
Saat Gisel hendak naik kembali ke atas, dia berpapasan dengan Angga. Wanita itu mencoba untuk acuh, lalu dia melanjutkan jalannya akan tetapi tangannya ditahan oleh Angga.
"Tunggu!"
"Lepaskan aku! Mau ngapain lagi sih?" Gisel berkata dengan nada yang begitu ketus.
"Kita perlu bicara."
"Tidak perlu ada lagi yang dibicarakan. Aku mau naik ke atas."
Akan tetapi Angga tidak membiarkan itu. Dia menarik tangan Gisel, kemudian menatap wanita tersebut akan tetapi Gisel memalingkan wajahnya.
"Apalagi yang ingin kau bicarakan? Aku rasa hubungan kita telah usai, dan tidak perlu lagi ada yang kita bahas," tutur Gisel dengan nada yang begitu dingin.
"Aku tahu kamu masih sangat marah kepadaku, tapi bisa kan kita saling memaafkan. Itu hanyalah masa lalu, dan aku tidak ingin ada dendam di antara kita berdua."
Gisel terdiam saat mendengar ucapan dari pria tampan yang berada di hadapannya. Pikirannya menyelami masa lalu, di mana saat itu Angga hanya menjadikannya sebuah taruhan dan tentu saja membuat Gisel marah.
Namun apa yang dikatakannya memang benar, itu adalah masa lalu. Gisel juga sudah mulai melupakan Angga, walaupun dia tidak menampik masih ada rasa untuk pria tersebut walaupun hanya secuil.
"Aku sudah memaafkanmu, hanya saja, keberadaanmu membuatku sedikit canggung," jujurnya, "melihat wajahmu, mengingatkanku pada rasa sakit itu. Jadi sebaiknya kau menghindar atau menjauh dariku!" Tatapannya tegas dan tajam ke arah Angga.
Mendengar penuturan dari wanita yang pernah menjadi kekasih sekaligus wanita yang spesial di hati Angga, dia merasa sakit saat mendengar ucapan dari Gisel yang begitu dingin kepadanya.
Memang benar, waktu itu dia menjadikan Gisel sebuah taruhan, namun seiring berjalannya waktu rasa itu tumbuh. Akan tetapi, ternyata teman-temannya membongkar rahasia mereka sehingga akhirnya Gisel pun pergi meninggalkan dirinya.
"Aku sangat senang jika kamu sudah memaafkanku. Tapi bisakah kita seperti dulu?" Tatapannya sangat dalam kepada Gisel, dan wanita itu hanya diam terpaku. "Aku masih sangat mencintaimu. Selama ini aku tidak bisa berpaling pada wanita lain, aku sudah berusaha mencoba membuka hatiku, tetapi tidak bisa. Kau lebih mendominasinya, dan aku sadar akan hal itu. Iya ... aku tahu jika aku salah, tapi sejujurnya aku sangat mencintaimu."
Gisel seperti terhipnotis saat mendengar ucapan dari Angga yang mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Ada rasa bahagia dan hangat yang mengalir begitu saja di dalam hati. Namun Gisel mencoba untuk menampik itu semua.
Dia menepis kasar tangan Angga yang saat ini tengah menggenggam tangannya. "Itu hanyalah masa lalu, kau tidak bersungguh-sungguh mencintaiku." Setelah mengatakan hal itu dia pergi dari sana, akan tetapi tiba-tiba saja Angga memeluknya dari belakang.
"Biarkan aku membuktikannya. Jika kau memang tidak percaya, aku akan membuktikan keseriusanku kepadamu."
Gisel menghela nafasnya dengan gusar. "Lepaskan!"
"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya," jawab Angga dengan tegas, "sebelum kamu memberikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa apa yang kukatakan itu bukanlah sebuah bualan semata, tapi aku bersungguh-sungguh."
Gisel dia memikirkan apa yang harus dia katakan kembali kepada Angga, walaupun sejujurnya dia sangat marah kepada pria tersebut dan tidak ingin memberikan kesempatan, namun dia juga ingin melihat kesungguhan dari pria itu.
"Apa kau benar-benar ingin membuktikannya?"
