Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Maxim Louise


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu, dokter keluar dan Ethan yang melihat itu pun segera menghampiri sang dokter dan menanyakan keadaan istri dan juga anaknya.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, dan ibu Amanda sudah melahirkan bayi laki-laki."


Semua yang ada di sana tentu saja tersenyum bahagia, karena Amanda akhirnya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki.bDan tak lama wanita itu dipindahkan ke ruang rawat inap, sementara bayinya setelah diadzani dimasukkan ke dalam inkubator karena lahir pada usia kandungan 7 bulan.


"Mama benar-benar bahagia sekali, karena akhirnya memiliki cucu dari kamu sayang," ucap tante Azani sambil mengecup kening Amanda.


"Makasih ya sayang, kamu sudah membuat hidupku sangat sempurna. Aku benar-benar bahagia karena memiliki kamu di dalam hidupku. Aku berharap kita akan membuat 10 anak lagi."


Amanda yang mendengar itu langsung mencubit pinggang Ethan, membuat pria itu meringis sambil terkekeh. "Kamu pikir kita mau bikin Timnas Indonesia> sampai harus bikin 11 anak?"


"Bercanda sayang. Tapi kalau dikasih segitu, ya nggak apa-apa."


"Dia itu bukan robot, Ethan. Kamu pikir, membuat anak seenak nepuk jidatmu? Jika dengan memukul keningmu keluar anak, sini ... tas Mama ini sudah sangat gatal." Mama Inggit menunjukkan tasnya yang terlihat begitu kokoh.


Seketika Ethan menegak ludahnya dengan kasar. "Tidak Mah. Tidak. Aku hanya bercanda."


"Benar apa yang dikatakan oleh mama mu. Jika membuat anak seenak nonjok udelmu, nih ... sepatu Mama sudah siap untuk melayang di pipimu," timpal tante Anjani.


Amanda serta Om Umar terkekeh melihat pria itu yang di pojokan. Semua tersenyum bahagia termasuk juga Lulu dan Rizal. "Selamat ya! Lo lahiran lebih dulu, padahal gue yang hamil duluan. Tapi yang penting sekarang lo dan juga bayi lo sehat dan selamat, itu sudah sangat cukup. Doain gue semoga cepet nyusul juga."


"Aamiin! Lo juga nggak lama, bulan depan udah lahiran. Sabar aja."


Hari semakin malam, Ethan menginap ditemani oleh om Umar sementara tante Anjani dan juga mama Inggit pulang ke rumah untuk memasak makanan.


Tak lama seseorang masuk, ternyata itu adalah mama Dina dan juga Papa Samuel. Mereka menjenguk keadaan Amanda setelah dikabari oleh tante Anjani.


"Sayang, ya ampun! Akhirnya kamu lahiran juga. Mama ikut senang, di mana cucu Mama, Nak?" ujar Mama Dina sambil memeluk tubuh Amanda.


"Masih ada di inkubator Mah, soalnya kan aku lahiran 7 bulan."

__ADS_1


"Mama senang sekali karena kamu lahiran selamat. Mama boleh lihat bayi kamu?" Amanda tentu saja mengangguk, lalu kedua mantan mertuanya itu melihat bayi yang ada di dalam inkubator. Mereka tersenyum bahagia karena bayi tersebut terlihat begitu sangat lucu.


"Dia sangat tampan seperti ayahnya, kalian sudah memberikan nama?" Amanda dan Etan menggelengkan kepalanya.


"Belum, tapi kami sudah menyiapkannya."


"Siapa namanya? Mama ingin tahu, pasti nama yang sudah kalian siapkan itu sangat bagus."


"Namanya Maxim Louise. Kita akan memanggilnya dengan sebutan baby Max."


"Sangat bagus. Cocok dengan wajah tampannya."


.


.


Hari ini setelah satu minggu Amanda dirawat dia pun sudah diperbolehkan untuk pulang sambil membawa bayinya, bahkan air susunya pun sudah keluar.


Selama di dalam mobil Max terus saja menangis, dan Amanda langsung memberikan asinya, sementara Ethan menyetir ditemani oleh sang Mama di jok belakang.


Bukan Amanda yang kesal, tetapi Mama Inggit. Dia langsung menjewer telinga pria itu hingga Ethan pun mengaduh. "Aawh! Kenapa Mama malah menjewer telingaku?" protesnya.


"Ya habis pikiran kamu itu loh ... kenapa kotor terus-menerus? Namanya juga ibu menyusui dan sudah sepatutnya memang seperti itu karena asinya terus aja berproduksi."


