
Happy reading....
Setelah acara resepsi dilaksanakanc saat ini Lulu sedang berada di dalam kamar untuk membersihkan diri. Dia membuka gaun dibantu oleh pegawai hotel yang ada di sana.
Setelah selesai berendam dan merilekskan otot-ototnya, Lulu memakai jubah handuk kemudian dia berjalan ke arah untuk mengambil baju tidurnya. Namun seketika wanita itu membulat kaget saat tidak ada pakaian sama sekali.
"Ini pasti kelakuannya si janda pirang sama mama deh. Masa aku dikasih baju beginian sih?" Lulu mengangkat lengrie yang berwarna merah menyala di dalam kopernya.
"Fix! Mereka ingin membuat malam ini benar-benar menjadi panas. Aku aja belum tentu sama dia melakukan itu kok?" Wanita itu mengeluh, kemudian dia berjalan menuju ranjang untuk merebahkan tubuhnya.
Tatapan Lulu terpaku saat melihat di atas ranjang ada taburan kelopak mawar berwarna merah membentuk hati, ditambah lilin-lilin yang menyala di sekitarannya, membuat suasana terasa begitu sangat romantis.
Seketika Lulu memegang jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar dengan kencang. Pikirannya berpacu kepada suami istri yang tengah melakukan hubungan di atas ranjang tersebut, dan dibayangan itu adalah dia yang sedang digagahi oleh Rizal.
Beberapa kali Lulu meneguk ludahnya saat wanita itu membayangkan jika dirinya sedang melenguh kenikmatan saat Rizal sedang melakukan aksinya, sehingga membuat Lulu memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan dari pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.
'Astaga Lulu! Lo bener-bener ya. Otak lo jadi ngeres kayak gini sih? Aduh! Pemutih di mana pemutih? Kayaknya otak gue ini perlu direndam deh!' batin Lulu sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.
Dia tidak sadar jika ada seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap Lulu dengan tersenyum miring, dan orang itu tak lain adalah Rizal.
Dia berjalan mendekat ke arah Lulu, lalu memegang pundak wanita itu, sehingga membuat Lulu terlonjak.
"Astaga pangeran udel! Lo ngagetin gue aja sih!" gerutu Lulu sambil memegangi dadanya yang hampir saja loncat dari tempatnya.
"Nanti kalau jantung gue copot gimana? Gue kan belum menemukan paru-parunya!" celetuk Lulu dengan wajah yang kesal.
Sementara Rizal hanya mengerutkan kening sambil tersenyum tipis. "Emang bisa jantung loncat dari tempatnya? Bukannya terikat ya dengan persendian? Lagi pula, jantung lo tuh adanya di sini. Sedangkan paru-paru di sini!" Rizal menunjuk kedua dada Lulu, membuat mata wanita itu seketika membulat kaget.
"Hey jaga ya tangan lo! Jangan pegang-pegang! Ini masih suci masih original, belum tersentuh selain tangan gue sendiri." celetuk Lulu sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Sementara Rizal yang mendengar ocehan dan juga raut wajah dari sang istri membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak, tapi ditahannya.
Semakin Rizal membuat Lulu kesal, semakin wajah wanita itu begitu sangat menggemaskan. Sehingga membuatnya ingin lagi dan lagi menjahili sang istri.
"Bagus dong kalau masih original. Aku rasa burung kakak tua aku juga masih original, belum tersentuh apapun selain tanganku sendiri." Pria tersebut mengedipkan matanya sambil menaik turunkan alisnya.
Lulu membulat dengan mulut menganga saat mendengar ucapan somplak dari pria yang berada di hadapannya. Dia seakan sedang bermimpi, di mana saat ini Rizal berkata dengan sebar bar itu.
