Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Mulai Membuka Hati


__ADS_3

Happy reading ....


Haris kembali ke rumah sakit dan dia melihat Alea sudah sadar. Pria itu pun langsung mendekat ke arahnya, kemudian dia duduk di samping Alea.


"Maafkan aku yang tak bisa menjagamu. Bagaimana? Apa masih ada yang sakit?" tanya Haris dengan raut wajah yang khawatir.


Alea terpaku saat mendengar dan melihat sendiri perhatian yang Haris berikan kepadanya. Dia masih tak percaya jika pria itu menanyakan keadaannya, bahkan sangat terlihat jelas dari netra kedua mata suaminya jika Haris saat ini tengah mencemaskan keadaannya.


"Hei ... kenapa diam saja? Apa ada yang sakit?" tanya Haris kembali.


"Tidak, sudah tidak kok," jawab Alea dengan canggung.


"Syukurlah ... apa kamu sudah makan?" Alea menggelengkan kepalanya. "Kenapa belum makan? Ya sudah, kalau gitu aku suapin ya."


Alea hanya bisa mengangguk, dia masih kaget dengan perubahan Harris yang tiba-tiba saja menjadi perhatian kepada dirinya. Biasanya pria itu akan acuh, tapi entah kenapa saat ini Haris sepertinya sedang dalam mood yang baik.


'Mas Haris kenapa ya? Apa dia kesambet atau otaknya sedikit geser? Kenapa tiba-tiba saja dia perhatian sama aku? Apa karena di sini ada Papa Samuel, jadi dia berpura-pura baik kepadaku?' batin Alea. 'Mungkin saja memang seperti itu. Mas Haris kan biasanya perhatian kalau ada orang tuanya saja.' Seketika wajah Alea menjadi murung.


Dia berharap perhatian Haris benar adanya, tapi melihat di sana ada Papa Samuel wanita itu yakin jika Haris hanya berpura-pura.


Suap demi suap Haris berikan kepada Alea, dan wanita itu hanya menurut saja. Dia menikmatinya walaupun Alea berpikir mungkin Haris sedang bersandiwara, akan tetapi tidak masalah. Setidaknya dia mendapatkan secuil perhatian dari suaminya.


"Sudah Mas, aku sudah kenyang," jawab Alea.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya." Haris menggenggam tangannya kemudian dia mengecup kening wanita itu.


Alea membantu saat merasakan perhatian yang diberikan oleh Haris. Untuk pertama kalinya pria itu mengecup keningnya, dia seperti terhipnotis dengan perhatian Haris yang tiba-tiba seperti itu.


"Hei ... kok malah bengong? Jangan kebanyakan bengong. Ingat kata dokter! Kamu nggak boleh stress. Kamu harus cepat sembuh ya, supaya kita bisa cepat pulang dari sini," ucap Haris sambil mengusap kepala Alea.

__ADS_1


Lagi-lagi wanita itu hanya bisa mengangguk kan kepalanya dengan tatapan yang lurus ke arah Haris, dia masih tak percaya dengan perubahan suaminya yang mendadak.


''Haris ... Papa ingin bicara sama kamu. Ayo!" ajak Om Samuel.


Haris mengangguk, kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu dan duduk di kursi yang ada di depan.


"Tadi kamu bilang ditelepon pada Mama, kalau Fitri kecelakaan? Bagaimana bisa?" tanya om Samuel dengan penasaran.


"Iya Pah, tadinya aku ke rumah dia, cuman nggak ada orang. Eh ... pas nggak lama dari situ aku ketemu dia, kayaknya habis belanja, terus aku kejar dia dong sampai akhirnya dia kecelakaan dan kakinya harus diamputasi dua-duanya," jelas Haris.


"Apa! Diamputasi dua-duanya?" kaget Om Samuel dengan tatapan membulat.


Haris mengangguk, "Iya Pah, ya ... mungkin aja itu memang karma dia, karena selama ini sudah berbuat jahat pada semua orang." Haris mengangkat kedua bahunya.


Sementara Om Samuel hanya menghela nafas dengan pelan. "Kamu benar. Semoga saja apa yang Fitri dapatkan saat ini menjadikan dia orang yang lebih baik lagi, dan papa berharap Darius mau menerima kekurangannya."


