Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Tak Bisa Jauh


__ADS_3

Lulu menjerit kesakitan, karena dia saat ini akan lahiran secara normal. Padahal belum bulannya Luli melahirkan.


"Aduh ... sakit Mas! Sakiiit!" ringis Lulu sambil menjambak rambut Rizal.


"Sssh! Iya sayang, aku juga sakit," jawab pria itu sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat dengan mata merem melek. Bahkan beberapa rambut Rizal rontok di tangan Lulu. "Tapi jangan kamu jambak juga rambutku! Nanti aku bisa botak."


"Biarkan saja. Biar seperti Opick kumis, awwh! Sakit Maaas!" jerit Lulu dan semakin keras cengkramannya.


Rizal hanya bisa meringis sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang tiada tara. 'Ternyata begini rasanya menjadi seorang suami dan juga calon ayah saat menemani istrinya lahiran, benar-benar menderita. Rambutku bisa botak jika harus dijambak terus-menerus. Nasib ... nasib. Enak kali menjadi seperti Ethan, dia tidak menemani istrinya,' gerutu pria itu di dalam hati.


Sementara tante Anjani dan juga Om Umar menunggu di luar, mereka tidak diperkenankan untuk masuk. Keduanya hanya bisa berdoa untuk keselamatan luluh dan juga bayinya.


Sementara di tempat lain, Amanda tak kalah cemas. Dia bisa merasakan bagaimana sakitnya melahirkan seorang anak. Walaupun dia bukan lahiran normal, tetapi rasa sakit itu sama saja, karena lahiran cesar pun jahitannya akan terasa begitu menyayat saat obat biusnya telah hilang.


"Ya Allah, selamatkanlah Lulu dan bayinya. Semoga mereka tidak kenapa-napa, dan lancarkanlah persalinannya," lirih Amanda saat berada di meja makan.


"Sayang, ini kamu makan telur sama salmonnya! Mama udah masak buat kamu."


"Lho, kok telur rebus, Mah? Amanda tidak terlalu suka telur rebus, kalau salmon i'ts oke, Amanda suka," ucapnya dengan heran saat Mama Inggit membawakan Amanda telur rebus dan juga salmon.


"Kedua makanan ini bagus untuk perut kamu yang baru saja Cesar agar cepat kering, karena kamu membutuhkan banyak protein." Amanda hanya mengangguk paham, kemudian dia memakan kedua makanan tersebut.


Setelah itu mama Inggit kembali ke kamar untuk menjaga Max, tak lama Ethan duduk di samping istrinya sambil memakan siomay buatan pelayan di sana.


"Sayang, aku mau ..." Amanda hendak mengambil siomay yang ada di mangkuk, tetapi langsung dijauhkan oleh Ethan.


"No! Kamu itu baru lahiran, tidak boleh makan sembarangan, apalagi ini siomaynya pedas. Ingat Dokter bilang apa? Hindari makanan pedas, makanan dingin, minuman bersoda dan juga gorengan. Jangan lupa, minuman yang manis-manis pun kamu harus menghindarinya, oke!"

__ADS_1


"Terus aku makan apa dong? Itu semua kan makanan kesukaan aku?" Amanda mengerucutkan bibirnya.


"Kamu harus tahan dulu untuk sementara. Kamu makan ini aja!" Ethan memberikan salad buah kepada sang istri, membuat Amanda seketika merengut, tapi dia pun tidak bisa menolak karena itu semua demi kebaikannya.


"Ya udah, kalau gitu aku mau ke kamar dulu ya, sekalian mau memompa asi. Soalnya ini udah penuh banget, dada aku sakit."


"Mau kubantu?" ucap Ethan dengan wajah sumringah.


Amanda mencubit pundak pria tersebut, "kamu itu benar-benar ngeres ya. Udah ah, aku mau ke kamar dulu. Kamu habisin tuh siomaynya! Kalau bisa makanan yang ada di meja juga," celetuk Amanda kemudian berlalu dari ruang makan.


Dia masuk ke kamar dan melihat Mama Inggit tengah menjaga Max. Wanita itu tersenyum kemudian memompa asinya dan menaruhnya di plastik khusus penyimpan ASI.


"Sudah ada kabar belum tentang Lulu?" tanya Mama Inggit sambil menatap ke arah menantunya.


"Belum Mah." Baru saja Amanda berkata seperti itu, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu telepon dari Tante Anjani yang mengabarkan bahwa Lulu saat ini sudah lahiran secara normal.


