Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Pertanyaan Menjebak


__ADS_3

Happy reading...


"Mas, kamu kok diam aja sih? Jawab dong! Kamu habis dari mana?" desak Amanda sambil menuruni tangga.


"Aku tadi mau tidur di kamar tamu, tapi tiba-tiba saja kepeleset. Tuh ada minyak di depan kamar," tunjuk Darius pada lantai yang terlihat berceceran oleh minyak.


"Loh, kok bisa sih ada minyak di situ?" bingung Amanda, padahal itu adalah kerjaannya.


"Ya mana aku tahu. Mana pinggangku sakit banget lagi!" gerutu Darius dengan wajah kesal sambil memegangi pinggangnya.


Kemudian Amanda menggeser tubuh Fitri yang berada di samping Darius, "Kamu juga Fitri, kenapa ada di sini?" tanya Amanda dengan tatapan sinis.


"Aku tadi haus Kak, mau ke lantai bawah ngambil minum. Dan kebetulan aku pengen air dingin dan di kamar tidak ada," jawab Fitri yang sudah menemukan jawabannya.


Amanda hanya manggut-manggut kepala saja. 'Ternyata kalian pandai ya bersandiwara. Oke, sepertinya permainan akan semakin seru. Kita lihat sampai mana kalian akan terus berbohong.' batin Amanda sambil tersenyum licik.


"Tapi kok aneh sih? Mas, Fitri, kenapa kalian bau keringet ya? Pdahal lampu baru padam, dan aku juga tidak keringetan. Kalian habis lari karathon kah? Atau habis olahraga malam?" heran Amanda dengan skak.


Fitri dan Darius menatap satu sama lain. Keduanya seperti patung, hanya bisa diam tanpa bisa menjawab. Sebab mereka juga bingung cari jawaban yang pas agar semua percaya.


'Kenapa Amanda berkata begitu sih?' batin Darius dengan kesal.


Haris dan kedua orang tuanya menatap kearah Darius dan Fitri. Dan mereka baru menyadari ucapan Amanda.


"Iya sayang, kenapa kamu keringetan?" tanya Haris.


Fitri semakin gugup. "I-itu Mas, kan aku haus banget. Aju tidak tau hawanya begitu panas, mungkin bawaan hamil," jawab Fitri.


Haris mencoba untuk percaya, sebab ia yakin Fitri tak mungkin melakukan hal yang aneh aneh di belakangnya. Apalagi saat ini dia sedang hamil anaknya.


"Ya sudah sayang, sekarang kita masuk yuk ke kamar! Kamu kan lagi hamil, kalau butuh apa-apa itu ngomong sama aku," ucap Haris sambil menggandeng istrinya.


"Tapi tunggu! Kenapa ada minyak di sini ya? Aneh sih menurut aku. Ini kayak film-film azab yang berada di Indosiram itu deh, yang sering menayangkan bagaimana pembalasan dari sikap buruk manusia itu sendiri," tutur Amanda.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu, hah!" bentak Darius seakan dia mengerti jika Amanda menyindir dirinya.


"Apa sih Mas. Kamu tuh marah-marah terus deh. Udah, mendingan kita ke kamar yuk! Aku kan hanya berucap saja. Lagian kalau kamu tidak melakukan apapun di sana, ya tidak usah takut. Pantas aku cari kamu di kamar tidak ada, kalau kamu marah jangan sampai kita pisah ranjang dong! Gimana mau cepat jadi baby-nya." Amanda mengapit lengan Darius dengan manja di hadapan Fitri.


Membuat wanita itu mengepalkan tangannya, karena dia merasa tidak rela saat Amanda menggandeng tangan pria yang ia cintai.


Sesampainya di kamar, Amanda langsung mengoles minyak urut kemudian dia memijat kecil pinggang Darius.

__ADS_1


"Aawh! Sakit sayang, pelan-pelan," ringis Darius.


