Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Sarikem dan Nangka Walanda


__ADS_3

Happy reading....


Amanda sudah sampai di Cafe tempat di mana Lulu mengajaknya bertemu. Jam menunjukkan pukul 10.30 siang, Amanda menengok ke kanan dan kekirim mencari keberadaan Lulu.


"Hei ... aku di sini!" teriak Lulu sambil melambaikan tangannya.


Amanda pun tersenyum, kemudian dia langsung mendekat ke arah Lulu dan memeluk tubuh wanita itu. "Apa kabar?" tanya Amanda.


"Alhamdulillah kabar gue baik. Ciee ... yang habis bulan madu, wajahnya makin bersinar aja?" ledek Lulu sambil menyenggol bahu wanita itu.


"Ah masa sih? Biasa aja kok," jawab Amanda dengan wajah yang sudah tersipu malu.


"Yaelah ... pakai malu-malu meong. Udah nggak cocok tau nggak sih! Lo bukan ABG lagi, udah sering ngerasain terong, jadi jangan malu-malu kucing! Biasa kan lo malu-maluin."


"Halaah ... kayak lo nggak biasa aja makan terong? Eh tapi By the way, lo ngapain ngundang gue ke sini?" tanya Amanda sambil meminum jusnya yang sudah dipesan oleh Lulu.


Mendengar itu Lulu memukul lengan Amanda. "Lo ini kayak nggak seneng banget ya diajak makan siang sama teman sendiri? Herman gue sama lo."


"Heran Sarikem, heran ...."


"Apa lo bilang? Sarikem? Emangnya gue topeng monyet yang biasa mangkal di perapatan!" kesal Lulu sambil menekuk wajahnya.


Amanda terkekeh kecil. "Sorry ... sorry. Mirip dikit lah."


"Dasar lo nangka walanda."


"Udah serius. Jadi ngapain lo ngundang gue ke sini?" tanya Amanda kembali.


"Ya nggak apa-apa sih, gue pengen ngobrol aja sama lo. Emangnya lo nggak kangen apa sama gue? Terus, mana sini oleh-oleh gue?" Lulu menengadahkan tangannya dengan alis yang dibuat naik turun.


Mendengar itu Amanda memayunkan bibir, kemudian dia memberikan paper bag kepada Lulu. "Nih oleh-olehnya!"


"Wah ... makasih ya! Lo emang besite gue," ucap Lulu dengan sumringah bahagia.


Tak lama makanan pun datang. "Oh iya, suami lo ke mana? Nggak diajak sekalian?" tanya Amanda.

__ADS_1


"Tadi masih ada kerjaan, mungkin sebentar lagi ke sini. Suami lo sendiri?"


"Sebentar lagi juga ke sini," jawab Amanda dengan acuh.


Entah kenapa pikirannya masih mengarah kepada Fitri, dia tahu mungkin saja saat ini Fitri tengah terpuruk tapi wanita itu tidak pernah mau menyadari kesalahannya.


Melihat wajah Amanda yang murung, Lulu pun menjadi penasaran. "Kenapa? Ada yang mengganggu pikiran lo?"


"Iya ... lo udah tahu kan kondisinya si Fitri kayak gimana?"


"Oh ... si pelakor itu. Iya udah. Ya ... mungkin memang itu karma buat dia," jawab Lulu sambil mengangkat kedua bahunya dengan cuek.


Dia bahkan tidak perduli dengan keadaan Fitri, wanita itu juga tahu kalau Fitri diamputasi kedua kakinya tapi bagi Lulu Itu adalah sebuah karma buat manusia jahat sepertinya.


"Gue sebenarnya kasihan tahu sama dia, cuma saat tadi gue nengok dia ke rumah, gue malah dituduh. Matanya senanglah dengan keadaan dia sekarang, padahal nggak pernah terlintas dalam benak gue tertawa di atas penderitaan orang lain?" ujar Amanda sambil menghela nafas dengan lesu.


Lulu mengusap undang sahabatnya. "Buat apa sih lo ke sana? Udah tahu mulutnya itu pedes banget kayak cabe jablaay, bahkan mengalahkan bakso dower mak Erot. Jadi buat apa lo nengokin orang kayak gitu? Biarin aja! Dia mah nggak bakalan sadar sebelum nyawanya dicabut."


"Astaghfirullahaladzim! Lo kalo ngomong dijaga dikit apa sih!" kesal Amanda.


Seketika Amanda menatap ke arah Luku dengan dahi mengkerut heran. "Apa? Kabar bahagia? Memangnya ada apa? Lo habis dapat door prize 100 miliar?" tebak Amanda.


"Bukan. Lebih dari itu," jawab Lulu, kemudian dia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya.


"Tebak ... ini apaan?" tanya Lulu sambil menggenggam sesuatu di dalam tangannya.


Amanda memanyunkan bibirnya menggerakkan ke kiri dan kanan, sementara satu tangannya mengetuk dagu memikirkan isi di dalam tangan Lulu.


"Cincin?" tebak Amanda dan Lulu langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalung?"


"Uang?"


"Atau terong?"

__ADS_1


Semua jawaban Amanda mendapatkan gelengan dari wanita tersebut.


"Lo itu ... kayaknya otaknya harus dicuci deh.


Lama-lama terong melulu yang ada di pikiran lom Kalau terong mana bisa gue genggam kayak gini? Suwe!"


"Ya habisnya dari tadi gue nebak salah mulu. Emang apa sih? Jangan tebak-tebakan deh! Gue lagi males nih nggak mood gue tebak-tebakan." kesal Amanda.


Kemudian Lulu membuka telapak tangannya, memberikan alat yang berupa tespek kepada Amanda. Mata wanita itu berbinar bahagia saat melihat garis dua merah yang tertera di alat tersebut.


"Astaga kembaran lele. Lo hamil?" tanya Amanda dengan wajah antusias.


"Iya Nangka walanda, gue hamil!"


Mendengar itu Amanda langsung memeluk tubuh Lulu. "Selamat ya! Gue ikut seneng. Semoga gue juga cepet nyusul."


"Aamiin ... gue doain semoga lo dan juga Ethan cepat dikaruniai juga seorang anak dan mematahkan ucapan Darius serta Fitri, yang mengatakan kalau lo itu mandul."


"Aamiin ... ya ampun, sekali lagi selamat ya! Gue benar-benar senang banget. Terus berapa minggu?"


"Kata Dokter sih mau 4 Minggu."


Sebagai seorang sahabat tentu saja Amanda sangat senang saat mendengar jika Lulh saat ini tengah mengandung, besar harapannya dia juga bisa menjadi seorang wanita yang sempurna.


Karena sejatinya seorang istri jika tidak hamil mereka lebih ke insecure, karena merasa tidak sempurna sebagai seorang wanita. Tidak bisa mengandung bahkan melahirkan.


'Ya Allah, semoga Engkau juga bisa memberikan aku seorang anak yang selama ini ku dambakan. Semoga Engkau memberikan kepercayaan itu kepadaku ya Robb.' batin Amanda penuh harap.


Tak lama suami mereka pun datang, lalu keempatnya makan siang bersama setelah itu Amanda kembali ke butik.


Akan tetapi di tengah jalan dia melihat seseorang yang iya kenal. "Mas, tunggu deh! Berhenti dulu!" pinta Amanda


"Kenapa sayang?" tanya Ethan.


"Itu Mas ..." tunjuk Amanda.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2