Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Mencoba Baju Istriku


__ADS_3

"Ini Mas kopinya. Kopi kesukaan kamu, rasa cinta dan kasih sayang." Amanda meletakkan secangkir kopi yang telah Ia buat di hadapan Ethan.


"Makasih sayang," jawab Ethan sambil meletakkan ponselnya di atas meja, dia pun mulai menyeruput kopi tersebut.


Sementara Amanda hanya duduk manis sambil mengusap perutnya yang besar, dan beberapa detik kemudian Ethan mengerutkan dahinya. "Sayang, kok kopinya agak berbeda ya?"


"Berbeda gimana? Orang aku biasa bikinnya kayak gitu kok. Itu resep yang biasanya aku buat, masa berbeda sih?" Amanda menahan tawanya.


"Iya sayang, berbeda. Kamu masukin apa sih? Susu atau apa?"


"Susu kok. Eh salah ..." alibi wanita itu, "tadi aku masukin krim, soalnya susunya habis."


"Pantas saja rasanya berbeda Ya sudah deh, aku nggak mau minum."


"Kok kamu gitu sih? Aku udah buatin kamu minum loh ... tapi kamu nggak mau habisin. Ya udah, kalau kamu nggak mau habisin, aku malam ini tidur di ruang tamu!" ancam Amanda dengan wajah yang sudah mendadak menjadi sedih.


Ethan terdengar menghela nafasnya dengan gusar. Entah kenapa semenjak kehamilan Amanda yang semakin membesar wanita itu sedikit manja tidak bisa disentil sedikit perasaannya langsung saja sedih, gampang marah dan benar-benar sangat sensitif.


"Ya sudah, aku habisin kopinya ya." Amanda mendengar itu pun tersenyum senang, dia mengangguk dengan wajah yang riang.


Lalu Ethan meminum kopi tersebut dengan rasa yang begitu aneh. Dia terpaksa menghabiskannya walaupun sebenarnya pria itu merasa mual.


'Ini kopi atau kari kopi? Kenapa rasanya sangat berbeda, seperti ada bau santan kelapa yang biasa Mama buat bikin kari ayam?' batin Ethan merasa curiga. Akan tetapi dia tidak mungkin berprasangka buruk kepada Amanda. 'Aah ... tidak mana mungkin istriku ingin meracuniku. Masa iya sih kopi dicampur sama santan?'


"Kenapa sayang? Kok bengong gitu sih?" tanya Amanda.


"Nggak papa, kok. Cuma rasanya sedikit aneh aja sayang kayak ada bau santan gitu deh."


"Itu hanya perasaan kamu. Mungkin kamu menginginkan kari ayam buatan mama. Sudah habiskan!" Amanda mengambil remote lalu dia menyetel film drakor kesukaannya kembali, akan tetapi ternyata sudah selesai, itu membuat Amanda benar-benar kesal.


"Tuh lihat! Gara-gara kamu drakor kesukaan aku udah selesai. Harusnya tadi kamu jangan matiin!" sentak Amanda dengan begitu ketus.


"Iya deh, maaf istriku sayang," ucap Ethan dengan nada memohon.

__ADS_1


"Udahlah ... males aku sama kamu." Amanda langsung meninggalkan pria itu menuju kamarnya, dia ingin beristirahat karena hari ini benar-benar menyebalkan baginya.


Sementara setelah Ethan meminum habis kopi tersebut, dia merasa mual lalu pria itu berjalan ke arah dapur dan mengambil air di kulkas.


"Tadi ibu Amanda ngapain bikin kopi pakai santan kelapa?" tanya salah satu pelayan kepada temannya. Bahkan mereka tidak menyadari keberadaan Ethan yang sedang mengambil minuman.


Pria itu seketika terpaku dengan tatapan membulat. 'Santan kelapa? Jadi istriku benar-benar bikin kopi dicampur dengan santan kelapa?' batinnya dengan kaget.


"Aku juga tidak tahu," jawab pelayan yang satunya sambil mengangkat kedua bahu. "Tapi bukankah itu kopi untuk pak Ethan ya? Apa jangan-jangan Ibu Amanda mengerjai pak Ethan? Dia tidak mungkin tidak bisa membedakan gula dan juga susu karena kan Ibu Amanda jago memasak."


"Kamu benar. Mungkin saja Ibu Amanda sedang mengerjai Tuan Ethan. Sudahlah ... sebaiknya kita lanjutin pekerjaan daripada kita nanti di amuk."


Ethan benar-benar marah, dia berjalan ke arah kamar dan hendak memaki istrinya karena sudah berani mengerjai dirinya. Namun seketika saat dia membuka pintu kamar, melihat Amanda tengah mengusap perutnya yang sedikit keram. Melihat itu Ethan pun tidak tega untuk memarahinya.


Dia mendekat ke arah Amanda lalu mengusap perut besarnya. "Kenapa sayang? Apa anak kita nakal?"


"Tidak, hanya tadi sedikit menendang sampai perut aku keram. Tapi kopi kamu udah habis?" Amanda menatap lekat ke arah suaminya, dan langsung dibalas anggukan oleh Ethan.


"Sudah, sampai ampas-ampas kelapanya malah. Tapi memang benar sih, kopi itu memang berasa santan. Apakah istriku sekarang mulai tidak bisa memasak sampai tidak bisa membedakan mana santan dan mana susu putih?"


