
"Mas Darius!" kaget Amanda saat melihat pria itu.
Sudah cukup lama dia tidak melihat Darius dan tidak menyangka jika mereka dipertemukan di tempat itu. Kemudian Darius berjalan mendekat ke arah Amanda dan semua yang ada di sana.
"Tidak perlu kamu melakukan itu! Aku tidak ingin Mama dan Papa memaafkanku karena permintaanmu," ucap Darius sambil menatap ke arah Amanda dan kedua orang tuanya bergantian. "Aku tahu, jika memang aku selama ini salah. Tapi aku tidak ingin mereka memaafkanku dengan tidak tulus dan kamu tidak perlu meminta hal yang bersangkutan denganku!"
Darius berkata dengan nada yang begitu dingin. Bukan ia membenci Amanda, hanya saja pria tersebut tidak ingin semakin membuat dirinya malu di hadapan wanita itu yang pernah ia sakiti dengan secara terang-terangan.
"Buukan seperti itu Mas, maksudku. Tapi--"
"Sudah kubilang jangan, ya berarti jangan!" sentak Darius, "aku tidak butuh belas kasihanmu, Amanda." Setelah mengatakan itu dia pun pergi dari sana.
Tadi Darius habis meeting bersama dengan klien dari bosnya, namun saat dia akan pulang tidak sengaja melihat mama dan Papanya sedang bersama dengan keluarga Amanda. Pria itu pun menguping dan ternyata Amanda sedang hamil.
Ada rasa sesak di dadanya saat mendengar kebahagiaan Amanda. Bukan benci, melainkan rasa bersalah yang begitu dalam karena dahulu Darius pernah menyakitinya, bahkan menuding Amanda wanita mandul. Padahal ternyata dirinya yang mandul.
Papa Samuel berdiri kemudian dia mengejar Darius, di mana saat pria itu akan menaiki mobilnya tiba-tiba tangannya ditahan oleh sang papa.
"Ikutlah makan malam bersama dengan kami!"
"Tidak usah Pah, terima kasih. Aku harus pulang, mungkin saja Fitri membutuhkan bantuanku."
"Tunggu Darius!" Pria itu lagi-lagi menahan tangannya, kemudian dia menatap sendu ke arah putra pertamanya tersebut.
Walaupun Darius pernah melakukan kesalahan yang begitu fatal dan membuat dirinya malu di hadapan semua orang dan kolega bisnisnya, namun tetap saja Darius adalah putranya. Semarah-marahnya orang tua, sebenci-bencinya orang tua, itu hanya sejenak, untuk meluapkan amarah saja. Tetapi setelah rasa itu mereda mereka pasti akan memaafkan putra dan putrinya dengan tulus.
"Jika Papa memaafkanku karena Amanda maka aku tidak bisa. Aku tidak ingin membuat diriku semakin malu di hadapan Amanda. Aku turut bahagia mendengar dia hamil, tapi aku tidak ingin terlalu menyusahkan kalian." Darius menundukkan kepalanya.
Dia sangat merindukan keluarganya setelah beberapa bulan mereka berpisah, kehidupan yang sekarang mengajarkan Darius bahwa memang dirinya amat sangat bersalah. Dirinya sudah diberi kenikmatan yang begitu luas, tetapi malah menyia-nyiakannya dan malah membuat orang tuanya malu.
"Papa dan Mama memaafkanmu bukan karena Amanda, karena kami memang sudah lama memaafkan kamu dan juga Fitri. Hanya saja, perlakuan istrimu membuat amarah di hati mamamu kembali membara," ujar Papa Samuel, "Darius, pulanglah ke rumah! Ajak istrimu juga."
"Maaf Pah, aku tidak bisa." tolak Darius.
"Tapi kenapa? Kami tidak marah kami sudah memaafkanmu. Sebagai orang tua, tidak akan pernah tega melihat anaknya luntang-lantung bahkan menderita."
Darius tidak menyangka jika selama ini Papahnya juga memikirkan penderitaannya. Dia menatap lekat ke arah pria tersebut lalu memeluknya. Jujur saja Darius sangat merindukan kedua orang tuanya, tapi dia sadar dengan kesalahannya.
"Aku tidak bisa Pah, sebelum Fitri berubah. Aku tidak bisa kembali ke rumah, maaf. Aku hanya tidak ingin membuat mama dan Papa semakin dibakar emosi, karena kelakuan Fitri."