Padahal selama ini Rizal terkesan sangat dingin, itu kenapa dia menjulukinya dengan kulkas 6 pintu. Tapi sekarang Lulu malah melihat sisi lain dari pria tersebut.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain? Jangan ngedekat ya! Lo itu bau belum mandi. Sana mandi dulu! Keteknya dicukur, jangan lupa disikat sekalian tuh, dioles sama sabun colek." celetuk Lulu yang semakin memundurkan langkahnya, karena Rizal semakin mendekat dan mengikis jarak antara mereka.
"Kalau aku ingin melahapmu sekarang, memangnya kau bisa menolak?" goda Rizal kembali sambil mengedipkan sebelah matanya.
Jantung Lulu semakin tidak karuan, nafasnya tercekat dengan mata membulat saat mendengar godaan dari kulkas 6 pintu yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.
"Eh jangan ngedekat ya! Kalau berani ngedeket, gue tendang burung kakak tua lo beserta dengan kedua telur puyuhnya!" ancam Lulu sambil menunjuk wajah Rizal.
Namun pria itu tidak menghiraukan ocehan Lulu, dia terus saja melangkah mengikis jarak antara keduanya, sehingga Lulu pun terduduk di atas ranjang dengan wajah tegang.
"Kalau lo nggak mau untuk gue menggoda. Kenapa masih belum pakai baju? Oh, atau jangan-jangan ... lo yang sengaja ngegoda gue? Biar dengan mudah tinggal tarik talinya dan langsung membuat adonan?"
Mendengar penuturan dari Rizal, mulut Lulu semakin menganga lebar. Kemudian Rizal menutup mulut dari istrinya dengan gemas.
"Jangan menganga seperti itu. Kau ingin kucium!" Rizal semakin mendekatkan wajahnya, membuat Lulu ketika terlentang di atas ranjang.
Namun ada yang aneh, sebab di bawah tubuh Lulu terasa meliuk-liuk, seperti ada sesuatu. Wanita itu pun menjerit, "Aaaah! Apa itu?!" teriaknya dan langsung bangkit dari tidur, sampai dia mendorong tubuh Rizal hingga tersungkur ke lantai.
"Agggh! Astaga cewek somplak! Bisa nggak sih, lo nggak usah ngedorong tubuh gue!" kesal Rizal sambil mengusap bokongnya yang terasa sakit, karena mendarat terlebih dahulu.
"Maaf, maaf, pangeran udel, gue nggak sengaja. Itu di kasur ada apaan ya? Kok gerak-gerak?" tunjuk Lulu pada selimut tebal yang menutupi ranjang.
Mendengar omongan suaminya yang semakin ngawur, membuat Lulu semakin kesal. Kemudian dia memukul lengan Rizal dengan keras, membuat pria itu mengaduh.
"Aduh! Sakit tahu. Kok malah dipukul sih? Kan yang aku bilang benar, ularku masih dibungkus celana, belum keluar dari sarangnya. Lalu, apa yang meliuk-liuk?" Rizal menghentikan tangan Lulu yang sedang memukulnya.
"Itu otak ternyata bukan aku aja yang ngeres, kamu itu perlu direndam di air laut biar tambah asin sekalian. Aku tuh serius tahu nggak sih! Bukan ularmu yang meliuk-liuk, tapi itu di kasur!" tunjuk Lulu ke atas ranjang.
Rizal mengerutkan keningnya, kemudian dia berjalan mendekat ke arah ranjang yang sudah dihias oleh taburan bunga berwarna merah, lalu pria itu pun dengan perlahan menyibak selimut.
Dan saat selimut itu terbuka, tiba-tiba saja sebuah ular tanah sedang menari-nari di atas ranjang, meliuk-liukkan tubuhnya yang begitu besar.
"Wuuuaaa! Ulaaaar!" teriak Lulu, kemudian dia menarik tangan Rizal dan bersembunyi di balik punggung pria itu.
"Kok bisa ada ular sih di sini?" gumam Rizal dengan bingung, sementara Lulu sudah dilanda ketakutan.
