
Happy reading ....
Hari ini adalah hari ulang tahunnya Harris, karena semua sudah mengetahuinya jadi tidak ada kejutan lagi. Hanya ada tiup lilin serta potong kue saja, begitu pula dengan doa-doa baik yang terlontar dari keluarga.
Haris begitu sangat bahagia, apalagi saat ini Tuhan memberikannya hadiah dengan kehamilan sang istri.
Sementara Amanda sedang duduk ya sofa sambil memakan kue ulang tahun, kemudian dia menaruhnya di atas meja mengambil minuman dan memainkan gelas itu.
'Sejujurnya aku ingin membongkarnya sekarang, tapi rasanya itu tidak akan membuat mereka malu, hanya ada keluarga saja.nTunggulah permainan yang sebenarnya!' batin Amanda sambil tersenyum licik.
Setelah itu mereka pun duduk di sofa, lalu Haris mengatakan sesuatu yang membuat semua orang merasa terkejut.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu hal, yang sebenarnya aku sendiri berat untuk mengatakannya," ucap Haris
"Memangnya apa itu?" tanya om Samuel.
"Sebenarnya Haris ada kerjaan di Eropa selama 1 minggu. Papa tahu kan, perusahaan cabang yang di sana lagi ada kendala. Jadi mau tidak mau Haris harus ke sana tidak bisa diwakilkan juga sama asisten," ujar Haris.
"Yaaah ... jadi kamu mau ninggalin aku Mas?" ucap Fitri dengan wajah sedihnya.
Sementara Amanda yang melihat itu rasanya ingin muntah, dia tidak menyangka jika adiknya pandai bersandiwara dan mempunyai banyak wajah untuk mengelabui semua orang.
'Dasar ular betina. Setiap hari berganti kulit benar-benar menjijikan. Walaupun kau adikku, tapi kau sudah menjadi pelakor dalam rumah tanggaku. Dan aku tidak bisa menerima itu! Aku tidak bisa memaafkannya.' batin Amanda dengan geram.
"Iya Sayang, aku minta maaf.bTapi mau bagaimana lagi, kamu tenang aja. Lagi pula ini cuma satu minggu kok, tidak akan lama dan aku usahakan aku akan pulang cepat."
"Janji ya!" ujar Fitri sambil mengapit lengan Haris dengan manja dan menyandarkan kepalanya di bahu kekar pria itu.
"Janji Sayang," jawab Haris dengan lembut, kemudian dia mengacak rambut Fitri dan mengecup keningnya di hadapan semua orang.
Darius menatap tajam, dadanya seperti terbakar saat menyaksikan adegan romantis tersebut. Dia benar-benar tidak ikhlas saat melihat Fitri dicium oleh Haris, apalagi saat Fitri bermanja-manja dengan pria itu.
'Rasanya aku ingin sekali mengungkapkannya sekarang. Tapi aku tidak boleh gegabah. Kenapa kamu harus bermanja-manja dengan dia di hadapanku sih, sayang?' batin Darius merasa kesal sambil menatap ke arah Fitri.
Fitri tersenyum dan menatap ke arah Darius, dan dia melihat kecemburuan di kedua netra pria itu.
'Sepertinya Mas Darius cemburu deh. Nanti malam aku akan kasih dia servisan yang oke, biar pria itu tidak marah lagi kepadaku.' batin Fitri.
.
.
Tepat jam 10.00 malam, semua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, begitu pula dengan Darius dan Amanda. Dan saat ini wanita itu sedang melakukan rutinitas malamnya menggunakan skin-care, sementara Darius sedang duduk di ranjang sambil menyenderkan tubuhnya dan di tangannya sedang ada ponsel. Sepertinya dia sedang berkirim pesan dengan seseorang.
'Aku yakin dia sedang mengirim pesan dengan pelakor itu.' batin Amanda yang melihat Darius dari pantulan cermin.
Namun dia tidak peduli kemudian Amanda berjalan ke arah ranjang lalu dia membaringkan tubuhnya membelakangi Darius. Sekarang Amanda sudah tidak ingin bermanja-manja lagi atau berpura-pura manis di hadapan pria itu.
__ADS_1
Darius menatap heran ke arah Amanda, sebab akhir-akhir ini wanita itu terlihat begitu berbeda. Biasanya sebelum tidur Amanda selalu memeluk dirinya dan mencium kedua pipi pria tersebut namun sekarang tidak dilakukan.