"Tapi Darius--"
__ADS_1
"Aku akan pulang saat Fitri sudah berubah, aku janj. Uuntuk saat ini aku belum bisa." Mendengar penuturan putranya, Papa Samuel hanya bisa menghela nafas dengan kasar, dia memaklumi dan dia mengerti tentang maksud dari perkataan Darius.
Setelah itu dia pun berpamitan kepada sang papa lalu Papa Samuel kembali ke dalam berkumpul dengan semua orang yang saat ini tengah menunggu dirinya.
Kemudian Mama Dina bertanya tentang Darius, lalu Papa Samuel pun menjelaskan apa yang Darius katakan tadi bahwa dirinya tidak akan pulang sebelum Fitri berubah.
Mendengar hal itu ada rasa bersalah di hati Mama Dina, karena sudah mengusir Darius dari rumah. Sebab rasa emosinya sebagai seorang ibu semarah-marahnya dia kepada anak pada akhirnya akan memaafkan.
"Menurutku keputusan yang Darius ambil sudah sangat benar," timpal Ethan, "karena jika Fitri belum berubah dan belum mengintrofeksi kesalahannya, maka semua akan terasa sia-sia."
Semua orang terdiam, membenarkan ucapan dari Ethan. Dipikir secara logika memang benar jika Darius kembali ke rumah, maka dia harus bisa merubah istrinya, karena jika Fitri belum berubah maka wanita itu akan tetap sama dengan sifatnya.
.
.
Saat Darius pulang ke rumah dia melihat Fitri sedang marah-marah, apalagi rasa lelahnya setelah bekerja. Bukannya merasa senang disambut oleh istri, tapi malah disambut dengan cacian dan makian.
"Kenapa sih kamu pulangnya telat, Mas? Aku itu laper, tidak ada nasi di rumah. Aku juga tidak bisa masak!" marah Fitri.
"Sudah ya, aku capek habis kerja. Jadi jangan ajak berdebat!" Setelah mengatakan itu Darius pun masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu nggak bisa gitu dong, Mas! Kamu enak di luar udah makan, tapi aku gimana? Mas Darius!" teriak Fitri, namun Darius tidak perduli karena saat ini badannya sangat lelah. Sebelum dia mandi, pria itu memesankan makanan lewat ojek online.
Setelah Darius mandi dia pun menuju ke ruang makan untuk membuat teh hangat, karena Fitri tidak bisa membuatkan. Padahal meja di sana tidak terlalu tinggi dan tentu saja Fitri bisa melakukannya, hanya saja wanita itu sangat pemalas.
"Mas, kamu tidak akan membiarkan aku mati kelaparan kan?" Fitri lagi-lagi berkata dengan ada yang sarkas.
Darius yang mendengar hal itu pun menghela nafasnya dengan berat, kemudian dia duduk di kursi meja makan sambil menatap lekat ke arah wanita yang saat ini sudah tidak mempunyai kaki namun wajahnya masih sangat cantik.
"Bisa tidak, jika saat aku pulang sambut aku dengan senyuman. Saat aku pergi bekerja, kamu memberikanku senyuman yang manis. Fitri, jika sikapmu seperti ini terus, aku lama-lama tidak akan pernah betah untuk hidup bersamamu."
"Oh ... jadi kamu mau berniat untuk meninggalkanku, iya Mas? Dengan keadaanku yang seperti ini? Kamu jahat!" bentak Fitri dengan marah.
Darius mencoba untuk meredam emosinya. Sejujurnya dia ingin sekali mencekik Fitri, karena wanita itu selalu saja menyalahkannya. "Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Hanya saja apa kau tidak bisa intropeksi diri? Keadaanmu sekarang sudah seperti ini ... tapi kamu masih bersikap angkuh? Fitri, aku ini sampai sekarang masih sabar ngadepin kamu. Masih mau bersama dengan kamu. Seharusnya kamu bisa merubah sikapmu, kamu bisa merubah sifat burukmu itu!"
"Halah ... bilang aja kalau keadaanku yang seperti ini akan kamu jadikan alasan untuk kamu mendua, Iya kan Mas?" tuduh Fitri.
BRAAK!
Darius sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, dia pun menatap tajam ke arah Fitri, dan saat pria itu akan memarahinya tiba-tiba pintu rumahnya terketuk dan ternyata yang datang adalah ojek online yang mengantarkan makanan.
