
Pagi ini Amanda sedang berada di meja makan untuk sarapan. Semenjak kehamilannya dia tidak ingin makan nasi ataupun roti, setiap pagi harus ada buah-buahan, karena setiap Amanda memakan nasi ataupun roti dia akan muntah, tetapi jika buah-buahan tidak.
"Sayang, aku ikut ke kantor lagi ya! Sumpek di rumah terus. Lagi pula, di butik juga ada Gisel," pinta Amanda dengan ada yang manja.
"Ya sudah, kamu siap-siap dulu gih," jawab Ethan sambil mengecup kening istrinya.
Amanda tentu saja merasa senang, dia berlalu menuju kamar lalu bersiap-siap, setelah itu dia keluar dan pergi bersama Ethan setelah berpamitan kepada Mama Inggit.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu kekar Ethan saat pria tersebut tengah menyetir, dan untuk beberapa hari ini Amanda tidak melakukan hal yang aneh seperti kemarin-kemarin saat awal hamil.
"Sayang, nanti siang kita makan yuk! Kebetulan temen aku itu lagi opening restoran yang baru. Jadi aku mau ke sana, ada es krim favorit katanya."
"Boleh, tapi nanti siang aku ada meeting sih." Ethan nampak begitu ragu, karena meeting kali ini bersama dengan kliennya yang dari Eropa.
Melihat suaminya merasa bimbang, Amanda pun merasa tak tega. "Ya sudah, tidak apa-apa nanti aku pergi sama Lulu aja." Nada bicaranya begitu kecewa.
"Tidak apa-apa, nanti biar aku batalkan saja meetingnya, atau aku cancel di lain hari." Wanita itu langsung menatap ke arah sang suami, "memangnya tidak apa-apa ya? Nanti kalau klien kamu kecewa dan malah membatalkan kerjasama, gimana?"
Ethan segera mengusap kepala Amanda bergantian dengan pipi mulusnya. Dia tersenyum penuh cinta ke arahnya. "Tidak akan. Lagi pula, kalau pun dibatalkan ya sudah ... bagiku kamu adalah yang utama, apalagi calon anak kita." Tangannya mengelus perut Amanda, "kamu tahu, sayang? Istri adalah rezekinya suami, dan yang harus diutamakan adalah istri, baru rezeki suami akan mengalir jika istrinya bahagia."
Sungguh sangat bersyukur Amanda telah menemukan pria yang begitu baik akhlak dan juga tanggung jawabnya. Dia seperti seorang wanita yang beruntung dari ribuan wanita yang berada di muka bumi ini.
"Aku berharap kita akan selalu bersama sampai menua." Amanda berkata dengan tatapan teduhnya.
"Aamiin," jawab Ethan.
.
.
Saat Amanda tengah duduk di sofa sambil berselancar di sosial medianya, tiba-tiba ponselnya berdering , dan itu panggilan dari Gisel yang memintanya untuk ke butik sebab ada sedikit masalah.
Wanita itu pun langsung berpamitan kepada Ethan, dia menawarkan untuk diantarkan tetapi Amanda menolak. Akhirnya Amanda pun diantar oleh Sopir dari kantor itu.
(Nanti kita ketemuan di restoran aja ya, Mas.) Amanda mengirimkan pesan kepada suaminya.
(Iya sayang๐) balas Ethan dengan emotion cium.
__ADS_1
Setelah Amanda sampai di butik, dia langsung menghampiri Gisel. "Ada apa?"
"Ini Mbak, ada sedikit masalah." Kemudian Gisel memperlihatkan laptopnya, lalu Amanda pun langsung mengecek masalah yang terjadi.
Tidak lupa dia juga melihat butik tersebut di mana sudah lama sekali Amanda tidak ke sana dan mempercayakannya kepada Gisel. Dan selama ini wanita itu mengurusnya dengan baik, namun seketika Amanda ingat dengan seseorang yang tak lain adalah Angga.
"Oh ya ... bagaimana hubungan kamu dengan Tuan Angga? Apa kalian sudah pacaran? Atau Tuan Angga mungkin pada melamar kamu?" tanya Amanda penasaran.
Gisel tersenyum malu, kemudian dia mengangguk. "Sejauh ini kami masih pendekatan Mbak, karena saya juga tidak mau mengambil keputusan secara mendadak. Ya ... walaupun beberapa kali memang Kak Angga menyatakan perasaannya, bahkan secara terang-terangan dia ingin melamar saya. Tapi tetap saja Mbak, saya harus menimbang keputusan yang tepat, agar nantinya tidak menyesal," tutur Gisel.
Amanda mengangguk, lalu dia mengusap pundak Gisel. "Iya, kamu benar. Keputusan harus kita ambil dengan secara matang, jangan secara mendadak yang pastinya akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Tapi apapun itu, keputusan kamu ... saya akan tetap mendukung. Namun saya berharap, kamu dan juga Angga berjodoh, karena saya lihat kalian itu sangat cocok."
"Aamiin! Doakan saja ya Mbak, semoga memang kak Angga itu pria yang baik, dan dia memang jodoh saya. Tapi jujur, saya juga ada rasa takut."