'Kenapa aku merasa Amanda berubah ya?' batin Darius.
Dia menaruh ponselnya di atas nakas, kemudian mendekat ke arah Amanda lalu memeluknya dari belakang, membuat wanita itu seketika membuka matanya.
Dia ingin sekali menghempaskan tangan kekar itux namun Amanda mencoba untuk menahan emosinya.
"Aku tahu kamu belum tidur sayang. Apa aku boleh memintanya malam ini?" pinta Darius.
"Maaf Mas, tapi badanku lelah sekali. Kalau aku kecapean kayak gini, takutnya nanti kamu nggak kenyang lagi sama servisan aku," jawab Amanda sambil memejamkan matanya.
Terdengar helaan nafas kecewa dari Darius namun wanita itu tidak peduli.
Amanda pura-pura tertidur, kemudian Darius pun masuk ke dalam kamar mandi. Dan mendengar itu
Amanda segera mengecek ponselnya, dan saat dilihat wanita itu mengepalkan tangannya saat membaca pesan mesra antara Fitri dan juga Darius.
"Benar-benar menjijikan!" gumam Amanda dengan geram. "Untung saja aku masih mempunyai kesabaran, dan aku akan kumpulkan bukti selama Haris berada di Eropa tentang perselingkuhan kalian."
.
.
Pagi hari Haris sudah siap karena dia akan berangkat ke bandara diantar oleh sopir, karena Fitri tidak ikut sebab dia tidak ingin sang istri kelelahan.
"Aku berangkat dulu ya sayangx kamu di rumah baik-baik. Ingat jangan nakal," ujar Haris sambil mengecup kening istrinya.
"Tentu tidak dong. Bagiku kamu yang lebih cantik mau wanita seksi atau wanita cantik yang mendekatiku, tetap kamulah nomor satu."
Mendengar itu Fitri tersipu malu. Memang Haris selalu bisa membuat hatinya nyaman, karena pria itu selalu saja berkata lembut dan tidak pernah sekalipun kasar kepada dirinya selama mereka menikah.
Jika dipikirkan secara detail, Haris memang tipekal Pria Idaman. Selain tampan dan juga kaya, dia memiliki budi pekerti yang baik, serta lembut dan penyayang terhadap wanita. Pria itu tak pernah sekalipun berkata yang menyakiti hatinya, karena hari begitu sangat mencintai Fitri.
Melihat bagaimana ketulusan Haris dalam mencintai adiknya, Amanda menyayangkan sikap Fitri yang seperti ular.
'Sayang sekali Fitri, kamu menyia-nyiakan seorang suami yang begitu amat sangat tulus mencintaimu. Dan kamu malah menjadi pelakor dalam Rumah tanggaku.' batin Amanda saat melihat sikap adiknya yang pura-pura manja kepada Haris.
Setelah kepergian Haris, Fitri masuk ke dalam kamar, begitu pula dengan Darius. Dia beralasan kalau akan mengambil jasnya yang tertinggal di kamar dan Amanda tidak peduli, karena dia sangat yakin kedua orang itu pasti sedang bertemu di lantai atas.
"Mah, Pah, aku berangkat dulu ya," ucap Amanda saat berada di meja makan.
"Loolh sayang, kamu tidak nunggu Darius?" tanya Tante Dina yang merasa heran.
"Tidak usah Mah, lagi pulang dia sedang bersenang-senangm. Sudahlah, Amanda pamit ya. Soalnya ada kerjaan dadakan," ujar Amanda sambil mencium tangan kedua mertuanya.
Setelah kepergian Amanda, tante Dina dan juga Om Samuel melirik satu sama lain. Mereka tidak mengerti dengan arah pembicaraan Amanda yang mengatakan jika Darius sedang bersenang-senang.
__ADS_1
"Apa Mamah paham dengan arti dari ucapan menantu kita?" tanya Om Samuel kepada istrinya.
"Entahlah Pah, mama tidak paham. Tapi, entah kenapa mama merasa akhir-akhir ini Amanda dan juga Darius terlihat begitu dingin. Apa mereka sedang bertengkar ya?"
"Coba kita tanyakan pada Darius," ucap om Samuel sambil meminum kopinya.
