
"Vio!" kaget Amanda dan juga Ethan serta Mama Inggit serempak, saat melihat Viona yang datang tergopoh-gopoh.
"Ketan ... Amanda, tolong aku!" Viona memegangi perutnya karena saat ini dia merasa perutnya begitu keram.
"Hei! Ada apa?" Ethan segera menangkap tubuh Viona saat wanita itu akan terjatuh ke lantai.
Namun, belum juga Viona menjawab, wanita itu langsung tak sadarkan diri, dan seketika Mama Inggit melihat ke arah kakinya Viona dimana darah merah segar mengalir. Mereka bertiga pun langsung panik dan membawa Viona menuju rumah sakit.
"Sayang, kira-kira Viona kenapa? Dia datang dengan wajah yang begitu panik. Ada apa ini?" tanya Amanda dengan cemas saat berada di mobil.
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya telah terjadi sesuatu kepadanya. Sebaiknya kita saat ini fokus dulu pada Viona, setelah dia sadar baru kita akan tanya kenapa."
Amanda hanya mengangguk, setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, mereka bertiga mencemaskan keadaan Viona yang saat ini masih pingsan di belakang bersama dengan mama Inggit.
Sesampainya mereka di rumah sakit Ethan langsung menggendong tubuh Viona lalu wanita itu pun dilarikan masuk ke dalam UGD, sementara Ketiga orang tersebut menunggu di luar.
"Ethan, Mama benar-benar khawatir dengan keadaan Viona. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandungannya?" Mama Inggit terlihat begitu cemas dia sampai meremas jari-jari tangannya.
Amanda segera menenangkan Ibu mertuanya tersebut. "Mama tenang aja ya! Kita berdoa semoga saja Viona tidak kenapa-napa, dan semoga kandungannya juga baik-baik saja."
"Iya sayang." Mereka duduk dengan gelisah, setelah beberapa saat dokter keluar dan mengatakan tentang keadaan Viona yang saat ini sangat lemah. Untung saja bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu bisa diselamatkan.
"Alhamdulillah! Lalu, apa dia sudah sadar, Dok?" tanya Ethan kembali.
"Sudah. Kami juga akan memindahkannya ke ruang rawat inap, dan sebaiknya dirawat untuk beberapa hari di sini karena kami harus mengecek lebih lanjut."
__ADS_1
Tentu saja Ethan sangat setuju, lalu dia mengikuti suster yang membawa Viona sampai di ruang inap VVIP. Setelah beberapa saat kini tinggallah mereka berempat di ruangan itu. Ethan menatap lekat ke arah Viona, dia ingin menanyakan siapa yang sudah mencelakai wanita tersebut.
"Kenapa kau datang dengan wajah yang begitu panik, Vio? Ada apa, Viona? Apa yang terjadi kepadamu? Apa ada sesuatu hal yang buruk?" desak Ethan yang sudah tidak sabar ingin segera mendengar jawabannya.
Mama Inggit menggelengkan kepalanya, kemudian dia memukul pundak Ethan. "Kamu ini ada-ada aja deh. Viona baru saja sadar dan lihat! Dia bahkan masih sangat lemas, nanti saja kalau dia keadaannya sudah jauh lebih baik baru kita tanyakan," ujar Mama Inggit.
"Tapi Mah ... Ethan sudah nggak sabar apa yang membuat Viona begitu terlihat panik. Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu yang buruk kepadanya Mah." Terlihat wajah pria itu benar-benar sudah tidak sabar.
"Benar apa yang dikatakan oleh Mama. Sebaiknya kita tunggu keadaan Viona lebih baik dulu! Untuk sekarang waktunya tidak tepat, bersabarlah sampai besok pagi," timpal Amanda.
Mereka bertiga melihat Viona kembali memejamkan matanya, akhirnya Ethan pun hanya bisa menurut walaupun sebenarnya dia sangat penasaran.