"Itu kenapa aku menawarkan diri Mah, supaya ... awh!" Lagi-lagi Mama Inggit menjawab telinganya dan kali ini lebih keras.


"Sudah, sebaiknya kamu fokus menyetir!"


Amanda hanya terkekeh saat melihat suaminya kesakitan. "Suruh siapa otak kamu tuh ngeres terus. Ingat ya, Mas! Kamu itu harus berpuasa selama 40 hari." Amanda menggoda Ethan sambil tersenyum menyeringai, sementara pria itu hanya mendengkus dengan kasar dan pasrah.


"Apa tidak bisa dipercepat?"

__ADS_1


"Tidak!" Jawab Mama Inggit dan juga Amanda serempak.


Ethn hanya memiringkan bibirnya sedikit monyong dengan bola mata memutar. 'Dasar para ibu-ibu, kalau sudah bersatu tidak bisa dipisahkan.' gerutunya di dalam hati.


Sesampainya mereka di rumah, Amanda disambut oleh Lulu, Rizal, Mama Dina, Om Samuel beserta kedua orang tuanya. Di sana terlihat begitu ramai, tetapi yang membuat Amanda terpaku di sana juga ada Darius dan Naura serta Haris beserta dengan Alea.


"Selamat ya!" Naura maju sambil memeluk tubuh Amanda. "Wah ... bayinya tampan sekali. Aku jadi tidak sabar ingin segera menjadi seorang ibu."


"Kamu juga akan segera menjadi seorang ibu. Ya sudah, kalau gitu aku mau nidurin Max dulu ke kamar ya." Amanda berjalan sedikit tertatih, dan melihat itu Mama Inggit langsung menghampirinya dan menggantikan Amanda untuk menggendong sang cucu.


"Kamu di sini aja dulu, ngobrol sama yang lain. Biar mama yang menidurkan Max," ucap Mama Inggit.


"Saya juga ikut Jeng," ujar tante Anjani lalu mereka masuk ke dalam kamar bersama-sama.


Darius menatap lekat ke arah Amanda. Dia terlihat begitu menyesal namun tersirat raut kesedihan di wajah pria itu, dan seketika tatapannya mengarah kepada Naura.


'Jika Amanda waktu bersamaku tidak hamil serta anak yang dikandung Fitri bukanlah anakku, lalu bagaimana aku bisa menghamili Naura?' batin Darius yang merasa cemas.


Dia merasa bahwa dia mandul, karena melihat Amanda melahirkan anak dari Ethan dan mengingat bagaimana rumah tangganya bersama dengan Fitri. Dia pun mengambil kesimpulan bahwa di sini dialah yang tidak bisa memiliki seorang anak, bukan Amanda.


'Melihatmu bahagia bersama pria lain, membuatku sakit. Amanda, aku benar-benar pria yang bodoh karena sudah menyia-nyiakan dirimu.' Darius menatap lekat ke arah Amanda dan itu terlihat oleh Naura.


"Jangan terus memandangnya! Kamu hanya akan memancing keributan, karena Amanda sekarang sudah memiliki Ethan. Jangan sampai pria tersebut memiliki prasangka buruk kepadamu," ujar Naura dengan nada berbisik, dan Darius tentu saja langsung menundukkan kepalanya tapi tanpa mereka sadari Ethan melihat itu.


Di sana pun mereka makan-makan besar untuk menyambut kelahiran Max ke dunia ini. Amanda juga akan mengadakan acara syukuran sekaligus aqiqah nanti saat 40 hari.


Akan tetapi, tiba-tiba saja saat mereka sedang menyantap makanan Lulu memegangi perutnya yang terasa begitu keram. Awalnya dia pikir itu hanya kalah keram biasa, namun malah semakin menjadi, membuat semua panik yang pada akhirnya mengetahui bahwa Lulu akan segera melahirkan.


"Cepat Rizal! Kamu bawa Lulu ke rumah sakit!" seru Amanda dengan wajah cemasnya. Rizal pun langsung menggendong tubuh sang istri memasukkannya ke dalam mobil diikuti oleh Om Umar dan juga tante Anjani, karena mereka juga sudah menganggap lulus sebagai putrinya.


"Mah, nanti kabarin aku ya soal keadaannya Lulu." Amanda berkata sebelum Tante Anjani keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Iya sayang, kamu doain ya semoga lahirannya Lulu lancar. Mama pamit, assalamualaikum."


BERSAMBUNG......


__ADS_2