"Alhamdulillah ... aku turut senang Mah. Tapi aku tidak bisa menjenguk Lulu. Mama kan tahu, aku baru saja melahirkan dan aku tidak boleh banyak bergerak, karena sejujurnya sedikit saja aku bergerak jahitan yang ada di perutku ini sangat sakit."


.


.


Malam ini Max terdengar begitu rewel, hingga membuat Amanda sebentar-sebentar terjaga dari tidurnya. Dia menyusui Max dengan mata terpejam, bahkan lingkaran di bawah matanya terlihat begitu jelas, dan itu adalah hal yang lumrah bagi ibu muda.


Ethan terbangun karena tangisan Max, dia melihat Amanda tengah menyusui dengan mulut yang sedari tadi terus saja menguap. Pria itu merasa tak tega lalu dia mengambil botol asi yang sudah disiapkan oleh Amanda.


'Kasihan istriku, dia pasti sangat kelelahan.' batinnya, kemudian mengambil alih Max di dalam gendongan Amanda lalu mulai memberikannya susu di sofa, hingga tidak terasa mereka pun tertidur dengan maksud di dalam pelukannya.

__ADS_1


Bayi itu terus aja menangis, tetapi sejak Ethan terbangun Max malah terdiam.


Hingga saat Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi, Amanda bangun. Dia sangat kaget saat mendapati tidak ada putranya di sebelahnya, padahal semalam Amanda ingat betul bahwa dia tengah menyusui Max, tapi saat dirinya menengok ke arah samping wanita itu langsung tersenyum saat melihat Ethan yang sedang menggendong putra mereka.


"Jika dilihat ... mereka berdua itu sangat tampan. Max pasti akan mewarisi ketampanan ayahnya," lirih Amanda, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Amanda keluar dia melihat Ethan sudah terbangun dan menidurkan Max di ranjang. Namun baru saja dia kan beranjak, tiba-tiba Max sudah menangis kembali. Pria itu pun akhirnya menepuk pelan kaki sang anak agar bayi tersebut tidur kembali.


"Sepertinya kamu sedang mengerjai papa ya, Nak. Semalam menangis terus bersama dengan mamamu, tapi setelah Papa gendong, kamu malah tidur dengan lelap. Sekarang Papa ingin mandi ingin ke kantor, tapi sepertinya kamu tidak membiarkan itu." Ethan mencium lembut kening putranya.


"Sepertinya memang begitu, Mas. Dia tidak ingin jauh-jauh dari papanya. Tapi sebaiknya kamu mandi biar Max sama aku."


Ethan mencoba untuk beranjak dari tempat tidur, tapi lagi-lagi Max malah menangis, membuat pria itu akhirnya mau tidak mau pasrah. "Sudahlah sayang, sebaiknya aku libur saja hari ini. Lagi pula putraku sepertinya akan lebih manja denganku ketimbang dengan dirimu."


"Manja sih boleh, asal jangan terlalu berlebihan dan apa-apa jangan selalu diturutin, oke!"


Ethan hanya menganggukkan kepalanya dia kembali menyelam ke alam mimpi bersama dengan Max. Tetapi Amanda turun ke lantai bawah lewat lift dia tidak diperbolehkan untuk menggunakan tangga karena takut akan berdampak kepada jahitan yang ada di perutnya.


"Pagi Sayang," sapa Mama Inggit.


"Pagi Mah."


"Mama udah buatin susu sama buatin kamu makanan juga. Kamu harus makan lebih awal, karena kamu kan juga menyusui. Oh iya, Max gimana semalam rewel gak?"


"Rewel sih Mah ... tapi anehnya saat dipeluk sama Mas Ethan, dia malah terdiam. Bahkan tadi saat Mas Ethan akan beranjak dari tempat tidur saja Max kembali menangis. Sepertinya dia tidak akan bisa jauh dari Papahnya." Mama Inggit yang mendengar itu pun terkekeh kecil.


"Ya sudah, sebelum Max bangun ... kamu makan dulu ya!" Amanda hanya menurut karena perut dia pun sudah terasa begitu lapar. Semalaman wanita itu tidak makan apapun, karena dia lagi menyusui. Amanda harus makan banyak serta yang sehat agar bisa memberikan nutrisi dan gizi yang baik bagi putranya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


Novel ini akan di sambung ke Season 2 ya Guys. Kisah cinta Max.


__ADS_2