"Iya, tentu saja." jawab Angga dengan mantap.
__ADS_1
"Kalau gitu lepaskan! Maka aku akan memberikanmu kesempatan untuk membuktikannya. Tapi mungkin keadaannya tidak akan seperti dulu lagi, sebelum aku melihat apakah kau memang benar-benar sungguh-sungguh atau tidak. Karena aku tidak ingin tertipu untuk kedua kalinya," terang Gisel.
Angga mengangguk, namun dia urung melepaskan pelukan tersebut. Rasanya Angga begitu betah saat memeluk tubuh Gisel, dan saat dia akan melepaskannya tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang.
"Eekhm! Katanya mau nyari sinyal ... tapi kok turun ke lantai bawah? Rupa-rupanya lagi mojok," ledek Leo.
Dia tadi menyusul Angga karena pria itu merasa heran kenapa Angga mencari sinyal tetapi kedataran yang lebih rendah, seharusnya ke dataran yang lebih tinggi, dan itu membuat jiwa kepo-nya meronta-ronta. Namun, saat dia akan menuruni bukit tersebut, tak jauh darinya terlihat Angga sedang memeluk seseorang dan ternyata itu adalah Gisel.
Angga langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Gisel, keduanya terlihat begitu canggung dan terlihat saling menjaga jarak.
"Sudah kuduga jika kalian ini saling mengenal, dan mungkin saja ada hubungan. Tapi apapun itu ... jangan bertengkar dan jangan pernah mementingkan ego. Jika kalian mengenal, ya mengenal saja, tidak usah gengsi. Ya sudah, lanjutkan lagi mojoknya, aku mau ke atas. Bye!" Leo melambaikan tangannya kemudian dia berbalik menaiki bukit menuju tenda.
Angga menggaruk belakang lehernya begitu pula dengan Gisel, dia benar-benar malu. Mungkin jika suasana di sana sedang siang, pipinya akan terlihat begitu merah merona. Namun karena di sana malam, jadi rona malu yang ada di pipi milik Gisel tidak terlihat.
"Aku juga mau ke atas, mungkin saja tante Aulia sedang membutuhkan air," ujar Gisel dengan sedikit gugup.
"Kalau begitu, ayo! Tidak baik jalan sendirian. Lagi pula di sini sangat gelap dan kita hanya membawa senter saja."
.
.
"Sayang, bener kan ini tempatnya?" tanya Rizal sambil melihat ponsel untuk melacak tempat keberadaan Amanda.
"Ya udah, ayo kita berjalan!" ajaknya sambil menggendong tas.
Kemudian mereka pun mencari di mana saat ini Amanda sedang mendirikan tenda, dan dari kejauhan terlihat ada obor dan beberapa lampu minyak. Mereka yakin jika itu adalah Amanda dan juga Ethan yang sedang mendirikan tenda bersama dengan mamanya.
"Sepertinya itu deh sayang," ucap Lulu sambil menunjuk ke arah tenda. "Ayo kamu jalannya cepetan! Jangan kayak siput, perasaan tasnya tidak terlalu berat deh."
"Kamu mah bisanya ngomel-ngomel terus," jawab Rizal dengan ketus.
Hingga beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tenda. Rizal langsung menaruh tasnya dengan nafas terengah-engah, namun Ethan merasa heran karena dia tidak tahu jika Amanda mengundang sahabatnya ke sana..
"Lho, sayang! Kamu ngundang dua cacing ke sini?" tanya Ethan sambil melirik ke arah sang istri.
"Dua cacing? Aku nggak ngundang dua cacing. Aku ngundang Lulu sama Rizal," jawab Amanda yang tidak mengerti dengan sindiran Ethan.
"Ya, maksudku dua cacing itu mereka," jawab Ethan sambil melirik ke arah Lulu dan juga Rizal, sementara kedua orang itu menatapnya dengan sinis.
"Eh ketan. Lo pikir gue cacing apaan? Enak aja kalau ngasih nama orang sekate-kate." kesal Lulu dengan tatapan tajamnya.
