Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Akan Membalas


__ADS_3

Happy reading.....


"Ternyata kalian bermain api di belakangku!" geram Amanda dengan tangan terkepal.


Dadanya begitu terasa sangat sesak, dia merasa oksigen di dalam mobil menipis. Rasa tak percaya seketika menghinggapi dirinya, saat melihat kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Amanda mengira jika selingkuhan dari suaminya itu adalah sekretarisnya, atau wanita lain, tapi ternyata pelakor dalam rumah tangganya sendiri adalah orang terdekatnya.


Air mata seketika luruh membasahi kedua pipi mulus milik wanita tersebut. Dia memukul dadanya yang terasa begitu sesak, apalagi saat melihat adegan suaminya berciumaan dengan wanita itu.


"Aku tidak pernah menyangka, ternyata kalian sejahat itu di belakangku," ucap Amanda dengan suara yang tersedu-sedu. Dia menangis sambil menyandarkan kepalanya disetir mobil.


"AAAAGH! KENAPA KALIAN SEJAHAT ITU SAMA AKUUU!" teriak Amanda dengan emosi.


Dia tidak bisa membendung perasaannya yang teramat sakit, di mana Amanda merasa dikhianati, amat sangat dikhianati oleh orang terdekatnya.


Kemudian wanita itu mengangkat wajahnya, menghapus air matanya dengan kasar. Tangannya terkepal dengan sorot mata yang begitu sangat tajam.


"Jika kalian bisa bermain api di belakangku dengan sangat cantik, aku akan membalas kalian semua dengan lebih pedih! Bahkan pembalasan seorang istri yang tersakiti, melebihi apa yang kalian lakukan kepadaku. Dan rasa sakit itu, akan membuat kalian seketika tidak punya muka, bahkan membuat kalian akan bersujud meminta ampun di kakiku!" Amanda berkata dengan nada yang begitu marah.


Suaranya bahkan terdengar bergetar,nmenahan sebuah emosi yang begitu sangat membara di dalam hatinya.


Dia tidak mau menjadi wanita yang lemah hanya karena mengetahui sesuatu yang begitu amat sangat menyakitkan. Wanita itu harus kuat walaupun dia sangat rapuh saat ini.


Amanda melajukan mobilnya menuju butik, karena saat ini yang ia butuhkan adalah pelukan Lulu. Wanita yang selama ini ada untuknya, yang selalu mendengarkan keluh kesahnya di saat senang maupun susah.


Sepanjang perjalanan air mata terus aja mengalir, walaupun dengan susah payah Amanda terus menghapusnya, namun tidak bisa. Karena kedua netra milik wanita itu menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini.


'Lihat saja pembalasanku! Dua penghianat, lihat apa yang akan aku lakukan kepada kalian!' batin Amanda sambil terus memukul setir hingga tangannya memerah.


Sesampainya di butik, dia masuk, bahkan wanita itu tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang ada di sana saat menatap dirinya dengan heran, karena wajah Amanda begitu sangat sembab.


Dia langsung masuk ke dalam ruangan Lulu, dan melihat sahabatnya sedang mendesain sebuah baju. Tanpa aba-aba Amanda langsung memeluk tubuh Lulu dari belakang dan menangis tersedu-sedu.


Lulu yang sedang mengukur baju untuk dia desain merasa heran, saat tiba-tiba saja Amanda datang dan langsung menangis di balik punggungnya.

__ADS_1


Wanita itu melepaskan pelukan Amanda yang ada di perutnya, kemudian dia memegang kedua bahu sahabatnya.


"Hey, are you okay? Lo kenapa tiba-tiba kok datang-datang menangis? Baru beberapa jam yang lalu loh, lo terlihat senang dengan rencana licik lo itu. Terus kenapa sekarang lo malah menangis?" heran Lulu.


"Mas Darius, Lu. Mas Darius," ucap Amanda dengan suara yang terdengar serak, bahkan nyaris hilang.


Lulu yang melihat kesedihan sahabatnya pun menjadi tidak tega, kemudian dia membawa Amanda untuk duduk di sofa lalu mengambilkan air putih yang ada di gelas.


"Minum dulu, biar lo lebih lega."


Amanda menerima gelas tersebut dan langsung menegaknya hingga tandas, kemudian Lulu mengambil tisu dan menghapus air mata sahabatnya.


"Ada apa? Kenapa sama suami lo itu? Apa dia membentak lo atau dia memarahi lo?" tanya Lulu.


Amanda menggelengkan kepalanya. Rasanya hanya untuk mengatakan tentang kelakuan suaminya dan juga pelakor itu Amanda tidak sanggup, dadanya kembali terasa begitu sesak.


Sementara Lulu yang melihat kesedihan sahabatnya pun merasa heran, "Lo kenapa sih? Ayo dong cerita sama gue!"


"Gue rasanya nggak bisa cerita Lu. Mengingat Itu semua membuat gue benar-benar seperti tercekik, dada gue sakit Lu, gue sulit untuk bernafas. Rasanya Mas Darius melemparkan sebuah batu yang begitu besar ke dalam dada gue," jawab Amanda sambil memukul dadanya.