Entah kenapa feeling Haris mengatakan jika Darius tidak akan bisa bertahan dengan kondisi Fitri yang seperti itu. Dia mempunyai istri seperti Amanda saja yang sempurna menyelingkuhinya, bagaimana dengan Fitri yang sudah tidak memiliki kaki?


"Papa nanti akan mengajak Mama untuk menengoknya," ujar Om Samuel dan Haris hanya bisa mengangguk.


"Ya sudah, kalau gitu Papa mau ke kantin dulu ya beli kopi, kamu mau nitip nggak?"


"Boleh deh Pah, kopi moccacino satu ya!"


Om Samuel pun beranjak dari duduknya untuk pergi ke kantin, sementara Haris masuk kembali ke dalam ruangan di mana saat ini istrinya sedang tertidur.


Haris menggenggam tangan Alea, kemudian dia menaruhnya di pipi. "Maafkan aku yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu. Maaf jika aku menjadi pria yang egois. Aku hanya perlu waktu untuk menyembuhkan lukaku saja, tetapi kamu malah menjadi tempat pelampiasanku. Maafkan aku ya ... aku berjanji aku akan membuat kamu bahagia. Aku akan menjadikanmu wanita satu-satunya, dan aku akan berubah mencoba mencintaimu, karena kamu adalah ibu dari anak-anakku kelak," ucap Haris dengan lirih.


Kemudian ponselnya berdering, pria itu pun beranjak dari duduknya keluar dari ruangan untuk mengangkat ponsel dari asistennya yang tak lain adalah Rizal.

__ADS_1


Sementara Alea membuka mata. Tadi dia baru saja memejamkan matanya, dan saat mendengar ucapan Haris yang seperti itu, wanita tersebut menitikan air mata.


Ada rasa bahagia dan hangat di dalam hati Alea saat mendengar penuturan Haris. 'Aku fikir sikapmu tadi adalah sandiwara Mas, tetapi ternyata kamu sudah berubah. Semoga saja kita bisa membina rumah tangga ini dengan sakinah, mawadah dan warohmah, dan kamu benar-benar bisa membuka hatimu untukku.' batin Alea sambil menatap ke arah pintu yang tertutup.


Dia tertidur dengan senyuman di bibirnya, karena Alea benar-benar sangat bahagia sebab Haris sudah berubah dan mulai mencintainya.


.


.


"Tidaaak! Aku tidak mau lumpuh! Kakiku harus kembali. Aku tidak mau kakiku dipotong! Tidaaak... aku tidak mau cacat!" teriak Fitri.


"Sudahlah Fitri, kenapa sih kamu terus berteriak seperti itu? Lagi pula kenapa kamu harus mencelakai Alea? Itu adalah karma buat kamu, sebab kamu jahat." Darius berkata dengan nada yang sarkas, karena dia benar-benar merasa pusing dengan Fitri yang terus saja berteriak histeris.


"Aku melakukan itu karena aku benci sama dia, Mas!"


"Untuk apa kamu benci sama dia? Kan kamu dan Haris sudah berpisah? Kecuali memang kamu ingin berniat merebutnya kembali."


"Nggak! Aku nggak mau buntung, Mas. Aku nggak mau cacat. Kembalikan kakiku, Maas! Kembalikan kakikuuu!" teriak Fitri.


Darius yang sudah pusing pun memanggil dokter dan suster untuk menyuntikkan obat bius kepada istrinya, dan beberapa menit kemudian Fitri pun tertidur.


Darius menatap sendu ke arah Fitri, dia tak menyangka jika dia akan mempunyai istri yang cacat. "Itu adalah kesalahanmu sendiri Fitri. Kamu jahat sama orang, tidak pernah mau untuk berubah. Dan disaat seperti ini pun, kamu masih menyalahkan orang lain?" gumam Darius sambil menatap ke arah Fitri yang sedang tertidur lelap.


Dia pun meninggalkan istrinya di sana karena Darius harus pulang sebab ada anaknya di rumah yang sedang menunggu kepulangannya.


'Entah aku bisa bertahan atau tidak dengan kondisi Fitri seperti itu?' batin Darius sambil menyetir mobilnya menuju rumah.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2