"Tapi tidak apa-apa selagi Istriku yang membuatnya, aku akan meminumnya sampai habis. Bahkan jika kamu memberikanku racun, aku akan tetap menghabisinya." Ethan mengusap kepala Amanda kemudian mengecup keningnya dengan lembut.


"Kamu nggak marah sama aku?" bingung Amanda dengan tatapan yang begitu lekat sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Ethan malah terkekeh. "Marah untuk apa sayang? Aku tidak mungkin memarahi kamu karena kamu adalah bidadariku. Apapun yang kamu buat, mau itu rasanya manis, asam, pedas atau racun sekalipun ... aku akan tetap memakannya. Selagi itu buatan tanganmu sendiri."


Amanda seketika langsung menghambur memeluk tubuh pria tersebut. Betapa beruntungnya dia memiliki suami seperti Ethan bahkan di saat dirinya menjahilinya yang mungkin saja akan membuat kesehatan Ethan bermasalah, tetapi pria itu malah tidak sama sekali memarahinya. Dia malah bersikap lembut seperti biasa.


"Makasih ya! Kamu tidak marah sama aku, tapi jujur ... aku melakukan itu karena aku kesal sama kamu, sebab aku lagi nonton drakor tapi malah dimatikan sama kamu. Kan mood aku jadi hilang." Akhirnya Amanda mengeluarkan unek-uneknya.


"Iya, aku juga minta maaf. Tapi kamu mau tahu nggak alasanku kenapa aku mematikan TV itu?" Amanda langsung menggeleng, karena memang dia tidak tahu alasannya selain menyuruhnya untuk membuatkan kopi.


"Memangnya apa?"

__ADS_1


"Karena aku cemburu sebab kamu terlalu mengidolakan artis Korea itu, sementara suamimu tak kalah tampan. Jujur, bila wanita lain aku tidak masalah ... tapi istriku hanya boleh mengidolakanku. Istriku hanya boleh terpesona olehku, tidak boleh pada pria lain, sekalipun itu adalah aktor dari dunia konoha."


"Hahaha! Cie ... cie ... ternyata suamiku cemburu. Tapi tenang aja! Aku hanya sekedar mengagumi, tapi tidak berniat menjadikan mereka suami ataupun pujaan hati seperti layaknya army army yang lain. Jadi tenang saja, oke."


.


.


Pagi ini Ethan dan Amanda baru pulang dari bandara setelah mengantarkan Mama Inggit yang pergi menuju Bali untuk menghadiri acara salah satu temannya, dan mungkin saja Mama Inggit akan liburan di sana untuk beberapa hari.


"Sayang, kita belanja baju yuk! Kamu kan sekarang kehamilannya sudah mulai membesar, baju-baju di lemari juga sudah mulai mengecil."


"Emangnya kamu nggak kerja?" tanya Amanda dengan bingung.


"Nggak terlalu padat jadwalnya hari ini, jadi It's okay. Ayo!" Kemudian mereka pun menuju salah satu mall untuk membeli baju daster dan juga baju tidur untuk Amanda, karena Ethan sangat tahu jika istrinya setiap malam selalu kepanasan sebab perutnya yang semakin membesar membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak.


Sesampainya di rumah, Ethan meletakkan semua belanjaan di atas ranjang, kemudian dia membawa Amanda untuk duduk dan memberikannya air putih.


"Dicoba dulu sayang bajunya!"


"Aku capek ah ... Mas aja yang nyobain! Tuh, badan Mas kan lebih besar dari aku. Berarti kalau di Mas muat, artinya di aku pun muat."


"Emang bisa begitu?" tanya Ethan dengan bingung.


"Ya bisa dong, Mas. Ya udah, sekarang kamu bawa belanjaan ini ke kamar mandi terus kamu cobain!"


Ethan nampak berpikir, "aku coba yang dasar malam aja ya. Pengen lihat apa muat di tubuh istriku. Tapi kayaknya pas, apalagi dengan perut kamu yang besar dengan bagian-bagian yang sangat berisi " Pria itu mengedipkan matanya, membuat Amanda seketika melempar batal dengan wajah malunya ke arah Ethan..


"Dasar suami mes-um. Udah sana, cepetan! Aku tunggu."


Ethan pun masuk ke dalam, dia melihat daster malam yang tadi dibelinya bersama dengan Amanda. "Baju ini akan sangat seksi bila dipakai oleh istriku. Tapi aku cucok juga," ucapnya bermonolog pada diri sendiri sambil melihat pantulan dirinya di cermin saat mengenakan dress tersebut.


Tetapi seketika Ethan bergidik ngeri. "Iiih. . kok aku kaya lucinta lunox ya? Jadi kayak setengah Bencyong," gerutunya pada diri sendiri, kemudian dia bersiap untuk keluar dengan gaya yang sedikit dibuat melehoy.

__ADS_1


Dia berdiri di pintu sambil menyandarkan tubuhnya dengan gaya menggoda dan sedikit menurunkan tali di pundaknya, seakan ia adalah wanita malam. "Sayang, aku sudah ... aggh!" Seketika Ethan menutup pangkal paha serta dadanya dengan tatapan membulat kaget.


BERSAMBUNG....


__ADS_2