"Ini udah pelan Mas, mau pelan kayak gimana lagi. llLagi pula kamu ini kok bisa kepleset sih depan kamar itu?"


"Nggak tahu. Pelayannya besok aku marahi, bisa-bisanya dia menaruh minyak di depan kamar!" geram Darius sambil mengepalkan tangannya.


Sementara dari tadi Amanda terus aja menahan tawa saat melihat penderitaan suaminya. 'Maafkan aku Mas, yang tertawa bahagia di atas penderitaanmu. Tapi ini belum apa-apa, balasannya belum setimpal dengan apa yang kalian lakukan di belakangku.' batin Amanda.


.


.


Pagi hari saat semua sudah berada di meja makan, terlihat Darius sudah siap dengan setelan kerjanya, membuat Tante Dina dan juga Om Samuel menatap heran.


"Loh Darius, kamu kok udah siap aja sih? Bukannya pinggang kamu semalam lagi sakit?" tanya Tante Dina pada putranya.


"Tidak Mah, udah mendingan kok. Lagi pula, hari ini ada meeting penting, jadi aku harus berangkat ke kantor, tidak bisa diwakili oleh asistenku," jawab Daris sambil duduk di kursi.


Tante Dina mengangguk paham, namun tatapannya mengarah kepada jam tangan yang dipakai oleh Putra pertamanya tersebut. Di mana dia sangat ingat jika jam tangan itu yang ia temui di kamarnya Fitri waktu wanita itu kelupaan.


'Loh! Itu bukannya jam tangan yang waktu itu Fitri bilang dia lupa membawanya. Aku pikir jam tangan itu untuk Haris, tapi kenapa ada di Darius? Apa mungkin sama? Tapi Haris tidak memakai jam tangan itu?' batin Tante Dina merasa heran.


Dia menatap ke arah jam tangan yang dipakai oleh Haris, dan sama sekali berbeda. Dan dia sangat yakin jika jam tangan itu adalah barang yang ia temukan di kamar menantunya dan itu sangat amat sama persis.


"Mah! Mama kenapa kok natap aku kayak gitu?" tanya Darius yang sedari tadi memperhatikan jika mamanya melihat ke arah dirinya terus-menerus.


"Ah tidak apa-apa. Itu, jam tangannya bagus banget. Kamu baru beli? Kok mama baru lihat ya?" tanya Tante Dina.


UHUUK! UUHUUK!


Fitri yang mendengar itu pun tersedak makanannya, membuat Tante Dina seketika menoleh ke arah menantunya dan merasa heran. Sebab tiba-tiba saja Fitri tersedak saat dia menanyakan perihal jam tangan itu.


Begitu pula dengan Darius, dia juga gelagapan saat mendengar pertanyaan dari mamanya. "Oh iya Mah, ini jam tangan baru aku beli beberapa hari yang lalu, dan baru aku kenakan," jawab Darius dengan sedikit gugup.


Amanda melihat ada yang janggal di antara Fitri dan Darius, kemudian dia menatap ke arah jam tangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


'Jangan-jangan, jam tangan itu pemberian dari Fitri.' batin Amanda menerka-nerka.


"Sayang, kamu kalau makan itu pelan-pelan dong. Sampai kesedak, nih minum dulu!" ucap Haris sambil memberikan air putih kepada istrinya.


"Tidak apa-apa Mas, tadi nggak tahu tiba-tiba kesedak aja," jawab Fitri sambil tersenyum canggung, kemudian dia meminum air putih tersebut.

__ADS_1


Lalu mereka pun melanjutkan sarapannya kembali, dengan pikiran yang berkecamuk di benak Tante Dina perihal jam tangan itu, begitu pula dengan Amanda yang merasa curiga jika Fitri yang memberikan jam tangan tersebut kepada Darius.


'Aku harus menyelidikinya.' batin Amanda.


