Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Kedatangan Ulet Gatel


__ADS_3

Happy reading....


Amanda terpaku saat melihat pria yang sedang berdiri tak jauh dari ambang pintu, dan pria itu adalah Ethan.


Tadi pagi Ethan ke rumah Amanda untuk menjemput wanita itu, akan tetapi dia melihat tante Anjani sedang panik, dan ternyata beliau baru saja mendapatkan pesan dari Lulu jika Amanda masuk ke rumah sakit. Jadi Ethan sekalian saja mengantar tante Anjani, sebab dia juga ingin tahu keadaan Amanda seperti apa.


"Tuan Ethan," lirih Amanda.


Pria itu mendekat ke arah wanita yang saat ini sedang ditaksirnya, kemudian dia melirik sejenak ke arah Akmal dengan lirikan yang tak suka.


Aura peperangan antara kedua pria itu pun entah kenapa sangat terasa, jika Akmal menyukai Amanda. Karena dia bisa melihat dari kedua sorot mata pria tersebut saat menatap wanita yang ia cintai.


"Hai, apa kabar? Aku tadi pagi ke rumah untuk menjemputmu ke butik, tapi melihat tante Anjani sangat panik dan ternyata kamu ada di rumah sakit, jadi aku sekalian saja mengantarnya dan melihatmu. Apakah masih sakit?" tanya Ethan dengan nada yang lembut.


Amanda menggelengkan kepalanya, "Tidak, sudah jauh lebih baik. Cuma masih sedikit lemas dan pusing saja," jawab Amanda.


"Eekhm!" Akmal berdehem dengan kode, Amanda harus memperkenalkannya kepada pria itu, dan melihat itu Amanda pun tahu.


"Oh iya Kak Akmal, kenalin, ini Tuan Ethan, anak sahabat dari mama. Ethan kenalin, ini ke Akmal. Dia teman lama aku waktu masih kuliah, dia yang menolong ku semalam." Amanda memperkenalkan dua pria tersebut.


Ethan tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangannya. "Ethan." Dan disambut oleh Akmal.


Kedua pria itu tersenyum, akan tetapi tatapannya begitu tajam seolah mereka sedang bersaing dengan ketat.


'Oh, jadi dia yang bernama Ethan, yang tadi dibicarakan oleh Lulu. Aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan Amanda, karena aku bisa melihat jika pria ini sangat menyukai Amanda.' batin Akmal.


'Sepertinya aku akan mempunyai saingan. Aku harus lebih gencar lagi untuk mendapatkan Amanda dan mendekatinya.' batin Ethan.


Setelah Amanda diperbolehkan untuk pulang, wanita itu pun menaiki mobil Ethan, sebab Akmal tidak bisa karena ada pekerjaan. Ditambah harus mengantar mamanya untuk kontrol.


Wanita tersebut masuk ke dalam kamar diikuti oleh Ethan. Entah kenapa Ethan sangat enggan sekali meninggalkan Amanda, dia ingin untuk selalu berdekatan dengan wanita itu. Akan tetapi, pekerjaan yang begitu banyak hari ini membuatnya terpaksa harus pergi ke kantor.


Akhirnya Ethan pun berpamitan dan pergi dari sana.


.


.


Fitri saat ini tengah duduk di sofa sambil mengelus perutnya yang sudah besar, di mana bulan ini dia akan melahirkan dan itu membuatnya sedikit was-was.


"Mas!" teriak Fitri.

__ADS_1


"Apa sih, sayang? Aku harus ke kantor, kamu mau apa lagi ini? Udah siang tahu!" gerutu Darius.


"Mas, kamu jangan ke kantor dulu dong! Nanti kalau aku mau lahiran gimana?" rengek Fitri.


Memang akhir-akhir ini dia sering merasakan kontraksi palsu, namun dari pagi dia terus saja merengek kepada Darius, meminta pria itu untuk mengambilkan ini dan itu. Sementara Darius harus ke kantor sebab ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan.


