Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Memerintah


__ADS_3

Mama Inggit menoleh ke belakang, dia langsung menjauhkan teleponnya dari telinga, karena begitu terkejut melihat Ethan dan Amanda sudah berada di belakangnya.


'Aduh ... Ethan denger nggak ya apa yang aku ucapkan tadi ditelepon? Jangan-jangan dia tahu lagi?' batin Mama Inggit merasa cemas


"Mah, apa yang disiapkan?" Ethan bertanya kembali karena belum mendapatkan jawaban dari sang mama.


"Oh ... bukan apa-apa kok, cuma untuk acara nanti malam saja. Soalnya mama udah booking meja untuk kita," jawabnya dengan nafas lega, karena ternyata Ethan tidak mendengar obrolannya tadi.


"Aku kira, apa." Ethan berjalan dan duduk di kursi. "Seharusnya tidak usah sampai membooking tempat, Mah! Kan kita cuma makan malam biasa."


"Iya sih, tapi kan Mama ingin yang spesial."


Mendengar hal itu Ethan malah terkekeh karena menurutnya sangat lucu, sebab baru kali ini Mama Inggit ingin makan malam dengan suasana yang spesial. Biasanya hal itu dilakukan oleh sang Mama saat ada acara penting di keluarga saja.


"Memangnya ada acara apa, Ma? Ulang tahunku dan Amanda masih lama, apalagi ulang tahun mama."


"Iya tidak ada acara apa-apa sih ... udah deh, kamu jangan bawel kayak emak-emak lagi nawar di pasar. Mendingan sekarang kita sarapan!"


Amanda dengan cekatan mengambilkan nasi untuk Ethan, namun tiba-tiba dia merasa mual saat melihat sarapan yang berada di hadapannya. Biasanya Amanda tidak protes, tapi entah kenapa perutnya serasa dikocok.


Dia segera berlari menuju wastafel dan memuntahkan cairan berwarna kuning. Ethan yang melihat itu pun merasa cemas, kemudian dia mendekat ke arah Amanda dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Nggak papa Mas, mungkin masuk angin," bohong Amanda.


"Yakin? Atau kita ke rumah sakit saja?"


"Nggak usah." tolaknya, "kamu ini, masa cuma masuk angin harus dibawa ke rumah sakit? Lebay."


"Iya, bukannya lebay, tapi kan aku khawatir sama kamu." Akan tetapi Amanda meyakinkan Ethan bahwa dirinya baik-baik saja, namun Amanda menolak untuk sarapan sebab Ia merasa tidak berselera makan.


Ethan sampai bilang bahwa dia tidak akan masuk ke kantor, tapi Amanda tidak membiarkan itu. Karena jika Ethan di rumah, maka dia dan juga mama Inggit tidak akan leluasa untuk menyiapkan acara nanti malam.


"Kamu yakin nggak papa jika aku kerja?" Ethan menatap lekat ke arah sang istri saat Amanda mengantarnya sampai keluar.


"Iya Mas, I'm fine, it's okay! Lagi pula di sini ada Mama, kok."


Akhirnya dengan berat hati Ethan pun pergi. Dia menatap Amanda dari balik kaca mobilnya, sementara wanita itu masuk ke dalam dan dia meminta rujak kepada pelayan yang ada di sana.

__ADS_1


"Ya ampun sayan! Ini masih pagi, kamu belum sarapan nasi loh ... nanti kalau sakit perut gimana?" khawatir Mama Inggit.


"Aku nggak selera makan, Mah. Malah pengennya rujak. Apa ini yang namanya ngidam ya? Tapi kan kehamilanku baru 2 minggu? Apa wajar, Mah?" Amanda mengusap perutnya.


Mama Inggit segera mendekat, kemudian dia mengusap tangan Amanda. "Wajar saja. Ngidam itu tidak harus di bulan kesekian, tapi di trimester pertama juga bisa jadi. Itulah nikmatnya menjadi ibu hamil, dan lebih nikmat lagi saat kehamilan sudah besar, di mana kamu akan merasa susah tidur, bahkan hanya untuk telungkup saja tidak bisa."


