku tahu kok mereka itu sangat menyayangi Amanda, sedangkan aku ini apa? Emangnya kamu nggak ingat kalau mereka udah mengusir kita dari rumah? Bahkan nggak ada sama sekali rasa kasihan di hati mereka."
"Cukup ya Fitri! Kami ke sini itu datang baik-baik untuk menengok keadaan kamu, tapi kenapa kamu malah mendudukkan seperti itu, hah?!" marah Tante Dina. "Seharusnya kamu itu intropeksi diri. Kamu pikir dong keadaan kamu sekarang ini itu bagaimana! Ini tuh karma buat kamu, karena kamu sudah menjadi wanita jahat. Untuk apa kamu mencelakai Alea? Kamu pikir dong pakai logika! Tidak mungkin Tuhan memberikan kamu karma kalau kamu itu menjadi orang baik. Kamu sudah merebut Darius dari Amanda, kamu sudah berpisah dengan Haris dan kamu tidak mencintainya, lalu untuk apa kamu mencelakai Alea!" bentak Tante Dina yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Mah ... sudah Mah." Om Samuel mencoba untuk menenangkan kemarahan sang istri.
"Tidak Pah. Mama tidak bisa lagi mentolerir ucapan dari wanita ini. Dia itu tidak akan pernah sadar bahkan setelah dia kehilangan kakinya bukannya sadar dan merenungi semua kesalahannya selama ini, tapi ... dia malah menyalahkan orang lain? Menuduh orang lain yang tidak tidak, bukannya malah bertaubat. Dengar ya Fitri! Kalau kamu seperti ini terus, semua orang pasti akan menjauhi kamu. Padahal kami tidak perduli mau kamu buntung, mau kamu tidak, kalau kamu mau berubah kami akan dengan sukarela memaafkan kamu dan juga menerima kehadiran kamu. Tapi karena kamunya yang seperti ini, jahat, tidak mau untuk berubah, siapa yang akan mau dekat dengan kamu, hah? Tidak ada yang mau dekat dengan seorang iblis!" bentak Tante Dina.
Kemudian dia menarik tangan suaminya untuk pergi dari sana, tapi sebelum dia benar-benar hilang di balik pintu Tante Dina pun beralih menatap ke arah Darius.
"Ajari itu istri kamu cara sopan santun sama orang tua! Ingatkan juga dia, sudah seperti ini jangan belagu. Seharusnya dia bisa bertobat dan merenungi semua kesalahannyax dan itu juga berlaku untuk kamu Darius!" Setelah mengatakan itu Tante Dina pun pergi dari sana.
Dia melangkah membawa kekesalan di dalam hatinya atas ucapan Fitri yang membuat dia tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Padahal Tante Dina ke sana untuk menengok Fitri dengan baik-baik, dia juga mencoba untuk melupakan Fitri yang sudah mencelakai Alea, dan hampir saja membuat cucunya lenyap.
"Kamu itu kenapa sih? Bukannya kamu minta maaf sama mama dan papa atas kejahatan kamu kemarin, tapi kamu malah menuduh mereka! Kalau kayak gini ... kamu malah akan mempersulit hidupmu sendiri Fitri." Darius malah menyalahkan Fitri dan itu memang fakta.
"Kok kamu malah nyalahin aku sih, Mas?" sentak Fitri.
"Memang kamu yang salah, tidak mau mengaku lagi. Sudahlah ... aku mau ke kantor. Dan sebaiknya kamu renungi semua kesalahan kamu!" Darius pun meninggalkan Fitri. Dia jengah dengan sifat wanita itu yang tidak pernah mau mengalah.
__ADS_1
Entah Darius pun bingung kenapa dia bisa jatuh cinta kepada wanita yang bersifat jahat seperti Fitri? Padahal dulu Fitri tidak seperti itu, entah kenapa sekarang dia menjadi seorang iblis.
BERSAMBUNG.....