
Happy reading .....
Ethan terbangun, dia merasa kepalanya sedikit pusing, kemudian pria itu menatap ke arah samping di mana saat ini Mona tengah tertidur dalam dekapannya.
Ethan yang merasa kaget pun segera mendorong tubuh Mona, hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai.
'Apa yang terjadi? Apa yang ku lakukan bersamanya? Kenapa pakaianku terbuka?' batin Ethan bertanya-tanya.
"Aaawwh!" ringis Mona sambil memegangi bok0ngnya yang terasa begitu sakit karena mendarat terlebih dahulu.
"Sayang ... kamu itu apa-apaan sih? Kok main dorong-dorong aja," rajuk Mona dengan wajah yang meringis.
Ethan melihat kancing baju dan juga sabuknya terlihat berantakan. Dia segera membenarkannya, kemudian menatap Mona dengan tajam.
"Apa yang sudah kau lakukan kepadaku, Hah!" bentak Ethan.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun. Kamu lupa, kamu sendiri yang merayuku terus kita melakukan itu deh ..." Mona menyatukan kedua jari telunjuknya.
Ethan menggelengkan kepalanya dengan kuat, dia tidak percaya jika dia sudah melakukan hal yang tak senonoh kepada wanita yang pernah menjadi mantannya.
Kemudian Ethan berjongkok di hadapan Mona, lalu mencengkram rahang wanita itu dengan kuat. "Jangan pernah bermain-main ya kau denganku! Kau pikir, aku percaya? Kau sudah memberikan aku obat tidur kan?" geram Ethan, kemudian dia menghempaskan kepala Mona begitu saja.
Pria itu berjalan menjauh dari Mona, "Pergi kau dari sini sebelum kau habisin nyawamu!" geram Ethan.
Akan tetapi Mona tidak perduli. Dia bangkit dan mendekat ke arah Ethan, lalu memeluk tubuh pria itu dari belakang.
"Kau lupa sayang? Tadi kau yang melakukannya, terus kenapa sekarang kau marah-marah? Aku bahkan sangat menikmatinya," ujar Mona dengan nada yang sedikit mendesah.
Ethan yang mendengar itu pun merasa jijik, dia berbalik dan lagi lagi mendorong tubuh Mona ke lantai, hingga kali ini bukan bokongnya saja yang terasa sakit, akan tetapi pinggang mana yang terasa hampir patah.
"Kamu itu bisa pelan nggak sih! Sakit tau nggak! Kamu jangan ngeles dong. Kamu sudah melakukannya sama aku, terus sekarang kamu mau lepas tanggung jawab gitu aja? Aku mau kamu nikahin aku!"
Mendengar hal itu Ethan malah tertawa terbahak-bahak, membuat Mona seketika menatapnya dengan tajam.
"Apa kau bilang? Tanggung jawab? Hahaha! Mona ... Mona. Kau itu kalau mimpi jangan siang bolong, nanti kalau jatuh tuh sakit. Dan apa kau pikir aku percaya kalau aku telah melecehkanmu?"
Mona bangkit dari duduknya, kemudian dia meraih ponsel dan memberikan bukti itu kepada Ethan, di mana di sana ada foto dirinya dan juga Mona, di mana dia bertelanjang dada sementara Mona tidak memakai apa-apa.
__ADS_1
"Kau lihat apa? Ini bukan bukti. Kalau kau tidak menikahiku, aku akan memberikan foto ini kepada calon istrimu!" ancam Mona sambil tersenyum sinis.
Akan tetapi bukan Ethan namanya jika dia langsung percaya begitu saja. Kemudian dia mengitari tubuh Mona, sementara wanita itu menyembunyikan ponselnya karena takut jika Ethan akan menghancurkan bukti itu.
"Silakan ... silakan kau kirim kepada Amanda! Dan apa kau pikir, aku akan diam saja? Apa kau pikir, Amanda sebodoh itu? Tidak. Dia wanita berkelas dan sangat jauh berbeda denganmu. Hanya bukti seperti itu saja, tidak menjamin kalau aku sudah tidur denganmu. Jadi kau tidak bisa mengancamku dengan hal dan juga bukti yang sepele, paham!" Ethan mendorong pundak Mona.
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Karena aku sudah muak melihat wajahmu, sebelum ku habisi kau saat ini juga!" Pria itu berkata dengan sorot mata yang tajam, auranya terlihat begitu dingin, membuat Mona seketika meneguk ludahnya dengan kasar.
Dia pikir dengan foto itu akan membuat Ethan takluk kepadanya, akan tetapi malah sebaliknya, sama sekali tidak percaya.
"Lihat saja! Aku akan memberikan bukti ini kepada calon istrimu, dan sebentar lagi pernikahan kalian akan batal!" ucap Mona menggebu gebu.
