
"Hai Amanda," sapa Novia sambil tersenyum riang, kemudian dia berjalan ke arah Mama Inggit dan memeluk wanita itu.
"Jadi benar kalau kamu sudah pulang?" tanya Mama Inggit dengan wajah yang kaget, "terus mama papa kamu ke mana?"
"Mama, Papa tidak ikutan, Tan. Soalnya masih sibuk di sana, jadi aku pulang sendiri deh. Oh iya Tante, aku kangen nih sama masakan Indonesia." Viona akhirnya duduk di meja makan dengan tangan mengusap perutnya yang lapar, lalu mereka pun memulai sarapan.
Tak lama Ethan datang sambil membawakan asinan mangga muda pesanan Amanda semalam. Wanita itu tentu saja sangat senang, namun Mama Inggit melarangnya untuk makan di pagi hari sebab Amanda harus makan nasi terlebih dahulu karena nantinya takut sakit perut.
"Makasih ya sayang! Aku kira tadi pagi kamu ke mana sudah nggak ada ... ternyata kamu nggak lupa sama pesanan aku semalam." Amanda memeluk manja suaminya kemudian mengecup pipinya di hadapan semua orang.
"Sayang, jangan menggodaku deh!"
"Siapa juga yang menggod. Orang ini masih di meja makan. Lagian ... itu sebagai bentuk ucapan terima kasih aku." Amanda mengerucutkan bibirnya, karena menurut dia ucapan Ethan barusan benar-benar sangat konyol.
Mana mungkin dirinya menggoda Ethan di hadapan banyak orang di sana. Tentu saja Amanda pun mempunyai malu, tetapi Ethan tetap menggoda dirinya. "Kalau kamu mau berterima kasih, aku siap kok bermain di lima ronde." Dia mengedipkan sebelah matanya.
Alih-alih Amanda yang kesal, namun kali ini Mama Inggit yang mencubit pinggangnya hingga membuat pria itu meringis. "Aduh ...awwh! Mah, sakit. Kenapa pinggang aku dicubit?" ringis Ethan mengusap pinggangnya yang terasa panas.
"Ya lagian kamu ... kalau ngomong nggak di filter dulu. Ini tuh di meja makan. Kamu nggak lihat di sini juga ada Viona?" Wanita tersebut menggelengkan kepalanya, "kalau sampai kamu bermain sebanyak itu dengan Amanda, nih!" Dia menunjukkan tinjunya ke arah wajah Ethan. "Tinju Mama siap melayang di wajah tampan kamu!"
"I-iya Mah, iya ... Ethan kan cuma bercanda." Pria itu pun menggaruk belakang lehernya lalu dia berpamitan untuk membersihkan diri, karena harus bersiap-siap menuju kantor.
.
.
Tidak terasa acara 4 bulanan Amanda hari ini sedang dilangsungkan. Tak banyak tamu yang diundang, hanya beberapa kolega bisnis serta keluarga terdekat saja, sebab Amanda maupun Ethan ingin acara itu sakral namun tidak terkesan sangat mewah.
__ADS_1
Tak lupa, Amanda juga mengundang keluarga Mama Dina termasuk Darius dan Fitri. Kendati, Ethan sudah memberikan pengawalan yang ketat di acara tersebut, karena dia takut jika Fitri akan membuat rusuh di acara pentingnya.
"Mama doakan, semoga kamu dan juga bayimu selalu diberi kesehatan ... dan semoga lahiran kamu nanti lancar ya, Nak," ucap Mama Dina sambil mengelus perut Amanda.
"Selamat ya Mbak. Aku juga turut senang. Doa terbaik pokoknya untuk Mbak dan juga calon bayi Doakan aku juga supaya cepat menyusul." Alea memeluk tubuh Amanda kemudian dia mengelus perut wanita itu.
"Makasih ya Alea, Mah, atas doa kalian. Semoga Allah juga memberikan kebaikan untuk kalian," jawab Amanda sambil tersenyum manis.
Darius mendekat, namun saat Fitri akan berjalan bergandengan dengan suaminya tiba-tiba Naura menyela hingga membuat Fitri mendelik dengan tajam.
"Ups! Sorry ya ... biar aku dulu sama mas Darius," ucap Naura dengan nada berbisik sambil memiringkan senyumnya.
"Kamu itu belum jadi istrinya Mas Darius, jadi jangan lancang!" geram Fitri dengan nada tertahan. Terlihat dari aura wajahnya dia menahan emosi kepada wanita yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai madunya.
