
"Naura!" Amanda berjalan mendekat ke arah wanita itu dengan tatapan kaget. "Kok kamu bisa ada di sini?"
"Iya, aku sedang cari-cari butik buat acara pernikahanku dan Darius. Dan aku mendapatkan rekomendasi butik ini. Kamu sendiri ngapain ada di sini?" tanya Naura saat mereka sudah ber cipika-cipiki.
"Ini kebetulan butik aku."
"Wow! Benarkah? Kalau begitu enak dong kalau pemiliknya lo ... jadi kan gue bisa konsultasi secara langsung ya."
Kemudian Amanda mengajak Naura untuk duduk di sofa. "Memangnya acara pernikahan kamu dan juga Mas Darius itu kapan?"
"Bulan depan. Ya ... semoga saja lancar." Amanda hanya mengangguk. Sejujurnya dia ingin sekali menanyakan perihal kenapa Naura menerima lamaran Darius dan kenapa tidak menunggu sampai acara 40 hari kematian Fitri.
Mungkin terdengar sangat egois, tapi Amanda tidak ingin ikut campur dan malah akan melukai perasaan Naura, itu juga akan membuat hubungan mereka renggang.
"Oh ya, lo nggak apa-apa kan? Kemarin gue udah lihat video cctv-nya, jujur gue nggak nyangka kalau Fitri bisa melakukan hal senskat itu, apalagi dengan keadaannya yang lo tau sendiri lah ... jadi setan apa yang ada di dalam dirinya, sehingga dia bisa melakukan hal yang benar-benar di luar dugaan?"
"Entahlah ... tapi mau bagaimanapun zekarang dia sudah tidak ada. Setidaknya Allah menyayanginya, karena tidak ingin Fitri semakin membuat dosa yang mana akan semakin menjerumuskan dia ke dalam lembah dosa."
"Lo benar. Tadinya gue nikah sama Darius juga karena gue ingin memberi pelajaran kepada wanita itu."
Amanda terpaku, padahal bibirnya tadi sudah gatal ingin menanyakan hal itu, tapi ternyata Naura mengatakannya sendiri. "Maksud lo?"
"Iya ... sebenarnya bukan karena gue yang masih punya perasaan sama Mas Darius. Ini karena lo udah punya suami aja, jadi gue blak-blakan jujur. Memang gue masih mempunyai rasa sama Darius, dan saat mendengar bahwa dia dan juga istrinya melakukan hal yang menyakiti lo, ditambah wanita itu benar-benar seperti siluman kodok, jadi ya udah ... gue berencana ingin memberi pelajaran kepadanya, karena gue ingin membalas dendam."
"Balas dendam? Memangnya lo ada masalah apa sama Fitri?"
"Bukan sama Fitri sih, tapi lebih tepatnya gue tuh pernah punya Kakak. Lo tahu kan kakak gue, Kak Syifa? Dia mempunyai sahabat yang berselingkuh dengan tunangannya, padahal mereka mau nikah, akhirnya Kak Syifa mengakhiri hidupnya. Itu membuat Gue benar-benar benci kepada yang namanya pelakor."
Amanda tentu saja sangat syok saat mendengar itu. "Inalillahi! Aku baru tahu kalau Kak Syifa sudah tidak ada. Semoga dia diterima di sisi Allah dan di lapangan jalan kuburnya."
__ADS_1
"Aamiin!"
Kemudian mereka pun bercengkrama soal kebaya dan juga persiapan pernikahan Naura. Amanda tidak marah saat Naura mengatakan bahwa dia masih mempunyai rasa kepada Darius, karena dia pikir itu bukanlah ranahnya lagi, apa lagi Darius juga bukan suaminya.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, Amanda masih berada di ruang tamu untuk menunggu kepulangan suaminya. Hatinya merasa cemas karena biasanya setelat telatnya Ethan, tidak pernah pulang selalu itu.
"Kamu makan dulu lah! Nanti juga suami kamu pulang. Namanya juga ke luar kota Sayang, sudah pasti memakan waktu. Ayo! Mama khawatir dengan kandungan kamu."
