Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Wanita Sinting


__ADS_3

Happy reading ....


Haris baru saja sampai ke rumah tepat jam 20.00 malam. Setiap hari dia selalu menghabiskan waktunya di kantor dan pulang ke rumah hanya untuk tidur saja, karena jujur Haris ingin menghindari Fitri.


Saat ia masuk, Haris berpapasan dengan Tante Dina. "Nak, apa kamu sudah makan malam?"


"Belum Mah, nanti tolong minta pelayan untuk antarkan ke kamar aja ya! Soalnya Haris masih ada kerjaan," jawab pria itu.


Tante Dina yang melihat putranya begitu dingin merasa tak tega, dia tahu apa yang dirasakan oleh Harris Pasti sangat sakit. Kemudian wanita itu memegang pundak Sang putra.


"Jangan terlalu over dalam pekerjaan, kamu juga harus memikirkan kesehatanmu."


"Iya Mah, kalau gitu Haris masuk dulu ya. Soalnya badannya lengket banget," ujar Haris. Kemudian dia beranjak naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Tante Dina menatap sendu ke arah Haris yang semakin hilang di balik tangga. Dia tahu putranya pasti menghabiskan waktu untuk bekerja sengaja, sebab ingin menghindar dari Fitri.


Kemudian Tante Dina berjalan ke arah dapur, menyuruh pelayan untuk membawakan makan malam ke kamarnya Haris.


Sementara saat Fitri melihat kepulangan suaminya, dia pun berjalan ke kamar Haris. Namun saat sampai di sana, Haris baru saja selesai membersihkan diri dan masih menggunakan handuk.


"Siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam sini, hah!" bentak Haris saat melihat Fitri dengan nada tak suka.


"Mas, aku mau berbicara sama kamu," ucap Fitri.


"Tidak perlu ada lagi yang dibicarakan. Sebaiknya kau pergi sekarang dari sini, sebelum ketendang kau;" ancam Haris dengan nada geram.

__ADS_1


Jangankan untuk berbicara dengan Fitri, bahkan melihat wajahnya saja Haris sudah jijik. Dia rasa tidak perlu ada lagi yang dibicarakan antara dirinya dan juga Fitri, karena semua sudah sangat jelas.


Fitri menghentikan tangan Haris yang akan masuk ke dalam ruang ganti. "Mas, aku tahu kamu pasti marah sama aku. Aku tahu ini pasti menyakitkanmu, aku minta maaf. Tapi--"


"Tapi apa?! Sudah tahu kau menyakitiku, tapi kau masih berani menunjukkan wajah menjijikanmu itu di hadapanku! Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum kutendang dan kudorong tubuhmu!" ancam Haris dengan tatapan yang begitu tajam.


Jujur Fitri sedikit kaget saat melihat reaksi Harris, dia tak pernah melihat tatapan yang begitu membencinya. Padahal selama ini Haris selalu memperlakukannya dengan lembut.


"Kenapa sekarang kamu kasar sama aku, Mas?" tanya Fitri dengan wajah sedih.


Mendengar itu hari malah tertawa mengejek sambil menggelengkan kepalanya. "Hahaha! Kau ini wanita gila atau kau memang alumni dari rumah sakit jiwa, hah! Masih bertanya kenapa aku kasar kepadamu? Hei, bangun wanita jalaang! Mungkin kau sekarang masih bergelar sebagai istriku, tapi setelah anak harammu itu lahir, surat perceraian akan melayang di wajahmu! Dan jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu dengan lembut, setelah apa yang kau lakukan kepadaku. Wanita baik-baik, tidak akan pernah memanfaatkan keadaan dan juga seseorang untuk mendapatkan apa yang dia mau, paham!" Haris berkata dengan nada menekan, sorot mata yang tajam dengan rahang mengeras.


Fitri terdiam, dia benar-benar melihat luka yang begitu dalam di kedua netra pria tersebut, yang setiap malam selalu memeluk tubuhnya, memberikan kehangatan kepadanya, walaupun di hati Fitri tak pernah ada cinta.