Tak lama Darius turun, kemudian Tante Dina memanggilnya, membuat pria itu seketika berjalan menghampiri kedua orang tuanya di meja makan.
"Iya Mah, kenapa?" tanya Darius.
"Mama ingin berbicara kepadamu. Duduk dulu!" pinta Tante Dina sambil menunjuk ke arah kursi.
Darius mengangguk, kemudian dia duduk dan menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Darius, apa kamu dan juga Amanda sedang bertengkar?" tanya om Samuel.
"Tidak Pah, Mah, aku sama Amanda baik-baik aja kok Memangnya kenapa?"
Om Samuel melirik ke arah istrinya, kemudian dia pun bertanya kembali, "Yakin? Atau kamu telah membuat kesalahan yang membuat istrimu marah?"
Mendengar itu Darius mengerutkan keningnya kemudian dia pun menggeleng. "Darius rasa tidak, hubungan kami baik-baik saja seperti hal biasanya. Memangnya kenapa sih Mah, Pah?" bingung Darius.
"Tidak apa-apa, hanya saja kami merasa Amanda akhir-akhir ini sangat dingin sikapnya kepadamu. Kami pikir kalian sedang ...."
Mendengar itu Darius pun terkekeh, "Tidak Pah aku dan Amanda baik-baik saja. Kami tidak bertengkar apapun, bahkan tidak berselisih paham. Mungkin itu hanya perasaan Mama dan Papa saja. Ya sudah, Darius mau ke kantor dulu ya soalnya bentar lagi ada meeting nih. Oh iya, Amanda ke mana?" Pria itu baru menyadari jika istrinya tidak ada.
"Tadi Amanda pamit, katanya ada kerjaan mendadak jadi dia pergi terlebih dahulu," ujar Tante Dinam
Darius pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia berpamitan kepada kedua orang tuanya. Pria itu tidak memperdulikan jika Amanda pergi terlebih dahulu, karena bagian Darius itu tidaklah penting. Walaupun sebenarnya dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang pertanyaan dari kedua orang tuanya.
Sementara Tante Dina merasa ada yang disembunyikan oleh Amanda, karena dia adalah seorang wanita dan tante Dinda tahu bagaimana memposisikan diri sebagai seorang istri.
Melihat sikap Amanda yang dingin terhadap Darius, membuat Tante Dina sangat yakin, jika ada sesuatu hal yang membuat wanita itu sepertinya sangat kecewa kepada Darius.
'Entah kenapa aku merasa Amanda seperti sedang marah kepada Darius dan Fitri? Sikapnya benar-benar sangat berubah pada dua orang itu. Biasanya Amanda akan selalu bersikap hangat dan selalu menghabiskan waktu bersama dengan Fitri. Tapi kenapa sudah berminggu-minggu aku merasa Amanda seperti menghindari adiknya? Ada apa ini sebenarnya?' batin Tante Dina.
Dia adalah seorang istri, jadi Tante Dina tahu sikap istri kepada suami itu harusnya seperti apa. Dan dia juga mengetahui saat seorang istri terluka, sedih ataupun kecewa, karena suaminya. Pastilah wanita itu akan memahami, jadi Amanda tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya apalagi kedua mata adalah pancaran yang sangat jelas yang menggambarkan perasaan seseorang.
"Mah, tadi Mama lihat nggak di kerah bajunya Darius ada lipstik," ucap Om Samuel.
"Punya Amanda kali Pah."
"Masa sih? Tadi kayaknya waktu mengantar Haris di teras nggak ada deh, Mah. Dan Amanda tidak ke atas lagi, kan dia langsung pergi?" bingung Om Samuel.
Tante Dina terdiam, "Aah, hanya perasaan kali Pah. Kalau bukan Amanda, siapa lagi? Pelayan di sini, mana mungkin? Papa mah ada-ada aja, udah ah, jangan berpikiran yang negatif pada Putra sendiri. Nanti kalau kedengeran Amanda tidak enak Pah, dikiranya kita sebagai mertua ingin menghancurkan rumah tangga mereka."
Akhirnya Om Samuel pun terdiam, saat mendengar penjelasan sang istri. "Ya, mungkin benar apa yang dikatakan Mama. Itu hanya perasaan Papa aja, mungkin memang tadi Papa tidak teliti."
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
1 Bab Lagi Author Up Sore ya Allππ