Tetapi Naura tidak menghiraukan ucapan Fitri. Dia melenggang sambil mengapit lengan Darius dengan manja lalu berjalan ke arah Amanda.
"Aamiin! Makasih ya untuk doanya. Makasih juga udah datang ke sini."
"Sama-sama. Doakan aku dan juga Mas Darius supaya kami pernikahannya lancar dan aku cepat menyusul."
"Aamiin!"
Mendengar jawaban Amanda, Fitri menahan marahnya dengan gigi gemelutuk. 'Dasar saudar jaha-nam. Malah mengaminkan doa dari pelakor tersebut. Harusnya dia itu memarahi Naura karena sudah berani merebut Darius dariku! Lihat saja, kalian semua akan mendapatkan balasannya!!'
Fitri tersenyum jahat, dia mempunyai rencana yang begitu busuk untuk Amanda. Dia akan membuat hidup semua orang yang sudah mengolok-olok dirinya menderita.
Semua tamu undangan saat ini tengah menikmati sajian makanan, dan Amanda berpamitan ke lantai atas untuk beristirahat karena dia sangat lelah, sementara Ethan masih mengobrol dengan kolega bisnisnya.
__ADS_1
"Huuuh ... rasanya lelah sekali. Padahal hanya mengobrol, duduk dan menyambut para tamu saja ... tapi capeknya seperti pengantin yang seharian berdiri terus menerus," lirih Amanda sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu satu tangannya memijit betis yang terasa begitu pegal.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, Amanda pun segera berjalan dengan sedikit kelelahan, dan saat dibuka ternyata yang datang adalah Fitri.
"Eh, kamu Fit. Kenapa?" tanya Amanda dengan nada biasa.
"Aku mau bicara sama kamu!"
Dahi Amanda mengkerut heran, satu alisnya terangkat satu dengan tetapan menyipit ke arah Fitri. "Mau bicara apa?" tanyanya dengan bingung.
"Udah deh ... bolehin aku masuk dulu, kek!" Fitri berkata dengan nada yang begitu ketus.
Amanda tidak ingin berdebat karena dia sudah sangat lelah. Akhirnya mengizinkan Fitri untuk masuk lalu wanita itu berjalan ke arah balkon diikuti oleh Amanda.
'Dia mau ngapain sih? Memangnya mau bicara apa sampai harus ke kamarku? Terus kenapa juga harus berjalan ke balkon?' bingung Amanda di dalam hatinya.
"Kamu mau ngapain? Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyanya kembali.
Fitri langsung membalik kursi rodanya dan menatap tajam ke arah Amanda. "Kamu sudah puas melihat hidupku sekarang! Aku sudah tidak mempunyai kaki, bahkan suamiku akan menikah dengan wanita lain. Aku tahu kok, di dalam hatimu pasti kamu tengah tertawa terbahak-bahak melihat keadaanku dan juga nasibku yang sekarang? Kamu pasti menyumpahiku kan, karena aku juga merasakan bagaimana diselingkuhi?"
Mendengar tuduhan dari saudaranya, Amanda berdecak bingung. "Hah? Tertawa di atas penderitaanmu? Apa kamu sudah gila? Bahkan tidak pernah terlintas dalam benakku. Hidupku sudah terlalu indah, sampai aku lupa dengN para lerikil," sindir Amanda, "Aduh ... udah deh Fitri, kalau kamu ke sini hanya untuk mengajakku berdebat, sebaiknya kamu keluar deh! Aku tuh capek, badanku lelah, aku tidak ingin memulai keributan. Jadi sebaiknya sekarang kamu keluar!" usir Amanda.
Dia tidak ingin terpancing emosi oleh wanita tersebut, tetapi Fitri malah terus menyudutkan dirinya. "Halah ... nggak usah bohong deh. Buktinya kamu mengaminkan ucapan si pelakor itu ... dasar wanita munafik!" Fitri mendekat ke arah Amanda dia mengulurkan tangannya hendak memegang perut wanita itu, akan tetapi Amanda segera melingkarkan tangannya.
"Mau ngapain kamu? Jangan macam-macam ya!" ucap Amanda dengan wajah tegang.
"Aku nggak mau ngapa-ngapain kok cuma ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang yang sudah membuat hidupku menderita," jawab Fitri dengan senyuman menyeringai.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....