Amanda mengqngguk kecil, dan dia masih menangis dalam pelukan wanita itu. Setelah beberapa saat Amanda sudah terlihat begitu tenang, lalu Lulu mengambil tisu kembali dan menghapus air matanya.


"Sekarang lo jelasin sama gue! Ada apa dengan suami lo?" Lulu menggenggam tangan sahabatnya.


Kemudian Amanda merogoh tas, mengeluarkan ponsel dan memberikan rekaman yang sempat ia lihat tadi kepada Lulu. Wanita itu dengan tatapan heran mengambil ponsel Amanda dan melihatnya.


Seketika mata Lulu membulat kaget dengan tatapan tak percaya. Satu tangannya menutup mulut lalu melihat ke arah Amanda.


"What! Are you serious? Mereka ..." Lulu menggantungkan ucapannya dengan wajah yang kaget.


Amanda mengganggukan kepalanya, dia tidak berani untuk menjawab karena saat ini rasa sakit itu masih belum hilang, begitu amat sangat menyesakkan dada.


Lulu langsung memeluk tubuh Amanda, dia tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya pasti amat sangat menyakitkan, saat mengetahui orang yang kita cintai berselingkuh dengan orang yang dekat dengan kita.


"Mereka benar-benar dua ular yang tidak mempunyai prikemanusiaan. Mereka bermain api di belakang lo. Dan ... astaga! Gue nggak tahu ya apa yang ada di pikiran mereka? Kenapa mereka melakukan hal menjijikan seperti itu?" Lulu menghela nafasnya dengan nada yang tidak habis pikir.

__ADS_1


"Itulah Lu. Lo bisa tahu kan perasaan gue saat ini gimana? Rasanya ditusuk bukan hanya oleh suami gue sendiri, tapi oleh orang terdekat gue."


"Biar gue samperin mereka. Gue cakar mukanya!" geram melulu.


Namun Amanda menahan tangan wanita itu, "Jangan Lu! Biarkan saja."


Lulu menganga saat mendengar ucapan Amanda. Bagaimana mungkin bisa dia membiarkan sahabatnya merasakan sebuah sakit, dan wanita itu malah mengatakan untuk membiarkan kedua penghianat tersebut.


"What! Are you crazy! Bagaimana lo bisa berkata seperti itu Amanda? Mereka udah menghianati lo, suami dan juga adik lo itu benar-benar lacknat! Bagaimana bisa lo memaafkan mereka Amanda!" teriak Lulu yang tidak habis pikir dengan cara berpikir Amanda.


Kalau dia berada di posisi Amanda, tentu saja wanita itu akan langsung mencakar dua manusia yang tidak tahu diri tersebut. Sebab Lulu tidak mempunyai kesabaran setebal Amanda.


"Biarkan saja Lu. Jika mereka bisa bermain cantik dan bermain api di belakangku, kenapa aku tidak?" jelas Amanda sambil menghapus air matanya dengan kasar.


Lulu menyipitkan sebelah matanya dan menatap ke arah Amanda dengan bingung. "Maksud lo? Lo akan membalas mereka juga dengan cara licik?"


Kemudian Amanda bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah jendela dan menatap ke arah luar.


"Jika mereka saja bisa bermain licik dan bermain rapi, kenapa aku tidak? Aku akan membuat mereka menyesali apa yang mereka lakukan, dan aku akan membuat mereka tidak mempunyai wajah sedikitpun. Setelah itu aku akan membuat keduanya bertekuk lutut memohon maaf dariku!" Amanda mengepalkan tangannya.


Lulu berjalan mendekat ke arah Amanda, kemudian dia memeluk tubuh wanita itu dari belakang. "Gue akan selalu ada buat lo. Dan apapun itu, lo jangan sungkan meminta bantuan dari gue ya! Karena dengan senang hati gue akan membantu lo untuk membalaskan rasa sakit itu."


Amanda menganggukan kepalanya, kemudian dia cuci muka lalu berpamitan untuk pulang.


Sejujurnya Lulu khawatir jika Amanda menyetir sendiri, namun wanita itu meyakinkan jika dirinya baik-baik saja. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Darius ataupun Fitri, karena kedua penghianat itu harus mendapatkan balasannya.


Amanda juga akan mencari tahu penyebab keduanya berselingkuh. Dia tidak menyangka jika Fitri dan juga Darius berani bermain api, padahal mereka satu rumah, dan selama di perjalanan Amanda mengingat sikap Darius yang akhir-akhir ini memang sangat berubah.


'Pantas saja saat aku pergi ke rumah mama dan papa, Mas Darius tidak meminta haknya. Dan pantas saja jika aku menyenggol perasaannya, dia langsung marah. Terlebih pria itu sikapnya juga sudah dingin kepadaku, ternyata mereka sedang bermain api di belakangku.' batin Amanda.


Kemudian dia teringat dengan ucapan Fitri tadi pagi, di mana kabar bahagia menyelimuti keluarga dari mertuanya.


"Jangan-jangan Fitri hamil bukan anaknya Haris, tapi ..." Amanda seketika mengepalkan tangannya saat dia menebak jika janin yang berada dalam kandungan adiknya bukanlah darah daging Haris, melainkan darah daging dari Darius.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2