Mama Inggit kemudian menjelaskan tentang pengalamannya saat mengandung Ethan dahulu, dan Amanda mendengarkan dengan seksama, sekaligus mengambil pelajaran dari setiap cerita mertuanya.


.


.


Fitri saat ini sudah tidak mempunyai kaki, ke mana-mana dia sudah susah memakai kursi roda. Wanita itu hendak mengambil air minum, akan tetapi gelas yang ada di rak piring membuatnya kesulitan untuk menjangkau.


"Mas! Mas Darius!" teriak Fitri.


Namun Darius baru saja selesai membersihkan dirinya. Dia memakai kemeja dan berjalan sambil membenarkan dasi. "Ada apa sih, Fitri? Aku buru-buru mau kerja."


"Mas, ambilin aku minum dong!" pintarnya dengan nada memerintah.


"Iya kamu ambil aja sendiri. Kamu punya tangan kan?"


"Kamu menghina aku ya, Mas?" Terlihat Fitri begitu geram, tatapannya sangat tajam karena sangat marah dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Darius


"Siapa juga yang ngajak kamu berdebat? Kamu yang duluan. Kamu bilang aku punya tangan? Ya aku memang punya. Tapi lihat keadaan aku, Mas! a


Aku sudah tidak mempunyai kaki. Seharusnya kamu ngerti dong!" bentak Fitri dengan nada yang begitu marah..


Darius mendesah kasar, kemudian dia berjalan mengambil gelas. "Nih gelasnya! Nggak usah marah-marah. Masih untung aku masih bertahan sama kamu. Seharusnya kamu itu sangat beruntung, karena ada laki-laki yang mau dengan kondisi kamu seperti ini. Jadi jangan suka memerintah dan membentak! Sebab aku adalah suamimu, dan harusnya kamu menghargaiku!" sentak Darius yang sudah jsngah dengan sikap angkuh Fitri.


Bahkan dengan kondisinya yang seperti itu, Fitri sama sekali tidak menyadari kesalahannya. Dia terus-menerus menyalahkan Amanda, bahwa semua yang terjadi di dalam hidupnya itu karena Amanda.


"Lho! Kok kamu malah nyalahin aku sih, Mas? Udah deh, sebaiknya kamu ambilin aku makan juga!"


BRAK!


Darius sudah benar-benar tidak bisa mentoleransi sikap Fitri. Dia pun menggebrak meja dengan begitu kuat, hingga membuat Fitri tersentak kaget dan memegangi dadanya.


"Kamu sudah gila ya, Mas?!" teriak Fitri, "ngapain kamu gebrak meja, hah? Kau mau buat aku jantungan?"

__ADS_1


"Biar kamu mati sekalian. Aku ini bukan babu, kamu. aku ini suamimu. Jangan suka memerintah! Makanan sudah kusiapkan di meja makan. Seharusnya kamu itu bersyukur dan berterima kasih kepadaku, aku mau untuk melayanimu dan aku mau untuk memasakan makananmu. Tapi apa yang kudapat? Kau malah marah-marah dan memintaku seperti seorang pembantu saja. Sudahlah ... pagi-pagi sudah membuatku naik pitam dan darah tinggi. Kalau butuh apa-apa ambil saja sendiri!" Darius pergi dari sana, akan tetapi saat beberapa langkah dia pun berhenti dan menoleh kembali ke arah Fitri. "Renungi semua kesalahanmu. Apa yang terjadi pada hidupmu tak luput dari kesalahanmu sendiri."