"Tapi Mah, aku lebih khawatir dengan keadaannya Mas Ethan. Dia sampai sekarang belum pulang-pulang, bahkan nomornya tidak aktif."
"Ya mungkin memang karena dia ada urusan Sayang. Udah yuk kita makan dulu! Jangan sampai kekhawatiran kamu ini akan berdampak buruk pada kandunganmu."
Amanda akhirnya menurut, dia pun makan dengan tidak berselera. Dan tak lama terdengar deru mesin mobil. "Assalamualaikum," ucap Ethan saat masuk ke dalam rumah.
"Astaga sayang! Aku belum mandi, bau asem loh ... ngapain langsung ngendus ketek sih? Nanti aja kalau udah mandi, udah pakai deodorant, kan wangi."
"Nggak mau. Aku maunya yang kayak gini, alami. Lagian kamu ke mana sih kok lama banget pulangnya?" Amanda mengalungkan tangannya di leher kekar sang suami dengan manja.
"Kan aku dari luar kota. Kamu tahu sendiri ... aku mau mandi dulu ya, gerah banget nih."
"Nggak mau. Aku masih kangen sama keteknya."
Mama Inggit yang mendengar nada bicara menantunya pun terkekeh kecil, karena menurutnya sangat lucu di mana Amanda mengidam bau ketek suaminya sendiri. 'Untung saja dulu waktu aku mengandung Ethan tidak sampai mengidam seperti itu.' kekenya di dalam hati.
"Jadi ... kangen sama keteknya nih? Bukan sama orangnya?" Ethan mengerucutkan bibirnya pura-pura ngambek.
__ADS_1
"Sama orangnya juga, tapi bau ketek yang bikin kangen."
"Ya udah, kalau gitu mandiin aku yuk!" godanya sambil mengedipkan sebelah mata. Amanda yang mendengar itu langsung mencubit pinggang ikan dengan gemas.
"Kamu kan udah besar, bukan anak bocah lagi. Udah sana mandi!" Dia mendorong tubuh suaminya. "Tapi sayang, aku maunya dimandiin sama kamu." Lagi-lagi pria itu menggodanya.
"Udah sana mandi, iih ..." Amanda terus mendorong tubuh suaminya sampai masuk ke dalam kamar dengan wajah merona malu.
Sementara Mama Inggit yang melihat itu pun semakin tertawa. "Mama berharap kalian akan terus harmonis seperti ini, dan mama berdoa kalian juga akan langgeng sampai kakek nenek dan maut memisahkan. Jangan seperti mama dan almarhum papamu." batinnya dengan Tatapan yang begitu sendu.
Seketika matanya melihat ke arah foto yang terpajang di dinding, di mana ada papanya Ethan dan juga dirinya yang sedang memeluk edan dengan bahagia.
"Mama kangen sama kamu, Pah. Andai saja kamu masih ada di sini, pasti kita akan menjadi keluarga yang benar-benar utuh dan harmonis. Tapi mama juga selalu mendoakanmu dari sini, agar kamu tenang di sana." Wanita itu menitikan air mata saat mengingat kenangan manis bersama suami tercintanya.
.
.
Hari ini adalah hari 7 bulanan Lulu, dan Amanda sudah berada di sana bersama dengan suami dan juga mertuanya. Dia melihat Lulu sedang duduk di atas kursi untuk dimandikan dengan bunga 7 rupa, karena kebetulan orang tua dari Rizal ada darah keturunan Jawa.
"Selamat ya! Aku doakan semoga kamu dan juga bayi mu lahirannya lancar, dan semoga kalian selalu sehat." Amanda memberikan kado kepada Lulu saat wanita itu sudah berganti pakaian.
"Makasih ya, lo udah datang ke sini. Padahal nggak usah ngasih kado lagi. Melihat lo ada di sini aja gue senang, dan gue berharap lo juga bisa cepet nyusul gue."
"Aamiin ... tenang aja, gue juga sebentar lagi akan 7 bulanan."
Saat keduanya tengah mengobrol, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan itu seketika membuat wajah Lulu merenggut kesal.
"Gue kira dia nggak bakalan datang!" gerutu Lulu dengan bibir mencebik.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....