
"Sebenarnya apa ferguso?" Ethan terlihat begitu kesal saat melihat Vio menggantungkan ucapannya.
Amanda langsung memukul lengan sang suami, "kamu ini Mas ... sabar sedikit kenapa."
"Ya habisnya aku nggak sabar denger jawaban Vio. Katakan! Ada apa Vio? Ayolah ... aku sudah tidak dan sabar ingin segera mendengarnya."
"Sebenarnya kemarin malam Edward datang ke apartemenku, dia mengancamku dan akan membunuhku. Bahkan dia akan membunuh bayi yang ada di dalam kandunganku, karena kamu sudah mengancamnya, bahkan Edward bilang perusahaannya mulai bangkrut dan itu semua gara-gara kamu." tatapnya pada Ethan
Kedua orang tua Vio sangat bingung dengan penjelasan wanita tersebut. "Apa? Bayi di dalam kandungan kamu?" kaget tante Nikita, "jangan bilang kalau kamu lagi hamil?"
"Itu benar," ujar Mama Inggit, "putrimu saat ini sedang hamil anaknya Edward, tapi pria itu sudah selingkuh dan tidak ingin bertanggung jawab."
Tante Nikita seketika membekap mulutnya, dia tidak menyangka jika hubungan putrinya dan juga Edward sudah sejauh itu, bahkan sampai menumbuhkan benih di dalam rahim Viona.
"Maafkan aku Mah, Pah, jika aku sudah membuat kalian kecewa. Aku menyesal, tapi apalah sebuah penyesalan ... karena semua sudah terjadi. Aku tidak ingin membuat kalian malu karena dosaku tapi aku mohon jangan menikahkan aku dengan Edward! Aku tidak mau menikah dengan pria yang sudah mendua, bahkan tidak ingin bertanggung jawab dan hampir membunuhku."
Terlihat raut wajah Viona mendadak menjadi ketakutan. Dia mengalami trauma yang begitu berat, bayang-bayang di mana Edward mengacungkan pisau kepadanya membuat Viona beringsut dan memeluk lengan sang mama.
Melihat itu tentu saja semua merasa tak tega, kemudian Tante Nikita mengusap kepala Viona dan mengecup keningnya. "Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu menikah dengannya. Mama memang kecewa tapi itu semua sudah terjadi, sebab tidak mungkin jika kita mengembalikannya lagi ke awal. Tapi mama tidak menyangka jika Edward bisa melakukan hal sekecil itu."
Tante Nikita menatap ke arah suaminya, dan Om David hanya diam sambil melipat tangannya di depan dada. Namun terlihat dari sorot matanya pria itu marah bahkan rahangnya mengeras dengan tangan terkepal.
"Pah, pokoknya mama tidak mau ya kalau Putri kita dinikahkan dengan Edward! Sekarang saja dia sudah berniat untuk menghabisi Viona, bagaimana jika nanti mereka menikah? Bisa-bisa kita kehilangan putri kita, Pah."
Om David pengaangguk kecil. "Mama tenang saja. Papa tidak akan membiarkan Edward mencelakai Viona." Lalu dia menatap ke arah Ethan, "kamu sudah memberi pelajaran kepadanya?"
"Sudah Om."
"Sekarang biarkan Om yang memberikan dia pelajaran. Ini adalah urusan Om, dan Om tidak ingin kamu yang turun tangan." Ethan hanya bisa mengangguk, dia menyerahkan semuanya kepada Om David, karena dia rasa Om David lebih tahu apa yang harus dilakukannya.
Om David mendekat ke arah Viona yang saat ini sedang ketakutan. Dia menggenggam tangan putrinya lalu mengusap perutnya. "Jangan pernah gugurkan anak ini! Walaupun ayahnya brengsek, tapi dia tidak bersalah. Papa dan Mama akan menjagamu, kami akan selalu mendukung keputusanmu."
__ADS_1
Viona tentu saja sangat bahagia karena orang tuanya tidak memarahinya. Walaupun dia tahu jika di hati mereka sangat kecewa, tetapi bagi tante Nikita dan juga Om David, keselamatan Viona itu yang utama. Apalagi saat mendengar wanita itu akan dicelakai oleh tunangannya sendiri.
"Lalu, pelajaran apa yang akan kamu berikan kepadanya David?" tanya Mama Inggit.
"Yang pasti pelajaran yang akan membuatnya jera. Dia akan tahu siapa itu David ... karena dia sudah berani bermain-main dengan keluargaku, bahkan sudah berani ingin menghabisi Putriku!" geram Om David.
