
Happy reading.....
"Mau mampir dulu nggak?" tanya Amanda saat mobil sudah sampai di pelataran rumahnya.
"Enggak deh. Soalnya ini juga udah siang, aku harus ke kantor," tolak Ethan.
Amanda kemudian turun setelah mengucapkan terima kasih, lalu dia masuk ke dalam rumah, sementara Ethan masih berdiam sambil memperhatikan Amanda.
Setelah melihat wanita itu masuk dan hilang dibalik pintu, Ethan memutuskan untuk kembali ke rumah karena dia harus siap-siap pergi ke kantor, sebab ada meeting penting yang harus dihadiri 2 jam lagi.
Dadanya masih terasa berdetak kencang, padahal Amanda sudah tidak ada di sisinya kembali. Seulas senyum terukir indah di wajah tampan pria itu saat mengingat momennya bersama dengan Amanda tadi.
"Aduh! Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera makan siang bersama dengan Amanda. Apa Iya aku sudah tertarik kepadanya dan mempunyai perasaan? Tapi ..." Ethan menggantungkan ucapannya.
Sejujurnya ia masih merasa ragu apakah itu hanya ketertarikan sementara atau memang dia sudah mempunyai rasa kepada Amanda? Karena jujur, Ethan takut jika ia akan kecewa untuk kedua kalinya dalam menjalin sebuah hubungan.
Pernikahannya yang batal bersama Mona dan diselingkuhi oleh wanita itu, membuat Ethan harus teliti dalam memilih pasangan hidup. Tidak peduli mau janda ataupun gadis, bagi Ethan semua wanita sama, hanya yang membedakan adalah karakter saja.
"Aku harus menemukan jawabannya, tapi sebelum aku makan siang bersama dengan Amanda, aku akan ke rumah sakit dulu menemui Nancy," gumam Ethan.
.
.
Selepas meeting pria itu menyuruh asistennya untuk pergi ke rumah sakit, karena dia ingin konsultasi bersama dengan Nancy terkait jantungnya yang terus saja berdebar. Jujur Ethan takut jika itu adalah penyakit jantung.
__ADS_1
"Maaf Tuan, apakah Tuan sakit?" tanya Michael selaku asisten dari Etan.
"Entahlah, aku merasa sedikit kurang enak badan," jawab Ethan.
Setelah mobil sampai di pelataran Rumah Sakit, pria itu pun turun dan langsung menuju ruangan di mana sahabatnya tengah menunggu. Karena Ethan sudah mengabari Nancy kalau dia akan datang.
Kebetulan Nancy berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam, jadi mungkin saja wanita itu mengetahui tentang penyakit yang sedang dideritanya saat ini.
"Wah! Wah! Mimpi apa aku kedatangan kamu? Sudah lama sekali ya kamu tidak mampir ke rumah sakit ini, mentang-mentang Rumah Sakit milik sendiri. Terus sibuk sama pekerjaan, jadi melupakan sahabatnya deh," ujar Nancy sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau sudah tahu aku sibuk, jadi kenapa masih bertanya? Sudahlah tidak usah berbasa-basi, aku ke sini untuk konsultasi," jawab Ethan
Nancy menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. Terakhir dia bertemu dengan Ethan 2 bulan yang lalu, dan pria itu sama saja tidak pernah berubah dalam hal apapun selalu dingin dan datar.
"Oke, jadi keluhan apa yang Anda rasakan Tuan Ethan?" tanya Nensi sambil mencondongkan tubuhnya dan melipat tangannya di atas meja.
"Entahlah, aku pun tidak tahu, jantungku sedari pagi terus saja berdebar seperti baru saja lari maraton 10 kilo. Entah kenapa aku takut kalau ini adalah ciri-ciri penyakit jantung," ujar Ethan dengan wajah yang sedikit gugup.
Nancy mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari pria yang menjadi sahabatnya itu.
"Boleh aku tahu, di waktu apa saja jantungmu selalu berdetak dengan kencang?"
Ethan terdiam, dia merasa saat bersama Amanda jantungnya berdetak dengan kencang. Tapi saat tidak bersama wanita itu jantungnya normal saja.
Melihat Ethan hanya diam saja, membuat Nancy merasa kesal. "Hei Tuan muda yang terhormat! Aku ini lagi nanya, kenapa malah diem aja?"
__ADS_1
"Sorry! Aku ..." Ethan seakan ragu untuk menjawab pertanyaan Nancy, dan itu semakin membuat wanita tersebut menjadi penasaran. Karena dia tidak pernah melihat Ethan seragu itu dalam menjawab sebuah pertanyaan.
"Entahlah, aku pun tidak tahu, tapi jantungku selalu berdetak saat aku sedang bersamanya. Dan aku takut kalau ini gejala penyakit jantung." Ethan akhirnya jujur kepada Nancy.
Mendengar itu Nancy malah tertawa terbahak-bahak, hingga membuat Ethan seketika merengut kesal, karena dia sudah serius dan mau jujur tetapi Nancy malah mentertawakannya.
Padahal Ethan sudah membuang waktu untuk pergi ke sana memeriksakan kesehatan, tapi datang-datang bukannya mendapat solusi malah mendapat tertawaan dari sang sahabat.
"Aku ke sini untuk konsultasi, bukan untuk ditertawakan! Apa kau tahu!" ketus Ethan.
Nancy menghentikan tawanya, "Oke, sorry sorry, kalau aku kelepasan. Tapi kamu itu benar-benar lucu. Apa kamu tidak tahu seperti apa gejala penyakit jantung dan seperti apa saat orang jatuh cinta?"
"Jatuh cinta?" bingung Ethan.
Nancy menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, karena menurutnya Ethan benar-benar lucu. Pria itu selalu saja menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tapi soal perasaan bahkan cuek.
"Jangan bilang kalau wanita itu, Mona? Selama ini bukannya kamu mencintai dia? Tapi aneh juga sih, kamu sudah mencintainya sejak lama, tapi kenapa kamu baru merasakan yang sekarang?" kelakar Nancy.
Ethan semakin dibuat bingung dengan penjelasan sahabatnya saat mendengar kata jatuh cinta, namun dia benar-benar tidak paham benar penjelasan dari Nancy.
"Kau jangan muter-muter kayak gangsing! Penjelasanmu membuatku pusing, lagi pula kau kan tahu aku sama Mona itu tidak jadi menikah, jadi jangan bahas dia lagi! Dan katakan kepadaku! Apa maksudnya jatuh cinta?" Ethan mendesak ke arah wanita yang saat ini tengah mentertawakan dirinya.
Lebih tepatnya, Nancy menertawakan kekonyolan dan juga kebodohan Ethan dari segi hal cinta.
BERSAMBUNG....
__ADS_1