Sementara Ethan hanya tersenyum miring, dan melihat pintu ruangan itu tertutup dia pun menggebrak meja dengan keras.
BRAK!
"Berani sekali dia memberikan aku obat tidur!" geram Ethan dengan sorot mata yang begitu memancarkan kebencian.
Dia yakin jika Mona memberikannya obat tidur, pasalnya setelah dia memakan puding itu, Ethan merasa tidak ingat apapun. Kalau obat perangsang mungkin Ethan masih bisa menghalaunya, tetapi ini tidak.
"Lihat saja apa yang akan dia lakukan. Berani menghancurkan pernikahanku, maka sama saja mengantarkan nyawa!" gumam Ethan dengan lirih namun terdengar begitu sadis.
.
.
Saat ini pernikahan Ethan dan juga Amanda akan dilangsungkan. Beberapa tamu sudah datang karena ijab qobul, tidak terlalu banyak tamu yang diundang, hanya ada 200-an orang. Sementara resepsi pernikahan baru semua tamu akan datang.
"Ya ampun! Sahabat gue ini benar-benar cantik banget, kayaknya nanti malam unboxingnya bakalan sampai larut pagi nih?" ledek Lulu.
Amanda melihat kuas make up yang berada di hadapannya, kemudian dia melempar ke arah Lulu dan membuat wanita itu terkekeh.
"Mentang-mentang lo tiap malam Unboxing. Mana hasilnya, udah jadi belum?" ledek Amanda.
"Yaelah ... kecebong gue belum nyampe terminal kali, masih di dalam angkot. Entar kalau udah sampai Terminal, masuk deh ke dalam bus, baru kecebong gue otw katak Kalau sekarang belum," jelas Lulu.
Amanda dan juga MUA serta beberapa orang yang berada di sana pun terkekeh saat mendengar celetukan dari Lulu.
__ADS_1
"Mbak ini ada-ada aja, masa kecebong suaminya disamain sama kecebong katak?" kelakar MUA yang sedang mendandani wajah Amanda.
"Lah, namanya juga kecebong Mbak, sudah pasti kecebongnya sama. Tidak mungkin kecebong tidak mengakui satu sama lain, mereka kan saudara walaupun beda pabrik," kekeh Lulu.
"Udah Mbak, jangan ditanggapin. Itu kebanyakan tiap malam, jadinya otaknya sedikit geser." Amanda berkata sambil memejamkan matanya, karena MUA sedang merias mata wanita itu.
"Halah... nanti juga ntar malam lO ketagihan tuh sama pisang ambonnya si Ethan?"
Amanda yang mendengar itu pun langsung membuka matanya, sementara orang di sana malah tertawa.
"Sepertinya otak lo emang udah kotor, kebanyakan makan terong setiap malam."
"Nih ya ... Ibarat kata, ini pisang milik suami gue, dan ini milik suami lo. Nanti kira-kira gedean yang mana ya? Atau kalau bisa apa kita double date aja ya?" ujar Lulu sambil memegang pisang ambon yang berada di piring buah.
PLETAK!
Amanda melempar lipstik tepat mengenai kening wanita itu, membuat Luluse ketika mengaduh dan menatapnya dengan tajam, akan tetapi Amanda tidak peduli.
"Dasar nggak waras! Kayaknya gue perlu ngomong nih sama Rizal supaya lo jangan terlalu di Unboxing setiap malam, karena otak lo lama-lama juga terbukam."
Semua yang ada di sana pun tertawa, karena mereka tidak bisa menahan tawanya saat mendengar kelakar dari Lulu maupun Amanda yang terlihat begitu lucu.
Tante Anjani masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat Amanda masih belum siap. "Ya ampun, Sayang. Cepetan 30 menit lagi acaranya bakal dimulai!"
"Ini udah selesai Mah, cuma digangguin mulu noh ... sama si otak kotor."
"Otak-otak kotor? Siapa?" tanya Tante Anjani dengan.
Amanda menunjuk Lulu dengan bibirnya, sementara wanita itu hanya menampilkan deretan gigi putihnya saja.
"Namanya juga anaknya Opie Jenggot, nggak usah terlalu didengerin. Udah cepetan! Sebentar lagi keluarga mempelai pria akan datang."
Amanda mengangguk, sementara Lulu cemberut saat dinamakan anaknya Opie jenggot.
Jujur saja Amanda merasa deg-degan, karena walaupun ini pernikahan keduanya, namun tetap membuat Amanda merasa seperti anak gadis yang baru saja akan melangsungkan pernikahan untuk pertama kalinya.
"Ya Allah, semoga semuanya dilancarkan," gumam Amanda di dalam hati.
__ADS_1
Tapi dia merasa perasaanya tak enak, namun segera ia tepis.
bersambung....