"Aduh sayang! Aku harus ke kantor. Nanti kalau kamu ada apa-apa, kamu telepon aku aja ya! Aku nggak bisa, soalnya ada meeting." Darius pun bersikukuh karena dia ada meeting penting yang tak bisa ditinggalkannya.


Kemudian pria itu pun pergi dari rumah meninggalkan Fitri yang tengah merengut kesal karena Darius tidak mengindahkan perkataannya.


Wanita itu merasa kesal, di mana sekarang ia tak bisa lagi untuk belanja barang-barang branded dan juga yang lainnya semenjak ia pisah dengan Haris.


Biasanya wanita itu akan selalu dimanja oleh Haris, jika mau apa-apa selalu dituruti. Tapi sekarang jangankan untuk beli tas branded, untuk membeli sepatu yang harganya 15 juta aja Fitri harus mengirit-ngirit.


"Bagaimana ya sekarang Mas Haris? Apa aku ke kantornya saja? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Sebaiknya aku ke sana sekarang," gumam Fitri.


Dia ingin sekali bertemu dengan Haris. Kemudian wanita itu pun bangkit berjalan masuk ke dalam kamar untuk merapikan dirinya, setelah berganti pakaian dan memakai make up, Fitri pun keluar dari rumah menaiki taksi menuju kantor Harris.


Sesampainya di sana, Fitri diperbolehkan untuk masuk karena Haris tidak menyuruh satpam untuk melarangnya masuk, sebab Ia tak pernah menyangka jika Fitri akan ke sana.


Wanita itu berjalan setelah keluar dari lift menuju ruangan Haris, dan saat dia membuka pintu tidak nampak Haris di sana. Akan tetapi ada seorang wanita cantik dan muda yang sedang duduk di sofa sambil memakan es krim.


"Saya Alea. Maaf, Ibu ini kan kakak iparnya Tuan Haris, ya? Apa Ibu ke sini untuk menemui Tuan Harus?" tanya Alea.


Iya, dia tadi pagi diajak oleh Haris ke kantor. Sebab pria itu tidak bisa jauh-jauh dari Alea, ditambah wanita tersebut sedang hamil. Jadi Haris menjaganya dengan ketat sampai pernikahan mereka dilangsungkan.


Sebab seminggu lagi mereka akan menikah. Namun bukan pernikahan yang mewah, hanya datang beberapa rekan bisnis dan keluarga saja.


"Saya nanya, kenapa kamu nanya balik! Mau ngapain kamu di sini, hah!" gertak Fitri dengan jutek.


"Saya--"


"Mau ngapain juga itu terserah dia. Memangnya apa hak kamu, hah?! Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini?" ucapan Alea terpotong saat tiba-tiba saja Haris masuk ke dalam.


Pria itu tadi habis meeting dan dia mendapatkan laporan dari bawahnya jika Fitri datang ke ruangannya. Itu membuat Haris merasa cemas, karena di sana ada Alea dan takut jika Fitri nanti berbuat apa-apa.


Melihat Haris masuk, Fitri segera berjalan dan bergelayut manja di lengan pria itu. Namun Haris segera menepisnya hingga membuat Fitri mundur beberapa langkah.


"Jaga sikapmu ya! Kita ini sudah tidak ada hubungan apapun."


Kemudian tatapan Haris mengarah kepada Alea dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia takut terjadi apa-apa dengan wanita itu. Namun seketika Haris bernafas lega karena Alea tidak kurang satu apapun.

__ADS_1


"Dia wanita yang pernah kamu bawa ke rumah mama dan papa kan? Sebenarnya siapa dia, Haris? Jawab!" tanya Fitri dengan tegas.


Mendengar nada bicara Fitri yang begitu tak suka, Haris pun terkekeh kecil. "Wkwkwk! Kau ini siapa, sampai harus bertanya seperti itu?"


"Haris, aku tahu kamu masih marah kepadaku. Tapi aku yakin di hatimu masih ada cinta untukku kan? Ayolah ... kita bisa bersama lagi! Dan jangan biarkan dia mengusik cinta kita, Haris!" Fitri berkata dengan pedenya.