Mendengar hal itu Fitri benar-benar marah, dia membanting semua barang yang ada di dapur. "Keterlaluan kamu, Mas! Dulu saja kamu memuja-muja aku. Dulu saja kamu tergila-gila kepadaku. Tapi apa, sekarang? Kamu malah mencaci maki ku, dan kamu menginjak-nginjak diriku. Aaghh! Ini semua gara-gara dua wanita sialan itu. Alea dan Amanda harus mendapatkan balasannya! Aku tidak akan pernah bisa tenang jika mereka belum menderita. Lihat saja! Walaupun keadaanku begini, aku akan tetap membalas rasa sakitku, dan kalian harus merasakan apa yang kurasakan sekarang!" Amarah Fitri sampai ke ubun-ubun, nafasnya menderu dengan begitu kasar hingga dadanya naik turun menahan dendam di dalam hatinya.


Sementara Darius menaiki mobil untuk menuju tempat kerja. Selama di dalam perjalanan dia terus saja menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, seolah ada beban yang begitu berat tengah mengganjal hatinya.


"Lama-lama jika Fitri seperti itu terus, aku tidak akan betah jika berumah tangga dengannya. Apa aku harus meninggalkan Fitri? Tapi keadaan dia sudah seperti itu. Apa aku tidak jahat jika aku meninggalkannya? Tapi rumah tangga dengannya membuatku stress setiap hari, lama-lama jiwaku juga akan terguncang. Apalagi Fitri tidak pernah mau menyadari kesalahannya. Aaghh! Semua ini benar-benar membuatku bingung." Darius menjambak rambutnya dengan frustasi, kemudian dia memukul setir mobil.


Ada rasa ingin kembali kepada Amanda, dan ada rasa rindu kepada wanita itu. Dia ingin melihat Amanda walau hanya dari kejauhan Namun Darius sadar, bahwa sekarang Amanda bukan lagi miliknya.


"Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarmu, dan sudah lama sekali aku tidak melihat wajahmu," lirih Darius.


.


.


Siang ini Amanda bertandang ke rumah kedua orang tuanya bersama dengan mama Inggit Mereka ingin memberitahukan tentang acara nanti malam, akan tetapi Amanda tidak ingin memberitahu tentang kehamilannya terlebih dahulu. Sebab ia ingin memberikan kejutan kepada Ethan dan juga mama papanya


"Assalamualaikum," ucap Amanda dan mama Inggit.


"Waalaikumsalam ... ya ampun, sayang, kamu lupa apa sama mama sampai tidak pulang-pulang?" ledek tante Anjani.


"Ya nggak lah, Mah. Masa lupa sama Mama dan papa! Maaf ya Amanda baru sempat ke sini. Gimana? Mama dan papa kabarnya baik kan?"


"Alhamdulillah baik, sayang. Ayo kita duduk!" tante Anjani mengajak Mama Inggit serta Amanda menuju ruang tamu.


"Papa masih di kantor ya, Mah?" Amanda menatap ke arah lain mencari keberadaan sang papa.


"Iya, masih di kantor. Kenapa? Kamu kangen ya?" Mendengar itu Amanda mengangguk, "Iya, kangen."


"Biasa ... nanti sore juga pulang. Gimana, kamu betah tinggal sama mama Inggit dan juga Ethan?"


"Sangat amat betah, Mah," jawab Amanda dengan mantap.


Tante Anjani melihat raut kebahagiaan di wajah putrinya. Dia melirik ke arah Mama Inggit dan terlihat tatapan sendu dan penuh kasih sayang dari wanita itu.


Bagi seorang Ibu tiada hal yang membahagiakan selain melihat putrinya bahagia bersama dengan mertua dan juga suaminya. Dan Tante Anjani berharap jika Amanda tidak akan melewati kehidupan seperti rumah tangganya bersama dengan Darius.


"Syukurlah kalau kamu betah. Mama senang sekali mendengarnya."

__ADS_1


Saat mereka sedang bercengkrama dan bertukar cerita melepas kerinduan, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengucapkan salam. Dan saat menengok ke belakang, Amanda cukup terkejut saat melihat siapa yang bertandang ke rumah mamanya.


BERSAMBUNG......


__ADS_2