Setelah ia mengantarkan suaminya untuk pergi ke kantor, Amanda melangkah masuk ke dalam rumah dan dia melihat Fitri tengah duduk di sofa sambil membaca majalah kesukaannya.


Kemudian wanita itu pun duduk di sofa di hadapan sang adik, sementara Fitri hanya menatap sekilas ke arah Amanda lalu kembali menatap majalahnya.


"Dek, kakak tuh semalam mimpi buruk tahu," ucap Amanda.


"Mimpi apa, Kak?" tanya Fitri sambil menatap ke arah kakaknya.


"Kamu yakin ingin mendengar?"


"Ya, kalau memang Kakak ingin menceritakannya, kenapa tidak."


"Kakak bermimpi buruk tentang Mas Darius dan kamu."


"Tentang aku sama Mas Darius? Memangnya apa Kak? Kok bisa sih?" tanya Fitri yang mulai penasaran.


Namun saat wanita itu akan mengatakan tiba-tiba Tante Dina datang sambil membawa teh di tangannya.


"Lagi bicarain apa sih?" tanya Tante Dina sambil menatap ke arah kedua menantunya.


"Ini Mah, katanya Kak Amanda semalam bermimpi buruk tentang aku sama Mas Darius. Entahlah, aku pun tidak tahu." Fitri mengangkat kedua bahunya.


Sementara Tante Dina melihat ke arah Amanda dengan bingung. "Memangnya kamu Mimpi apa, sayang?"


"Aku tuh semalam mimpi Mah. Mas Darius sama Fitri bermain api di belakang aku. Entahlah, aku pun tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku bermimpi seperti itu? Entah itu sebuah mimpi, atau memang hanya bunga tidur saja. Semoga itu tidak terjadi dalam dunia nyata ya. Dan kamu Dek, kamu tidak mungkin kan menusuk Kakak dari belakang? Secara jamu adalah Adik tersayang Kakak, dan saat ini kamu juga sedang hamil. Semoga itu memang hanya mimpi buruk Kakak ya."


Fitri yang mendengar itu tersentak kaget, jantungnya berdetak dengan kencang saat mendengar mimpi dari kakaknya. Wajahnya terlihat begitu gugup, pucat dan panik. Namun dengan cepat dia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Kakak ini kayaknya terlalu banyak nonton sinetron. Ya mana mungkin lah aku selingkuh sama Mas Darius. Aku kan sudah punya suami, lagi pula saat ini aku sedang hamil. Jadi tidak mungkin aku bermain api sama Mas Darius, ada-ada aja Kakak ini," ucap Fitri sambil tersenyum canggung.


Namun Amanda tersenyum menyeringai, dia melihat kegugupan dari raut wajah adiknya. 'Kamu mungkin bisa mengelabui semua orang, tapi tidak bisa mengelabui kakak. Baru ditanya seperti itu saja wajahmu sudah ketakutan. Gimana kalau Mama sampai tahu kebenarannya?' batin Amanda.


Sementara Tante Dina hanya diam menyimak. Dia terkadang juga percaya dengan feeling seorang istri, karena dia pun mengalaminya sebab feeling seorang istri itu sangat kuat.


"Iya Sayang, mungkin itu hanya perasaan kamu saja. Sudah, lebih baik jangan terlalu dipikirkan! Mimpi itu hanya bunga tidur," ucap Tante Dina menenangkan Amanda.


"Iya Mah, semoga. Tapi kalau itu benar sih, aku sangat amat kecewa, dan pastinya aku tidak akan pernah memaafkan seorang penghianat. Dan mereka harus mendapatkan balasannya,' ucap Amanda dengan nada menekan, namun tatapannya sinis ke arah Fitri.

__ADS_1


Wanita itu gelagapan saat mendengar penuturan dari Amanda, namun dia mencoba untuk fokus pada majalahnya kembali, padahal saat ini perasaan Fitri sedang tidak karuan.


BERSAMBUNG....


__ADS_2