Mendengar itu Haris malah tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Alea hanya dia mematung, karena dia bingung dengan situasi yang ada di hadapannya sekarang.


Alea tidak tahu harus berbuat apa, karena memang dia tidak terlalu mengetahui kehidupan Haris seperti apa. Sebab pria itu juga tak pernah bercerita apapun. Yang Alea ketahui adalah, wanita yang berada di hadapannya mantan istri sekaligus kakak ipar dari Haris, yang selingkuh dengan kakaknya sendiri. Itu saja yang Alea tahu, selebihnya dia tidak mengetahui apapun.


"Hahaha! Sepertinya otakmu itu sudah geser ya? Dengan percaya diri sekali kamu bilang, kalau aku masih mencintaimu? Fitri ... Fitri. Kaca itu sangat besar, apa wanita seperti kamu masih pantas untuk ku cintai? Setelah apa yang kamu lakukan kepadaku? Jangan mimpi! Dan untuk wanita ini ..." Haris merangkul pinggang Alea dengan posesif, membuat wanita itu seketika menatap ke arahnya.


Jantung Alea berdebar dengan kencang tatkala Haris mengapit pinggangnya. Dia merasa jika jantungnya akan lompat dari tempatnya, apalagi bau parfum Haris yang begitu menguar masuk ke Indra penciumannya, membuat Alea benar-benar terlena.


"Dia adalah calon istriku, dan satu minggu lagi kami akan menikah. Jadi jangan pernah mengganggu hidupku lagi! Kamu bilang bawa Alea ini hanyalah tempat pelampiasanku, bukan? Kamu salah! Karena dia sedang mengandung benihku." Haris mengusap perut Alea yang sudah mulai membuncit.


Mendengar itu Fitri menggelengkan kepalanya. Dia seakan tidak terima dan tak percaya apa yang dikatakan oleh Haris, bahwa saat ini Alea tengah hamil anak dari pria itu.


"Tidak. Tidak mungkin! Kamu tidak mungkin menghamilinya, Haris?"


"Kenapa tidak? Semua bisa saja terjadi. Sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini! Karena aku sudah muak melihat wajahmu. Seharusnya kamu itu bisa menjalani hidup dengan bahagia bersama Kak Darius. Kalian kan sudah bisa bersama, tidak ada penghalang apapun. Jadi jangan pernah menggangguku lagi, paham!" Haris berkata dengan nada membentak.


Membuat Fitri seketika merasakan sakit karena tidak pernah dia melihat Haris membentak dirinya. Kemudian pria itu berjalan menyeret tangan Fitri untuk keluar dari ruangannya, kemudian dia memanggil Rizal yang baru saja sampai di kantor.


"Usir wanita ini dari sini! Jangan pernah biarkan dia masuk lagi, paham!" titah Haris kepada Rizal, dan pria itu pun langsung mengangguk.


Dia tidak mengindahkan teriakan Fitri yang memanggil dirinya. Karena bagi Haris, Fitri adalah masa lalu dan sampah. Walaupun ia pernah berada di dalam hatinya, namun penghianatan yang membuatnya sakit hati membuat Haris memandang Fitri lebih dari sekedar ampas saja.


Saat dia masuk, Haris masih melihat Alea mematung dengan pandangan yang kosong sambil memegangi dadanya. Pria itu pun merasa panik.


"Hei! Kamu nggak papa?" tanya Haris dan Alea langsung tersadar.


"Tidak apa-apa, Tuan. Wanita tadi ke mana?" tanya Alea dengan bingung.


Dia terbengong saat Haris tadi merangkul pinggangnya, karena tidak pernah Haris melakukan hal itu. Jadi membuat Alea sedikit terkejut. Namun saat dia sadar, wanita itu tambah terkejut saat melihat sudah tidak ada Fitri lagi di sana.


Mendengar pertanyaan konyol dari Alea, Haris pun menjitak kening wanita itu, membuat Alea seketika mengaduh.


"Kurangi kebiasaan bengongmu! Lama-lama kalau kau kebanyakan bengong, bisa ku cium," kekeh Haris, kemudian dia kembali duduk di kursi kebesarannya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2