"Lho! Yang ku katakan itu benar kan? Kalian ini memang dua cacing, tidak pernah mau diam. Yang satu cacing kepanasan, dan yang satu cacing jantan," Ethan pun tertawa diiringi oleh tawa Angga, Leo dan juga om Yadi.
__ADS_1
"Sudah sudah ... sebaiknya sekarang kamu ganti baju dulu gih, Lu!" Amanda menunjuk tendanya dan Lulu langsung mengangguk, sementara Rizal mendirikan tenda untuk dia dan juga istrinya.
Wajahnya terlihat begitu sumringah, karena dia pikir malam ini dia akan bermain di dalam tenda untuk pertama kalinya. Dan pasti rasanya akan sangat eksotis, bahkan beberapa gaya sudah ada di luar kepala milik pria itu.
'Ini akan jadi malam terbaik.' batin Rizal bahagia.
Saat Lulu hendak mengganti baju, tiba-tiba dia merasa heran karena tidak ada dal-aman di sana, kemudian dia pun keluar kembali.
"Yank, barang yang aku minta kamu bawa kan? Kok tadi aku cari nggak ada sih," ucap Lulu dengan bingung.
"Barang apaan?" jawab Rizal sambil menatap ke arah sang istri.
"Itu loh Yank, cd."
"Oh ... cd. Sebentar aku ambilkan," ujar Rizal_ kemudian dia merogoh tasnya dan mengeluarkan cd dan juga beberapa kaset.
"Astaga Yank! Ini cd buat apaan?" kaget Lulu dengan tatapan membulat, begitu pula dengan orang-orang yang ada di sana. Marena mereka merasa heran untuk apa Rizal membawa cd ke tempat seperti itu, bahkan tidak ada listrik di sana.
"Lho! Kan kamu yang minta. Waktu di rumah, kamu bilang 'Yank jangan lupa bawa CD! Ya udah ini aku ambil lah dari kamar, udah bawa kasetnya juga nih beberapa. Kamu kan suka dangdutan."
Seketika Lulu menepuk jidatnya, sementara Amanda terkekeh, tetapi Ethan tidak mengerti apa yang terlihat begitu lucu hingga membuat sang istri tertawa geli.
"Astaga Suparjo! Bukan cd itu yang aku maksud!" seru Lulu dengan raut wajah yang begitu kesal terhadap sang suami. "Maksudku ... cd dalam-an aku, bukan cd seperti itu."
"Owh. Kamu nggak bilang, mana aku tahu." Rizal mengangkat kedua bahunya, sementara Lulu terduduk lemas karena dia sama sekali tidak membawa dala-man.
"Ya sudah, kalau gitu kamu pakai saja. Atau pakai punyaku. Kebetulan aku baqa banyak."
Lulu terbengong saat mendengar ucapan dari sang suami, kemudian dia mengambil jagung bakar lalu melemparnya ke arah Rizal. "Kamu yang benar aja dong! Masa aku suruh makai kayak gituan?au dipakai kayak apa, coba? Lagian aku gak punya burung!" marahnya.
"Iya, ini semua kan bukan salah aku. Kamu yang minta, jadi--"
"Jadi nggak ada jatah buat satu minggu, titik!" tegas Lulu, kemudian dia masuk ke dalam tenda milik Amanda dengan wajah yang kesal.
Amanda terkekeh begitu pula dengan Ethan dan semua yang ada di sana, saat melihat perdebatan suami istri tersebut.
"Makanya, kalau dimintain istri itu ditanya dulu yang seperti apa dan bagaimana," ucap Amanda sambil menggelengkan kepalanya, kemudian dia masuk ke dalam tenda untuk menenangkan Lulu.
"Perasaan dia bilangnya CD. Ya mana aku tahu kalau itu dalam-an, jadi aku di sini tidak salah. Tapi memang benar ... wanita itu maha benar, sedangkan laki-laki itu maha bersalah. Jika sekalipun wanita salah, maka akan kembali ke poin yang pertama, yaitu selalu benar," lirih Rizal dengan pasrah.
"Sabar ya Sob. Padahal di tenda itu sensasinya beda lho," ledek Ethan sambil terkekeh kecil.
'Gagal deh gue terbang ke nirwana. Nasib ... nasib.' batin Rizal dengan nesu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......