Amanda mengerti dengan perasaan Gisel. Dia kemudian meyakinkan wanita itu bahwa semua manusia pernah melakukan salah dan semua manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Setelah selesai dari Butik, Amanda melihat jam yang melingkar di tangannya dan sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Dia pun meminta sopir untuk mengantarkannya ke sebuah restoran di mana dia dan juga Ethan sudah janjian untuk ketemu di sana. Karena kalau Amanda pergi ke kantor Ethan, hanya akan memakan waktu sebab jarak antara butik dan juga kantor suaminya lumayan jauh.
(Sayang, kamu udah berangkat belum? Aku lagi di jalan nih mau ke restoran.) Amanda mengirimkan pesan kepada Ethan.
(Maksud kamu, Lulu?)
(Iya, memangnya sahabat somplak kamu siapa kalau bukan dia).
(Tidak. Kan kita mau makan berdua. Lagi pula katanya Lulu lagi periksa kandungan sama Rizal, dan mereka juga kan lagi sibuk untuk acara 4 bulanan lusa).
(Begitu ... ya sudah kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa telepon aku, ya!๐)
Amanda tersenyum saat membaca pesan dari suaminya, kemudian dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas lalu memejamkan matanya sejenak sampai mobil menepi dia parkiran restoran.
"Bu, kita sudah sampai," ucap sopir pada Amanda.
Wanita itu menguap, dia membuka matanya dan ternyata benar. Lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran dan disambut hangat oleh temannya yang tak lain adalah pemilik restoran tersebut.
"Hai Manda. Wah! Selamat datang ya. Seneng banget gue akhirnya lo datang juga. Gue kira lo nggak bakalan datang tahu," ucap Reza sambil memeluk tubuh Amanda.
"Ya pasti datanglah, masa lo ngundang gak datang," jawab Amanda sambil tersenyum sedangkan tatapannya menelusuri ke arah isi restoran tersebut. "Rame juga ya openingnya? Gue jadi nggak sabar ingin mencicipi menu apa aja yang ada di sini."
__ADS_1
"Harus dong. Apalagi saat ini kan lo lagi hamil. Ya udah, tempatnya udah gue sediain, tapi lo datang ke sini sendirian, nggak sama suami, lo?"
"Ada, dia bentar lagi nyampe." Akhirnya mereka pun berjalan ke arah meja yang berada di pojok, namun dekat taman bunga, karena memang sengaja Reza membuat taman kecil untuk cuci mata para pengunjung biar tidak terlalu jenuh berada di dalam restorannya.
Tak lama Ethan datang dan langsung mencium kening Amanda, lalu dia pun duduk di sampingnya. "Sayang, kenalin, ini Reza temen aku, pemilik restoran ini." Amanda memperkenalkan teman kuliahnya.
"Ethan," ucapnya sambil menjabat tangan pria itu.
"Reza. Sebentar lagi makan enakan datang, pokoknya kalian enjoy aja di sini. Oh iya Amanda kalau bisa lo minta suami lo buat promosiin restoran gue dong," kekeh Reza dengan tidak tahu malunya.
"Tenang saja, nanti saya promosikan ke teman-teman bisnis saya ya," jawab Ethan sambil tersenyum ramah.
"Wah! Terima kasih ya. Lo itu benar-benar beruntung Manda memiliki suami seperti dia, bukan hanya tampan, tapi baik juga. Semoga rumah tangga kalian langgeng ya sampai Kakek nenek. Dan gue juga dapat melihat aura kebahagiaan dari wajah lo yang tidak pernah gue lihat saat lo berumah tangga dengan si itu ..." Reza menaik turunkan alisnya, karena dia enggan menyebut nama Darius.
Sedangkan Amanda dan juga Ethan hanya tersenyum saja. "Alhamdulillah, terima kasih ya untuk doanya."
"Sama-sama. Gue ke tamu yang lain dulu ya. Jangan lupa lho, tampan," goda Reza sambil mencubit dagu serta dada bidang Ethan dengan tatapan ca-bulnya.
Ethan ternganga melihat itu, sedangkan Amanda terkekeh dengan tawa tertahan saat melihat wajah syok sang suami. "Sayang, apa dia ...?" Ethan benar-benar kaget.
"Iya." Jawab Amanda yang seakan tahu arah pembicaraan suaminya.
"Iiiiihhhh! Paiit .. paiiiit ..." Ethan bergidik ngeri, dan kali ini Amanda tak bisa menahan tawanya. Lalu Amanda menyandarkan kepalanya di bahu kekar Ethan.
"Gimana, tadi capek nggak ke butiknya?"
"Lumayan," jaqab Amanda dengan nada yang manja. Ethan mengelus kepala Amanda dengan begitu lembut, kemudian dia mengecup keningnya di hadapan semua orang yang ada di sana. Bahkan beberapa wanita yang sedang makan di restoran itu pun merasa iri dengan kemesraan mereka, apalagi dengan tatapan Ethan yang begitu teduh dan penuh cinta kepada Amanda.
Tak lama makanan pun datang, keduanya langsung menyantap makanan itu secara perlahan. Walaupun Amanda hamil dan dia doyan makan, tetapi tidak seperti orang yang kelaparan seperti pada umumnya.
"Wah! Makanannya enak-enak banget Mas. Zini aku suapin, aaa ..." Dia menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi dengan ikan bakar gurame ke dalam mulut sang suami, dan tentu saja dengan senang hati Ethan membuka mulutnya.
Namun saat mereka tengah begitu lahap menyantap makanan tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil Amanda.
"Amanda!" kaget orang itu saat Amanda tengah suap menyuap dengan Ethan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1