"Kok bisa ada ular sih? Singkirin gue takut!" pinta Lulu dengan histeris.
Wanita tersebut langsung memeluk tubuh Rizal, karena dia benar-benar sangat ketakutan. Tubuhnya sedikit bergetar dan Rizal yang merasakan itu pun khawatir dengan keadaan sang istri.
__ADS_1
Namun, yang membuat Rizal semakin diam mematung adalah, saat merasakan benda kenyal nan empuk di punggungnya saat Lulu sedang memeluk tubuhnya.
'Astaga! Kenapa kedua bola yupi dia empuk banget dah? Bikin ularku juga ingin meliuk dan keluar dari sarang.' batin Rizal dengan helaan nafas kasar.
"Kamu tidak usah takut ya! Sebentar, aku akan telepon pelayan Hotel dulu." Kemudian Rizal mengeluarkan ponselnya dan menelpon pelayan hotel.
Lalu tak lama pelayan itu datang, dan sesaat kemudian pemadam kebakaran pun datang menangkap ular tersebut.
Lulu duduk di sofa ditemani oleh Rizal, bahkan pria itu masih duduk dan menemani sang istri. Dia tahu jika Lulu pasti sangat syok dengan hewan melata yang baru saja dilihatnya.
'Dari mana ular itu berasal? Kenapa tiba-tiba saja di kamar pengantinku ada ular? Ini benar-benar tak masuk akal?' batin Rizal bertanya-tanya.
Kemudian mereka pun berganti kamar karena Rizal khawatir dengan keadaan sang istri, sementara Amanda yang mendengar hal tersebut juga ikut khawatir dengan keadaan Lulu. Dia langsung naik ke lantai atas dan melihat Lulu sedang dipeluk oleh Rizal dengan raut wajah yang ketakutan.
"Kembaran lele, lo nggak papa kan?" tanya Amanda dengan panik.
"Apa lo nggak lihat wajah gue janda pirang! Bayangin aja! Harusnya gue udah mencetak gol 1 ronde, terus tiba-tiba ada hewan kayak gitu. Tapi lo bisa bayangin lah, hewan itu masih mending dibandingkan ular melata milik si Pangeran udel," celetuk Lulu.
Bahkan disaat dan momen seperti itu saja Lulu masih bisa berkata sesomplak dan sebar-bar itu padahal di sana suasana sedang dilanda kekhawatiran dan ketakutan.
Amanda langsung menyentil kening wanita tersebut, karena tidak habis pikir dengan Lulu yang masih bisa untuk berkata sompral di momen yang dia rasa sangat tidak tepat.
"Lo itu benar-benar ya! Lihat momen dong kalau mau somplak. Jangan di kayak gini aja, kata-kata Barbar lo keluar. Udah, mending gue antar lo ke kamar sebelah aja yuk! Daripada ntar lo nggak jadi cetak gawang."
Lulu mengangguk, kemudian dia mengikuti langkah Amanda menuju kamar sebelah, sementara Rizal ditemani oleh Haris dan juga Ethan.
"Jangan terlalu dipikirkan! Sebaiknya fokus aja pada malam ini, karena kan malam ini adalah malam yang sangat spesial untuk kamu dan juga Lulu. Jangan sampai kejadian tadi membuat adonan kalian tertunda," ujar Ethan sambil menepuk pundak Rizal.
Pria itu mengangguk, kemudian Ethan dan Haris berpamitan dari sana. Namun tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang memberikan selembar kertas kepada Rizal.
(Aku tunggu kamu di atas hotel).
Dahi pria itu mengkerut heran saat membaca tulisan yang tertera di kertas putih tersebut, di mana ada seseorang yang sedang menunggunya di atap.
'Siapa yang sedang menungguku? Apa ini ada hubungannya dengan ular tadi?' batin Rizal yang merasa penasaran.
Kemudian dia memutuskan untuk pergi ke atap menemui orang yang sudah mengirimkannya pesan seperti itu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1