"Ya sudah, kalau begitu kamu pulang saja bersama dengan Mama! Biar aku yang menjaga Viona. Aku juga akan menelpon beberapa anak buah untuk berjaga di sini, karena entah kenapa feelingkuh merasa tak enak."
"Tidak! Jangan ... aku mohon jangan lakukan itu! Jangan menghabisiku! Tolong! Tolong!" teriak Viona sambil menggelengkan ke kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Ethan terlihat begitu panik, akhirnya dia mau mencet tombol untuk memanggil suster dan dokter dan tak lama mereka datang lalu langsung menyuntikkan obat penenang kepada wanita itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa keadaan saudara saya seperti ini?" tanya Ethan saat Viona sudah kembali tenang..
"Dari hasil pemeriksaan dan diagnosa kami sepertinya Nona Viona mengalami trauma yang cukup berat. Seperti ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa melupakan itu, dan sepertinya dia juga mengalami mental."
Lutut Ethan terasa begitu lemas saat mendengar hal tersebut. Dia menatap lekat ke arah Viona, mengingat bagaimana wajah wanita itu saat ketakutan di dalam tidurnya.
'Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Viona? Kenapa kau menjerit ketakutan? Siapa yang sudah berbuat buruk kepadamu?' batin Ethan sambil menatap lulus ke arah sepupunya yang saat ini tengah memejamkan mata. Tangannya seketika terkepal dengan rahang mengeras. 'Siapapun yang sudah membuatmu seperti ini ... aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak akan memaafkannya! Aku akan membalasnya hingga dia akan tahu siapa keluarga Louise yang sebenarnya!'
__ADS_1
"Mas, sepertinya telah terjadi sesuatu yang buruk sama Viona sampai dia mengalami mimpi yang seperti itu. Bahkan saat wanita itu tidak sadar," ujar Amanda dengan tatapan miris ke arah Viona.
"Kamu benar sayang. Sudah, sebaiknya kamu pulang bersama Mama! Aku juga tadi sudah meminta sopir, dia ada di luar. Biar aku yang menjaganya."
Amanda mengerti, dia pulang bersama dengan mama Inggit walaupun sebenarnya kedua orang itu ingin sekali menginap di sana, tetapi Ethan menyuruh mereka untuk pulang demi kesehatan dari kandungan Amanda.
Sepanjang perjalanan Mama Inggit terus saja terbayang dengan wajah panik keponakannya tersebut, tak lama ponselnya berdering dan ternyata itu telepon dari adiknya.
"Iya Nikita, ada apa?"
"Sebaiknya kamu pulang ke rumahku saja! Viona sedang tidak berada di apartemennya," ucap Mama Inggit pada seseorang yang tak lain adalah mamanya Viona.
"Nanti aku ceritakan di sana. Aku tunggu kamu di rumah! Ini juga aku lagi di jalan." Setelah itu telepon pun terputus.
Amanda melirik ke arah Mama Inggit. "Apa itu orang tuanya Viona, Mah?" tanyanya penasaran.
"Iya sayang." Mama Inggit menganggukan kepalanya. "Mereka sudah sampai di Indonesia."
"Apa kita harus membicarakan perihal keadaan Viona kepada mereka, dan perihal kehamilannya?"
Mendengar pertanyaan menantunya, Mama Inggit tampak terdiam, kemudian setelah beberapa saat dia pun menganggukkan kepalanya. "Iya, itu harus. Karena walau bagaimanapun kedua orang ketua Viona harus tahu tentang keadaan putri mereka. Mama akan berbicara sesuai dengan rencana yang sudah kita jalankan, tapi sepertinya akan dirubah sedikit karena melihat kondisi Viona yang saat ini sedang tidak baik-baik saja," jelas Mama Inggit.
Amanda mengangguk, hatinya merasa resah karena takut jika kedua orang tua Viona akan mengamuk saat melihat kondisi putrinya. 'Semoga saja Viona cepat sadar dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan semoga kedua orang tuanya bisa mengambil keputusan yang bijak agar tidak menikahkan Viona dengan Edward.'
BERSAMBUNG......
__ADS_1