__ADS_1
Setelah membayar, dia berjalan ke arah meja makan dan menaruhnya dengan kasar. "Makan tuh! Kamu bilang lapar kan? Oh iya, jangan lupa rubah sikapmu sebelum semuanya terlambat! Jangan suka menyalahkan orang lain, karena kesalahan itu ada pada dirimu sendiri. Tepatnya pada hati kotormu. Kau selalu saja bernegatif thinking terhadap orang, tapi kau sendiri tidak pernah intropeksi diri. Sekarang begini saja ... kalau sikapmu seperti ini, apa aku akan betah untuk hidup terus bersama denganmu? Bukan karena kakimu yang buntung," ujar Darius dengan begitu sarkasnya, "tapi karena sikapmu yang begitu sombong dan juga takabur. Sebaiknya kau renungi semua kesalahanmu sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu!" ancam Darius.
"Halah ... sok suci kamu, Mas!" teriak Fitri saat melihat Darius masuk ke dalam kamar. "Kamu saja manusia penuh dosa, sok-sokan nyeramahin aku!"
Darius tidak ingin perduli, dia menaruh headset di telinganya kemudian memejamkan mata. Bahkan dia tidak menyiapkan air untuk Fitri. Pria itu sengaja karena ingin Fitri mandiri dan beradaptasi dengan keadaan yang sekarang.
Karena lapar, Fitri pun membuka bungkusan itu dan ternyata isinya nasi padang. Mau tidak mau wanita itu pun melahapnya karena dia sudah sangat lapar.
"Main masuk kamar aja, bukannya nyediain air," gerutu Fitri yang merasa haus, kemudian dia memutar kursi rodanya dan mengambil gelas yang sudah ditaruh samping wastafel oleh Darius agar bisa Fitri gapai dan tidak kesusahan.
Setelah makan wanita itu pun menjalankan kursi rodanya menuju kamar, dan melihat suaminya sudah tertidur dengan lelap bahkan sedikit mendengkur.
"Jika kamu berani untuk meninggalkanku, maka aku akan pastikan hidupmu akan menderita, Mas. Kamu tidak akan memperoleh kebahagiaan sedikit apapun itu!" geram Fitri dengan nada yang begitu lirih.
Tangannya terkepal kuat, sorot matanya begitu tajam memancarkan kemarahan pada pria yang saat ini bergelar menjadi suaminya. Pria yang ia rebut dari adik tirinya.
Keadaannya yang sekarang tidak membuat Fitri sadar dengan kesalahan, tapi malah semakin membuat wanita itu menanamkan rasa benci terhadap orang-orang yang selama ini mencelanya, lebih tepatnya menasehatinya tetapi Fitri malah selalu bernegatif thinking terhadap orang lain.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari Amanda terbangun, dia merasa lapar padahal biasanya Amanda tidak pernah terbangun di jam seperti itu.
"Sayang bangun dong!" Amanda mengguncang tubuh Ethan.
"Hmm." Pria itu hanya bergumam saja, dan mendengar itu Amanda terus saja mengguncang tubuh Ethan sampai pria itu terbangun. "Apa sih Sayang? Aku masih ngantuk," jawabnya dengan mata terpejam.
"Sayang, aku lapar. Buatin mie instan, pakai telur, pakai cabe rawit 10, jangan lupa sosis sama baksonya!"
Mendengar permintaan istrinya Ethan langsung membuka matanya. "Apa! Kamu yang benar aja dong, sayang." Kemudian dia menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul 02.00. "Ini masih sangat pagi, kenapa mendadak kamu malah minta mie instan?"
"Aku nggak tahu, tapi aku laper. Ayo bikinin!"
"Sayang ... nanti pagi aja ya. Aku masih ngantuk, ini masih jam 02.00."
"Bikinin atau aku nambah lagi cabenya menjadi 30!" ancam Amanda.
Ethan yang mendengar itu pun akhirnya terbangun. Dia turun dari kasur dengan langkah gontai seperti seorang Zombie. Pria itu bahkan menguap beberapa kali dan hampir saja kepeleset saat menuruni anak tangga.
"Apa begini ya penderitaannya Rizal, saat istrinya sedang hamil? Hoaam ..." lirih Ethan sambil mengucek matanya dan menguap beberapa kali.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
Sabar ya calon papa🤣