Sebagai seorang ayah dia tidak terima jika putrinya dicelakai oleh seseorang, apalagi itu tunangannya sendiri. Ditambah saat ini Viona sedang hamil dan Edward sama sekali tidak ingin bertanggung jawab malah ingin menghabisinya.
Hari semakin siang, Ethan pamit untuk pergi ke kantor ditemani Amanda. Sementara Mama Inggit pulang dan tante Nikita beserta dengan Om David masih berada di rumah sakit untuk menemani Viona..
.
.
Amanda dan juga Ethan naik lift menuju lantai atas, akan tetapi tiba-tiba saja perut Amanda terasa begitu keram, namun keramnya tidak seperti biasa kali ini benar-benar sangat sakit.
"Sayang, kamu kenapa?, panik Ethan sambil memegang kedua bahu sang istri.
"Aawwh! Aku tidak tahu Mas, perutku sakit ... aduh, sakit Mas!" ringis Amanda sambil meremas lengan Ethan.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Ethan terlihat begitu cemas. "Cepatlah Rio! Lebih ngebut lagi!" titah Ethan dengan nada membentak.
"Baik Tuan," jawabnya sambil menambah kecepatan, namun tetap dalam keadaan hati-hati dan fokus. Karena dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada mereka, apalagi saat ini Amanda sedang meringis kesakitan.
"Sepertinya aku akan melahirkan, Mas. Aduh ... sakit." Amanda meremas perutnya, keringat mulai bercucuran dari keningnya akibat menahan rasa sakit yang begitu kuat.
Sesampainya di rumah sakit dia langsung dilarikan ke UGD, dan tak lama dokter keluar memberitahu edan bahwa Amanda harus segera dioperasi sebab ketubannya sudah pecah.
"Apa! Tapi Dok, istri saya baru 7 bulan. Bagaimana mungkin bisa dia lahiran?"
"Ini karena beberapa faktor, ditambahkan air ketubannya sudah pecah. Jadi kami harus mengambil tindakan segera."
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok," ucap Ethan dan langsung dibalas anggukkan oleh dokter tersebut.
Dia duduk dengan gelisah di kursi lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon mama Inggit, untuk mengabarkan keadaan Amanda. Tentu saja Mama Inggit yang mendengar itu sangat panik.
Berbarengan dengan itu, ternyata di sana ada Lulu yang baru saja selesai memeriksa kandungannya. Dia melihat Ethan yang sedang duduk dengan gelisah wanita itu pun mendekatinya.
"Es ketan. Lo lagi ngapain di sini?" tanya Lulu.
"Amanda sedang di dalam. Sepertinya dia akan melahirkan, karena tadi Dokter bilang bahwa akan mengoperasinya."
"What! Melahirkan? Kenapa dia lahiran nggak ngajak-ngajak gue sih! Kenapa malah duluan. Kita kan hamil barengan ... sudah pasti lahirannya harusnya duluan gue dong!" protes Lulu dengan kesal.
PLETAK!
Rizal menyentil kening sang istri, membuat wanita itu mendelik dengan tajam. "Kamu ini ... sahabat lagi lahiran dalam keadaan yang tidak baik, kamu malah berbicara seperti itu. Bukannya malah berdoa."
Seketika Lulu menutup mulutnya. "iya lupa, maaf. t
Tapi kenapa bisa? Dia kan baru 7 bulan?" Ethan pun menjelaskan tentang apa yang dokter bilang tadi. Mendengar itu Lulu pun menjadi panik dia duduk di kursi di samping sang suami.
Semua terlihat begitu cemas menanti dokter keluar, hingga Mama Inggit tiba-tiba datang bersama dengan kedua orang tua Amanda, karena tadi dia sempat menghubungi tante Anjani dan juga Om Umar.
"Bagaimana Ethan, di mana Amanda sekarang?" tanya Tante Anjani dengan wajah paniknya.
"Dia ada di dalam Mah. Dokter sedang mengoperasinya, semoga saja bayi dan juga istriku selamat! Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Amanda."
Mama Inggit mencoba untuk menenangkan Ethan mengatakan bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Padahal sudah satu jam lamanya Amanda berada di dalam tetapi dokter masih belum keluar.
'Amanda kenapa lahiran nggak ngajak-ngajak aku sih! Harusnya kita itu lahiran bareng. Yang ada anakku nanti nyebut anaknya, Kakak. Harusnya kan anak dia yang buat anakku, kakak.' batin Lulu.
Wanita itu masih saja memikirkan kenapa Amanda yang lahiran lebih dulu, bukan dirinya. Memang pikiran ibu hamil itu sangat sensitif, bahkan hal sekonyol itu pun Masih terlintas di benaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
Haduueeh .... Lulu ... Lulu🙄🙄