"Aku tahu Mas, kamu membenciku. Tapi maafkan aku sama Mas Darius. Kami---"


Fitri akhirnya pergi dari sana, tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Haris. "Kau dengar ya! Jangan pernah menemuiku lagi. Karena mulai sekarang aku Haris Laksono, menalakmu Fitri. Dan kau bukan lagi istriku! Sekarang kau bebas, aku sudah menalakmu secara lisan. Jadi tinggal tunggu saja suratnya nanti!"


Mendengar ucapan Haris, entah kenapa hati Fitri seperti tersayat. Dia merasa sakit saat Haris mengatakan jika pria tersebut sudah menalaknya. Tidak terasa air mata lolos dari kedua netra milik Fitri, wanita itu pun segera keluar berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar tamu.


Sedangkan Haris memukul lemari dengan keras. Bohong jika dia tidak sakit saat mengatakan hal tersebut kepada Fitri. Bohong jika masih tidak ada rasa cinta di hatinya, sebab rasa itu masih ada bahkan sangat dalam.


Akan tetapi, penghianatan Fitri dan juga Darius membuat rasa cinta itu berubah menjadi benci yang tidak terhingga, bahkan sulit untuk memberikan kata maaf.


Terdengar suara pintu kamar terketuk, Haris segera memakai bajunya, kemudian dia membukakan pintu.

__ADS_1


"Taruh saja di meja!" ucap Haris pada pelayan yang sedang membawakan makan malam untuknya.


Setelah menaruh makanan itu, pelayan pun keluar dari kamar. Sementara Haris duduk di sofa lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo Rizal. Aku ingin kamu mencari gadis yang pernah kutiduri di klub malam! Selidiki dari CCTV! Aku ingin kabar secepatnya," ucap Haris pada seseorang yang tak lain adalah asistennya pribadinya.


Dia sedari siang hari terus saja bergelut dengan pikirannya, memikirkan kejadian kemarin malam di mana dia meniduri seorang gadis. Karena Haris sangar yakin dan ingat saat dia melakukannya wanita itu masih sangat suci.


Haris merasa bersalah, dan dia akan bertanggung jawab. Walaupun Haris tidak tahu siapa wanita itu, karena wajahnya pun masih samar-samar, sebab di kegelapan jadi tidak terlalu jelas apalagi Haris dalam keadaan mabuk.


"Aku pasti mendapatkan gadis itu. Setelah aku mengetahui dan juga menemuinya, aku akan langsung bertanggung jawab," gumam Haris.


Haris tidak mau menikahi gadis itu. Dia berniat untuk bertabggung jawab membayarnya.


.


.


Sementara di lain tempat, Amanda baru saja akan pulang, sementara Lulu sudah pulang duluan karena sedari tadi Mamanya terus aja menelpon.


"Enak sih jika kita menyibukkan diri dengan pekerjaan. Setidaknya pikiranku tidak terlalu memikirkan Mas Darius terus, semoga mereka senang di atas penderitaanku," ucap Amanda dengan lirih sambil menyetir mobilnya.


Sesampainya di rumah, wanita itu langsung masuk ke dalam kamar. Kemudian dia melihat foto dirinya bersama dengan Darius yang masih terpajang di rak buku.


"Huuuff!" Wanita itu pun langsung mengambilnya dan membuangnya ke tong sampah. Amanda tidak mau menyimpan apapun itu tentang Darius. Dia berjalan ke lemari mengambil baju, sepatu, tas, apapun itu yang pernah dikasih oleh Darius, dibuang oleh Amanda walaupun harganya sangat mahal tapi dia tidak peduli.

__ADS_1


"Besok adalah sidang pertama aku dengan mas Darius. Kamu pasti bisa Amanda! Lupakan masa lalu gapai kebahagiaanmu di masa depan!" Amanda menyemangati dirinya sendiri, kemudian dia membersihkan dirinya dan dilanjutkan untuk menjemput alam mimpi.


BERSAMBUNG....


__ADS_2